
Hari ini adalah hari senin. Seperti biasa semua murid berbaris di tengah lapangan untuk mengikuti upacara bendera yang selalu diadakan setiap hari Senin pagi. Mereka semua berbaris rapi berdasarkan kelas dan jurusan masing-masing. Begitu pula dengan Qameella dan Qarmitha. Namun keduanya berada di barisan yang berbeda, memang mereka berasal dari kelas dan jurusan yang berbeda pula.
Lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ berkumandang mengiringi pengibaran bendera oleh petugas pakibraka. Para murid dan dewan guru memberi hormat, setelah sebelumnya pemimpin upacara memberi komando.
Usai Bapak kepala sekolah memberikan pidato yang berupa nasihat kepada seluruh siswa, upacara itu pun berakhir. Pemimpin upacara langsung mengomando dan membubarkan barisan. Semua siswa berhamburan kembali ke kelas masing-masing.
Pagi ini kegiatan di dalam kelas Qameella diawali dengan diskusi pelajaran Sejarah. Para siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok. Dalam satu kelompok terdiri dari enam orang. Setiap anggota memiliki tugas yang berbeda. Satu orang menjadi muderator, notulen, dan empat orang panelis.
Kebetulan yang berkesempatan mempresentasikan tugas adalah kelompok Rega. Semua siswa di dalam kelas itu tampak antusias menyimak apa yang dipresentasikan oleh salah satu anggota kelompok. Mereka pun mencatat poin-poin penting yang akan dijadikan bahan pertanyaan untuk sesi tanya jawab diakhir diskusi.
Qameella yang tengah duduk di kursi pojok dekat dengan jendela, terpaku menatap Rega. Dia mendengarkan setiap yang presentasikan oleh masing-masing anggota kelompok. Namun dia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Rupanya peristiwa malam minggu kemarin tiba-tiba datang mengusik konsentrasi belajarnya.
Dalam hati Qameella ingin bertanya dengan Rega perihal itu. Tetapi dia bingung harus bertanya dari mana. Lantaran sejak awal bertemu sebelum upacara bendera tadi, sikap Rega datar-datar saja seakan tidak pernah terjadi sesuatu di antara mereka. Gadis itu pun menjadi bimbang.
Mungkin Rega lupa dengan kejadian itu. Pikir Qameella.
*
Di dalam kelas Garda tampak sangat gaduh. Ya, kelas itu memang selalu terkenal yang paling rame dan warga kelasnya pun susah diatur. Tidak jarang guru-guru yang mengajar enggan masuk karena situasi tersebut. Kelas yang berada diurutan paling bontot, selalu bikin melotot guru. Bagaimana tidak? Di saat guru sibuk menjelaskan materi, mereka asyik sibuk dengan aktifitas masing-masing. Seolah tidak ada guru yang mengajar. Diantara mereka ada yang bersolek, mengobrol, bercanda, bahkan ada yang tidur di dalam kelas. Pokoknya bikin orang darah tinggi deh!
Ryan meletakkan sebuah amplop coklat dengan kasar di atas meja Garda.
"Bro, ini yang kemarin elo minta." imbuhnya.
Garda langsung membuka dan mengeluarkan isinya. Bibirnya melengkung menyunggingkan senyum khasnya.
"Oh, jadi dia satu sekolah sama si Rega."
"Iya. Menurut informan gue, cewek itu tetanggaan sama ceweknya si Dimas tuh."
"Oke. Entar pulang sekolah gue bakalan temuin dia..."
Ryan hanya mengangguk-angguk kepalanya.
__ADS_1
"Honey, entar pulang sekolah anterin gue balik ya." titah Fiola sambil berdiri dan menyandarkan tangannya di bahu Garda manja.
"Honey, honey, ada maunya aja elo bilang honey." sahut Garda geram. Cewek cantik satu itu memang selalu mendekati Garda bila ada maunya. Namun tidak ada ikatan antara satu sama lain. Keduanya bisa dekat karena hubungan simbiosis mutualisme. "asal elo tahu ya, gue bukan cowok lo atau tukang ojek lo. Karena mulai hari ini gue cuma fokus sama satu cewek aja."
"Siapa?" tanya Fiola meminta penjelasan sambil mengerutkan dahi. Dia tidak senang mendengar pernyataan Garda.
"Bukan urusan lo!" Garda beranjak berdiri, lalu bergerak keluar meninggalkan kelas.
"Heh, Kileng... emangnya si Garda lagi dekat sama cewek mana? Satu kelas atau satu sekolah dengan kita?" telisik Fiola menodong Ryan dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Ehhh... kalo soal itu... mending elo tanya langsung aja sama si boss aja langsung. Soalnya gue gak mau disalahin apalagi sampai diamuk gara-gara ikut campur masalah pribadinya." kilah Ryan lalu memilih beranjak pergi meninggalkan gadis itu.
"Sialan si Kileng, gak mau diajak kompromi rupanya. Awas aja nanti..." gumam Fiola dongkol.
*
Qameella diam-diam berusaha mendekati Rega dengan mengikuti kemana pun cowok itu melangkah. Dia hanya penasaran dengan cowok yang telah mengucapkan sumpah pernikahan dengannya. Walau pun memiliki kesamaan fisik yang mencapai 99%. Tetapi seakan ada yang janggal dengan sikap cowok itu. Itu benar adanya. Rega yang kalem, pendiam, yang bicara seperlunya. Sedangkan cowok itu berisik, banyak bicara dan sangat aktif, ah... mungkin bukan hanya aktif, tapi dia hiperaktif.
"Elo ngapain sih, ngikutin gue dari tadi?" tegur Rega saat menyadari Qameella sudah membuntutinya sedari tadi.
Mampus gue ketahuan! rutuknya dalam hati.
"Sori, mu-mungkin hanya kebetulan aja." sahutnya asal sambil mendorong kacamata minusnya. Netranya menjelajah sekeliling mencari tempat yang cocok untuknya mencari alasan.
"Kebetulan?" Rega mengangkat sebelah alisnya. "tapi elo..."
"Sori..." Qameella sengaja memotong ucapan Rega. "gue kebelet. Yah, gue kebelet." lanjutnya cepat masih tergugu. Tangan kanannya menunjuk ke arah kamar mandi di belakang Rega.
Rega menoleh mengikuti arah telunjuk Qameella.
Buru-buru Qameella beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Rega hanya melihat pergerakan gadis itu dalam diam. Mengedikkan bahu lalu berlalu pergi.
Dasar cewek aneh! Hardik batin Rega.
__ADS_1
Qameella menyandarkan punggungnya di balik pintu kamar mandi. Kemudian meletakkan telapak tangan di atas dadanya. Ada yang berderu di dalam sana. Berdetak dan berdebar tidak menentu seperti habis lari maraton.
"Ya ampun Meella... kenapa elo bodoh banget sih? Gitu aja sampai ketangkep basah... ah, emang elo gak pintar sama sekali." hardiknya pada diri sendiri. Setelah itu mendengus lelah.
*
Suara dering bel pulang membahana memecah keheningan sore. Berganti dengan riuh rendah suara kicauan dan derap langkah kaki para murid yang bernajak meninggalkan kelas masing-masing.
Seperti biasa Qameella akan pulang bersama Tari. Dia akan nebeng pulang dengan sepeda motor metik teman sekaligus tetangganya. Sementara Qarmitha akan pulang bersama Sarah, Amel, dan mereka bertiga bakalan menumpang mobil Yasmin. Pasalnya sepeda motor metik yang biasa digunakan si kembar Qameella dan Qarmitha masih digunakan oleh kedua orang tua mereka saat pergi ke rumah nenek mereka tempo hari.
Di rumah memang hanya ada satu motor jadi harus rela gantian. Sedangkan mobil memang orang tua mereka belum ada planning untuk beli mobil. Apalagi bila bukan masalah ekonomi keluarga yang masih belum memungkinkan membeli mobil. Walau pun hanya sebuah mobil butut.
Kedua orang tua Qameella dan Qarmitha memang bukan berasal dari keluarga kaya. Mereka berasal dari keluarga sederhana. Mereka mendirikan usaha rumah makan sederhana dari uang tabungan mereka berdua sejak si kembar Qameella dan Qarmitha bayi. Lantaran saat itu Ayah mereka menjadi korban PHK.
Kendaraan berlalu lalang memadati sekitar jalan raya di depan sekolah. Karena saat ini bertepatan dengan jam puang sekolah maka arus lalu lintas bertambah padat. Apalagi banyak kendaraan baik roda dua maupun roda empat yang bergiliran keluar meninggalkan areal parkir.
Qameella menunggu Tari keluar dari parkiran sekolah di depan pintu gerbang. Dia tidak sendiri lantaran ada banyak murid yang menunggu jemputan atau bahkan menunggu angkot yang lewat.
Tidak lama berselang mobil Yasmin meluncur pelan meninggalkan areal parkir. Di dalam sana sudah ada Amel, Sarah juga Qarmitha tentunya. Qameella yang melihat mereka hanya diam dari kejauhan. Dia tidak tertarik bergabung dengan teman-teman saudari kembarnya yang menurutnya sangat berisik.
Qameella mendengus pelan. Lalu melepaskan kaca mata minusnya, menyimpannya di dalam tas ranselnya. Pasalnya akan merepotkan bila dia menggunakan helm nanti. Tentu saja helm punya Tari karena rencananya dia akan pulang bareng bersamanya.
Sebuah motor ninja yang sangat familiar di mata Qameella berhenti tepat di hadapannya. Jaket dan helm yang digunakan oleh cowok itu pun tidak asing di matanya. Namun dia tidak bisa mengenali punya siapa. Gadis itu hanya terbengong menatapnya.
"Hei, ayo cepat naik!" seru cowok itu setelah membuka kaca helm yang tadi menutup seluruh wajahnya, tanpa mematikan mesin motornya.
Rega! bisik hari Qameella mengenali wajah yang bersembunyi di balik helm full face.
Tiba-tiba mata Qameella teralihkan ketika melihat sebuah mobil sedan silver berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri. Setelah itu tampak Rega masuk ke dalam mobil. Manik matanya terbelalak sempurna dengan keterkejutan yang luar biasa.
"Meel, ngapain lo jadi bengong gitu sih?" tegur cowok yang semula dianggapnya Rega menghenyakkannya dari lamunan.
Hah!? I-itu Rega... terus cowok ini.... siapa????
__ADS_1
Qameella menggerakkan kepalanya kaku. Kini netranya bersirobok dengan netra cowok yang ada di hadapannya.
"Je-je-jadi? Elo...???"