
Sudah satu bulan sejak pak kasim pertama kali datang ke apartemen jimy dan selama itu pula pak kasim dan istrinya tak diperbolehkan jimy untuk kemana-mana hal itu membuat pak kasim merasa gelisah karena ia hanya diam saja di apartemen jimy, hanya menerima pemberian jimy baginya ia terlihat seperti menumpang hidup dan menjadi beban bagi jimy, sementara sang istri bisa melakukan pekerjaan rumah untuk meringankan pekerjaan jimy yang terkadang pak kasim juga ikut membantu buk mita melakukan pekerjaan rumah karena bosan jika hanya berdiam diri saja, tak banyak pekerjaan yang bisa mereka lakukan karena jimy terbiasa melakukan semuanya sendiri mulai dari mencuci pakaiannya bahkan hingga menyetrikanya, jimy tidak menganggap pak kasim dan buk mita sebagai pekerjannya tapi tamunya itulah sebabnya jimy tak membiarkan buk mita mencuci pakaiannya.
Saat sedang sarapan bersama pak kasim mencoba mengutarakan kegelisahannya pada jimy, ia berharap bisa bekerja dan menghasilkan uang agar mereka tak perlu merepotkan jimy lagi soal biaya hidup
" em.. nak jimy ada yang ingin bapak sampaikan" pak kasim membuka suaranya dengan ragu
" katakan saja pak" balas jimy sembari menoleh kearah pak kasim yang duduk di sebelah kanannya
" em.. begini nak, kami sangat berterimakasih atas apa yang telah nak jimy lakukan untuk kami berdua, nak jimy memberi kami tempat tinggal bahkan memenuhi kebutuhan kami, bapak merasa tidak enak jika harus terus merepotkan nak jimy" pak kasim mengutarakan isi pikirannya dengan ragu takut menyinggung perasaan jimy
" apa maksud bapak?" balas jimy yang seketika mengehentikan aktivitasnya
" apa bapak tidak bisa bekerja... begini maksudnya bapak hanya tidak ingin merepotkan nak jimy lagi" jelas pak kasim
" saya tidak merasa direpotkan sama sekali oleh bapak dan ibu" balas jimy menyakinkan
" bapak taukan jika bapak terlihat diluar bapak bisa dalam bahaya dan saya tidak ingin itu terjadi" lanjut jimy memberi pengertian paada pak kasim
" bapak tau itu tapi bapak bisa berhati-hati agar tak bertemu orang yang kenal dengan bapak" balas pak kasim bersikukuh
" begini nak, bukannya kami tidak percaya padamu tapi bapak hanya merasa tidak nyaman jika berdiam diri saja dan terus-menerus merepotkan mu" kali ini buk mita ikut buka suara memberi penjelas pada jimy agar tak salah paham atas maksud mereka
" saya mengerti buk" balas jimy yang memang mengerti tentang keresahan pak kasim
" bapak tau saat ini orang-orang tuan hendra sedang mencari keberadaan bapak setelah mereka tau bapak dan ibu telah pergi dari desa" lanjut jimy memberitahukan kondisi saat ini
" apa!!" pak kasim terkejut mendengar penuturan jimy terkait dirinya yang kini kembali dicari-cari oleh tuan hendra, pak kasim merasa sedih dengan kondisi saat ini itu artinya tidak ada harapan baginya untuk bekerja dan ia harus kembali merepotkan jimy lagi
Jimy yang melihat perubahan ekspresi diwajah pak kasim membuang kasar nafasnya dan beranjak dari meja makan menuju kamarnya dan mengambil ponselnya terlihat ia sedang menghubungi seseorang sebentar kemudian kembali lagi ke meja makan
__ADS_1
" setelah sarapan bapak dan ibu bersiap-siaplah kita akan pergi" ucap jimy memberitahukan agar pak kasim dan buk mita bersiap-siap untuk pergi setelah sarapan
" pergi kemana nak?" tanya pak kasim yang bingung
" nanti juga bapak akan tau" balas jimy tersenyum manis
Kini jimy sedang mengemudikan mobilnya menuju suatu tempat pak kasim dan buk mita masih bingung kemana mereka akan di bawa
" pak ini kita mau dibawa kemana kok masuk-masuk hutan gini?" bisik buk mita pada pak kasim setelah melihat sekeliling mereka yang kini hanya terdapat pepohonan yang cukup rimbun dan jalanan yang sepi
" bapak tidak tau buk" balas pak kasim yang memang tidak tau tentang jalan yang mereka lewati saat ini
" ibu takut pak" kembali bisik buk mita yang merasa merinding melihat sepinya area yang mereka lewati saat ini
" tenang saja buk, tidak usah takut bapak yakin nak jimy tidak akan melakukan hal-hal aneh" balas pak kasim menenangkan istrinya
" kita sampai" ucap jimy yang menghentikan mobilnya di depan gerbang kediaman fatan
" kita dimana nak?" tanya pak kasim yang tak tau saat ini mereka ada dimana
" ini rumah fatan, ia tak suka berada di keramaian dan kebisingan kota itulah sebabnya ia membangun rumah disini" jelas jimy
" rumah tuan muda.." ucap pak kasim yang terlihat senang mengetahui sekarang mereka berada dirumah anak sang majikannya dulu
" apa tidak apa-apa bapak dibawa kesini?" tanya pak kasim yang terlihat khawatir jika kedatangannya kerumah fatan bisa membuatnya ditemukan tuan hendra
" seharusnya tidak ada masalah pak, rumah ini jauh dari keramaian dan tuan hendra sangat jarang berkunjung kemari" balas jimy membuat pak kasim merasa lega
" mari kita masuk" lanjut jimy kembali' mengemudikan mobilnya masuk halaman rumah fatan
__ADS_1
" ayo pak.. buk" jimy mengajak pak kasim dan buk mita untuk turun dari mobil, baru saja pak kasim hendak meraih pintu entah kebetulan atau keberuntungan penglihatan pak kasim tiba-tiba tertuju pada seorang wanita yang sedang berdiri di depan pintu rumah, pak kasim menatapnya dengan seksama memastikan siapa wanita yang terlihat familiar di matanya itu
" rani!!!" ucap pak kasim yang terkejut setelah melihat dengan jelas wanita itu,. seketika pak kasim menghentikan istrinya yang hendak turun.
" kenapa pak?" tanya buk mita yang tak mengerti atas tindakan pak kasim
" jangan turun buk... lihatlah disana ada rani" jawab pak kasim sembari menunjuk kearah bik rani berada, buk mita melihat kearah yang ditunjuk pak kasim dan ia pun mengerti bahwa mereka tak boleh bertemu bik rani
Jimy yang sudah turun merasa penasaran mengapa pak kasim dan istrinya belum juga turun, ia pun memeriksa apa yang terjadi didalam mobil
" ada apa pak.. ayo fatan sudah menunggu di dalam" ucap jimy
" nak apa itu rani... pengasuh tuan muda?" tanya pak kasim memastikan lagi penglihatannya, jimy menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan pak kasim
" bapak kenal buk rani?" tanya jimy penasaran
" bapak mengenalnya beberapa bulan sebelum bapak berhenti bekerja" jawab pak kasim
" bapak tidak tau dia ada disini" ucap pak kasim yang terlihat sedikit khawatir
" buk rani tidak seperti itu pak" balas jimy yang seolah mengerti apa yang menjadi kekhawatiran pak kasim
" bapak tidak bisa mempercayai siapapun dirumah itu sejak kejadian pembunuhan tuan fauzan saat itu" ucap pak kasim menjelaskan alasan keraguannya
Mendengar apa yang dikatakan pak kasim jimy mencoba untuk mencernanya dan memikirkannya dengan seksama.
Bersambung....
Selamat menikmati 😁 Salam manis untuk pembaca 🥰🥰🥰
__ADS_1