
Qameella terkesiap saat Maryam tiba-tiba menubruk lalu meluknya dengan derai air mata. Tentu saja air mata bahagia atas sadarnya ia dari koma. Namun dalam kondisinya yang masih linglung tidak terlalu memperhatikan wanita yang telah melahirkannya ke dunia, sedang meraung seraya mencium pipinya. Sementara angannya masih mengawang-awang mencari sosok Garda. Entah mengapa cowok itu mendadak hilang tanpa pamit padanya.
Gusti berdiri membeku di belakang Maryam. Pikirannya sibuk mencari kalimat yang tepat untuk diucapkan pada Qameella. Hatinya berdebar bahagia bercampur haru melihat putrinya kembali hidup. Tanpa disadari senyumnya mengembang di sudut bibirnya. Dan air matanya memenuhi pelupuk mata, lalu buru-buru diseka saat air bening itu menetes di pipinya.
Qarmitha dan Tari berebut memegang ujung tempat tidur di bagian kaki Qameella. Keduanya berusaha mencari perhatian Qameella. Memberikan senyum terbaik mereka. Walau pada kenyataannya orang yang dimaksud tidak terlalu ngeh dengan mereka. Lantaran masih belum sadar seratus persen.
Semua orang mendadak speechless saat Qameella menanyakan Garda. Seseorang yang selama ini selalu ada dalam mimpi dan nyata-nya Qameella.
Mereka pun saling bertukar pandang satu sama lain. Bingung hendak menjawab apa. Selain itu mereka belum bisa memberikan berita tentang Garda dengan kondisi Qameella yang masih belum stabil seperti itu.
"Sayang, kamu baru siuman. Jangan pikirin apa-apa dulu, ya," Maryam berusaha menenangkan Qameella agar banyak berpikir.
Qameella menatap dengan pandangan penuh tanya.
Maryam berusaha memaksa senyumnya tetap mengembang, dengan air mata yang menggenang di pelupuknya.
"Masalah Garda kita bicarakan nanti ya. Sebaiknya kamu istirahat aja dulu, supaya cepat pulih," imbuhnya seraya mengusap punggung tangan Qameella yang tidak tertancap jarum infus.
"Memangnya kenapa kalo Mama ngomong sekarang? Apa bedanya dengan bicara nanti? Toh, sekarang maupun nanti Mama tetap ngomong kan?" selidik Qameella mulai penasaran.
"Iya. Benar sayang. Mama cuma ingin buat saat ini, kamu istirahat aja dulu, oke?" sahut Maryam berusaha berdiplomasi. Dia tahu Qameella akan menanyakan suaminya setelah sadar. Tetapi dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi setelah putrinya mengetahui kabar yang sesungguhnya.
Gusti mengusap wajahnya kasar.
Qarmitha dan Tari berusaha mengiyakan apa yang diucapkan Maryam, demi menjaga kondisi Qameella agar tetap stabil.
"Ma... Garda gak papa, kan? Atau terjadi sesuatu padanya?" tanya Qameella mulai panik.
Menghadapi itu Maryam bersikap setenang mungkin agar Qameella tidak curiga.
"Nggak kok sayang... Garda gak papa," kilahnya cepat. "udah ya, sebaiknya kamu istirahat dulu. Jangan mikirin Garda dulu, Oke? Di sini ada Mama yang nemenin kamu."
"Iya, La. Gue juga ada di sini nemenin elo," sambung Qarmitha mengalihkan pandangan Qameella, hinggan tatapan mereka bertemu.
"Hei... gue juga ada di sini buat elo, Meel..." Tari tidak mau kalah.
Qameella tersenyum kecil.
"Ayah juga ikutan," ujar Gusti canggung. Menyentuh ujung kepala Qameella. Sampai si empunya mendongak melihat pria yang dipanggilnya Ayah itu.
Tiba-tiba air mata Qameella menetes melihat pria itu. Hatinya kalut dan takut karena telah pergi dari rumah tanpa seizin orang tuanya.
Gusti terkejut melihatnya menangis, refleks menatik tangannya. Mungkinkah sentuhannya menyakitkan bagi Qameella? Dia memandang sekilas telapak tangannya sendiri. Khawatir ada sesuatu yang bisa melukai orang lain.
Maryam berdesis menenangkan Qameella.
"Shhhh.... tenang sayang... maafkan Ayah ya, Ayah tidak bermaksud menyakiti kamu sayang..." entah sedang menyindir Gusti atau hanya sekedar menenangkan. Yang jelas Gusti cukup tercubit dengan kata-kata sang istri.
Qameella menggeleng lemah.
"Bukan. Bukan Ayah yang salah. Tapi Lala yang gak bisa jadi anak yang berbakti. Maafkan Lala, Yah..." sahutnya terbata-bata, suaranya terdengar parau.
Maryam menatap Gusti sekilas. Dia langsung memutus pandangannya saat Gusti juga memandangnya balik.
Gusti tertegun dan tidak bisa protes dengan sikap dingin istrinya sudah berlangsung beberapa hari ini.
__ADS_1
"Ayah pasti masih marah sama Lala, kan? Lala gak bisa menjadi kebanggaan Ayah. Lala selalu bikin Ayah kecewa. Bikin Ayah marah juga malu. Apalagi setelah semua ini terjadi," Qameella berurai air mata saat mengucapkan kalimat demi kalimatnya. Beberapa kali ia menjedanya untuk mengatur napas disela tangisan pilunya.
"Maafin Lala, Yah... Lala emang bodoh. Lala gak pintar seperti anak-anak lain. Lala juga gak punya bakat seperti Thatha..."
"Lala... cukup, cukup, kamu jangan banyak bicara yang tidak-tidak ya, Nak... Shh..." Gusti duduk di kursi tempat tadi Maryam duduk. Wanita itu tiba-tiba bangkit dari duduknya, dengan isyarat menyilakan Gusti untuk duduk.
Maryam berinisiatif keluar dari kamar rawat inap Qameella. Dia sengaja memberi ruang pada Ayah dan anak itu untuk bicara dari hati ke hati. Maryam keluar tidak sendiri. Dengan alasan mencari makan di luar dia mengajak dua gadis remaja yang juga ada dalam ruangan itu.
Gusti mengelus puncak kepala Qameella. Sebagai seorang Ayah, Gusti merasa cukup memberikan kasih sayangnya kepada kedua putri kembarnya. Namun masih ada sesal yang tertinggal di hatinya. Sesal yang sepertinya tidak akan pernah hilang seumur hidupnya. Sesal yang meninggalkan rasa bersalah pada Qameella.
Mungkinkah Qameella akan memaafkannya atas egonya dulu? Tetapi dia tidak punya nyali untuk mengakuinya secara langsung pada sang putri. Sebagaimana putrinya mengakui kesalahannya dan meminta maaf padanya.
"Maafkan Ayah yang tidak merestui hubungan kamu dengan Garda. Banyak alasan yang menjadi pertimbangan Ayah, Nak."
"Lala tahu, Yah. Tapi Ayah harus bisa terima karena kenyataannya... kami sudah menikah. Dan kami punya saksinya."
Gusti tertunduk dalam diam dan mengangguk pelan. Entah setuju dengan pernyataan Qameella, atau yang lainnya hanya dia yang tahu. Yang jelas saat ini pikirannya sedang bercabang.
*
Setiap hari Qameella selalu menanyakan Garda. Namun tidak ada satu pun orang yang mau membuka suara perihal-nya. Seakan sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Makanya setiap kali mendengar pertanyaan itu meluncur dari bibir Qameella. Mereka selalu mengalihkan dengan topik pembicaraan yang lain. Menggiring Qameella melupakan semua tentang Garda.
Hari ini adalah tepat lima hari Qameella sadar dari komanya. Kondisinya sudah terlihat lebih baik. Selang oksigen pun sudah dilepas karena memang tidak butuh alat itu sejak hari ketiga sadarnya. Hanya selang infus yang masih betah menempel di tangan Qameella.
Saat ini Tari dan Qarmitha tidak bisa menemani Qameella di rumah sakit. Ada ulangan harian katanya.
Qameella mendengus pelan mengingat sudah lama tidak masuk sekolah pasca kecelakaan yang dialaminya. Pasti dia sudah tertinggal banyak pelajaran. Ingin rasanya kembali ke sekolah seperti dulu lagi. Tetapi dengan kondisinya yang seperti ini rasanya mustahil.
"Setelah Lala sembuh, Lala bisa sekolah lagi seperti dulu kok," begitu kata Maryam saat menghibur Qameella.
Senja tampak merona di cakrawala sore, ketika Ryan and the geng's datang menjenguk Qameella. Mereka membawa buah-buahan untuk Qameella sebagai buah tangan.
"Gimana kabar lo, Meel?" tanya Ryan membuka percakapan. "udah lebih baik?"
"Udah lebih baik," sahut Qameella ringan setelah sebelumnya mengangguk mengiyakan. Matanya mengabsen deretan cowok anak geng motor itu satu per satu. Mereka duduk berpencar karena tempat yang terbatas.
Rasanya ada yang janggal tanpa kehadiran Gardan di antara mereka. Pentolan geng yang paling disegani. Qameella tersenyum samar mengingat tingkah polah Garda yang terkadang tengil dan jahil.
"Gue seneng akhirnya elo udah lebih baik. Gue berharap elo bisa jalanin hidup lo lebih baik lagi..." Ryan mendadak terlihat melow. Tidak biasanya cowok kocak yang selalu menjadi bahan bully-an Garda. Wajahnya tertunduk muram.
"Iya, semoga elo cepet sembuh, Meel," sambung Tikeng sambil terkekeh garing.
Qameella tersenyum senang.
"Makasih atas doanya," ujarnya.
"Kapan elo dibolehin pulang sama dokter, Meel?" tanya Rombeng.
"Gue belum tahu, Beng. Nyokap gue juga belum tanya juga ke dokter kapannya," sahut Qameella jujur.
"Oh, semoga deh elo cepet dibolehin pulang. Yah, maklumlah di rumah sakit gak senyaman rumah sendiri," ujar Rombeng menguatkan.
"Bener itu," Sonik mengaminkan.
"Gue juga temen-temen minta maaf karena gak bisa ngelindungin elo berdua hari itu. Kita lose kontak dengan kalian berdua setelah dari penginapan terakhir," sesal Ryan.
__ADS_1
Qameella mencoba mengingat kembali potongan-potongan peristiwa sebelum insiden naas itu terjadi. Karena kondisinya yang masih belum pulih, Qameella agak sulit mengingatnya kembali.
"Maaf, gue gak terlalu ingat kejadian setelah gue dan Garda pindah penginapan. Mungkin gue udah terlalu ngantuk, jadi..."
"Iya, gue paham kok kondisi lo, Meel. Apalagi setelah elo kecelakaan gini. Udah, gak usah nguras pikiran lo buat ngingat-ngingat lagi. Nanti elo kenapa-kenapa lagi, kita yang repot," sela Ryan memotong ucapan Qameella.
Qameella mengangguk setuju. Kemudian memperhatikan ekspresi wajah-wajah sengak mereka dulu terlihat menyebalkan, karena sikap konyol mereka yang sebelas dua belas dengan ketua gengnya. Tapi kali ini, wajah mereka tampak berbeda. Mereka tampak muram, seakan sedang berduka.
Wajar saja bila mereka seperti itu. Akibat kecelakaan yang dialaminya bersama Garda, membuat mereka kehilangan ketua mereka sementara waktu. Rasa bersalah karena tidak bisa melindungi ketua geng mereka. Begitu yang ada dalam pikiran polos Qameella.
Sejenak suasana mendadak hening. Tidak ada yang membuka suara lagi. Jika pun ada suara yang ngobrol, hanya beberapa dari mereka dengan suara yang tidak keras tapi tidak pelan juga.
"Meel, kata Tari kemarin elo sempet koma, ya?" tanya Buchek mencari tahu.
"Katanya sih gitu. Kata nyokap gue koma seminggu," jawab Qameella.
"Wih, lama bener," gumam Buchek.
"Pantesan elo gak nongol di kub..." ucapan Sonik sengaja digantungnya, bahkan tidak dilanjutkan setelah mendapat sikut kanan kirinya. Buru-buru cowok itu menutup mulutnya, juga menamparnya dengan konyol sambil merutuki dirinya sendiri.
Qameella yang sudah terlanjur mendengar ucapan Sonik langsung meminta konfirmasi.
"Apa maksudnya tadi, Son? Gue gak nongol di kub? Kub apa?"
"Gak... gak apa-apa kok Meel. Tadi si Sonik emang suka ngomong ngelantur. Jadi maklum aja kalo dia kadang-kadang eror juga kaya radio butut," kilah Ryan menutupi kenyataan yang belum boleh Qameella ketahui. Apalagi sebelum masuk ruangan, Maryam sudah berpesan agar tidak membahas tentang Garda di depan Qameella.
Tetapi Qameella bukan anak kecil yang mudah dibohongi. Dia sudah lebih dewasa dan mengerti hanya untuk mengerti maksud ucapan Sonik. Dengan kata lain Qameella tidak mudah dibohongi.
Qameella mulai curiga dengan mereka. Sepertinya mereka sedang menyembunyikan sesuatu. Seperti Maryam, Gusti, Qarmitha dan Tari. Mungkinkah hal itu berkaitan dengan Garda? Mengapa mereka semua selalu menghindar apabila Qameella menyinggung tentang kondisi Garda.
Setelah Sonik berbicara ada perubahan yang terlihat mencolok. Selain mereka menjadi pendiam dan tidak ada yang mau bicara lagi taku salah bicara.
"Btw, kalian udah tahu belum tentang kondisi Garda? Kalian udah ketemu belum? Soalnya gue belum bisa kemana-mana. Jujur gue kangen banget sama dia," Qameella berkata dengan sungguh-sungguh, sekaligus memancing mereka untuk memberikan informasi tentang Garda.
Mungkinkah Om Andika masih menghalangi Garda buat nemuin gue? Bukannya Om Charles udah biarin kita bersama ya? Pikiran Qameella dipenuhi pertanyaan.
Wajah mereka tidak terlihat bahagia dan sedih. Namun ketegangan dan kemuraman tidak dapat mereka tutupi begitu saja dari kejelian mata Qameella. Tidak ada yang berani berbicara. Mereka hanya diam membisu sambil saling bertukar pandang. Seolah sedang saling menyuruh satu sama lain untuk mengatakan sesuatu.
"Ryan Keling," Qameella begitu lengkap memanggil nama cowok yang masih duduk di kursi dekat tempat tidur pasien. Si empunya nama terkesiap.
"Plis, gue mohon jawab pertanyaan gue," pintanya memohon.
Ryan menundukkan wajahnya, tidak berani menatap wajah cewek yang masih berstatus pasien itu.
"Ryan, plis... gue mohon..." Qameella tidak bisa membendung kegelisahannya. "selama ini gue gak ngerti kenapa semua orang yang gue tanyain tentang Garda, gak ada yang mau kasih tahu gimana kondisi dia yang sebenarnya ke gue. Emangnya ada apa sama dia?" desaknya sambil menegakkan tubuhnya.
"Sekarang, elo juga mau ikut-ikutan tutup mulut? Ingat ya, gue ini masih istrinya Garda. Jadi gue berhak tahu apa yang sedang terjadi sama suami gue," tambahnya berapi-api.
"Bukan begitu, Meel... gue... gue... maksudnya kita cuma gak mau elo kenapa-kenapa setelah tahu kabar Bro Garda," akhirnya Ryan mau buka suara.
"Iya Meel, elo masih sakit. Kita khawatir kalo kasih tahu sekarang elo tambah sakit," timpal Tikeng mendukung Ryan.
Namun Qameella sangat keras kepala. Dia tidak akan menyerah sebelum mendapat jawaban yang pasti.
******
__ADS_1
Maaf ya, ceritanya digantung dulu. Author mau cari ide lagi. Juga kepala author udah keliyengan nih. Insya Allah secepatnya update. Doakan author sehat ya di masa liburan mager ini.
Happy holiday. Happy nice day.