
" bapak tidak bisa percaya pada siapapun dirumah itu setelah pembunuhan tuan fauzan" ucap pak kasim menjelaskan alasan keraguannya terhadap bik rani
Jimy mencerna dengan seksama setiap kata yang diucapkan pak kasim, menghubungkannya dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi
" lebih baik jika kita mengurangi kemungkinan apapun yang bisa saja merugikan bagi kita" lanjut pak kasim
" bapak benar saya hampir melupakan itu" ucap jimy setelah mencerna setiap kata yang pak kasim ucapkan, tiba-tiba mata jimy terbelalak teringat sesuatu
" sial... apa dia memberitahukan tentang kedatangan pak kasim pada orang-orang yang ada dirumah" jimy yang baru teringat mungkin saja fatan memberitahu kedatangan mereka pada bik rani atau siapapun yang ada disana, dengan cepat jimy berlari masuk kedalam rumah berniat mencari fatan tanpa memperdulikan bik rani yang telah berdiri membukakan pintu untuknya, jimy hendak langsung berlari menuju kamar fatan.. brukk... jimy menabrak fatan, refleks fatan menangkap tubuh jimy yang akan jatuh
" hei...hei... kenapa kau berlari-lari seperti itu?" tanya fatan yang mememgangi tubuh jimy yang akan jatuh karena menabraknya, fatan celingukan mencari keberadaan pak kasim yang tak ia temukan bersama kedatangan jimy
" lalu dimana pak..." belum sempat fatan menyelesaikan kalimatnya dengan sigap jimy membekap mulut fatan menggunakan tangannya dan menarik fatan menjauh dari fina dan bik rani yang berada disana
" hei... jangan tarik-tarik ada apa dengan mu?" gerutu fatan setelah jimy melepaskan tangannya dari mulut fatan, namun kini jimy masih menarik fatan keluar agar menjauh dari fina dan bik rani yang menatap mereka dengan heran, setelah tiba diluar jimy melepaskan tangan fatan yang ia tarik dengan paksa sejak tadi
" kenapa kau tarik-tarik mau menculik ku ya" ucap fatan dengan kesal karena jimy menariknya dengan paksa
" apa kau mengatakan tentang kedatangan pak kasim pada orang-orang dirumah?" tanya jimy yang nampak panik
" tidak" balas fatan menggelengkan kepalanya merasa heran dengan tingkah jimy yang panik
" pada fina?" tanya jimy memastikan lagi, mungkin saja fatan mengatakannya pada fina, fatan menggelengkan kepalanya tanda ia tak mengatakannya pada fina juga
" buk rani?" tanya jimy lagi memastikan kembali
" tidak juga" balas fatan
" hufh... syukurlah" ucap jimy membuang nafasnya dengan lega karena ternyata fatan tak mengatakan apapun soal pak kasim
" hanya untuk menanyakan ini kau sampai menarik-narik ku seperti kambing hah?" ucap fatan dengan kesal atas sikap jimy barusan padanya
" pak kasim mengenal buk rani" balas jimy yang membuat fatan tak mengerti arah pembicaraan jimy
" lalu?" balas jimy yang tak mengerti maksud jimy
__ADS_1
"plakk... bego banget sih, percuma kau pengusaha sukses itu saja tidak mengerti" jimy memukul kepala fatan sangking geramnya karena fatan tak tau maksudnya
" berani sekali kau memukul ku" fatan yang siap membalas jimy namun tidak kena karena jimy sigap menghindarinya
" dengar dulu" ucap jimy berusaha menghindari fatan yang masih ingin membalasnya, kejadian itu membuat fina yang melihat mereka dari kejauhan merasa mereka sedang bermain-main dan membuat sesak di dadanya melihat kedekatan fatan dan jimy yang semakin jauh dan fina tak merasa itu bisa ia terima begitu saja
" apa?" balas fatan menghentikan tindakannya yang ingin membalas memukul jimy
" pak kasim kenal buk rani, bagaimana jika setelah mereka bertemu keberadaan pak kasim bocor pada ayahmu" jimy menjelaskan
" kenapa buk rani harus memberitahu ayah?" tanya fatan yang tak mengira bahwa bik rani akan melakukanya
" aku tidak bilang buk rani akan melakukanya, bagaimana jika ia keceplosan pada seseorang yang juga mengenal pak kasim" jelas jimy mencoba memberitahukan kemungkinan yang bisa saja terjadi
" kenapa ayah tak boleh tau tentang pak kasim?" tanya fatan yang tak bisa memahami sama sekali tindakan jimy yang menyembunyikan keberadaan pak kasim dari ayahnya, jimy tak bisa menjawab pertanyaan fatan terkait alasan yang sebenarnya
" ada sesuatu yang kau sembunyikan" ucap fatan yang mencium bau sebuah rahasia yang jimy sembunyikan darinya
" apa yang bisa ku sembunyikan darimu" balas jimy berusaha meyakinkan fatan namun dengan gelagat jimy yang sangat fatan ketahui bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu, jika tidak ia takkan menyembunyikan pak kasim sebegitunya dari tuan hendra
" ayolah jimy.. apa itu sesuatu yang sangat besar hingga aku tak boleh tau" ucap fatan sedikit memohon agar jimy memberitahunya apa yang sedang terjadi sekarang
" aw... cebol sialan" fatan mememgangi telinganya yang ditiup oleh jimy dan hendak memukulnya namun jimy segera berlari menjauh dari fatan dan menuju mobilnya
" sampai jumpa di kantor ya kulkas" ucap jimy berteriak dari mobil, setelahnya jimy masuk kedalam mobil dan langsung mengemudikan mobilnya keluar dari halaman rumah fatan, sementara fatan masih sibuk dengan telinganya dan tak menjawab jimy, fatan masuk kedalam rumah sembari memegangi telinganya
" sialan" gerutu fatan
" kak tidak apa-apa?" tanya fina khawatir melihat fatan yang masih mememgangi telinganya
" ah... tidak apa-apa... dia terkadang suka bercanda" balas fatan dengan segaris senyum hangat di wajahnya
" begitu ya.." ucap fina yang terlihat tidak senang
" saya juga harus pergi sekarang" ucap fatan yang melirik jam tangannya
__ADS_1
" oh oke.. hati-hati di jalan kak... fina akan tunggu kak fatan pulang" balas fina mencoba tersenyum meski persaanya sedang tidak baik atas tindakan jimy pada fatan barusan
" saya pamit ya" ucap fatan sembari mengelus lembut kepala fina yang sudah menjadi kebiasaannya sekarang sebelum ia pergi dan setelah ia kembali ia akan mengelus kepala fina, ia tak ingin berbuat terlalu jauh takut ia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri
Fina menatap kepergian fatan yang telah keluar dari pintu bahkan hingga mobil fatan keluar dari gerbang fina masih berdiri di tempat semula masih menatap kearah fatan
" datang hanya untuk bercanda ya" ucap fina dalam hati mengingat jimy yang tiba-tiba datang dan pergi pagi ini
" udah ngeliatinnya.. orangnya udah ilang tuh" suara tika membuyarkan lamunan fina
" eh.. tika" balas fina yang tersadar dari lamunannya
" nanti sore juga balik lagi kok" ucap tika menggoda fina yang menatap kepergian fatan
" eh bukan begitu" balas fina yang malu
" oiya... ngomong-ngomong, kak jimy sering begitu ya?" tanya fina terkait yang ia lihat pagi ini saat jimy bercanda dengan fatan
" begitu apanya?" tanya tika yang gagal mengerti maksud perkataan fina
" bercanda dengan kak fatan" fina memperjelas maksudnya
" owh.. soal itu... itu sudah biasa terjadi, bukankah kamu juga sudah sering melihatnya" balas tika mengiyakan pertanyaan fina
" sudah sering sih tapi belum terbiasa" balas fina
" cemburu ya..." tika menebak setelah mendengar apa yang fina katakan
" eh enggak kok" balas fina menolak
" enggak usah cemburu kalau sama tuan jimy, mereka emang udah dekat dari lama" balas tika menasihati fina
" udah ah aku mau lanjut kerja dulu.. jangan terlalu dipikirkan" lanjut tika yang melenggang meninggalkan fina yang masih terdiam disana
" terbiasa ya... apa tidak aku tak harus terbiasa dengan ini" gumam fina
__ADS_1
Bersambung...
Selamat menikmati 😁 salam manis untuk pembaca 🥰🥰🥰