Karamnya Harapan

Karamnya Harapan
Bagian 59 Tak Semua Sama


__ADS_3

" ayah takkan buka suara, sisanya tinggal pak budi, apa yang harus kita lakukan sekarang" tanya fatan bingung, pasalnya mereka tau jika pak budi juga takkan mengatakan apapun, pada akhirnya bertanya pada pak budi adalah hal yang percuma


" kita pasti akan temukan jalan keluarnya" ucap jimy menyemangati mereka berdua


" tapi kapan?" tanya fatan lesu


" pada saat waktunya tiba" balas jimy


" sembari menunggu waktu itu tiba nikmati waktumu dengan kisah cintamu dulu" ucap jimy yang sudah tersenyum senang


" dasar kau ini masih bisa senang begitu disaat seperti ini" balas fatan yang memukul pelan kepala jimy


" hehehe... mau bagaimana mana lagi, toh jika kita paksakan juga tidak baik, jika belum saatnya kita tau maka ya sudah" balas jimy yang tertawa kecil


Jimy selalu bisa merubah suasana dalam sekejap, seperti saat ini dia bisa menghilangkan rasa khawatir seseorang hanya dengan kalimat-kalimat dan gaya bicaranya yang ramah, meskipun begitu sering kali jimy yang tidak bisa menenangkan dirinya sendiri.


Jimy memilih untuk kembali ke apartemennya karena hari sudah malam, dengan rasa kecewa jimy meninggalkan kediaman fatan, ketidak tahuan bik rani tentang fauzan dan lina menghilangkan harapan mereka untuk menemukan siapa fauzan dan lina yang sebenarnya.


Keesokan paginya fatan dengan rutinitas biasanya yang akan pergi kekantor tentu saja, terlihat fatan sengaja tidak mengenakan dasinya berharap fina akan memasangkan dasi untuknya, benar saja kini ia memanggil fina, setelah fina tiba dikamarnya tanpa basa-basi fatan menyerahkan dasi kepada fina tanpa berkata apapun, fina yang seakan mengerti maksud fatan meraih dasi dari tangan fatan dan memasangkannya


" fina pikir ada sesuatu yang terjadi sehingga membuat kakak memanggil fina" ucap fina yang masih merapikan dasi fatan, mendengar itu fatan hanya diam saja tanpa berniat merespon sama sekali


" jika kakak mau fina memasangkan dasi untuk kakak, fina akan memasangkannya setiap hari" celoteh fina yang masih di sambut diam oleh fatan, ia hanya memandangi wajah fina yang begitu dekat dengan wajahnya saat ini, sehingga setiap tarikan nafas fina terdengar olehnya


" manis" gumam fatan yang masih memandangi fina


" nah sudah selesai" ucap fina sembari mengangkat wajahnya untuk melihat fatan, dengan itu kini tatapan mereka bertemu yang membuat keduanya salah tingkah


" terimakasih" ucap fatan yang hanya di balas senyuman oleh fina


" senyum yang manis saya suka" ucap fatan setelah melihat fina tersenyum padanya, fina yang mendengar itu menjadi merona karena malu, sementara fatan pergi begitu saja setelah mengatakannya


" ada apa denganku, kenapa jantungku berdetak lebih cepat, dan rasa senang ini juga, kenapa aku merasa senang apa karena dia memujiku" pikir fina yang tak mengerti tentang apa yang terjadi padanya saat ini


" fina sadarlah kau tidak boleh jatuh cinta padanya, ingat ini hanya sandiwara... benar ini hanya sandiwara dan pasti akan berakhir, jadi lakukan peranmu jangan libatkan perasaanmu... jangan.. jangan pernah" pikir fina menegaskan apa yang membuat ia berada disini sekarang


" semakin hari, kau semakin dekat saja dengan tuan fatan" ucap tika pada fina yang sedang bersantai setelah semua pekerjaan mereka selesai

__ADS_1


" ayo ada hubungan apa kau dengan tuan fatan?" lanjut tanya tika yang kepo


" majikan dan pembatulah, hubungan apalagi" balas fina


" kau yakin?" tanya tika mengintrogasi


" tentu saja" balas fina


" lalu apa alasan tuan fatan membawamu menghadiri pesta ulang tahun tuan besar saat itu" balas tika yang antusias ingin tau tentang apa yang terjadi diantara fina dan majikan mereka itu


" mana ku tau tanya saja sendiri" balas fina yang tak ingin menceritakan terlalu banyak pada tika


" lebih baik aku mati penasaran dari pada menanyakannya pada tuan, hih.." balas tika yang bergidik ngeri membayangkan ia dimarahi oleh fatan


" kenapa kau begitu?" tanya fina yang melihat tika bergidik


" tuan mengerikan saat sedang marah" balas tika yang takut jika mengingat saat fatan marah


" aku jadi merinding membayangkannya" ucap tika


" kau bisa bilang begitu karena belum pernah melihatnya marah, jika sudah pernah maka kau akan tau apa maksud ku" balas tika


" sudahlah aku tidak ingin tau lagi tentang apa yang terjadi antara kau dan tuan" lanjut tika dan beranjak pergi dari tempat mereka duduk bersantai saat ini


" mau pergi kemana?" tanya fina


" ketaman belakang" balas tika yang pergi meninggalkan fina sendiri disana


" apa dia sangat mengerikan saat marah, sehingga membuat orang-orang tak ingin hanya untuk sekedar membayangkannya saja" gumam fina


" nak fina..." terdengar suara memanggil fina, ia pun langsung menoleh keasal suara dan didapatinya bik rani yang memanggilnya


" buk rani" balas fina setelah melihat bik rani


" sedang apa disini?" tanya bik rani


" bersantai saja buk..." balas fina

__ADS_1


" ibu boleh bicara dengan nak fina?" tanya bik rani sembari mendudukan diri disebelah fina


" boleh buk" jawab fina sembari menganggukkan kepalanya


" ibu melihat tuan muda sudah dekat dengan nak fina, tuan muda itu orangnya tertutup saat ibu melihat tuan muda bisa berinteraksi dengan nyaman dengan nak fina ibu jadi senang melihatnya" ucap bik rani


" kenapa begitu buk?" tanya fina yang tak mengerti maksud bik rani


" sudah sangat lama sejak terakhir kali ibu melihat tuan muda seperti itu dengan wanita, sudah bertahun-tahun yang lalu" lanjut bik rani


" bertahun-tahun yang lalu, kenapa begitu buk?" tanya fina lagi yang penasaran


" beliau pernah dikecewakan oleh seorang wanita" balas bik rani dengan sedih


" ibu harap itu tak terjadi lagi" lanjut bik rani


" kenapa ibu mengatakan ini pada fina?" tanya fina


" mungkin nak fina bisa menjadi pengobat untuk luka yang mendalam itu" ucap bik rani


" kalau begitu ibu permisi dulu, ada yang harus ibu lakukan" pamit bik rani dan pergi meninggalkan fina


" hanya karena pernah dikecewakan bukan berarti dia bisa membenci wanita seperti itukan" gumam fina yang kesal atas sikap fatan yang membenci wanita


" dasar... dengan begitu berarti dia melabelli semua wanita sama dengan wanita yang pernah mengecewakannya" ucap fina masih kesal


" apa sih yang dilakukan wanita itu sehingga membuatnya begitu, palingan juga selingkuh, jika hanya itu apa reaksinya harus berlebihan begitu sehingga membuat membenci wanita... dasar pria angkuh" fina masih dengan kekesalannya, entah apa yang sebenarnya membuat fina kesal, entah rasa kesalnya itu mewakili semua wanita yang secara tidak sengaja dilabeli oleh fatan dengan label buruk, atau kekesalan itu mewakili perasaannya pribadi


" apa dia juga menganggap ku sama dengan wanita yang mengecewakannya itu" gumam fina makin kesal memikirkannya


Bersambung...


Selamat menikmati 😁 semoga kita bisa bertemu di kolom komentar 😊


Jika kau berani berharap maka sediakan juga ruang untuk kecewa, jika tak ingin kecewa maka jangan biarkan harapanmu tumbuh terlalu besar


Salam manis untuk pembaca 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2