Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#28


__ADS_3

Hai readers... akhirnya I'm back... maaf ya lama nunggu. Harap dimaklum aja ya...


Terimakasih untuk para readers setia novel ini yang selalu memberi semangat buat author untuk update. Jujur author sering kena sindrom males kalo udah sibuk dengan urusan dunia nyata. Apalagi kalo ditambah sakit, aduh... parah deh, author jadi auto bingung mulai nulis dari mana. Pokoknya banyak banyak terima kasih buat para readers yang kasih semangat, kasih vote dll dh. Oke, author gak pake curhat banyak ya.


Happy reading....


************************************


Garda dibuat tertegun mendengar ungkapan gadis asing yang berdiri tepat di depan hidungnya. Gadis sederhana tanpa polesan make up, dan terlihat muka bantalnya namun diam-diam mencuri perhatian Garda.


Cowok ingusan, berandalan tengik, dulunya urakan suka balapan liar, kini telah bertransformasi menjadi pria tampan dengan bentuk tubuh kekar dan berbentuk itu mengernyitkan dahi dalam. Netra coklatnya mengunci netra hitam Qameella.


Ada desiran halus menyentuh kalbunya saat sepasang matanya bertemu dengan sepasang mata Qameella yang jernih. Entah perasaan apa yang sedang meliputinya. Yang jelas rasa ini sangat familiar. Tetapi memori otaknya tidak bisa me-review apa yang sudah terjadi sebelumnya.


Hanya denyutan sakit yang membuat kepala Garda pening. Namun dia berusaha menahannya seraya memejamkan mata dan mengencangkan giginya kuat-kuat. Disertai kilatan peristiwa lampau bagai potongan video yang tidak terlalu jelas mampir dalam memorinya.


Ada apa ini? Mengapa?...


"Hah, Bapak kenapa?" tanya Qameella cepat saat melihat wajah Garda tidak sedang baik-baik saja.


"Bapak sakit?"


Garda langsung membuka matanya lebar-lebar. Menatap gadis itu dengan tatapan tak terbaca. Lalu menajam bak elang hendak menerkam mangsanya.


Seketika Qameella membeku tidak berani bersuara apalagi berkutik. Sejumput rasa takut bersarang dalam hati.


"Kamu jangan pura-pura peduli sama saya," tukasnya ketus setelah mendorong tubuh Qameella ke dinding.


"Sebaiknya kamu cepat katakan, siapa yang menyuruh kamu naik ke atas ranjang saya?"


Garda sangat sadar sebagai pewaris utama Negara's Group, akan banyak lawan bisnis entah dari Andika atau malah dia sendiri, ingin menjatuhkan dan menyingkirkannya dari tampuk kekuasaan yang akan dicapai.


Qameella meringis kesakitan, merasakan tangan Garda yang kian kuat mencengkram bahunya.


"Cepat katakan! Siapa yang sudah menyuruh kamu melakukan ini? Berapa banyak uang yang kamu terima, hah?" kilatan amarah tampak jelas di mata Garda.


"Saya akan membayar kamu sepuluh kali lipat!" tekannya.


Qameella mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya erat. Menahan rasa sakit yang tiba-tiba terasa menusuk dada.


Pria itu berpikir dengan uangnya yang melimpah dapat meraih apa dimau. Entah karena lupa atau memang sudah terbiasa merendahkan orang lain dengan uangnya. Hingga melupakan prinsip hidup setiap orang berbeda-beda. Dan tidak sedikit orang yang bisa dengan mudah dapat dibeli. Terutama harga diri.


Qameella sangat terluka juga terhina, harga dirinya tercabik oleh kata-kata merendahkan dari Garda. Seolah menganggap Qameella tidak memiliki harga diri. Seperti wanita murahan yang dapat ditemukan di pinggir jalan.


Dengan berani Qameella mengangkat wajahnya seraya menegakkan tubuhnya. Menajamkan mata menatap balik ke arah Garda. Hingga terlihat garang.

__ADS_1


Garda mengerutkan keningnya melihat ekspresi marah gadis cantik itu. Ada rasa takut dan terkejut yang hadir secara bersamaan.


Tiba-tiba Qameella menyingkirkan tangan songong Garda yang sedari tadi mencengkeram erat bahunya. Lalu melayangkan satu tamparan keras di wajah tampan itu.


Plak!!!


Sontak wajah Garda melengos ke kiri setelah mendapat tamparan. Rasa panas dan sakit terasa menjalar di sekitar pipinya.


Ketika tangan Qameella mengenai pipi Garda, ada selintas bayangan masa lalu mampir dan berkelebat dalam benaknya. Seorang gadis berseragam SMA menampar keras pipi seorang pemuda yang juga berseragam SMA. Bukan di sekolah, tetapi entah dimana. Yang jelas tempat itu ramai dengan anak-anak sekolah berseragam SMA.


Tidak tahu bayangan siapa yang mendadak muncul. Garda benar-benar tidak tahu. Namun ada satu hal yang jelas dirasakan, yaitu rasa tamparan yang didapatnya persis sama. Lagi-lagi tidak tahu sama seperti apa. Dia hanya merasa pernah mengalami hal yang sama sebelumnya.


"Saya rasa ini adalah jawaban dari saya atas pertanyaan Bapak barusan," ujar Qameella sarkas.


Garda tertegun seraya menolehkan wajahnya ke arah gadis itu. Sementara tangan kanannya bergerak slow motion mengusap pipinya yang masih terasa sakit.


"Terimakasih atas tuduhan Bapak yang tidak berdasar tadi. Dan saya pastikan pada Bapak, bahwa saya tidak terlibat skandal apa pun dengan orang lain untuk menjebak Bapak. Karena saya yakin, saya juga korban sama seperti Bapak."


Garda masih mematung menatap dalam mata gadis itu. Tidak ada kebohongan di dalamnya.


"Terserah Bapak mau percaya atau tidak, itu urusan Bapak sendiri. Bila Bapak tidak percaya, silahkan selidiki saja. Dan satu lagi, saya pastikan besok pagi surat pengunduran diri saya akan sudah berada di atas meja atasan saya di perusahaan cabang."


Garda speechless.


Qameella langsung melenggang pergi keluar dari kamar VIP, tempat menghabiskan malamnya bersama anak pemilik Negara's Group.


Suara pintu dibanting membuat Garda langsung tersadar dari lamunannya. Kemudian menghela napas berat. Memutar tubuhnya menuju kasur bersprei dan selimut serba putih. Tiba-tiba sepasang matanya memicing melihat bercak merah di tengah kasur menodai sprei.


Apakah gadis tadi masih perawan?


Garda mengusap wajahnya kasar. Lalu berkacak pinggang mendadak hatinya manjadi gelisah.


*


Karina tampak linglung setelah mengakhiri sambungan telepon dari salah satu teman sosialitanya. Setelahnya dia meminta salah satu asisten rumah tangganya untuk menyalakan tv, untuk memastikan kebenaran berita yang baru saja didapatnya.


Sepasang mata coklat Karina serta merta membola, melihat tayangan infotainment yang kebetulan langsung nongol saat tv baru saja dihidupkan.


Sebenarnya wanita itu tidak tertarik dengan acara tv yang berbau gosip artis seperti itu. Namun tidak kali ini. Dia tampak berbeda dan terlihat antusias serta penasaran.


Dan... ternyata bukan isapan jempol semata. Kabar itu... benar.


Bulir-bulir air bening tiba-tiba mengalir dari pelupuk mata Karina. Ketika netranya menyaksikan tayangan infotainment yang baru saja didapatnya.


Berita tentang seorang artis pendatang baru yang baru saja melangsungkan pertunangan. Tetapi bukan itu yang ingin dikulik Karina. Melainkan pemuda yang bersamanya saat melayani sesi tanya jawab di depan para wartawan. Pemuda tampan nan gagah. Persis foto kopian Rega.

__ADS_1


"Oh, my God!..." desisnya sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Benar. Dia masih hidup. Dia anakku, Garda...." bisiknya lirih.


Karina sangat yakin bila pemuda di tv itu adalah benar putranya, yang sudah lama dinyatakan meninggal dunia. Dia hanya melahirkan dua putra. Walau namanya disamarkan tetapi dia tahu itu adalah putranya. Dalam hati dia sangat mengutuk mantan suaminya, Andika, yang telah tega memanipulasi kematian anaknya sendiri.


Rega yang baru saja tiba di meja makan, terkejut melihat kondisi Karina seperti itu. Dengan cemas menghampiri wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.


"Ma, mama kenapa?" dia berjongkok di samping kursi yang Karina duduki. Namun tidak ada respon. Wanita itu masih terpaku pada layar tv.


Dengan lembut Rega menyentuh bahu dan tangan Karina.


"Ma... ada apa?"


Kali ini Karina menoleh lambat ke arah Rega. Air matanya seperti hujan jatuh membasahi pipinya.


Rega terkesiap melihatnya. Karena sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah. Sejak tumbuh remaja hingga dewasa seperti ini dia tidak pernah melihat sang ibu meneteskan air mata. Mungkinkah ada sesuatu yang mengusik ketenangan Mama-nya?


"Mama, kenapa Mama nangis?" selidik Rega khawatir. Jari-jarinya bergerak refleks menyeka sia air mata di pipi Karina.


"Apakah ada orang yang berani menyakiti Mama? Katakan siapa, Ma? Biar Rega basmi orang itu seperti kuman," hiburnya yang sontak membuat Karina tersenyum pahit.


"Nggak sayang, Mama gak apa-apa. Dan, gak ada yang berani menyakiti Mama, selain..."


"Papa?" sela Rega.


Karina hanya tersenyum getir seraya mengelus puncak kepala Rega. Dia tidak mengiyakan atau menyangkalnya. Karena dia tidak bisa menutupi kenyataan hidup yang telah dilalui bersama Rega. Kenyataan pahit kehancuran rumah tangganya tujuh belas tahun silam, yang mengakibatkan dirinya harus memilih, dan berpisah dari putranya yang lain. Rega adalah satu-satunya alasan untuk dia tetap tegar saat itu.


Karina membimbing Rega berdiri. Kemudian duduk di kursi di sebelah kanannya.


"Sayang, tolong jangan ingat lagi kenangan pahit dulu. Lupakanlah! Bagaimana pun dia adalah Papa kamu juga," pinta Karina tulus.


"Biarlah kepahitan itu Mama saja yang menelannya sendiri. Kamu gak usah ikut merasakan."


"Nggak bisa, Ma. Karena Rega dapat merasakan apa yang Mama rasakan," kilah Rega.


Karina menggeleng pelan sambil mengusap bahu Rega lembut.


"Nggak sayang, kamu gak boleh seperti itu."


Karina berusaha memberi pengertian kepada putranya yang tidak lagi kecil. Tentu saja tidak mudah karena anak lelaki yang sudah bertransformasi menjadi pemuda dewasa, diusianya yang sudah menginjak dua puluh empat tahun. Tidak kaleng-kaleng, pekerjaannya pun sebagai dokter spesialis penyakit dalam.


Lagi, Karina hanya bisa tersenyum. Dan mengurungkan niatnya untuk mengatakan Garda ternyata masih hidup. Mungkin dia harus bertemu Garda langsung untuk memastikan kebenaran sebelum memberi tahu Rega.


**

__ADS_1


Sampai di sini dulu ya readers ceritanya. Next time kita sambung lagi.


See you next episode 😁😁😁


__ADS_2