Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#91


__ADS_3

Happy reading


Meella menatap bangunan ruko yang pernah dijadikan tempat kedua orang tuanya mengais rezeki. Sejak zaman sekolah di bangunan itu pernah terpampang plang bertuliskan 'Rumah Makan Kesengsem Cinta Kembar'. Kini ruko itu sudah berganti nama brand usaha. Tentu saja pemiliknya pun juga berbeda.


Hatinya sedih karena kedua orang tuanya tidak bisa mempertahankan tempat usahanya yang dirintis sejak muda. Seharusnya diusia mendekati senjata mereka tinggal menikmati buah lelah mereka. Bukan kembali merintis dari awal lagi.


Meella tidak pernah menutup mata atas kesulitan yang dialami Gusti dan Maryam. Meski tidak bisa menyumbang tenaga akibat kesibukan di kantor. Dia tetap mengulurkan tangan dengan memberikan sebagian besar gajinya untuk mereka. Terutama demi kelancaran usaha mereka. Sayangnya, Gusti tidak pernah mau memaafkannya. Entah alasan apa yang mendasarinya. Meella tidak pernah berusaha mencari tahu.


Dengan taksi online yang diordernya, Meella melanjutkan perjalanan ke rumah kedua orang tuanya. Dia sangat rindu pada kedua orang tua itu. Ingin sekali dia memeluk mereka seperti dulu. Namun rasa malu dan terhina yang pernah ditorehkan olehnya, seakan ada dinding tinggi nan kokoh menjadi penghalang di antara mereka. Hingga merusak kebersamaan yang pernah dilalui dulu.


Taksi online yang ditumpangi Meella berhenti di depan rumah. Tapi bukan rumah orang tuanya. Melainkan rumah tetangga yang berjarak tiga rumah dari rumah kedua orang tuanya. Bukan karena tidak Sudi turun tepat di depan rumah Gusti. Dia hanya takut kedatangannya membawa bencana baru bagi mereka. Apalagi melihat perutnya yang mulai membuncit. Akan memperparah keadaan yang sudah baik ini. Toh, kedatangannya ke sini hanya ingin melihat mereka walaupun dari jauh. Bukan ingin mempermalukan mereka dengan kondisinya yang bisa membuat malu.


"Meella, kamu Meella kan, anaknya Pak Gusti dan ibu Maryam?" tanya seorang wanita bertubuh subur, dengan baju kebangsaannya alias daster. Mungkin usianya sebaya dengan Maryam. Wanita itu baru saja keluar dari pintu gerbang rumahnya.


"Ah, ibu...," Meella berpikir lama. Pasalnya dia sangat jarang sekali bertegur sapa pada para tetangga sekitar saat masih tinggal di sini.


"Kok kamu baru kelihatan ya?" ujar wanita itu mengalihkan pembicaraan.


"Oya, kasihan lho Pak Gusti dan ibu Maryam, sekarang mereka gak bisa jualan lagi di ruko yang dulu. Padahal mereka sudah dari dulu usaha di sana."


Hati Meella terasa teriris sembilu mendengar penuturan wanita itu. Ingin rasanya Meella menangis saat ini juga.


"Eh, Meel. Badan kamu kok melar banget sih? Padahal dulu badan kamu kurus banget lho," imbuh wanita itu lagi.


Meella langsung speechless.


"Atau jangan-jangan kamu lagi hamil, ya?"


Meella ingin membantah tetapi perutnya tidak bisa menipu mata wanita itu. Si baby twins ingin menunjukkan eksistensinya rupanya. Karena usia kehamilan Meella yang akan menginjak usia empat bulan. Tapi tampak lebih besar dari usianya.


"Soalnya ibu dengar kamu dulu..."

__ADS_1


"Maaf Bu, saya permisi karena ada keperluan," sela Meella. Dia terpaksa menginterupsi ucapan wanita yang entah siapa namanya. Sebelum orang itu benar-benar menelanjanginya dengan aib-aib masa lalunya.


Di bangku taman berada di tengah kompleks perumahan yang di tinggali Gusti. Meella duduk sendirian sambil melamun. Tatapan kosong matanya tertuju pada danau di tengah taman. Ada begitu banyak rasa yang berkecamuk dalam dada dan benaknya. Mulai hubungannya dengan kedua orang tuanya. Hingga masalah asmaranya dengan Garda. Dan kesemuanya itu tidak membuat baik-baik saja menjalani hidupnya yang sunyi.


Katakan saja begitu. Memang kenyataannya Meella hidup dalam kesendirian, yang hanya menyisakan kesunyian dalam jiwanya. Jauh dari orang tua, saudara juga kekasih. Walau beberapa hari terakhir dia tinggal bersama Garda. Tetap saja tidak lantas membuatnya nyaman bersama pria yang mengaku suaminya. Padahal jelas-jelas dinyatakan tewas dalam kecelakaan yang mereka alami.


Tapi ada fakta baru mengungkap kejadian yang sebenarnya. Meella hanya mencoba untuk percaya. Meskipun hatinya masih ragu dengan apa yang sudah dijelaskan Garda. Oleh sebab itu Meella datang ke rumah sakit. Sengaja meminta berkonsultasi dengan dokter Rega. Kendati dia tahu jika dokter muda itu bukan dokter spesialis kandungan.


''Saya minta dokter untuk membantu saya untuk... menggugurkan kandungan saya,'' dengan terbata mengatakan tujuan kedatangannya pada Rega, dokter spesialis bedah syaraf sekaligus adik ipar karena menikah dengan Mitha. Juga kakak ipar pasalnya Garda merupakan adik kembar Rega.


''Nona, apakah kamu sedang bercanda?'' tanya Rega geram.


''Tolonglah, dokter Rega. Saya harus menyingkirkan anak ini demi kedamaian keluarga saya,'' setitik air mata menerobos sudut matanya.


Rega memijat pangkal hidungnya sembari menutup mata. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi keluhan pasien spesialnya hari ini.


Sudah mengenal sosok Meella sejak bangku sekolah. Tapi tidak membuat Rega akrab dengan sosok gadis cantik dan pendiam sepertinya. Entah masalah apa yang sudah memprovokasi hingga nekat melakukan hal ini.


Rega menyorong kotak tisu pada Meella.


"Apakah masalah kamu gak bisa dibicarakan baik-baik?" selidik Rega. Lalu dijawab dengan gelengan kepala.


"Kenapa kamu mau mengorbankan... maaf kandungan kamu? Seharusnya kamu bersyukur diberi kepercayaan dari Tuhan. Di saat ada banyak wanita yang sudah menikah di luar sana mengharapkan kehadirannya. Bahkan mereka rela mengeluarkan banyak uang untuk melakukan segala cara untuk mendapatkan keturunan."


"Saya belum menikah dokter," ucap Meella jujur dengan nada suara rendah.


"Apa?!"


"Sebenarnya saya akan menikah. Tapi karena satu insiden, saya membatalkan rencana pernikahan kami. Karena malu telah ternoda," terang Meella memberikan penjelasan.


Meella sengaja memberanikan diri untuk speak up pada Rega. Selain profesinya sebagai seorang dokter yang menjadi rahasia pasiennya. Rega juga anggota keluarganya. Dia tidak menghitung dokter muda itu sebagai teman. Pasalnya ada banyak batasan yang harus dijaga jika hanya sebatas teman. Lagi pula Meella tidak akan mau berbagi pada orang yang sekedar teman. Berbeda jika orang itu sudah berada di tingkat sahabat pake sejati lagi.

__ADS_1


Rega mengerutkan keningnya, antara heran dan bingung. Bagaimana orang sekalem Meella bisa terjemus ke lembah dosa. Walau Rega pernah mendengar dari Mitha, cerita tentang gagal menikah Meella dengan seorang pria bernama Mirza. Tapi hanya sebagian kecil saja. Dia hanya menarik kesimpulan bahwa masalah yang dihadapi Meella sangat pelik.


Akhirnya dengan berat hati Rega memberanikan diri, meminta Meella menceritakan masalah yang sedang dihadapinya hingga nekat ingin mengaborsi janin tak berdosa di dalam perutnya.


Dengan setengah keberaniannya Meella menceritakan inti masalah yang dihadapinya. Dia tidak mungkin menceritakan sedari awal sampai akhir. Cukup pada intinya saja yang sudah membuatnya resah. Apalagi semakin parah dengan merembet kemana-mana. Terutama pada kedua orang tuanya.


Rega mendengus pelan dan panjang. Bila seperti ini, yang susah bukan hanya Meella. Kemudian merembet ke orang tua sekaligus mertuanya. Tapi berimbas pada kedua orang tuanya juga saudara kembarnya, Garda. Walau awalnya tidak sengaja namun dampaknya luar biasa. Otaknya pun terasa buntu jika sudah seperti ini.


Di tempat berbeda. Mitha dibawa oleh tiga orang pria tidak dikenal, ke sebuah bangunan terbengkalai di tengah hutan. Dalam kondisi tidak sadarkan diri Mitha digotong seperti karung beras oleh salah satu dari ketiga pria itu. Membawa masuk ke dalam satu ruangan yang minim penerangan. Mereka menyekap perempuan yang entah sudah melakukan salah apa pada mereka. Dan mereka pun tidak mempermasalahkan kesalahan apa yang telah diperbuat Mitha. Mereka hanya melakukan tugas dari orang yang membayar mereka. Tentang dengan bayaran yang tidak murah. Entah siapa orang itu, hanya mereka yang tahu.


Mitha didudukkan di kursi kayu dalam kondisi, tangan dan kaki diikat menggunakan tali yang kuat. Mulut pun ditutup menggunakan lakban. Kasihan Mitha, nasibnya begitu malang.


"Bagaimana, udah beres?" tanya salah satu dari mereka, yang badannya lebih besar dan berkulit gelap itu.


"Sip!" jawab dua orang yang bertugas mengikat Mitha, hampir bersamaan sambil mengacungkan satu jari jempol tangannya.


"Bagus! Kalo gitu gue lapor dulu sama bos," ujar pria itu seakan meminta izin pada kedua rekan penjahatnya.


"Oke!"


Di saat orang tadi menelpon seseorang di ujung telepon sana. Lainnya bertugas menjaga Mitha. Mereka khawatir gadis yang ditangkapnya akan bangun dari pingsannya.


"Gimana?" tanya pria berambut gondrong.


"Kata bos, kita biarkan saja gadis ini di sini. Kita diminta berjaga di luar supaya jangan sampai kabur. Kita juga gak boleh nyentuh ini gadis karena tugas kita cuma menculik dan menyekapnya. Jadi, jangan sampai ada di antara kita yang berani macem-macemin nih perempuan. Kalo masih mau melihat matahari terbit besok," tutur orang yang tadi bertelepon memberi penjelasan.


Kedua orang pria itu pun langsung mengangguk setuju. Dan berjanji tidak akan macam-macam pada Mitha. Karena mereka tahu orang seperti apa yang telah menyewa jasa mereka.


***


Sampai di sini dulu ya update hari ini. Author lagi rada lemes. Moga-moga aja kuat puasa sampai waktu berbuka nanti. 🙏 Author mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan bagi yang menjalankannya.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak manis kalian ya...


See you next episode 😘🥰❤️🙏


__ADS_2