
" menjijikkan... benar-benar rendahan" ucap jimy dalam hati mengutuk perbuatan hendra dan istrinya
" saya mencoba tetap bertahan disana untuk melihat dan berusaha menjaga den fatan, tapi saat tau bahwa tuan hendra mencurigai saya, saya memutuskan untuk berhenti dan bersembunyi dari tuan hendra dan orang-orangnya, sejak saat itu saya tidak pernah tau bagaimana kabar den fatan lagi" lanjut pak kasim yang masih tak kuasa menahan air matanya karena kesedihan yang ia rasakan
" bagaimana saya bisa percaya dengan semua ucapan bapak?" tanya jimy yang menginginkan bukti
" tak ada apapun yang berharga dalam hidup saya selain istri saya, bagaimana mungkin saya mengatakan kebohongan saat nyawa istri saya menjadi taruhannya" balas pak kasim meyakinkan jimy bahwa semua itu benar
" tapi kita tidak bisa mengadili tuan hendra jika tak ada bukti" kini dika membuka suara memberikan pendapatnya
" tak perlu mengadilinya dengan hukum, dia akan langsung berada di neraka" balas jimy yang sangat marah setelah mendengar apa yang sebenarnya terjadi, dika sangat mengerti apa yang akan dilakukan jimy meskipun ia sangat marah namun ia akan memperhitungkannya dengan matang sebelum benar-benar melakukan apa yang ia katakan, itulah sebabnya dika tak membantah omongan jimy
" terimakasih sudah memberitahu saya semua itu, saya mohon maaf karena bersikap kurang ajar pada bapak" ucap jimy
" saya juga meminta maaf, saya takut kalian adalah orang-orang tuan hendra" balas pak kasim yang meminta maaf juga atas kekeliruannya
" sebaiknya kalian ikut kami, tempat ini memang terlihat aman tapi hanya untuk sementara sampai orang-orang tuan hendra menemukan bapak dan ibu disini" jimy menyarankan agar mereka ikut pergi dengannya untuk lebih memudahkan menjaga mereka berdua, bagaimana pun juga pak kasim adalah orang baik yang berusaha melindungi fatan meski sebentar
" tidak usah... kami akan tinggal disini saja" balas pak kasim menolak tawaran jimy untuk ikut pergi
" kami bisa menemukan bapak disini hanya dengan sekali pencarian, pasti orang-orang tuan hendra juga bisa menemukan keberadaan bapak" balas jimy memberi penjelasan, sebab mereka baru kali ini mencari sosok pak kasim dan langsung menemukannya bagaimana dengan tuan hendra yang selalu mengejarnya
" saya yakin mereka belum bergerak sepenuhnya karena tau bahwa bapak tidak menjadi ancaman untuk mereka saat ini, namun jika suatu saat mereka merasa terancam mereka takkan segan membunuh bapak juga" kembali jimy memberikan penjelasan agar pak kasim mengerti keselamatan mereka berdua akan terancam oleh tuan hendra
" bapak tidak punya pilihan, ikutilah dengan kami, saya akan pertemukan bapak dengan fatan juga, bukankah bapak ingin melihatnya" lagi-lagi jimy memberikan penawaran untuk pak kasim, yang pada akhirnya pak kasim mengikuti perkataan jimy, ia juga ingin melihat anak majikannya itu secara langsung
Pagi harinya setelah berkemas dan berpamitan dengan warga desa pak kasim dan istrinya pergi mengikuti jimy dan dika ke kota menggunakan mobil dika, karena perjalanan yang jauh mereka akan tiba di apartemen jimy sekitar sore atau malam hari.
Sementara itu di kediaman fatan, ia masih berusaha menghubungi jimy sejak mengetahui jimy pergi tanpa bilang apa-apa sama sekali, fatan bahkan sempat menghubungi bagas untuk bertanya kemana jimy pergi namun ia tak menemukan jawabannya karena bagas juga tidak tau kemana jimy pergi
" sedang apa, apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya fina yang melihat fatan terus mengecek ponselnya
__ADS_1
" bukan apa-apa" jawab fatan menyembunyikan fakta bahwa ia berusaha menghubungi jimy
" jangan terlalu banyak berpikir, fina yakin apapun itu semuanya pasti akan baik-baik saja" fina mencoba menyemangati fatan meskipun ia tak tau apapun
" terimakasih untuk selalu memperhatikan saya" balas fatan sembari memeluk fina
" saya pergi ya" pamit fatan pergi kekantor yang dibalas anggukan oleh fina diiringi senyuman
Dalam perjalanan menuju kantor fatan masih bertanya-tanya kemana jimy pergi, tidak biasanya ia pergi tanpa mengatakan apapun terlebih dahulu, fatan hanya khawatir jika ada sesuatu yang buruk menimpa jimy...
*Malam Hari*
Kini jimy telah tiba di apartemennya bersama dika, pak kasim dan buk mita
" ayo silahkan masuk, anggap saja rumah sendiri" jimy mempersilahkan kedua suami istri itu untuk masuk ke apartemennya
" duduklah..." lanjut jimy mempersilahkan keduanya untuk duduk setelah mereka memasuki apartemen jimy
" terimakasih... nak jimy" balas pak kasim yang merasa beruntung bisa bertemu dengan jimy
" apa tidak merepotkan nak jimy, jika kami berdua tinggal disini?" kini giliran buk mita membuka suara, pasalnya ia merasa tak enak jika harus tinggal di apartemen milik jimy
" tidak merepotkan sama sekali" balas jimy dengan sangat ramah
" baiklah karena sudah malam, anda berdua istirahatlah, anda berdua pasti sangat lelah" lanjut jimy mempersilahkan mereka untuk istirahat, dikarenakan perjalanan jauh atau faktor usia mereka kelelahan dan memutuskan untuk mengikuti saran jimy dan beristirahat
" kalau begitu kami permisi dulu" pamit pak kasim yang dibalas anggukan oleh jimy
" bagaimana selanjutnya?" tanya dika setelah mereka tinggal berdua saja di ruang tamu
" tidak usah memberitahunya tentang pembunuhan orang tuanya, aku ingin pelaku sendiri yang mengakuinya" jawab jimy
__ADS_1
" baiklah sesuai perintah anda, saya pamit dulu" balas dika mengerti
" terkadang aku merasa aneh tentang dirimu" ucap jimy membuat dika menghentikan langkahnya
" aneh??" balas dika tak mengerti
" terkadang kau sangat sopan terkadang juga tidak" balas jimy memperjelas maksudnya
" hehehe... terbawa suasana" balas dika dengan tawa kecil
" lanjutkan tugasmu sebelumnya, aku akan mengurus yang ini" perintah jimy yang di balas anggukan oleh dika tanda ia mengerti
Setelah membersihkan diri jimy membaringkan tubuhnya di ranjang sudah beberapa hari ini ia merasa sangat lelah, ia masih sulit percaya dengan apa yang dikatakan pak kasim soal kematian fauzan dan lina, menurut jimy alasan paling masuk akal dari kejadian itu adalah perebutan harta dan kekuasaan
" hufh..." jimy menghela nafas dengan berat
" masih ada saja orang seperti itu, melakukan apapun demi kekayaan dan kekuasaan" gumam jimy
" baiklah mari kita lihat, sejauh mana dia bisa bertahan dalam permainan yang dia ciptakan sendiri, dia sudah menggali lubang terlalu dalam kita akan lihat bagaimana caranya merangka keluar" gumam jimy dengan senyum licik
Sebelum tidur jimy teringin memberikan sesuatu pada tuan hendra, ia pun mengambil ponsel dan menghubungi bagas untuk melakukannya
" kirimkan sebuket mawar pada tuan hendra besok pagi, katakan padanya untuk berhati-hati, kau tau bagaimana cara melakukannya kan" perintah jimy pada bagas yang langsung dimengerti oleh bagas meskipun ia tak tau apa yang sedang terjadi, ia hanya melakukan apa yang di perintahkan
" baiklah" balas bagas dan mengakhiri panggilan telponya
" terima hadiah ku selagi kau bisa" pikir jimy dengan ekspresi licik
Bersambung....
Selamat menikmati 😁 salam manis untuk pembaca 🥰🥰🥰
__ADS_1