
Kevin dan pak adit telah berada di ruang cctv bandara, mereka memiliki akses karena bandara tersebut sebagian besar sahamnya milik thompson group, pak adit dan Kevin sangat shock ketika tuan tuan nya benar-benar chek in dan memasuki ruang tunggu bandara, pak adit meminta copy an cctv itu dan kemuadian pak adit dan Kevin menuju tempat di mana keluarga papa rey berada.
papa demian "gimana dit?"
pak adit "tuan dan nyonya semua memang chek in tuan dan mereka juga menunggu di ruang tunggu, ini rekaman cctv-nya"
papa demian serta yang lain mereka juga shock jika sahabat mereka benar-benar menjadi penumpang pesawat tersebut.
as Kevin "tunggu-tunggu pilot pesawat jet pribadi tuan menghubungi ku"
pak adit "cepat angkat vin"
pilot "selamat siang asisten Kevin"
as Kevin "siang pilot rendra"
pilot "tuan saya mau mengabarkan jika kami telah sampai di bandara kota Malang"
as Kevin "maksud pilot rendra apa? bukan kah keluarga thompson naik pesawat komersial?"
pilot "tidak asisten Kevin kami naik jet pribadi dan saat ini saya sudah di bandara kota Malang, tuan dan nyonya sudah menuju kota batu tuan"
as Kevin "baik kalau begitu terima kasih sudah memberi kabar yang bahagia ini"
papa demian "apa maksud kamu berita bahagia hah, tuanmu sedang dalam musibah"
as Kevin "tuan jangan gini saya jelaskan dulu"
revan "pa dengerin Kevin dulu jangan langsung cekik aja kalau mati ini anak orang pa belum kawin lagi"
papa demian "habisnya dia bilang ini kabar bahagia tau lagi berduka gini"
as Kevin "tuan lepasin dulu nanti saya kasih tau berita dari pilot nya keluarga thompson uhukk uhuuk uhukk"
revan "udah pa lepasin"
papa demian akhirnya melepaskan cengkramannya dari leher asisten Kevin.
papa demian "cepat jelaskan"
as Kevin "keluarga thompson sudah berada di kota Malang"
papa Satria "jangan bohong kamu, jangan ngasih harapan palsu karena kami bukan cewek-cewek yang bisa kamu beri harapan palsu"
as Kevin "beneran tuan dan kata pilot nya keluarga thompson sudah perjalanan ke hotel"
papa demian "terus tadi kok dia cek in? terus nunggu di ruang tunggu?"
as Kevin "nah saya juga enggak tau, nanti saja tunggu info dari yang bersangkutan kalau sudah bisa di hubungi"
kak rasyid "ini beneran kan? kalau iya saya langsung telpon umi soalnya tadi umi pingsan"
kak davian "bagaimana kalau kalian istirahat di pesantren dulu? kan habis perjalanan semoga saja nanti sampai di pesantren fadhil dan yang lain sudah bisa di hubungi"
papa demian "apa tidak merepotkan jika kita ke pesantren?"
kak davian "tidak om santai saja, mari"
di pintu keluar bandara di sana mereka telah disambut oleh rombongan wartawan yang mencari informasi tentang keluarga Thompson.
wartawan 1 "tuan demian tuan Satria apakah benar sahabat kalian tuan rey ada dalam pesawat tersebut?"
wartawan 2 "tuan kenapa tuan rey bisa naik pesawat komersial bukankah ada jet pribadi miliknya?"
papa demian "saya belum tau pastinya, tapi rey sudah check-in di pesawat yang hilang kontak"
papa satria "untuk kenapa tidak menggunakan pesawat jet pribadi kami juga tidak tahu"
__ADS_1
wartawan 3 "lantas apa tujuan keluarga thompson pergi ke Malang?"
papa demian "mereke mengantar cucu pertama dari keluarga thompson untuk sekolah di salah satu sma di sana"
as kevin "sudah ya kami permisi dulu jika nanti ada informasi lebih lanjut kami akan mengadakan konferensi pers"
mereka langsung pergi meninggalkan rombongan wartawan walaupun mereka para wartawan tetap mengejar dan bertanya tidak ada satupun yang merespon karena menurut mereka ucapan asisten Kevin sudah jelas.
sesampainya di pesantren mereka langsung masuk ke rumah utama di pesantren itu.
kak nafisa "mari silahkan masuk"
mama cantika "umi aisyah kemana nak?"
kak nafisa "umi masih tetap di kamar tante, mari saya antarkan"
mama cantika "baiklah, kalian para laki-laki di sini lah dulu"
di ruang tamu....
papa Satria "Adit kevin apa kalian tidak bisa melacak lokasi tuan kalian?"
as Kevin "ponselnya tidak aktiv tuan"
papa Satria "oh iya ya, terus gimana caranya memastikan jika mereka benar-benar di Malang?"
as Kevin "kita tunggu sebentar lagi mungkin tuan fadhil akan mengaktifkan ponsel untuk menghubungi ibu nya"
kak rasyid "semoga saja begitu soalnya tadi fadhil sudah janji untuk menghubungi umi ketika sudah sampai"
papa Satria "ya semoga saja begitu sampai hotel fadhil mengaktifkan ponselnya"
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
di kamar umi aisyah....
umi Aisyah "ya allah kalian datang"
mama cantika "iya umi tadi kami langsung terbang ke kota s untuk memastikan apakah benar keluarga thompson ada di pesawat itu"
umi Aisyah "lalu bagaimana hasil nya?"
mama cantika "mereka memang check-in umi dan mereka juga berada di ruang tunggu menurut hasil cctv bandara"
umi Aisyah "ya allah cobaan apalagi ini hiks hiks hiks"
mama cantika "tapi kita belum bisa memastikan umi apakah benar mereka naik pesawat itu atau tidak soalnya tadi asisten Kevin bilang jika pilot sudah sampai di bandara kota Malang"
umi Aisyah "apa benar?"
syasya "umi sekarang umi pegang hp umi siapa tau angel atau kak fadhil menghubungi umi"
umi Aisyah "iya nak umi akan pegang hp umi terus, naf siapkan makan siang nak mereka pasti belum makan"
mama tamara "tidak usah repot-repot umi, nafisa fatimah"
kak nafisa "tapi kami terlanjur memesankan makan siang jadi kalian harus makan siang disini supaya umi juga mau makan"
tak lama ponsel umi Aisyah berbunyi dan panggilan masuk itu dari fadhil putra nya.
fadhil "assalamualaikum umi"
umi Aisyah "alhamdulillah ya allah kamu baik-baik saja kan nak?"
fadhil "baik kok mi, alhamdulillah kami sampai di kota Malang dengan selamat, kita sudah sampai di villa di kota batu mi"
umi Aisyah "alhamdulillah ya allah, umi senang sekali kalau kalian selamat"
__ADS_1
kania "kak anak-anak ku juga selamat kan?"
fadhil "loh kania? bukannya kamu di Bali? kok bisa sama umi?"
kania "ceritanya panjang, jawab dulu anak aku baik-baik saja kan?"
fadhil "iya ken sama rayn baik-baik saja, mereka lagi bersih-bersih soalnya nanti mau jalan-jalan"
syasya "enak banget sih jalan-jalan"
fadhil "loh syasya ada apa sih kok ngumpul di pesantren?"
umi Aisyah "tidak ada apa-apa nak, kami senang dan bersyukur jika kalian selamat"
mama cantika "iya dil, sebaiknya kamu segera hubungi papa demian atau papa satria ya nak"
fadhil "loh mama can, iya ma habis ini fadhil hubungi papa dem, yaudah mi fadhil hanya mau mengabari saja jika fadhil telah sampai dengan selamat"
umi Aisyah "iya nak, hati-hati disana ya"
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
di ruang keluarga....
tiba-tiba saat asyik berbincang ponsel papa demian bergetar alangkah terkejutnya jika itu adalah panggilan telpon dari fadhil.
fadhil "assalamualaikum pa"
papa demian "waalaikumsalam alhamdulillah nak kamu baik-baik saja"
fadhil "alhamdulillah kami sudah tiba di kota batu pa, oh ya kenapa semua kumpul di pesantren saat kami sudah berangkat ke Malang?"
papa demian "huh ini semua gara-gara nama kalian ada di penerbangan pesawat komersial hilang kontak, jadi kami ke kota s saat itu juga dan sampai di bandara ketemu kakak-kakak mu dan kedua asisten mu dan kami diajak mampir ke pesantren"
fadhil "ha pesawat hilang kontak?"
papa demian "iya pesawat tujuan Malang ada yang hilang kontak"
fadhil "innalillahi wa inna ilaihi raji'un"
papa demian "lebih baik sekarang kamu segera konferensi pers biar para investor atau kolega bisnis tidak menarik investasi mereka"
fadhil "baiklah pa, aku akan minta asisten Kevin menyiapkan semuanya"
asisten Kevin "baik tuan saya akan menyiapkan semuanya, nanti malam tuan datang ke bandara kota Malang nanti tuan silahkan konferensi pers disana"
fadhil "bisa di villa saja vin? saya nggak mau istri saya kecapean di jalan"
as Kevin "baiklah tuan saya dan pak adit akan segera terbang ke Malang untuk menyiapkan semuanya"
asisten Kevin dam pak adit hendak pamit meninggalkan pesantren untuk segera berangkat ke Malang.
pak adit "kalau begitu kami pamit dulu untuk ke Malang"
papa demian "oh tidak bisa, kalian ikut saja sama kita, oh ya rasyid tolong panggilkan ibu-ibu ya biar kami bisa segera berangkat ke Malang, kalian juga boleh ikut"
kak rasyid "iya saya panggilkan dulu"
kak davian "sepertinya tidak bisa om soalnya kak rasyid ada ceramah di luar kota jadi saya harus stand by di pesantren"
papa demian "sayang sekali"
kak davian "lagian umi kami juga belum boleh keluar rumah, kapan-kapan saja saya ikut nya"
kak rasyid "kita makan siang dulu, sudah disiapkan" ucapnya yang baru tiba lagi di ruang keluarga
papa demian "duh merepotkan kalian jadinya"
__ADS_1
kak rasyid "tidak merepotkan kok"