
Dinginnya angin malam memenuhi raga namun sudah tak terasa.. jimy dan dua lainnya masih duduk disana menunggu dokter selesai operasi, sudah lebih dari dua jam mereka duduk disana rasa khawatir jimy masih belum hilang juga, waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi dan jimy belum tidur sama sekali begitu juga dengan dika... jimy tak bergeming dari tempatnya, ia mengepalkan erat tangannya menunggu dengan cemas, ia juga belum makan apa-apa sejak kemarin
" saya akan mencari sesuatu untuk dimakan" ucap dika pada jimy, pria itu hanya menggeleng tanda ia tak mau
" tapi.." dika mencoba membujuk namun terhenti setelah jimy menoleh kearahnya, tak lama dokter pun akhirnya keluar jimy ingin segera bangkit dan menemui dokter dika menahannya dengan menepuk punggung lutut jimy, pria itu tak jadi bangkit sementara dika dan wawan bangkit dari duduknya
" bagaimana dokter?" tanya dika
" operasinya berjalan lancar" ucap dokter, jimy terlihat sangat lega mendengarnya
" syukurlah" ucap dika dan wawan bersamaan
" saat ini pasien belum siuman karena pengaruh obat.. kami akan memindahkannya ke ruang ICU" lanjut jelas dokter
" bagaimana dengan efek sampingnya dokter?" tanya dika
" semua berjalan baik jika proses pemulihan juga baik maka tidak akan ada efek samping yang berarti bagi pasien" jawab dokter
" syukurlah... terimakasih dokter" balas dika merasa lega
" kalau begitu saya permisi dulu" pamit dokter yang di balas anggukan oleh dika dan wawan
" syukurlah pak bos baik-baik saja" ucap wawan merasa lega
Setelahnya fatan di pindahkan ke ruang ICU, fina masih belum tiba disana
" anda pergilah makan dulu.. setelahnya saya.. harus ada orang disini saat fina datang" ucap dika pada wawan yang di setujui oleh wawan yang kemudian pergi dari sana
" aku ingin lihat dia sebentar" ucap jimy sembari bangkit dari duduknya dan menuju ruangan fatan, dika mengangguk tanda setuju, inilah alasan dika meminta wawan ke kantin lebih dulu agar jimy punya waktu sebentar melihat fatan
Jimy masuk dan melihat tubuh sahabatnya yang sedang terbujur tak sadar di ranjang rumah sakit dengan beberapa bagian yang di perban, jimy mendekat dengan mata berbinar-binar dan perasaan yang sangat lega melihat sahabatnya selamat, pria itu duduk dan mengenggam tangan sahabatnya yang tak sadarkan diri karena pengaruh obat.
" syukurlah kau baik-baik saja" ucap jimy memandangi wajah sahabatnya dengan seksama
__ADS_1
" apakah ini sakit... kau terluka banyak sekali" ucap jimy menyentuh bagian luka yang terdapat di kepala fatan
" kenapa kau selalu terluka sih... apa kau tidak bisa menjaga dirimu baik-baik... aku sangat khawatir sampai ingin mati rasanya" jimy mengungkapkan apa yang ia rasakan saat melihat fatan dalam kondisi seperti ini
" lain kali jangan terluka seperti ini lagi ya.. aku takkan ada disana menolong mu... ada banyak yang ingin ku katakan bahkan aku ingin melihatmu membuka mata tapi aku tak bisa waktu ku tak banyak.. sebentar lagi fina akan datang, seseorang yang telah mati seperti ku tak mungkin terlihat di depan umumkan" celoteh jimy
" aku pergi ya... jaga dirimu baik-baik... kita takkan pernah bertemu lagi.. berbahagialah lenteraku" pamit jimy bangkit dari duduknya dan melepaskan genggamannya dari tangan fatan, entah mengapa genggaman itu menjadi erat sepertinya fatan secara tak sadar mengenggam kembali tangan yang sangat ia kenal itu
" lepaslah... semuanya akan baik-baik saja" ucap jimy berusaha melepaskan genggaman fatan dan keluar dari sana, dika tak masuk namun menunggu jimy di pintu untuk berjaga-jaga
" cklek.!!" pintu terbuka dan jimy keluar
" sudah?" tanya dika
" iya... aku akan pergi sekarang.. kau jaga dia dan kabari aku terkait perkembangannya" ucap jimy
" saya akan mengantarkan anda" ucap dika
" tidak tetap disini.. aku akan kembali sendiri saja" ucap jimy menolak
" oke" balas jimy mengambil kunci mobilnya dari dika
" ambil mobilnya di rumah saat kau kembali" ucap jimy
" baik" balas dika
" berhati-hatilah" lanjut dika berpesan agar bos-nya itu berhati-hati dalam perjalanan pulang, jimy mengangguk tanda ia mengerti dan pergi dari sana meninggalkan dika yang masih berdiri, sosok jimy telah menghilang dan wawan tiba bersama fina yang kebetulan bertemu di luar
" kak dika.." panggil fina dari kejauhan yang mengenali dika yang sedang berdiri di depan pintu, dika menoleh dan melihat siapa yang memanggilnya
" fina..." ucap dika
" bagaimana kondisi kak fatan kak... bik rani bilang kak fatan terluka... lalu dimana dia sekarang?" pertanyaan bertubi-tubi di lontarkan fina yang terlihat sangat cemas
__ADS_1
" tenangkan dirimu dulu... dia sudah baik-baik saja" ucap dika sembari sedikit mengguncang tubuh fina agar bisa mendengarkannya
" diam dulu... saya akan jawab" lanjut dika yang di balas anggukan oleh fina tanda ia mengerti
" sekarang dia ada didalam... operasi baru saja selesai dan keadaannya baik-baik saja" jelas dika
" apa oo.. operasi.." ucap fina terkejut dan air mata langsung jatuh begitu saja tanpa kompromi, tika menutup mulutnya karena terkejut
" iya.. operasi.. ada beberapa bagaian tulang yang patah" jawab dika membuat fina semakin terkejut, tak menyangka ternyata fatan terluka separah itu
" masuklah saya akan berada disini.. saat tadi saya masuk fatan belum siuman" ucap dika mempersilahkan agar fina masuk
" saya akan temui dokter untuk membicarakan pemindahan pasien ke rumah sakit ibu kota saja agar mereka bisa merawatnya lebih mudah" ucap dika memberitahukan, fina mengangguk tanda ia setuju
Fina membuka pintu dan masuk sendiri saja dan tika menunggu di luar
" cklek!!!!" pintu di buka dan fina melangkah masuk matanya tertuju pada seorang pria yang sedang tertidur di atasa ranjang rumah sakit, air matanya mengalir sembari melangkah mendekati kekasihnya yang belum sadarkan diri, fina duduk di kursi yang ada di dekat ranjang melihat dengan seksama wajah pria yang tertidur karena pengaruh obat bius itu
" syukurlah kakak selamat.. aku sangat takut saat mendengar kakak terluka" ucap fina sembari mengenggam tangan fatan
" aku sangat khawatir... bangunlah kak... bicara padaku" ucap fina lirih
Sepertinya sudah saatnya pria itu sadar.. kini ia pun membuka matanya perlahan dengan samar ia melihat sosok fina yang sedang menangis di sampingnya
" fi..fina" ucap fatan begitu membuka matanya dan melihat dengan samar sosok fina, gadis itu langsung mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk setelah mendengar suara fatan masuk ke telinganya
" kakak sudah sadar..." ucap fina langsung memeluk pria itu sambil menangis
" hiks...hiks...hiks" fina memeluk fatan erat dan menangis
" sudah jangan menangis" ucap fatan mengelus lembut kepala fina untuk menenangkan gadis itu
Bersambung....
__ADS_1
Selamat menikmati 😁 salam manis untuk pembaca 🥰🥰🥰 Jangan lupa tinggalkan jejak kakak sekalian di kolom komentar 🤗