
Malam semakin larut namun badai belum reda... sebuah mobil berkecepatan tinggi menerobos badai, menuju sebuah tempat yaitu kantor cabang dari perusahaan pria bernama fatan darmawan, mobil berhenti tepat di area parkiran kantor jimy hendak turun namun dika mencegahnya, ya kini mereka sudah dalam mobil yang sama setelah bertemu di perjalanan dan memutuskan menggunakan satu mobil saja
" biar saya yang turun.. akan berbahaya jika ada yang melihat dan mengenali anda" usul dika setelah menahan jimy agar tak turun, dengan perasaan kacau dan khawatir yang memenuhi seluruh jiwa jimy setuju untuk tetap di mobil akan semakin runyam urusannya jika ada yang melihat jimy
Dika memakai jas hujan dan menerobos hujan yang di sertai angin itu, berlari sekuat tenaga menuju pos pejaga, dari luar kantor sangat gelap dan sepi, dika berasumsi bahwa semua orang telah pergi dari sana
" permisi pak... apa di dalam sudah tidak ada orang?" tanya dika pada satpam
" iya nak... semuanya sudah pulang saat badai belum parah" jawab sang satpam
" bapak tau pria ini?" dika menunjukan foto fatan agar lebih mudah dikenali
" ah... pak CEO ya... setau saya beliau juga sudah pergi bersama pak wawan" jawab pak satpam
" apa bapak tau kemana mereka?" tanya dika lagi
" maaf saya tidak tau" jawab satpam sembari menggelengkan kepalanya
" baiklah... terimakasih pak.... saya permisi dulu" ucap dika dan seketika menghilang dari sana, belum sempat sang satpam menanyakan tentang siapa dika dan apa tujuannya mencari CEO mereka
" grep..." dika masuk ke mobil, jimy menatapnya dengan harap-harap cemas
" bagaimana?" tanya jimy
" dia sudah pergi dari sini... kantor sudah kosong" jawab dika
" baiklah ayo ke tempat wawan" ucap jimy yang menjadi pilihan terakhir mereka hanyalah wawan.. yang pasti tau keberadaan fatan
Jimy yang menyetir langsung mencap gas melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah wawan
__ADS_1
Tak butuh waktu lama rumah wawan yang tak terlalu jauh dari kantor dan mereka juga seperti tak tehalang badai kini sudah tiba di depan rumah wawan.. segera dika turun dan memanggil wawan sembari mengetuk pintu pagarnya, tak kunjung ada jawaban mungkin karena wawan tak mendengar ada seseorang yang memanggil di luar gerbang dika langsung bergerak memanjat pagar yang tanya setinggi pundak itu, dika kembali menggedor pintu rumah wawan kali ini dengan keras dan berteriak juha agar wawan bisa mendengarnya
" siapa?" kebetulan wawan yang langsung membuka pintunya
" maaf anda siapa?" tanya wawan setelah melihat seseorang mengenakan jas hujan berdiri di depan rumahnya, seketika wawan jadi teringat sebuah film yang menceritakan tentang pembunuhan brutal yang pelakunya mengenakan jas hujan untuk menutupi identitasnya, kaki wawan mulai gemetar membayangkan sesuatu yang akan terjadi padanya dan keluarganya segera ia akan menutup pintunya kembali namun ditahan oleh dika
" grep!!!" dika menahan pintu dengan tangannya
" tolong... jangan apa-apakan saya" wawan memohon dengan gemetar, dika malah diam karena merasa heran dengan tingkah wawan
" saya sedang mencari pak wawan..." ucap dika sembari melepaskan penutup kepalanya
" saya wawan" jawab wawan yang masih ketakutan
" jadi anda... begini saya adalah teman dari fatan darmawan.. anda tau dia kan?" ucap dika
" saya sedang berada di sekitar sini dan mendapatkan kabar bahwa fatan sedang berada di kota ini dan terjebak badai, karena tak bisa di hubungi orang terdekatnya jadi khawatir itulah sebabnya mereka meminta tolong pada saya untuk mencari tau dimana fatan dan memastikan dia baik-baik saja" jelas dika panjang lebar
" ah begitu ya... karena tidak bisa pulang. saya mengantar pak fatan ke hotel XX yang letaknya tak jauh dari kantor" jawab wawan
" terimakasih... saya permisi" balas dika
" anda tidak ingin masuk dulu.." kalimat itu tak terdengar lagi oleh dika yang sudah menjauh dan melompati pagar rumah wawan lagi untuk keluar
" glek... apa benar ya dia bukan orang jahat" wawan menelan salivanya setelah melihat dika melompat pagar ut untuk keluar
" iiii..." wawan bergidik ngeri dan menutup pintunya
Dika kembali ke mobil yang di dalamnya sudah ada jimy yang menunggu
__ADS_1
" bagaimana?" tanya jimy masih dengan kecemasan yang sangat tampak jelas belum berkurang sedikit pun
" di hotel XX" jawab dika
Jimy langsung mengemudikan mobilnya menuju hotel yang dimaksud
Sudah tengah malam namun badai belum berhenti sama sekali bahkan tak mereda juga.. begitu pula badai kecemasan di jiwa jimy mengingat ia belum tau keadaan sahabatnya yang masih berada di wilayah yang sedang terjadi badai, dengan cemas jiny melajukan mobilnya mengikuti petunjuk yang di berikan wawan menuju hotel tempat fatan menginap, perjalanan tak mulus kali ini, mobil yang mereka kendarai hampir menyerah di terpa badai semakin lama semakin sulit mengendalikan mobil, dengan bersusah payah hotel pun telah terlihat hanya satu tikungan lagi dan mereka akan tiba di depan hotel
" bruk!!!" pohon besar di samping jalan tumbang ke tengah jalan
" ckiiiittt!!!" jimy menekan rem untuk menghindari mereka menabrak pohon besar yang tumbang itu
" sial" ucap jimy turun dari mobil bersama dika... jimy menggunakan topi dan penutup wajah dari kain yang memang ia sediakan
Keduanya menggunakan jas hujan dan berlari menuju hotel... entah mengapa cuaca sangat tidak bersahabat angin menjadi semakin kencang dan guntur juga menggelegar di langit malam menambah kengerian malam itu, mereka tiba di depan hotel yang terlihat terang, saat akan masuk keadaan menjadi sangat tidak bersahabat kembali.. bencana alam lainnya mucul.. gempa datang di tengah badai itu membuat kecemasan dan ketakutan semakin meningkat, jimy dan dika segera menghentikan langkahnya setelah mendengar sesuatu berbunyi dari dalam hotel
" krak!!!" bunyi yang cukup keras, jimy dan dika melihat sekeliling dan mendapati bangunan hotel telah retak
" aku harus temukan dia sebelum hotelnya ambruk" ucap jimy berlari masuk ke dalam hotel menuju resepsionis, keadaan di dalam hotel yang mulai kacau setelah bangunan itu bergoyang dan meja resepsionis juga telah kosong... semua orang berhamburan akan keluar, jimy menunju meja resepsionis dan mencari kamar yang yang di pesan atas nama fatan, begitu mudah ia langsung menemukannya
" kamar 105... lantai lima" ucap jimy memberitahukan pada dika... segera mereka berlari menuju lift.. sepertinya generator listrik yang digunakan hotel untuk membantu penerang di hotel setelah pemadam listrik sejak sore... sepertinya kini generator itu bermasalah juga mungkin akibat gempa barusan
" sial listriknya mati" ucap jimy semakin khawatir... gempa memang hanya sebentar namun angij masih kecang.. akibat gempa barusan gedung jadi retak dan bergoyang, mereka takut gedung akan runtuh sebentar lagi
" lewat tangga" ucap dika berlari menuju tangga untuk mencapai lantai tempat kamar yang dipesan fatan berada
Bersambung.....
Selamat menikmati 😁 salam manis untuk pembaca 🥰🥰🥰 Jangan lupa tinggalkan jejak kakak sekalian di kolom komentar 🤗
__ADS_1