Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#17


__ADS_3

Happy reading ya…


*********************


"Bi..."


"Garda!"


"Bi..."


"Awas!"


Tiba-tiba terdengar suara derit ban kendaraan bergesekan dengan aspal, disusul suara benturan keras kendaraan menghantam sepeda motor Garda saat itu. Berakhir membentur aspal dan Qameella dan Garda terpental saling menjauh.


"Awas, Garda!...." pekik Qameella langsung terlonjak duduk di atas kasurnya. Rupanya dia baru saja terbangun dari mimpinya. Mimpi saat kecelakaan yang telah merenggut Garda dari sisinya.


Jantungnya berdetak sangat cepat terbawa suasana menegangkan dalam mimpi. Dia mengusap wajahnya pelan. Menghapus peluh yang mengucur di dahinya. Lalu menangis pilu untuk melepaskan kesedihan sekaligus kerinduannya pada Garda.


Setelah menyeka air mata yang terus saja turun bagai hujan dari pelupuk matanya, Qameella meraih foto Garda di samping bantalnya. Dipeluknya erat seraya sesekali dikecup.


"Garda... hiks hiks hiks... saya kangen kamu. Kenapa kamu pergi begitu cepat ninggalin saya? Padahal kita udah saling janji mau hidup bersama selamanya. Tapi, kenapa kamu tinggalin saya sendiri di sini? Menderita sendiri, menanggung rindu yang gak ada habisnya," tuturnya lirih dan pilu.


Dreetttz... dreetttz... dreetttz...


Tiba-tiba ponsel yang Qameella letakkan di atas nakas sebelum tidur bergetar. Biasanya dia selalu mematikan ponselnya sebelum tidur. Namun malam ini dia lupa. Karena sebelum tidur tadi dia sempat chattingan dengan Arien, Dita dan Fadhlan berhubungan dengan tugas kantor yang belum rampung seluruhnya.


Suara getaran ponselnya yang terbiasa di silent olehnya, terus saja bergetar minta dijawab. Akhirnya dia mengambil ponselnya, sedangkan foto Garda di letakkan kembali ke posisi semula.


Qameella agak terkejut melihat nama yang tertera pada layar. Tidak biasanya orang di seberang sana menghubunginya pada jam-jam seperti ini. Dan memang akhir-akhir ini mereka berdua sudah sangat jarang berkomunikasi.


"La," belum sempat Qameella membuka suara, orang di ujung telepon sana sudah memulai percakapan.


"Elo... udah tidur?" Qarmitha terlalu berbasa basi. Bagaimana orang tidur bisa menjawab telepon seperti ini?


"Udah, tapi kebangun karena mimpi buruk," sahut Qameella setelah cukup lama terdiam. Menekuk kedua lututnya, dan meletakkan satu sikunya yang bebas di atasnya, lalu menyugar rambutnya yang tergerai berantakan ke belakang.


"Mimpi buruk?" ujar di seberang sana mengulangi.


Qameella hanya bergumam sebagai jawaban.


"Elo masih sering mimpiin kecelakaan itu?" Qarmitha memang tahu bila Qameella sering memimpikan kecelakaan itu. Mungkin karena hal itu yang membuatnya trauma mengendarai sepeda motor. Bahkan saat diboncengi pun dia akan selalu gelisah dengan wajah yang memucat.


"Udah gak terlalu sering. Cuma kadang-kadang aja," jawabnya jujur.


"Syukurlah," sahut gadis di seberang sana lega dengan suara lirihnya.


Mendadak keduanya kompak terdiam. Tidak ada satu pun yang mau bicara lagi.


Di dua tempat berbeda dan berjauhan, namun posisi yang sama persis duduk di atas tempat tidur. Sepasang gadis kembar itu menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur. Kemudian menekuk kedua lututnya, bertopang dagu di atasnya.

__ADS_1


"Kata Mama, elo mau nikah?" Qameella memulai pembicaraan meminta klarifikasi.


"Iya. Rencananya begitu," sahut Qarmitha jujur. Entah mengapa gadis itu mendadak bimbang. "tapi..."


"Kenapa?" selidik Qameella merasa peka dengan apa yang sedang dirasakan saudari kembarnya di sana.


"Gak tahu. Gue cuma lagi coba menimbang perasaan gue sama dia."


"Maksudnya?" Qameella tiba-tiba merasa tergelitik untuk mengetahui hal yang terjadi pada Qarmitha yang sangat jarang sekali dilakukannya.


Alih-alih ingin tahu sikap Qameella malah seperti seorang penyidik mengintrograsi tersangka pelaku kejahatan. Hal ini dapat Qarmitha rasakan sebagai bentuk perhatian seorang saudara kandung. Tentu saja perhatian yang nyaris tidak pernah ditunjukkan padanya.


"Hari ini gue jalan sama dia. Tapi, saat kita ketemu teman kantornya, gue mulai merasa ada hal yang aneh di hati gue," akunya pada sang kakak lebih tua beberapa menit darinya.


"Teman cowok lo cewek?" tanya Qameella memastikan.


"Hmm," gumam Qarmitha mengangguk pelan.


"Jadi elo cemburu sama cewek itu?" tebakan yang tidak dipungkiri oleh Qarmitha. Namun inti dari permasalahannya kali ini bukan hanya sekedar cemburu. Tetapi ada hal lain yang tidak dapat dijabarkan dengan gamblang pada orang lain.


"Gak sesederhana itu, La... Ada hal lain yang buat gue harus mikir ulang deh kayanya. Kata Keling, gue harus mikir masak-masak kalo mau serius sama Dicky."


"Keling? Ryan Keling?" Qameella langsung mengingat sosok yang pernah mewarnai dalam sejarah masa remajanya.


"Iya."


Qameella terdiam. Kembali, kenangan itu kembali berputar dalam memori ingatannya.


"Makasih. Titip salam juga ke dia kalo elo ketemu lagi sama orangnya," balas Qameella.


Lama mereka berbicara via telepon. Sebelum mengakhiri teleponnya Qameella sempat berkata,


"Kalo elo ragu, sebaiknya batalin aja. Gue gak mau elo nyesel di belakang hari. Apalagi sampai elo menderita lahir batin."


Qarmitha tidak bisa menolak atau pun mengiyakan nasihat Qameella. Hanya ucapan terima kasih yang dapat diucapkannya, sebagai ungkapan rasa syukur pada saudari kembarnya telah mau mendengarkan keluh kesahnya.


*


Setelah percakapan via telepon malam itu, tidak ada lagi komunikasi yang terjadi antara dua saudari kembar, Qameella dan Qarmitha. Keduanya sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Namun diam-diam Qarmitha tetap menyimpan rasa ragunya sendiri. Tanpa seorang pun yang tahu.


Pada malam kedua orang tua Dicky datang ke rumah Gusti untuk melamar Qarmitha. Qameella tetap tenggelam dalam pekerjaan kantornya yang seakan tidak ada habisnya. Panggilan telepon yang nyaris tidak dapat berhenti berdering, mengusik kesibukan Qameella sejak siang hingga malam sebelum kedatangan keluarga Dicky, terabaikan begitu saja. Gusti, Maryam juga Qarmitha putus asa dan tidak bisa menghadirkan Qameella dalam acara bersejarah Qarmitha.


Malam itu, keraguan yang selalu menghantui Qarmitha mendadak sirna. Setelah melihat kesungguhan Dicky dengan membawa keluarga intinya. Pria tampan itu menunjukkan kesungguhannya, melamar Qarmitha di depan Maryam dan Gusti.


Dicky menyematkan sebuah cincin emas bertahtakan berlian kecil di jari manis Qarmitha. Setelah sebelumnya menerima lamaran Dicky. Semua yang ada di dalam ruangan itu pun terharu bahagia menyaksikan momen romantis itu.


Pukul sebelas malam Qameella tiba di rumah kontrakannya. Rumah petak yang cukup layak untuk ditinggalinya sendiri.


Tubuhnya terasa lelah dan letih setelah seharian berjibaku mengurus proyek yang sedang ditanganinya bersama rekan satu divisinya. Sepertinya mandi air hangat lebih enak. Pikirnya.

__ADS_1


Berhubung di rumah kontrakan ini tidak ada fasilitas air panasnya. Maka mau tak mau Qameella harus memasak air terlebih dahulu.


Selesai mandi, Qameella merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil mengecek ponselnya. Ada banyak panggilan tidak terjawab dan pesan singkat singgah dalam ponselnya. Hanya dibaca tanpa ingin membalasnya. Setelahnya kembali di letakkan di atas nakas.


Sesuai janji yang diucapkan Qameella beberapa hari yang lalu. Tepat saat akhir pekan dia kembali pulang ke rumah. Ketika itu tidak ada pemikiran yang aneh atau berlebihan. Dia hanya berpikir pulang untuk memenuhi janjinya pada Maryam.


Tetapi setelah tiba di rumah, Tiba-tiba Gusti menunjukkan sikap dinginnya dengan tidak menyambut kedatangannya sama sekali. Entah dosa apa yang telah diperbuat Qameella kali ini. Pria itu sepertinya enggan walau pun hanya sekedar menyapa. Untunglah masih ada Maryam yang peduli padanya. Memeluknya hangat dan menanyakan kabar.


Pukul setengah delapan malam, setelah makan malam. Gusti sengaja meminta semua anggota keluarganya berkumpul di ruang keluarga. Tanpa memberi tahu terlebih dahulu topik pembicaraan yang akan dibahasnya.


"La, nanti kita tidur bareng ya, udah lama kita gak tinggal serumah. Dan gue juga kangen pengen cerita-cerita sama elo kaya dulu," pinta Qarmitha saat hendak duduk di sofa panjang bersama Maryam.


Qameella hanya menganggukkan kepala dengan senyum kecil sebagai jawaban. Lalu duduk di sofa tunggal berhadapan langsung dengan Gusti. Keduanya dipisahkan oleh sebuah meja kaca persegi panjang.


Ketika Gusti bicara tidak ada satu pun yang bersuara. Mereka menempati posisi menjadi pendengar juga penyimak yang baik.


"Ayah sengaja mengumpulkan kalian semua malam ini. Karena ada beberapa hal yang ingin Ayah sampaikan pada kalian semua," begitu katanya terlihat sangat berwibawa.


"Yang pertama, tentu saja tentang Thatha yang baru saja di lamar oleh Dicky. Dan Ayah sangat senang," Gusti menunjukkan senyum semringahnya seraya mengalihkan pandangannya pada Qarmitha.


"Makasih, Yah," Qarmitha sangat bersyukur acara lamarannya berjalan dengan baik.


"Tapi... Ayah kecewa dengan Lala," tiba-tiba pria itu mengalihkan pandangannya pada Qameella. Tatapannya dingin dan menajam. "karena pada saat acara lamaran itu, tidak ada karena mau pulang. Bahkan saat ditelepon pun tidak diangkat," lanjutnya dengan pendar kekecewaan di hatinya.


Qameella hanya menundukkan pandangannya, diam membisu sambil meremas jemarinya sendiri di atas pangkuannya. Tidak sepatah kata pun yang meluncur dari bibir ranumnya. Dia hanya menunjukkan sikap tenangnya seperti tidak ada beban. Namun tidak sama dengan apa yang terjadi dalam hatinya. Tentu saja tidak ada seorang pun yang tahu dengan apa yang terjadi padanya. Hanya dia dan Tuhan yang tahu serta dapat merasakan dan mengerti pada dirinya sendiri.


"Ayah...," Maryam mencoba mendinginkan hati Gusti yang akhir-akhir ini mudah meledak-ledak. Dengan lembut dia menyentuh lengan Gusti yang diletakkan di atas tangan kursi. Serta mengelusnya penuh kelembutan. "Ayah tolong maafin Lala. Mungkin Lala terlalu sibuk bekerja di kantor. Jadinya tidak sempat menjawab telepon kita."


"Apakah sebegitu sibuknya, sampai tidak sempat mengangkat telepon?" Gusti menyentak kasar tangan Maryam. Pria itu sangat terluka dengan sikap dingin Qameella.


Kini Qameella tahu dibalik sikap dingin Gusti menyimpan banyak kekecewaan padanya. Tetapi pria itu lupa jika orang yang paling tersakiti dan tersiksa akan sikap arogannya adalah Qameella. Dan dia seakan menutup mata atas penderitaan yang selama ini ditanggung Qameella. Penderitaan yang sudah sukses besar menjungkir balikkan hidup Qameella. Susah payah menjadi seseorang yang kuat. Walau pada kenyataannya sangat rapuh.


Qameella beranjak berdiri membuat Gusti, Maryam dan Qarmitha kaget. Langsung memusatkan perhatian mereka padanya.


"Ayah, maaf," ujarnya datar dan kaku. "Lala memang dari dulu gak bisa membuat Ayah bangga. Sebesar apa pun usaha Lala untuk menyenangkan hati Ayah. Tetap aja Lala gak mampu membuat hati Ayah puas."


Gusti mengerutkan keningnya. Kemudian membuang muka ke samping enggan melihat wajah salah satu putrinya itu.


"Lala benar-benar gak tahu apa yang bisa membuat Ayah senang. Karena pada kenyataannya cuma Thatha yang bisa buat Ayah senang dan puas," sepasang mata yang selalu berbingkai kacamata minus itu mulai memanas, merah dan basah.


Gusti kembali melihat ke arah Qameella. Menatap wajah putri yang selalu menderita karena ulahnya. Sayang, dia tidak pernah mau mengakui apalagi dianggap salah atas perbuatannya selama ini.


"Mungkin, bila Lala gak ada Ayah akan lebih senang. Maka dari itu, Lala pamit," pungkasnya langsung membalikkan badan hendak beranjak pergi.


Jujur Gusti sangat tersentil dengan ucapan Qameella. Betapa jahatnya dia pada putri kandungnya sendiri. Hingga gadis itu ingin pergi menjauh demi untuk menyenangkan hatinya.


**


Mohon maaf ceritanya sampai di sini dulu ya...

__ADS_1


Sambungan ceritanya di next episode. Temukan kejutan-kejutannya pada episode-episode mendatang. Sebelum beralih jangan lupa tinggalkan jejak dulu berupa like, vote, hadiah dan komentar ya...


See you...


__ADS_2