
Di kediaman fatan, ia terlihat sedang bersiap-siap akan pergi kekantor fina datang kekamarnya seperti biasanya untuk memakaikan dasinya
" terimakasih hadiah kemarin sangat manis" ucap fatan saat fina sedang memakaikan dasinya membuat fina malu akan ucapannya, fina hanya mengangguk
" sudah selesai" ucap fina yang sudah selesai memasangkan dasi fatan
" terimakasih saya pergi ya.." balas fatan mencium kening fina membuat wanita itu merona karena malu
"aku sudah seperti seorang istri yang ditinggal suaminya pergi bekerja" gumam fina sembari menyentuh keningnya merasa senang membayangkan ucapannya barusan, saat perasaan senang dan khayalan itu mucul degh!!! rasa khawatir juga muncul bersamanya
" apa benar aku bisa menjadi istrinya... cinta ku memang tulus tapi caraku dekat dengannya yang tidak tulus" fina merasa khawatir jika fatan mengetahui apa tujuan sebenarnya dirinya masuk ke kehidupan fatan
" apa dia akan memaafkanku dan memberiku kesempatan?" pikir fina takut dengan apa yang akan terjadi di masa depan
" sudahlah fina jangan pikirkan itu sekarang, jika kau tak ingin kehilangannya maka jangan pernah biarkan dia tau yang sebenarnya, biarlah itu menjadi rahasiamu selamanya, yang jelas sekarang kau telah jatuh hati padanya" pikir fina berusaha menenangkan dirinya sendiri agar tak memikirkan apa yang belum terjadi
🌹 Butik bagas
Terlihat bagas sedang melihat-lihat kondisi butiknya, butik yang tak terlalu besar itu menjadi tempat bagi bagas untuk menyalurkan hobinya itu, ia lebih memilih membuka butik kecil daripada bekerja di perusahaan milik ayahnya yang kini di jalankan oleh adik perempuannya, saat bagas sedang asik melihat-lihat karyawannya datang untuk memberitahukan ada seseorang yang mencarinya
" permisi pak.." ucap seorang pekerja wanita menghampiri bagas
" iya.. ada apa?" balas bagas
" ada seseorang mencari bapak di depan" jelas sang karyawan wanita
" siapa?" tanya bagas penasaran siapakah yang mencarinya pasalnya ia tak punya janji dengan siapapun hari ini
" saya tidak tau pak, saya belum pernah melihatnya" balas sang karyawan
" baiklah terimakasih, saya akan kesana, kau lanjutkan pekerjaan mu" balas bagas mengerti
" baik pak saya permisi" pamit sang karyawan dengan sedikit membungkuk
Bagas berjalan menuju luar butik untuk melihat siapa yang mencarinya, terlihat seorang pria yang tak lagi muda berdiri disana membelakangi butik, bagas sepertinya pernah melihat sosok itu namun ia ragu dimana ia pernah melihatnya, sosok itu terasa familiar baginya
" permisi anda mencari saya?" ucap bagas menyapa seseorang yang berdiri membelakanginya itu, pria tua itu berbalik melihat kearah sumber suara ternyata pria tua itu pak budi
" pak budi?" bagas berucap setelah melihat rupa dari seseorang yang mencarinya itu ternyata pak budi
" selamat pagi nak bagas, maaf bapak datang tanpa membuat janji terlebih dahulu" ucap pak budi
" selamat pagi... ah tidak apa-apa saya bukan orang yang harus bertemu karena janji, mari silahkan masuk kita bicara di dalam" balas bagas mengajak pak budi untuk masuk ke butik dan berbicara di ruangannya
" mari-mari kita akan bicara di ruangan saya" bagas mempersilahkan pak budi untuk masuk ke ruang kerjanya
__ADS_1
" ria tolong ambilkan minum untuk tamu saya" perintah bagas pada asistennya sebelum ia masuk ke ruang kerjanya
" baik.. bapak ingin minum apa?" tanya ria sang asisten
" sepertinya kopi juga bagus... apa bapak bisa minum kopi?" balas bagas sekaligus bertanya pada pak budi terkait apakah beliau bisa mengkonsumsi kopi
" tidak masalah" balas pak budi
" baiklah ria tolong dua cangkir kopi" perintah bagas yang dibalas anggukan oleh ria dan berlalu dari sana menuju ruangan kecil di sudut yang di sinyalir sebagai dapur.
" silahkan duduk mari kita bicara dengan santai" bagas mempersilahkan pak budi untuk duduk
" terimakasih" balas pak budi sembari mendudukan dirinya pada sofa yang ada di ruangan itu, mereka duduk saling berhadapan.
"bagaimana kabar anda, sudah lama sejak terakhir kali kita bertemu?" bagas berbasa-basi untuk memulai pembicaraan dengan pak budi
" dari pada menanyakan kabar saya, nak bagas pasti lebih ingin tau apa tujuan saya kesinikan?" balas pak budi terus terang
" hahaha.. anda ini bisa saja pak, tentu saja saya penasaran akan hal itu" balas bagas dengan tawa kecil
" permisi pak saya bawakan kopi anda" terdengar suara ria dari balik pintu
" masuklah" balas bagas
" ini kopinya silahkan dinikmati..." ucap ria sembari meletakkan dua cangkir kopi di atas meja tepat di depan kedua pria itu
" tidak kau boleh pergi.. terimakasih" balas bagas
" baik pak saya permisi dulu" balas ria dan pergi dari ruangan itu
" jadi anda tidak suka berbasa-basi ya.. silahkan nikmati kopinya dulu sembari kita membicarakan tujuan bapak datang menemui saya" ucap bagas mempersilahkan pak budi untuk menikmati sungguhannya terlebih dahulu
" terimakasih" balas pak budi sembari mengambil cangkir kopinya dan menyeruput kopi hitam itu
" langsung saja.. nak bagas juga pasti sibuk, saya datang hanya ingin bertanya beberapa hal pada nak bagas" ucap pak budi kemudian
" lalu apa itu?" tanya bagas masih menikmati kopinya menatap serius kearah pak budi
" apa kematian nak jimy itu nyata?" tanya pak budi membuat bagas mengernyitkan keningnya
" apa maksud anda?" tanya bagas sembari meletakkan kembali cangkirnya dan menatap lebih serius kearah pak budi
" melihat sepak terjangnya selama ini sangat tidak bisa di percaya bahwa anak itu meninggal karena kecelakaan" ucap pak budi menjelaskan alasan keraguannya atas kematian jimy
" jangan membuat teori seolah-olah orang yang hebat itu tidak bisa mati, jika begitu anda bisa menimbulkan harapan kosong bagi orang lain" balas bagas kembali santai setelah mendengar alasan pak budi
__ADS_1
" bukankah waktu anda terlalu berharga jika dibuang hanya untuk menemui saya sekedar menanyakan kematian teman saya?" lanjut bagas
" ah tidak.. ada hal lain yang ingin saya bicarakan dengan nak bagas" balas pak budi
" lalu apa itu?" tanya bagas
" nak bagas juga pasti tau terkait tuan muda yang merupakan anak kandung dari saudara laki-laki tuan hendra?" ucap pak budi
" saya tau itu, sebelumnya jimy pernah bercerita pada saya tentang hal itu" balas bagas mengiyakan perkataan pak budi
" tidak menutup kemungkinan bahwa nak bagas juga mengetahui sosok pak kasim kan?" tanya pak budi memperjelas maksudnya
" pak kasim?" balik tanya bagas
" jangan bilang nak bagas tidak tau soal pak kasim" balas pak budi yang yakin bahwa bagas tau sesuatu tentang kasim
" kenapa anda berpikir saya tau orang yang bapak tanyakan?" balas bagas mempertanyakan pak budi
" nak bagas adalah teman nak jimy bagaimana mungkin saya tidak curiga pada nak bagas setelah kerja sama kita sebelumnya dalam mencari pelaku insiden lampu jatuh kala itu" jelas pak budi yang berasumsi bahwa bagas adalah kaki tangan jimy setelah sebelumnya mereka pernah bekerja sama, terlihat dari bagaimana cara jimy memerintahkan bagas dan anak buahnya kala itu membuat pak budi yakin bahwa bagas adalah kaki tangan jimy
" entahlah pak.. mungkin saya memang mengetahui sosok kasim ini dan apa yang terjadi" balas bagas membuat pak budi terkejut
" apa maksud nak bagas?" tanya pak budi yang ingin memastikan apakah yang dimaksud bagas
" bukankah jika saya tau siapa sosok kasim ini artinya saya juga tau apa yang terjadi dan tersembunyi" balas bagas memperjelas serta menegaskan bahwa mereka tau apa yang terjadi pada almarhum fauzan dan sang istri.
" jadi ini maksud perkataan nak jimy kala itu, saat bilang tuan hendra sangat pandai berakting" pikir pak budi teringat akan ucapan jimy kala itu
" sekarang dimana kasim berada?" tanya pak budi langsung
" anda tidak berpikir saya akan memberitahukannya kan?" balas bagas sedikit menyeringai
" benar juga itu tidak mungkinkan" balas pak budi setuju dengan ucapan bagas
" anda pengertian sekali" balas bagas terseyum
" baiklah jika begitu saya permisi dulu, terimakasih untuk kopinya, lain kali saya akan datang dengan membuat janji terlebih dahulu" balas pak budi yang bangkit dari duduknya dan hendak pergi
" saya akan menantikan hari itu" balas bagas dengan senyum sembari mengantarkan pak budi menuju depan butik
" sampai jumpa lagi" balas pak budi yang di balas anggukan kecil oleh bagas
" jadi begitu ya.. ternyata masih ada harapan" gumam pak budi sembari berjalan menuju eskalator.
Bersambung...
__ADS_1
Selamat menikmati 😁 salam manis untuk pembaca 🥰🥰 Jangan lupa tinggalkan jejak kakak sekalian di kolom komentar 🤗