Karamnya Harapan

Karamnya Harapan
Bagian 198 Harus Kuat


__ADS_3

Mobil ambulance yang mengangkut fatan telah tiba di rumah sakit, pria itu masih belum sadar sama sekali, kondisinya juga tak terlihat baik, kecemasan menghujani jimy yang terus menggenggam tangan fatan, mengajak sahabatnya itu berbicara masih dengan harapan pria itu akan menjawab dan baik-baik saja.


Cemas... tentu saja jimy sangat cemas, seseorang yang ia jaga dengan sangat baik bahkan tak ia biarkan sekedar tergores saja kini orang itu terbaring tak sadarkan diri dengan bersimbah darah, seseorang yang ia rawat sepenuh hati kini sedang berjuang untuk bertahan hidup, perasaan takut, rasa bersalah, kecewa semuanya bercampur dalam dada jimy, masih berharap dan akan terus berharap sahabatnya baik-baik saja.


Kini dokter telah menangani pasien, jimy dan dika menunggu di ruang tunggu, pukul empat dini hari mereka sedang berada di rumah sakit yang sangat ramai karena itulah satu-satunya rumah sakit besar di kota itu, sebelumnya heni juga langsung di bawa ke sana dan sudah di tangani oleh dokter, heni mengalami patah tulang di beberapa bagian yakin lengan kiri bawah dan beberapa rusuk kiri, selebihnya beruntunglah hanya luka kecil saja, untuk fatan dokter masih belum tau apa saja yang terjadi


🌹


Fina sedang dalam perjalanan ke luar kota, ke rumah sakit dimana fatan di rawat, setelah mendapatkan kabar dari bik rani yang di beritahukan oleh dika mereka langsung sepakat akan menuju kesana saat ini juga tampa menunggu esok hari, fina sudah sangat khawatir dan bertambah cemas serta mendengar kabar dari bik rani


Tuan hendra juga telah di beri kabar oleh pak budi yang di kabarkan oleh bagas dan bik rani secara langsung, tuan hendra tak terlihat cemas sama sekali ia menanggapinya dengan santai


" anak itu pasti baik-baik saja" ucap tuan hendra setelah diberi tahu oleh pak budi


" ingin saya siapakan mobil sekarang tuan?" tanya pak budi


" besok pagi saja... sebentar lagi matahari akan terbit" balas tuan hendra


" baik tuan" balas pak budi pergi dari sana... tuan hendra kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidurnya yang terganggu


" benar-benar ya... bahkan dia tidak peduli dengan keadaan putranya yang sedang terluka..." gerutu pak budi sembari melangkah keluar


" bagaimana bisa aku mengikuti orang seperti ini... astaga ku rasa aku yang dulu memang benar-benar bodoh.. bisa-bisanya mengikuti orang sepertinya" pak budi mengutuki dirinya sendiri


🌹


" masih jauh pak?" tanya fina pada supir yang sedang mengemudikan mobil yang ia tumpangi menuju luar kota, fina pergi bersama tika


" kita bahkan belum keluar dari kota nyonya... kita baru akan tiba besok pagi... nyonya beristirahat saja selama di perjalanan" jawab pak supir


" mana bisa aku istirahat... kak fatan sedang tidak baik-baik saja saat ini" balas fina yang hanya sempat tidur sebentar


" pak supir benar fin... istirahatlah sebentar... tidak ada yang bisa kau lakukan saat ini selain menjaga kesehatan mu, toh disana pasti sudah ada orang yang mengabari bu rani sebelumnya yang akan menemani tuan muda" tika berusaha membujuk fina agar beristirahat saja selama perjalanan


" tapi..."


" kau tidak akan bisa merawat tuan muda jika kau juga sakit kan... nah sekarang tidur saja dan aku akan membangunkan mu begitu kita tiba disana" tika memotong ucapan fina


" istirahat ya..." tika membujuk kembali dan fina menurut setelah mendengar apa yang tika katakan dan itu ada benarnya

__ADS_1


" nah sini... senderkan kepalamu di pundak ku" tika meminta fina bersender padanya agar lebih nyaman, gadis itu menurut dan berusaha memejamkan matanya


Mereka melaju dengan cepat membelah dinginnya cuaca dini hari, lalu lintas masih sepi membuat perjalanan mereka lebih mudah.


🌹


Jimy masih menunggu, beberapa waktu kemudian dokter keluar dan mengatakan bahwa fatan harus di operasi


" bagaimana keadaannya dokter?" tanya jimy seketika dokter keluar


" kondisinya tidak bagus ada beberapa bagaian tulang yang patah dan harus segera di operasi" jelas dokter


" jeder!!!" bak tersambar petir rasanya bagi jimy setelah mendengarnya


" lakukan saja yang terbaik... apapun itu" ucap jimy


" anda keluarganya?" tanya dokter, keduanya menggeleng


" saya butuh persetujuan keluarga untuk melakukannya, jimy naik pitam mendengar ucapan dokter yang sangat wajar itu


" grep!!!" jimy segera meletakan tangannya di kerah pakaian dokter itu dan meremasnya dengan kuat


" akan saya lakukan sebisa saya" ucap dokter itu terbata karena ketakutan


" nah begitu" balas jimy melepas kerah pakaian dokter itu dan merapikannya kembali


" kalau begitu saya permisi" pamit dokter


Drrrtt... drrrtt... ponsel dika berdering, pria berkulit sawo matang itu langsung menjawabnya


" tunggu saya akan keluar" ucapnya dan menutup panggilan


" siapa?" tanya jimy yang masih fokus menatap dinding


" wawan... dia sudah ada di parkiran" jawab dika


" anda harus pergi dari sini... bisa gawat urusannya jika wawan mengenali anda" usul dika


" aku akan tetap disini sampai operasi selesai" jawab jimy yang enggan pergi dari sana

__ADS_1


" tapi..." dika masih ragu akan hal itu


" tidak apa-apa aku masih menggunakan penutup wajah dan topi... dia tidak akan mengenali ku" balas jimy yang sepertinya tak berniat pergi


" baiklah... tolong kendalikan diri anda.. jangan bertindak berlebihan" pesan dika dan jimy mengangguk setuju, dia akan duduk diam mendengarkan saja


" saya pergi dulu" pamit dika menuju parkiran menjemput wawan, saat ke rumah wawan sebelumnya dika meminta nomor ponselnya kalau-kalau ada sesuatu yang ia butuhkan bantuan wawan


Dika tiba di parkiran dan menghampiri wawan yang datang sendirian


"wawan...." teriak dika begitu melihat wawan


" bagaimana kondisi pak bos dan bu heni pak?" tanya wawan begitu mereka sudah dekat


" bu heni sudah di mengalami patah tulang kiri bagian bawah dan beberapa rusuk kirinya juga... tapi sudah di operasi dan sekarang berada di ruang ICU" jawab dika menjelaskan


" syukurlah..." wawan merasa lega mendengar heni selamat


 "fatan bagaimana pak" lanjutnya


" fatan mengalami patah tulang selangka dan lengan bawah kiri juga, benturan di kepala, patah tulang kaki kanan bagaian bawah... sekarang sedang di operasi" jelas dika


" astaga.... apa separah itu pak?" wawan terkejut mendengar penjelasan dika


" namun syukurlah benturan di kepala tidak mengakibat apapun.. hanya sedikit robek di kulit kepala saja" jelas dika


" syukurlah... tidak bermasalah dengan otak" wawan masih sedikit mensyukurinya karena bosnya masih selamat


" nah ayo kita masuk" ajak dika yang di balas anggukan oleh wawan


Begitu tiba di tempat sebelumnya dika dan jimy menunggu, wawan sama sekali tak mencurigai apapun tentang siapa pria yang berpenutup wajah yang sedang duduk di ruang tunggu itu


" pak siapa dia?" pertanyaan yang sangat wajar keluar dari mulut wawan bukan karena curiga tapi lebih ke ingin tau saja


" teman saya" jawab dika... wawan hanya mengangguk tanda ia mengerti, ketiganya pun duduk di sana menunggu dokter selesai operasi, jimy berharap agar operasinya lancar dan selesai sebelum fina tiba disana.


Bersambung....


Selamat menikmati 😁 salam manis untuk pembaca 🥰🥰🥰 Jangan lupa tinggalkan jejak kakak sekalian di kolom komentar 🤗

__ADS_1


__ADS_2