Karamnya Harapan

Karamnya Harapan
Bagian 121 Pelajaran


__ADS_3

Sesuai perintah dari dika, Bi dan M sedang melaksanakan tugasnya yaitu menculik ketiga pemuda yang membuat keributan dengan fatan di restoran malam ini, di ketahui bahwa ketiga pemuda itu bernama rian, dion dan reza, ketiganya baru saja kembali dari rumah sakit setelah membawa rian berobat karena rian yang mengalami luka paling serius setelah fatan menghantam kepalanya ke meja, dari hasil pemeriksaan rian mengalami patah tulang hidung, selain itu sedikit lecet dan memar di beberapa bagian wajahnya, terlepas dari itu semua tak ada luka serius lainnya sehingga rian lebih memilih untuk pulang dari pada dirawat.


Dalam perjalanan pulang ketiganya menggunakan mobil yang di kemudikan oleh reza, pria yang tak sempat mendapatkan pukulan dari fatan karena terlanjur ketakutan


Pukul tiga dini hari ketiga pria itu sedang mengemudikan mobilnya di jalanan yang sepi entah kemana mereka ingin menuju sebentar mereka menepikan mobilnya di pinggir jalan, salah satu dari mereka keluar dari mobil entah apa yang akan ia lakukan.


Bi dan M yang sudah memantau ketiga pria itu merasakan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk mereka, Bi dan M langsung memarkirkan mobilnya tepat dihadapan mobil ketiga pria itu, dengan cepat Bi dan M keluar dari mobil dan menodongkan pistol pada mereka bertiga


" apa-apaan nih" ucap rian yang marah karena di hadang oleh Bi


" diam masuk mobil atau ku tembak kau" bentak Bi lebih garang daripada rian membuat rian seketika ciut dan memilih masuk ke mobil reza


" kalian juga diam" bentak M pada dion dan reza yang berada di dalam mobil


" masuk...masuk.. cepat!!!" kembali bentak Bi karena rian berjalan sangat lambat seperti sedang merencanakan untuk melawan, benar saja rian melayangkan pukulannya pada Bi tapi tentu saja dengan mudah di hindari oleh Bi.. bukk!!! Bi menendang perut rian hingga ia jatuh tersungkur


" bangsat aku sudah berbaik hati padamu ya.. seharusnya ku hajar dulu kau baru ku bawa.. sialan.. cepat masuk sana!!" Bi menggerutu dan kembali menendang bagian kaki rian kali ini dengan lebih pelan, rian menuruti perkataan Bi dan kali ini ia langsung masuk ke mobil dengan duduk di jok belakang bersama dion dan M yang menodongkan pistol kearah mereka berdua, sementara Bi duduk di kursi depan untuk mengendalikan reza agar mengemudi ke tujuan mereka


" cepat jalan!!" perintah Bi pada reza dengan pistol tepat di kepalanya membuat reza tak punya pilihan lain ia tak mau mati sia-sia


" kita mau kemana?" tanya reza dengan takut


" ikuti mobil di depan" balas Bi meminta reza untuk mengikuti mobil yang tadi mereka tumpangi, reza mengangguk tanda ia mengerti dan melajukan mobilnya mengikuti mobil di depannya


" hei bangsat lepaskan kami.. kami tidak mengenalmu kenapa kau membawa kami seperti ini.." ucap dion dengan kasar pada M seketika M mendekatkan pistol yang berada di tangan kirinya pada mulut dion


" diam!!" ucap M dengan tatapan tajam dan aura membunuh yang terasa sangat kuat


" apa sebaiknya ku bunuh saja yang satu ini... dia tak bilang kita harus membawanya hidup-hidup kan.. aku mulai kesal dengan celotehannya" ucap M pada Bi yang membuat dion berkeringat setelah mendengar kata bunuh dion langsung diam saja ia tak berani mengatakan apapun


" terserah kau saja" balas Bi yang tau maksud M hanya untuk membuat dion diam


" to.. tolong jangan bunuh saya.. saya akan mengikuti apapun yang kalian mau.. tolong" ucap dion memohon dengan ketakutan


" jadi diamlah!!" perintah M yang di balas anggukan oleh dion

__ADS_1


Setelah berkendara beberapa saat mobil yang di tumpangi oleh Bi dan M sebelumnya berhenti di sebuah gudang tua, setelah memarkirkan mobil mereka bertiga langsung di bawa masuk ke gudang itu dan di ikat di sebuah kursi masing-masing, setelahnya Bi dan M keluar dari sana meninggalkan ketiga pria yang terikat itu


" hei bangsat lepasin kita!!!" teriak rian setelah keduanya pergi


" sial.. kenapa kita jadi begini sih.. sebenarnya siapa mereka" ucap dion yang berusaha melepaskan diri namun usahanya gagal dan malah membuat tubuhnya tambah sakit karena tergesek oleh tali yang mengikat tubuhnya


" aku tidak peduli siapa mereka... berani sekali mereka melakukan ini padaku, apa mereka tidak tau siapa aku" balas rian marah


" kau juga reza kenapa tadi tidak membelokkan mobilnya ke arah keramaian malam mengikuti arahannya... cih dasar tidah berguna" kini rian menyalakan reza


" kau juga tidak bisa berbuat apa-apakan malah menyalahkan orang lain.. cih!!" balas reza tak mau disalahkan


" kau ini benar-benar ya" rian merasa geram atas ucapan reza


" hentikan... tidak ada gunanya kalian saling menyalahkan seperti itu.. yang lebih penting sekarang bagaimana cara kita keluar dari sini, kita tidak tau apa yang akan mereka perbuat pada kita" dion menengahi karena pusing mendengar perdebatan kedua temannya itu


" sial!!" rian kesal


" benar sekali kalian sungguh sial" terdengar suara dari arah pintu bersamaan dengan langkah kaki, ketiganya yakin itu bukan salah satu dari kedua pria yang menculik mereka


" siapa kau?" tanya rian


" kalau begitu lepaskan kami.. dua pria di depan itu menculik kami" balas rian dengan kalimat memerintah


" benarkah.. kalau begitu untung saja aku lewat sini" balas dika semakin mendekat dan kini mereka bisa melihat sosoknya dengan jelas, tentu saja mereka tak mengenalnya karena mereka sama sekali tak tau siapa pria di hadapannya


"Bugh!!!" sebuah pukulan menghantam wajah rian


" apa yang kau lakukan sialan!!!" dion marah


" Bugh!!!" dion juga mendapatkan pukulan sekarang giliran reza


" tu.. tunggu dulu setidaknya kami harus tau kenapa kau memukul kami" ucap reza memberanikan diri bertanya sebab mereka sama sekali tidak tau alasan di balik semua kejadian ini


" hah??" dika mengerutkan keningnya mendengar penuturan reza

__ADS_1


" setelah kalian membuat membuli seseorang kalian langsung lupa begitu saja dasar!!" balas dika menatap tajam


" apa maksudmu?" tanya dion


" jadi kalian benar-benar tidak ingat ya telah melakukan apa tadi malam?" balas dika dengan serius


" jadi kau bawahan si sampah itu ya.. bangsat!!!" dion mengerti maksud dika, ia marah sembari berusaha menggerakkan kakinya untuk menendang dika tentu saja tak kena sama sekali


" Bugh!!!" dika melayangkan tendangan tepat di dada dion


" Brukk!!" dion terjatuh kebelakang dengan kursinya


" kau itu yang sampah berani-beraninya menjuluki orang lain seperti itu dasar sampah" ucap dika marah mendengar ucapan dion


" kalian dengar ya... dia tidak seburuk kalian untuk merencanakan penculikan bagi sampah masyarakat seperti kalian" lanjut dika menjelaskan dengan geram sekaligus membanggakan sosok fatan pada ketiga pria itu


"sekarang aku ingin bertanya dan kalian hanya boleh menjawab saja, jika kalian bertanya satu pukulan akan langsung melayang" lanjut dika sembari membenarkan posisi dion kembali agar ia mudah untuk bertanya


" oke... satu pertanyaan saja.. kenapa kalian menganggunya?" tanya dika akan alasan ketiganya menganggu fatan


" tentu saja karena kami membencinya, sampah itu benar-benar menjijikkan.. cuih!!!" jawab rian dengan ekspresi jijik membayangkan fatan


" begitu ya.." balas dika sembari langsung mengarahkan sebuah pisau pada tangan kiri rian yang kedua tangannya telah terikat kursi


" aa..apa yang akan kau lakukan.. hei.. hei" rian ketakutan melihat pisau yang sangat tajam itu menyentuh kulitnya


" tentu saja memotong jari manis mu" balas dika


" apa??" rian terkejut sekaligus takut akan ucapan dika


" kenapa terkejut begitu... aku tidak suka melihat jari manismu jadi di hilangkan saja ya" balas dika dengan pisau yang telah berada di jari manis rian


" tidak.. tidak... hei sialan... hentikan itu" rian berusaha memberontak namun percuma saja dika langsung memotong jari manisnya rian


" waaaaaaa" teriak rian setelah dika mengeksekusi salah satu jarinya

__ADS_1


Bersambung....


selamat menikmati 😁 salam manis untuk pembaca 🥰🥰 Jangan lupa tinggalkan jejak kakak sekalian di kolom komentar 🤗


__ADS_2