
Setelah perbincangan kecil antara tuan hendra dan fatan tadi malam terlihat fatan terus memikirkan soal reaksi tuan hendra terkait pertanyaan tentang saudara, meskipun sekilas namun fatan dapat melihat keterkejutan tuan hendra yang tak normal baginya, ia pun semakin yakin bahwa memang ada sesuatu yang telah terjadi di masa lalu
" ayah sangat tau apa yang ku tanyakan, sampai kapan ayah akan bungkam" pikir fatan
" tuan muda saatnya sarapan, tuan dan nyonya sudah menunggu anda, nona fina juga sudah disana" terdengar suara bik mia membuyarkan lamunan fatan
Fatan meninggalkan kamarnya dan menuju meja makan, yang disana sudah ada tuan hendra, lili dan fina rencananya mereka akan pulang setelah sarapan
Kini fatan dan fina sudah meninggalkan kediaman keluarga darmawan, mobil yang di kemudikan fatan melaju dalam padatnya lalu lintas di pagi hari, membuat mereka harus terjebak dalam kemacetan.
" apa kau tidur dengan nyaman tadi malam?" tanya fatan membuka obrolan
" sangat nyaman kak.. sampai fina hampir saja terlambat bangun pagi, hehehe..." balas fina yang merasa senang
" syukurlah" balas fatan
" bagaimana dengan kakak?" tanya fina
" cukup nyaman" balas fatan dengan segaris senyum yang terlihat di wajahnya
" mau langsung pulang saja, atau mau ketempat lain dulu?" fatan menanyakan tujuan mereka
" tidak kak, kita langsung pulang saja" fina menolak untuk pergi ke tempat lain dan memilih untuk langsung pulang
" baiklah" balas fatan mengerti
Kini mereka telah tiba di kediaman fatan, fina yang hendak turun dari mobil di hentikan oleh fatan
" tunggu sebentar!" ucap fatan menghentikan fina keluar dari mobil
__ADS_1
" ada apa kak?" balas tanya fina yang kembali membenarkan posisi duduknya
" ada sesuatu yang ingin saya bicarakan" ucap fatan
Fina dengan seksama mendengarkan apa yang akan dikatakan fatan padanya, fatan mengeluarkan sebuah gelang dari sakunya yang dulu pernah ia beli saat pergi ke pasar malam bersama fina, gelang sederhana yang cantik sangat cocok dengan fina gadis sederhana yang cantik di mata fatan
" apakah ada kesempatan untuk saya memberikan gelang ini padamu?" tanya fatan dengan serius berpacu dengan dengupan jantungnya dan kegugupan yang berusaha ia kendalikan saat ini
" apa maksud kakak?" balas tanya fina yang tak mengerti sama sekali tentang tindakan fatan saat ini
" dulu saya pernah bilang bahwa mungkin saya bisa tertarik padamukan?" balik tanya fatan mengingatkan ucapannya dulu pada fina
" fina ingat kak" balas fina yang merasa malu mengingat ucapan fatan saat itu, sepertinya ia juga tau kemana arah pembicaraan mereka saat ini
" dan saya benar-benar tertarik denganmu, apakah ada kesempatan untuk saya?" ungkap fatan yang kini merona menahan rasa malunya
" bisakah saya katakan saya telah jatuh cinta padamu dan bisakah saya bersama mu sebagai kekasih, saya tidak bisa menjanjikan sebuah cinta yang indah namun saya akan berusaha membuat cinta itu agar nyaman untuk dirasakan" fatan mengungkapkan seluruh persaanya pada fina, membuat fina diam seribu bahasa ia cukup terkejut hingga tak menjawab satupun pernyataan fatan
" kau diam saja, apa saya benar-benar tidak memiliki kesempatan?" tanya fatan yang putus asa melihat reaksi fina yang hanya diam
" maaf kak fina tidak tau harus menjawab apa" balas fina gugup
" tidak apa-apa saya akan beri kau waktu, pikirkan baik-baik, saya tidak memaksa, apapun keputusan mu saya akan terima, simpanlah gelang sederhana ini bersama mu jika nanti kau menerima saya maka pakailah, jika tidak maka kembalikanlah, dan pada saat itu kita akan anggap hal ini tidak pernah terjadi, tidak perlu merasa sungkan untuk mengatakan persaanmu yang sesungguhnya hanya karena kau bekerja dengan saya, apapun jawbanmu itu tak akan mempengaruhi pekerjaan mu" ucap fatan yang terdengar sangat tulus di telinga fina
" baiklah kak, fina masuk dulu" balas fina yang kemudian meninggalkan fatan di dalam mobil dengan perasaan campur aduk, di sisi lain tugasnya sudah berhasil untuk membuat fatan jatuh ke dalam pelukannya namun ada rasa bersalah di sudut hati jika ia harus melukai perasaan tulus yang dimiliki fatan padanya, bimbang, gelisah, resah semua bercampur dalam hatinya
Fatan keluar dari mobilnya setelah sesaat menenangkan dirinya kembali, ia melangkah masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamarnya, menghempaskan diri pada rajang untuk sejenak memejamkan mata mempersiapkan diri dan hatinya untuk apapun keputusan yang akan diambil fina
" aku terima semua keputusannya" gumam fatan
__ADS_1
Di tempat lain tepatnya di kediaman keluarga darmawan tuan hendra yang sedang berada di ruang kerjanya terlihat sedang berbicara dengan pak budi
" cari tau apakah fatan menemukan sesuatu tentang fauzan, semalam tiba-tiba anak itu bertanya apakah saya mempunyai saudara atau tidak, saya curiga dia menemukan suatu" perintah tuan hendra pada pak budi
" mohon maaf tuan bukankah sudah saat tuan muda mengetahui apa yang terjadi?" tanya pak budi menyarankan
" tidak... dia tidak perlu tau tentang semua yang telah terjadi" balas tuan hendra dengan tegas
" tapi tuan saya khawatir hal ini akan menjadi masalah untuk anda nantinya" balas pak budi yang khawatir tentang apa yang akan terjadi
" kau diam saja budi... lakukan saja seperti apa yang saya perintahkan dan jangan melakukan hal lain" balas tuan hendra dengan tegas
" tapi tuan mungkin anda akan punya kesempatan jika mengungkapkannya sendiri sebelum tuan muda benar-benar menemukannya sendiri" balas pak budi yang masih ingin agar tuan hendra yang mengatakan perihal apa yang terjadi dimasa lalu pada fatan
" diam!! saya tau apa yang saya lakukan, tugasmu adalah melakukan apa yang saya perintahkan" balas tuan hendra dengan tegas
" saya mengerti tuan" balas pak budi yang tak lagi ingin berdebat dengan tuan hendra meski ia khawatir hal ini pasti titik kehancuran tuan hendra
" tak ada yang perlu tau tentang masa lalu, dia hanya perlu menjalani kehidupan sekarang" gumam tuan hendra dengan ekspresi yang sulit di artikan
" anda mengambil keputusan yang salah tuan, anak itu takkan diam saja kali ini" gumam pak budi mengingat jimy
"awasi tuan muda dan cari tau apa yang sedang ia lakukan akhir-akhir ini, laporkan semuanya pada saya" perintah pak budi pada seseorang di sebrang telpon
Bersambung....
Hidup itu tentang pilihan, apapun pilihan mu semua punya resikonya sendiri..
Selamat menikmati 😁 Salam manis untuk pembaca 🥰🥰🥰
__ADS_1