Karamnya Harapan

Karamnya Harapan
Bagian 35 Dia II


__ADS_3

" kenapa marah begitu duduklah dulu kau tentu tidak ingin jadi pusat perhatian kan" ucap lili


" sialan... dasar wanita murahan... " gerutu jimy sambil menarik kursi untuk duduk


" ok tenang jangan biarkan emosimu menguasai mu jimy itu takkan baik..." ucap jimy dalam hati untuk menenangkan dirinya sendiri


setelah mengatur nafas dan menenangkan diri, jimy memulai pembicaraan


" sepertinya kau sedang senggang sehingga mengajakku untuk bertemu" ucap jimy


" ingin minum?" tanya lili


" tentu... tolong satu cafe noir" jawab jimy, dan lili langsung memesan minuman itu untuk jimy


" kau masih menyukainya, tak ingin mencoba hal baru" tanya lili


" aku masih menyukainya, sangat menyukainya" jawab jimy


" aku berbicara tentang kopi" balas lili yang sebenarnya tau tentang perasaan jimy


" aku juga berbicara tentang kopi" balas jimy


" permisi nyonya ini pesanannya" ucap seorang pelayan kafe itu


" ini pesananmu" ucap lili sambil menyodorkan secangkir kopi itu pada jimy


" terimakasih " balas jimy


" kau mengajakku bertemu bukan untuk membicarakan kopi kan" lanjut tanya jimy


" kau ingat dulu kita bertiga sering menghabiskan waktu dengan minum bersama" ucap lili


" ya aku masih ingat semua itu bahkan tanpa terlupakan sedikit pun" balas jimy


" kenangan itu sulit untuk dilupakan ya" ucap lili


" bukan sulit hanya saja aku memang tak ingin melupakannya sama sekali ... bahkan aku masih ingat tentang betapa kejinya perlakuan mu padanya" balas jimy


" apa hanya itu yang kau ingat bukankaj ada kenangan manis juga" balas lili


" tentu saja aku tak pungkiri itu... kau pernah membuatnya sangat bahagia sebelum menghancurkannya begitu dalam hingga butuh banyak waktu untuknya bangkit" balas jimy


" sebegitu bencinyakah kau padaku" tanya lili


" lebih dari yang bisa kau bayangkan" balas jimy dengan tatapan dingin dan wajah datarnya


" bagaimana keadaannya sekarang" lili bertanya tentang keadaan fatan

__ADS_1


" jauh lebih baik dari saat bersamamu" balas jimy


" terakhir kali aku dengar kau sedang mencari tau tenta,ng apa yang ku lakukan bukan?" tanya lili yang sontak membuat jimy kaget, pasalnya ia benar-benar berhati-hati untuk melakukannya


" jadi kau sudah tau sepertinya aku tak perlu menutupinya lagi" balas jimy yang masih berusaha untuk tenang


" jadi benar ya... apa tujuanmu" tanya lili yang mulai serius


" bukankah aku yang harus bertanya begitu padamu.... apa tujuanmu?" balik tanya jimy


" bukankah kau juga tau bahwa aku takkan mengatakannya" jawab lili


" begitu juga denganku" balas jimy


" sepertinya kau tak ingin berhenti" ucap lili


" apa kau akan berhenti?" tanya jimy


" sepertinya tidak" lanjutnya


" kalau begitu mari kita lihat siapa yang menang dalam pertempuran ini" ucap lili


" kita lihat saja nanti" balas jimy


" jadi itu tujuanmu bertemu denganku?" lanjut tanya jimy


" jika sudah selesai boleh aku pergi sekarang?" tanya jimy tanpa mengubris ucapan lili barusan


" tentu bagaimana bisa aku berlaku tidak sopan begini padamu" jawab lili


" ingat ini jika kau melukai lentera ku maka aku akan melenyapkanmu" ancam jimy dengan wajah tanpa ekspresinya


" kali ini kau takkan selamat seperti sebelumnya karena aku takkan dengar dia lagi seperti sebelumnya" lanjut jimy


" ingat itu" lanjut jimy dengan senyum manisnya dan pergi meninggalkan lili disana


" dasar wanita j*l*ng berani sekali dia menyuruhku untuk berhenti" gerutu jimy saat sudah berada di mobilnya, kemudian jimy mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang


" kalian sangat bodoh kenapa dia bisa tau?" bentak jimy pqda seseorang yang berada disebrang telpon


" maaf tuan kami tak menyangka ini akan terjadi" ucap pria itu dengan suara bergetar karena takut


" sudah terlanjur" balas jimy


"selanjutnya kami harus bagaimana tuan?" tanya pria di balik telpon


" lanjutkan saja rencana sebelumnya" jawab jimy

__ADS_1


" tapi tuan" balas pria itu dengan ragu


" dia sudah tau bahwa kita menyelidikinya.... tapi dia belum keseluruhannya" balas jimy


" baik tuan... dimengerti" balas pria itu dan langsung menutup telponya


" sudah terlanjur pantas saja kami tak menemukan jejaknya sama sekali ternyata dia sudah mencurigainya..." gumam jimy setelah ia menutup telponnya


jimy pun telah tiba di apartemennya dan membaringkan tubuhnya di ranjang sesaat ia mengingatkan kembali pertemuannya tadi dengan lili


" tunggu dulu... dia meminta untuk bertemu dan secara tidak langsung ia memintaku untuk berhenti bukankah itu bisa diartikan bahwa penyelidikan kami sudah terasa mengancamnya... baiklah perang ini aku takkan membiarkan mu lepas begitu saja... kau sudah pernah menganggu lentera ku, kali ini takkan ku biarkan begitu saja" pikir jimy


sementara jimy sedang sibuk dengan pikirannya sendiri di tempat lain terlihat lili sedang berada di kamarnya, ia terlihat sangat kesal dengan ancaman jimy barusan


" berani sekali pria menjijikkan itu mengancam ku" ucap lili dengan sangat marah sambil mengepalkan tangannya


" kali ini pun aku akan menang... lihat saja dia akan ku hancurkan" ucap lili pada dirinya sendiri sambil tertawa jahat.... lili mengambil ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang


" jalankan rencananya... tikus sudah masuk perangkap" perintah lili pada seseorang di balik telpon.... lili pun menutup telponnya dan terlihat menghubungi seseorang lagi ternyata itu meri


" katakan padanya untuk bergerak lebih cepat... saya sudah membuat jimy sibuk dengan urusan lain sehingga pria itu tidak punya waktu untuk mencurigainya" perintah lili pada meri


" baik..." jawab meri


" anu nyonya... emm... emm" ucap meri dengan gagap


" apa... bicara dengan jelas" ucap lili


" ba..baik... bolehkah saya mendekati pria manis itu nyonya... saya hanya ingin bermain-main" tanya meri dengan gagap


" kau ini benar-benar orang kepercayaan ku.... lakukan saja sesukamu tapi ingat berhati-hatilah padanya, dia lebih berbahaya dari pada target" ucap lili memberikan ijinnya


" baik nyonya" balas meri dan menutup telponnya


" aku selalu selangkah didepanmu... jika kau mau bergabung dengaku untuk menghancurkannya maka itu akan lebih mudah, tapi kau memilih untuk tetap bersamanya, sungguh menjengkelkan" gumam lili sesaat setelah ia menutup telponya


sementara jimy dan lili sibuk dengan strategi mereka masing-masing terlihat fatan yang berada dirumah sedang duduk santai sambil membaca buku dengan ditemani oleh fina yang sedang merapikan rambut fatan yang masih berantakan setelah ia selesai mandi... entah sejak kapan mereka menjadi sangat dekat.


bersambung.....


semakin malam semakin sunyi...


dinginya menyelimuti hati yang sepi...


membuatku berharap kau ada disini...


terimakasih untuk hadirnya... semoga kita bisa berjumpa dikolom komentar😁

__ADS_1


salamanis untuk pembaca 🥰🥰🥰


__ADS_2