
" apa kau masih marah pada ayah?" tanya tuan hendra terkait kenyataan bahwa tuan hendra menyembunyikan identitas sebenarnya dari seorang fatan
" apa ayah datang hanya untuk membicarakan ini?" balik tanya fatan yang sedikit tak senang dengan pembahasan sang ayah
" ayah hanya ingin memastikan sesuatu, apa begitu besar kesalahan ayah hingga membuatmu begitu marah" balas tuan hendra masih gigih menanyakan hal yang sebenarnya fatan tak ingin membahasnya sama sekali
" bagaimana mungkin aku bisa marah pada ayah, aku yakin ayah menyembunyikan kebenarannya semata ut untuk kebaikanku" balas fatan terdengar ketulusan di suaranya, bagaimana pun juga tuan hendra telah rela merawatnya dengan sangat baik meskipun ia bukanlah anak kandungnya
" lalu mengapa kau pergi begitu saja saat itu dan tak berbicara dengan ayah setelahnya?" tanya tuan hendra menyelidik
" saat itu aku begitu terkejut dan perlu mencerna semuanya dengan baik agar aku bisa mengambil keputusan yang tepat dan juga aku sedikit sibuk setelah kepergian jimy itulah alasan mengapa aku tak berbicara atau menemui ayah" jelas fatan terkait alasanya yang terkesan mengabaikan tuan hendra
" benar juga itu pasti menjadi saat-saat yang sulit untukmu, ayah tau betapa berharganya pria itu bagimu dan kini dia telah pergi untuk selamanya" balas tuan hendra terlihat sedih dengan kepergian jimy
" ayah benar sangat sulit" balas fatan membenarkan ucapan ayahnya, betapa sulit yang ia rasakan menerima kepergian sahabat baiknya itu
" ayah turut berdukacita atas kepergiannya dan maaf saat itu ayah tak hadir di pemakamannya" balas tuan hendra meminta maaf karena ketidak hadirannya di pemakaman jimy kala itu
" tidak apa-apa ayah aku mengerti" balas fatan tak mempermasalahkanya sama sekali.
Dari kejauhan tampak riki sedang mengamati keempat orang yang sedang berbicara itu, samar-samar ia dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, saat sedang asyik mengamati riki melihat bik rani menghubungi seseorang dengan ponselnya, riki jelas tau siapa yang dihubungi oleh bik rani bagaimanapun juga riki sangat ahli di bidang ini jadi ia dengan mudah mengetahui gelagat seorang amatiran di bidangnya
" apa si pak budi ini tidak berada di pihak tua bangka itu?" pikir riki saat melihat bik rani yang dapat dipastikan melaporkan kedatangan tuan hendra menemui fatan
" terserah sajalah lebih baik sekarang ku amati gerak-gerik dari keempat orang itu" batin riki dan kembali memfokuskan dirinya mengamati keempat orang itu
🌹 kembali kesisi fatan dan tuan hendra
" ada hal penting yang ingin ayah bicarakan denganmu" ucap tuan hendra memberi kode untuk berbicara empat mata dengan putranya itu
" baiklah.. mari berbicara di ruang kerja ku" balas fatan mengajak tuan hendra untuk berbicara dengannya di ruang kerjanya
__ADS_1
" saya pergi sebentar, jika kamu merasa tidak nyaman kembalilah kekamarmu dulu, saya tidak tau ini akan berakhir dengan cepat atau tidak" bisik fatan pada fini sebelum ia pergi, fatan sama sekali tak menggubris keberadaan lili disana
" sebentar ya sayang, jika kamu merasa lelah mintalah bik rani untuk mengantarmu ke kamar tamu untuk istirahat" tuan hendra juga pamit pada istri tercintanya, dengan anggun lili menganggukkan pelan kepalanya tanda ia mengerti
Ayah dan anak itu kini telah pergi menuju ruang kerja fatan menyisakan dua wanita cantik yang berpura-pura tak saling mengenal itu disana, tampak canggung sangat tak mungkin bagi mereka berdua untuk berinteraksi dengan leluasa di rumah itu
" bisa temani saya jalan-jalan diluar, saya sedikit bosan jika hanya duduk saja" ucap lili meminta fina menemaninya untuk melihat-lihat pekarangan rumah yang bagus dengan beraneka ragam tanaman hiasnya
" te..tentu saja nyonya" balas fina terbata, pasalnya ia tak tau jika lili akan mengajaknya berbicara dirumah itu
" nyonya membutuhkan sesuatu?" tanya bik rani setelah melihat lili dan fina hendak pergi menuju taman belakang rumah yang juga terdapat kolam renang disana
" tidak saya hanya ingin berjalan-jalan saja" balas lili dengan anggun
" fina akan temani nyonya berjalan-jalan buk" balas fina memberitahukan
" baiklah kalau begitu, jika nanti nyonya butuh apa-apa beritahu ibu ya" balas bik rani pada fina, fian mengangguk tanda ia setuju
" aman nyonya" balas fina singkat
" kapan kalian akan menikah?" tanya lili lagi membuat fina terkejut
" a..apa... menikah??" balas fina kaget sesaat ia menghentikan langkahnya
" kenapa kau terkejut?" tanya balik lili yang melihat fina terkejut akan ucapannya
" bu.. bukankah terlalu cepat nyonya?" tanya fina ragu
" tentu tidak... ini saat yang tepat, semakin lama kita menunda akan semakin berbahaya" balas lili menjelaskan alasannya
" tap..tapi nyonya bagaimana itu bisa terjadi, saya tau dia menyukai saya dan kami baru saja berpacaran bagaimana mungkin memutuskan menikah secepat itu?" celoteh fina masih bingung dan ragu akan langkah yang mereka ambil saat ini
__ADS_1
" saya akan urus itu nanti.. kau hanya perlu mengikuti apa yang saya katakan... kau mengerti!" balas lili dengan tegas membuat fina tak berkutik, mau bagaimana pun juga ia telah setuju dari awal untuk menerima pekerjaan ini
" baik nyonya" balas fina mengerti
" tak ada jalan untuk mundur... astaga fina tugasmu hanya membuat pria dingin itu menyukaimu dan kini malah kau yang jatuh cinta padanya.. dasar tidak berguna" fina mengutukki dirinya sendiri di dalam hati karena dari awal ia bermain dengan perasaan seseorang dan kini ia malah terjebak dengan cintanya sendiri
🌹 kembali ke ruang kerja fatan
" tolong pertimbangan kembali permintaan ayah nak, bukannya ayah ingin mengekangmu tapi kau putra ayah satu-satunya dan pewaris sah dari keluarga darmawan" tuan hendra masih meminta fatan untuk mengelola perusahaan milik keluarganya, setidaknya fatan bisa membuat perusahaannya menjadi anak cabang dari perusahaan ayahnya
" ayah tau sendiri bagaimana usaha kami membangun perusahaan ini hingga bisa sebesar sekarang bahkan kami telah memiliki cabang di luar kota" balas fatan yang juga masih bersikeras dengan pendiriannya
" sekarang perusahaan itu milikmu sepenuhnya kau bebas mengambil keputusan apapun, nak jimy juga pasti senang jika kau mau mengelola perusahaan milik keluarga" balas tuan hendra masih ingin merayu fatan
" maaf ayah fatan tidak bisa melakukannya" balas fatan kembali menolak
" jadi kau akan tetap menolak permintaan ayah, sedangkan kau tau sendiri perusahaan ayah lebih besar dari milikmu, apa putra ayah ini ingin bersaing" ucap tuan hendra dengan nada sedikit sombong bahwa ia bisa menjatuhkan perusahaan fatan kapan pun ia mau
" ayolah ayah jangan begini, aku tidak ingin bersaing dengan ayah... selama ini kami selalu mengalah pada ayah, itu semua karena aku tidak ingin bersaing dengan ayah" balas fatan mencoba membuat ruan hendra tak tersinggung dan salah paham akan maksud dari ucapannya barusan
" terserah kau saja... ayah kecewa padamu, kau lebih memilih orang asing dari pada ayah" balas tuan hendra yang langsung pergi meninggalkan ruang kerja fatan
" bukan aku tak sayang ayah... tapi aku ingin berdiri diatas kakiku sendiri, jika suatu saar aku dibuang lagi setidaknya aku tau bagaimana cara untuk bertahan... maaf ayah.. aku sangat menyayangimu" gumam fatan merasa sedih akan sikap sang ayah padanya
Tuan hendra tampak sangat kecewa dengan keputusan fatan, meskipun ia telah membujuknya berkali-kali namun fatan tetap tak ingin mengelola perusahaan milik keluarganya itu, selepas keluar dari ruang kerja fatan, tuan hendra langsung menghubungi lili istrinya agar segera menuju parkiran dan mobil mereka melaju meninggalkan pekarangan rumah fatan tanpa berniat untuk berpamitan pada sang pemilik rumah
Bersambung...
Hai... salam manis dari PK untuk kakak semua 😁.. mohon maaf sebelumnya terkadang PK suka updatenya ngak nentu gitu 🙏 soalnya PK akhir-akhir ini sibuk banget, PK tuh kerjanya petani dan buruh harian jadi pekerjaan itu datangnya ngak menentu membuat tenaga terkuras cukup banyak jadi butuh istirahat yang lebih juga 😅😅... sekali lagi mohon maaf ya kakak-kakak sekalian kalau updatenya belum menentu 🙏😁
Selamat menikmati 😁 salam manis untuk pembaca 🥰🥰🥰 Jangan lupa tinggalkan jejak kakak sekalian di kolom komentar 🤗
__ADS_1