Karamnya Harapan

Karamnya Harapan
Bagian 94 Kemarahan


__ADS_3

" oiya tolong jaga diri anda sekalian dengan baik dan berharaplah semoga kita tidak bertemu lagi dalam keadaan seperti ini" ucap jimy sesaat sebelum ia benar-benar pergi


Mendengar perkataan jimy tuan hedra menjadi sangat marah, ia pergi meninggalkan meja makan dalam keadaan amarah yang memenuhi dirinya, pak budi dan lili yang melihat langsung mengikuti kemana arah tuan hendra pergi.


Fatan yang sudah keluar lebih dulu dan menunggu jimy di depan mobilnya, tak berapa lama jimy terlihat keluar dari dalam rumah.


" kenapa kau lama sekali?" tanya fatan begitu melihat jimy berjalan kearah mobilnya terparkir


" pulanglah, kau tak perlu datang kekantor hari ini" ucap jimy yang enggan menjawab pertanyaan fatan barusan


" kau kekantor?" tanya fatan


" iya, kau pulanglah" balas jimy menyarankan agar fatan menenangkan dirinya dirumah


" baiklah" ucap fatan dan masuk kedalam mobilnya


" fina sebentar" jimy menghentikan fina yang akan masuk kedalam mobil fatan


" ada apa kak?" tanya fina karena jimy menghentikannya


" tolong jaga dia baik-baik ya fin, dia memang tampak baik-baik saja, tapi dia juga bisa melakukan hal tak terduga, tolong tetaplah bersamanya hingga besok pagi, bahkan jika ia meminta mu untuk meninggalkannya sendirian jangan lakukan itu, tetaplah bersamanya.. kau mengertikan" jelas jimy dengan berbisik agar fatan tak mendengar apa yang mereka bicarakan, fina hanya mengangguk tanda ia mengerti dengan apa yang dikatakan jimy


" kalau begitu tolong jaga dia dengan baik, karena itu tugasmu mulia sekarang sebagia pasangannya" ucap jimy tak lagi berbisik yang juga dibalas anggukan kepala oleh fina


" kalau begitu kakak pergi dulu, kalian hati-hatilah dijalan" ucap jimy sembari membukakan pintu mobil untuk fina


" aku pergi dulu" pamit fatan pada jimy

__ADS_1


" hati-hatilah di jalan" balas jimy


Fatan mengemudikan mobilnya keluar dari area kediaman tuan hendra, melihat itu jimy juga bergegas menuju mobilnya dan mengemudikan mobilnya keluar dari sana juga menuju kantor.


Di perjalanan fatan dan fina saling diam sehingga membuat keadaan menjadi canggung, fina yang tak tau harus berkata apa, sementara fata yang merasa tidak enak karena tadi ia secara tidak sengaja membentak fina yang membuatnya merasa bersalah pada fina


" maaf soal yang tadi, saya tida bermaksud membentak mu" ucap fatan memecah keheningan diantara mereka


" tidak apa-apa, aku bisa mengerti" balas fina yang paham akan situasi saat itu sehingga membuat fina tak mempermasalahkannya


" terimakasih kau sudah mau mengerti" balas fatan berterimakasih karena fina bisa memahami keadaannya


" apa kakak baik-baik saja?" akhirnya fina mengutarakan pertanyaan yang sedari tadi ia tahan, takut jika fatan tak menyukainya jika ia bertanya seperti ini


"saya baik, memang sangat sulit dimengerti tapi semuanya masih baik, terimakasih sudah bertanya" jawab fatan dengan diiringi senyuman di wajahnya agar membuat fina percaya bahwa ia baik-baik saja


" kakak bisa mengatakannya apapun padaku, aku pacar kakak sekarang, jadi jangan menanggung masalah kakak sendiri, aku siap berbagi kebahagiaan dengan kakak maka aku juga harus siap berbagi kesedihan kan" ucap fina menyakinkan fatan bahwa dirinya ada disana untuk fatan, mendengar pernyataan fina demikian fatan merasa sangat senang.


Kembali ke kediaman tuan hendra, tuan hendra yang sangat marah atas perlakuan jimy padanya juga kecemasan akan kehilangan putranya membuatnya semakin marah, tuan hendra membuang barang yang ada di ajas meja kerjanya ke lantai membuat pak budi dan lili merasa khawatir dengan kondisi kesehatannya tuan hendra.


" mas tenanglah, nanti darah tinggi mas kumat" ucap lili mencoba menasehati tuan hendra


" dia berani menghina ku bagaimana bisa aku tidak marah" balas tuan hendra masih kesal mengingat apa yang dilakukan jimy pagi ini padanya


" iya, iya... aku tau mas, mas bisa marah atau tersinggung tapi ingat juga kesehatan mas, jangan sampai mas sakit lagi, yang tenang ya mas, aku disini" balas lili mendekat kearah tuan hendra dan merangkul lengannya sembari mengelus lembut lengan tuan hendra agar membantunya menenangkan diri


" oke" balas tuan hendra mengerti apa yang dikatakan lili

__ADS_1


" sayang keluarlah dulu dari sini mas ingin berbicara dengan budi" ucap tuan hendra meminta lili untuk meninggalkan mereka berdua, mendengar itu lili menganggukan kepalanya tanda ia mengerti dan melenggang pergi dari sana.


" dia mengetahui tentang peristiwa tiga puluh tahun lalu itu... anak itu mengetahuinya, bagaimana bisa??" tanya tuan hendra pada pak budi sembari mengebrak meja saking marahnya atas ancaman jimy padanya


" dia berani mengancamku, anak ingusan itu berani mengacam seorang hendra!!" ucap tuan hendra dengan sangat marah


" katakan padaku bagaimana dia bisa tau soal peristiwa itu... bagaimana??" bentak tuan hendra pada pak budi


" saya tidak tau tuan" balas pak budi yang memang tak mengetahuinya


" apa yang kau lakukan selama ini hah... cepat pergi dan cari tau darimana anak itu mendapatkan informasinya" bentak tuan hendra memerintahkan pak budi untuk mencari tau siapa sumber informasi jimy terkait peristiwa tiga puluh tahun lalu itu.


" baik tuan, saya permisi" ucap pak budi sembari sedikit membungkuk dan berlalu pergi meninggalkan tuan hendra yang masih tersulut amarah


" aku tau anak ini berbeda dari apa yang terlihat sejak ia bisa menangani kasus tuan muda beberapa tahun lalu" gumam pak budi sembari berjalan meninggalkan ruang kerja tuan hendra


" darimana dia mendapatkannya, informasi itu, tak ada yang tau soal kejadian itu selain tuan dan nyonya" pikir pak budi sembari melangkah menuju parkiran


" tunggu sebentar... apa mungkin itu kasim... ya yang memberitahukannya pasti kasim, tuan sudah mencurigainya tapi belum terbukti bahwa kasim benar-benar tau soal peristiwa itu, itulah mengapa kami hanya mengawasinya saja... ternyata kasim benar-benar tau, jadi kasim pasti bersamanya, tapi dimana kira-kira dia menyembunyikan kasim" gumam pak budi setelah ia mengingatkan sosok kasim yang dicurigai tuan hendra bahwa ia mengetahui perbuatan keji tuan hendra dan istrinya pada kakaknya sendiri yang tak lain dan tak bukan adalah majikan dari pak kasim saat itu.


Setelah berpikir beberapa saat pak budi mengambil ponselnya dan memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi seseorang.


" tolong awasi pria itu, laporkan setiap gerak-geriknya pada saya, dan siapa saja yang dia temui" perintah pak budi pada anak buahnya setelah mengirimkannya foto seorang pria yang tak lain adalah jimy.


" jangan mencoba sok pintar dengan yang lebih berpengalaman anak muda" gumam pak budi menyombongkan diri, berpikir bahwa ia lebih berpengalaman dari pada jimy dalam bidang itu.


Bersambung....

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir 🤗 selamat menikmati 😁 salam manis untuk pembaca 🥰🥰🥰


Jangan lupa tinggalkan jejak kakak sekalian di kolom komentar 🤗


__ADS_2