
Kini telah seminggu berlalu sejak insiden malam pesta ulang tahun itu namun jimy dan pak budi belum menemukan bukti apapun yang mengarahkan mereka ke pelaku, kini pak budi dan jimy sedang berada di apartemen jimy untuk membahas apa langkah selanjutnya yang harus mereka ambil
" melihat keadaan sejauh ini, sepertinya mereka sudah memperkirakan apa yang akan kita lakukan, jadi mereka sudah mengantisipasi semuanya" ucap jimy dengan lesu, karena belum mendapatkan apa yang mereka cari selama ini
" mereka selangkah lebih maju dari kita... ah bukan sepertinya mereka mengendalikan permainan ini sepenuhnya" balas pak budi yang tak kalah frustasi dengan keadaan ini
Selama perbincangan mereka berdua, telpon jimy berdering, ada sebuah panggilan dari bagas untuknya, jimy pun langsung menjawab telponya
" ada apa?" tanya jimy
" baik aku akan kesana" ucap jimy lagi dan menutup telponnya
" ada apa?" tanya pak budi setelah jimy menutup telponnya
" saya akan jelaskan di perjalanan, sekarang kita harus segera pergi pak, ini mendesak" jawab jimy yang membuat pak budi tak bertanya lagi dan hanya mengikuti jimy pergi dari apartemennya menuju lokasi yang dikatakan bagas
Tak berapa lama mereka pun tiba di tempat bagas, yaitu sebuah rumah tua yang terletak cukup jauh dari pemukiman
" dimana mayatnya?" tanya jimy pada bagas begitu tiba di tempat yang bagas sebutkan saat di telpon
" ada di dalam rumah" jawab bagas yang bergegas membawa jimy dan pak budi kedalam rumah tua itu
" bagaimana ini bisa terjadi?" tanya jimy pada bagas, terlihat bagas yang ragu untuk menjawab dikarenakan pak budi yang ada disana, pasalnya bagas belum pernah bertemu pak budi sama sekali, jimy yang melihat keraguan bagas langsung meluruskan semuanya
" tidak apa-apa, katakan saja, ini pak budi, asisten pribadi tuan hendra, beliau yang membantu kita dalam kasus ini" jelas jimy untuk menghilangkan keraguan bagas
" pak budi, ini teman saya... bagas, dia membantu kita untuk menyelidiki kasus ini juga" lanjut jimy memperkenalkan bagas
" halo nak bagas, saya pak budi... mohon kerjasamanya" ucap pak budi yang menyodorkan tangannya untuk bersalaman
" halo pak budi, saya bagas... mohon kerjasamanya juga pak" balas bagas yang menyambut tangan pak budi untuk bersalaman
" ok saya akan jelaskan apa yang terjadi" ucap bagas setelah perkenalan dan segala basa basinya
" orang-orang saya menemukan bukti bahwa pelayan pria ini terlibat dalam insiden malam itu, jadi kami mengejarnya hingga sampai disini dengan tujuan menyudutkannya agar lebih mudah untuk membuatnya mengaku" jelas bagas
" namun ternyata hasilnya tidak seperti yang kami perkirakan, semakin kami memojokkannya dia memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara gantung diri" lanjut jelas bagas yang menunjuk pada seorang mayat pria yang terbujur kaku di depan meraka dengan leher yang memerah akibat bekas tali yang ia gunakan untuk bunuh diri
"apa bapak mengenalinya?" tanya jimy pada pak budi tentang mayat pelayan yang ada dihadapan mereka kini
" bapak tidak tau, terlalu banyak pekerja yang bekerja dirumah tuan hendra jadi bapak tidak bisa mengingat mereka semua" jawab pak budi yang ternyata tak mengenali mayat pelayan itu
" apa yang orang-orang mu temukan?" tanya pak budi pada bagas
"kami menemukan sebuah pesan di ponsel tersangka yang berbunyi sebuah pengkomfirmasian tentang sebuah misi yang sudah berhasil dilaksanakan atau belum, kami ingin mencari kejelasan tentang itu namun ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, kami juga telah melacak nomor pengirim pesan namun tak bisa ditemukan dan nomornya sudah tidak aktif lagi" jelas bagas tentang semua bukti yang mereka temukan
__ADS_1
" jadi kita kehilangan semua buktinya?" tanya jimy
" begitulah" jawab bagas lesu
"bagaimana sekarang?" tanya jimy yang cemas
"bapak akan coba mencari informasi tentang pria itu" ucap pak budi sembari melihat mayat yang berada di hadapan mereka
" itu percuma pak... kami sudah menggalinya sedalam mungkin tapi tak menemukan apapun" jawab bagas yang juga terlihat lesu
" bagaimana dengan keluarganya?" tanya pak budi lagi
" dia tak punya keluarga atau kerabat" jawab bagas
" bagaimana mungkin ini terjadi, kita menemukan jalan buntu" ucap pak budi yang terdengar putus asa
" sial... kita ke colongan" ucap jimy yang kesal
" tenangkan dirimu dulu, pasti akan ada jalan keluar dari ini semua" ucap bagas yang menenangkan jimy
" nak bagas benar, tenangkan diri nak jimy dulu" timpal pak budi agar jimy bisa lebih tenang
" pencarian ini menemukan jalan buntu, mari kita kembali" lanjut pak budi yang di setujui oleh jimy dan bagas
" bersihkan semuanya" perintah bagas pada anggotanya sebelum mereka meninggalkan tempat itu
" aku yakin wanita itu ada dibalik semua ini" tiba-tiba terdengar suara jimy dari keheningan yang terjadi cukup lama
" apa yang membuatmu berpikir begitu, kita tak punya bukti apapun tentang ini semua" balas bagas yang tak mengerti
" fatan tak punya musuh selain wanita itu" jawab jimy
" sejak dulu aku bertanya-tanya apa alasan kalian begitu membenci istri baru tuan hendra, sejauh ini aku merasa bahwa kebencian ini sudah tertanam sangat dalam, jika alasannya hanya karena dia menikahi tuan hendra maka kebencian kalian takkan sedalam ini" ucap bagas yang tak tau tentang masalalu mereka bertiga
" kenapa kau ingin tau?" tanya jimy yang semakin kesal setelah mendengar perkataan bagas terkait alasan kebencian jimy pada lili, bagas yang mendengar itu tak melanjutkan pertanyaannya, pasalnya ia tau bahwa jimy hanya akan mengatakan apa yang penting untuk mereka ketahui dan apa yang tidak.
" wanita itu adalah ular.... kau taukan jika ular akan tetap menjadi ular" lanjut jimy yang terdengar sangat kesal
" seharusnya aku tak menanyakannya" balas bagas yang menyesali perkataannya
" jangan melakukan hal yang tidak diperlukan lagi" balas jimy memperingati, bagas yang mendengar itu mengiyakannya tanda ia mengerti
" kau akan menginap?" tanya jimy karena hari sudah larut
" iya" jawab bagas singkat dan langsung merebahkan dirinya di ranjang milik jimy
__ADS_1
" terserah kau saja" balas jimy yang tak mempermasalahkannya
Jimy mengambil ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang
" ada perkembangan apa... kau menghubungiku beberapa hari yang lalu" tanya jimy setelah telponnya tersambung
" sejauh ini saya menemukan sesuatu yang menarik, namun belum terlalu jelas, setelah saya yakin saya akan melaporkannya" terdengar balasan dari seorang pria di sebrang telpon
" karena itu kau menghubungiku?" tanya jimy
" tidak... saya dengar ada insiden yang terjadi di kediaman tuan hendra, dan fatan mengalami luka, bagaimana keadaan kalian?" tanya pria itu
" lukanya tak serius, dia baik-baik saja sekarang" jawab jimy
" bagaimana dengan mu?" tanya pria itu lagi
" semua baik-baik saja" jawab jimy
" apa ada hal lain yang ingin kau katakan?" tanya pria itu pada jimy
" tidak... aku hanya bertanya tentang alasan kau menghubungiku beberapa hari yang lalu" jawab jimy
" baiklah jika begitu saya akan tutup telponya" ucap pria itu dan langsung memutuskan sambungan teleponnya
Bagas yang melihat jimy baru saja menghubungi seseorang merasa penasaran dan bertanya siapa yang dihubungi oleh jimy
" kau menghubungi siapa?" tanya bagas
" dika" jawab jimy
" dimana dia... aku belum melihatnya akhir-akhir ini" tanya bagas yang ternyata mengenal seseorang yang bernama dika itu
" dia sedang menyelidiki sebuah kasus" jawab jimy
" pantas saja aku tak melihatnya" balas bagas
"sepertinya kasus yang sulit, sehingga membuat dika tak pernah terlihat selama ini" ucap bagas yang tak dijawab oleh jimy, sehingga membuat bagas memutuskan untuk tidur
" kau tidak menjawab... baiklah aku akan tidur saja, jangan bergadang tidurlah, atau bunga mawar akan layu" ucap bagas dan tidur, sementara jimy hanya tersenyum mendengar ucapan bagas barusan
" bunga mawar ya... terkadang aku lupa siapa aku, terimakasih sudah mengingatkan ku lagi" ucap jimy
Bersambung....
Selamat menikmati 😁 semoga kita bisa bertemu di kolom komentar 😊
__ADS_1
Salam manis untuk pembaca 🥰🥰🥰