
Hai, readers... maaf ya author telat Mulu update-annya. Maklumlah, kerjaan author lagi banyak di dunia nyata. Apalagi lagi menjelang ujian sekolah kaya gini, kerjaan author jadi tambah riweuh.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan memberikan vote, like, hadiah dan komentar yang bisa membangkitkan semangat author buat update episode terbaru ya.
Happy reading...
************************
Pukul dua belas malam.
Tok!
Tok!
Brak!
Brak!
Brak!
Suara ketukan pintu terdengar keras dan bertubi-tubi, serta memekak telinga si empunya rumah. Kemudian berlanjut menjadi pukulan kuat seakan ingin merobohkan pintu kayu yang memagari rumah Gusti.
Tak pelak Gusti dan Maryam terpaksa bangun dari tidur lelapnya. Entah orang iseng mana yang sudah menggangu mereka di tengah malam buta rata seperti ini.
Tanpa bergeming dari tempat tidurnya, Qarmitha hanya berdecak kesal sambil menutup telinganya dengan bantal. Lalu melanjutkan tidurnya.
Gusti terkesiap melihat sekelompok orang bersetelan jas hitam berdiri tegap di depan pintu rumahnya.
"Siapa kalian? Ada urusan apa malam-malam mengganggu istirahat kami?" tanya Gusti gusar.
Tap! Tap! Tap!
Deru suara sepatu pantofel bergesekan dengan lantai teras rumah Gusti. Tanpa komando orang-orang berseragam itu membuka barisan dengan tubuh setengah membungkuk. Seakan memberi jalan sekaligus memberi hormat pada seseorang yang berjalan mendekat.
Gusti memicingkan matanya, menajamkan netra gelapnya. Kemudian terbelalak kaget setengah melihat siapa orang yang sudah berdiri kokoh di hadapannya.
"Andika?" desisnya pelan.
Andika menyeringai dengan bibir miring meremehkan.
"Mau apa kau datang malam buta rata ke rumah orang rendahan seperti saya?" sindir Gusti meledek harga diri Andika yang begitu tinggi. Mungkin melebihi tingginya langit ketujuh.
Gusti masih ingat setiap ucapan Andika pada pertemuan keluarga saat itu. Bagaimana pria itu merendahkannya dengan berbagai macam hinaan yang sulit diterima hatinya. Batinnya sangat terluka kala itu.
"Hm. Kau jangan sok berharga atas kedatanganku ke sini," sahutnya pongah. Lalu menyeringai sinis. Gusti menautkan alisnya tidak suka.
"Aku terpaksa datang ke sini, untuk mencari putraku, Garda."
Gusti menampilkan smirk balik meremehkan.
"Jadi, anda pikir putri saya membawa kabur putra anda?" Gusti terkekeh pelan. "apakah itu tidak terdengar berlebihan? Atau anda memang senang membuat lelucon?" lanjutnya menyerang balik. Sepertinya cukup telak mencapai sasaran.
Andika mendengus kesal, dengan menampilkan raut marah. Sepertinya dia ingin menyerang Gusti dengan satu tinjunya. Namun urung, membiarkan tangannya mengambang di udara. Ketika suara teriakan Maryam dibarengi dengan kehadiran Qarmitha, cukup memberi atensi lebih pada Andika.
Kedatangan Qarmitha benar-benar menyita perhatian Andika. Dia melihat gadis itu datang sambil mengucek matanya yang masih mengantuk, juga menguap layaknya orang yang baru bangun tidur. Di matanya, gadis itu adalah Qameella. Gadis yang katanya sudah resmi menjadi istri Garda. Lantaran wajahnya memang sangat mirip. Juga tidak tahu jika Qameella dan Qarmitha adalah sepasang anak kembar.
"Kamu?" Andika tertegun dengan tatapan keterkejutan.
Mengapa gadis ini ada di rumah? Lalu, dimana Garda? Pikirnya bingung.
"Hoah... ada apa sih, Ma, Yah?" tanya Qarmitha dengan wajah tanpa dosa. "berisik banget malam-malam kaya gini ganggu orang lagi tidur aja. Gak enak juga kan sama tetangga," lanjutnya dengan nada menyindir.
"Hai, dimana kamu sembunyikan Garda?" todong Andika tanpa basa-basi.
Qarmitha hanya mengernyit heran. Lalu mengedikkan bahu acuh tak acuh.
"Kamu jangan mempermainkan aku, gadis kecil," Andika berusaha mengingatkan dengan tatapan mengintimidasi.
__ADS_1
"Maaf ya, Om. Kita udah gak punya hubungan apa pun lagi sekarang. Apalagi Om terus-terusan dampingi Garda pake body guard segala. Mana bisa kita terus hubungan, kalo gitu?" jawab Qarmitha dengan setengah jawaban benar.
"Kalo Om gak percaya silahkan aja masuk ke dalam, geledah kamar saya," lanjutnya seakan menantang Andika.
Gusti dan Maryam saling beradu pandang. Heran dengan sikap sok berani yang ditunjukkan Qarmitha. Selain itu mereka juga tidak mengerti, mengapa Qarmitha berpura-pura menjadi Qameella.
Qarmitha memang tahu persis bagaimana kondisi hubungan Garda dan Qameella, walau Qameella tidak menceritakannya secara langsung. Tetapi dia dapat melihat dengan mata kepala sendiri semua hal itu. Dan setengahnya lagi mengarang bebas. Tentunya dia ingin melindungi Qameella.
Andika melirik tajam ke arah body guard-nya. Tersirat kemarahan yang besar tampak menyala di kedua sudut matanya yang tajam seperti elang.
Sontak mereka yang dipelototi langsung menunduk takut. Tidak ada yang bergeming satu pun. Hingga Andika memberi komando hanya satu kibasan tangan. Beranjak pergi tanpa permisi.
Selepas kepergian mereka, Gusti menatap penuh tanya pada Qarmitha. Namun gadis itu segera ambil langkah seribu seraya memasang wajah tanpa dosanya, dengan berpura-pura tidak pernah terjadi apa pun sebelumnya.
*
Di dalam kamar penginapan.
Garda dan Qameella tengah terbaring di tempat yang berbeda. Garda tidur meringkuk di atas sofa yang berada dalam kamar itu. Sementara Qameella terlelap di atas tempat tidur.
Dua jam yang lalu
Setelah merayakan ulang tahun Garda di taman penginapan, sepasang sejoli itu kembali ke dalam kamar sewaan mereka.
"Gar, eh... hm...," Qameella tampak ragu menyampaikan isi hatinya.
Garda menatap Qameella tanpa berkedip. Menanti ungkapan yang akan disampaikan istrinya hingga selesai.
"Hmm... apa?"
"So-sori..." Qameella menggigit bibir bawahnya. Kekhawatiran terlihat jelas di mata beningnya. "soalnya... saya gak nyiapin kado buat kamu."
Garda melirik sebuah paper bag yang terletak di atas nakas samping tempat tidur. Seakan tahu maksud tatapan mata Garda. Qameella buru-buru menjelaskan,
"Ah, itu... sebenarnya kado yang sengaja saya siapin buat Rega," dia sengaja melemahkan nama Rega agar Garda tidak terlalu tersinggung. Kendati kenyataannya cowok itu tetap tersinggung karena cemburu.
Dalam hati Qameella merutuki kebodohannya sendiri. Karena masih membawa kado ulang tahun untuk Rega. Mengapa tadi dia tidak kepikiran untuk menitipkannya pada Tari.
Haishh... menyesal sekarang emang gak guna! Dasar bodoh, gak peka! batin Qameella kesal sendiri.
"Maaf, itu kan karena yang ngundang ke acara ulang tahun saya Rega. Sedangkan kamu nggak. Jadi, saya pikir... kamu gak butuh kado dari saya. Lagian kamu kan mau tunangan sama Fiola..."
Pletak!
Garda menyentil dahi Qameella hingga mengaduh kesakitan.
"Siapa bilang saya gak butuh? Bahkan bukan cuma kado kamu aja. Tapi saya juga butuh kamu buat dampingin saya seumur hidup saya. Gitu aja masa gak peka?"
"Masalah Fiola, bukan urusan saya. Karena semua ini adalah rencananya Papa."
Qameella hanya menundukkan wajahnya seraya mengusap dahinya yang masih terasa nyeri.
"Masih sakit?" tanya Garda lembut, mengelus dahi Qameella sayang. Dia merasa bersalah telah berbuat kasar pada Qameella.
Qameella menggeleng sebagai jawaban.
Tiba-tiba Garda meraih bahu Qameella, menenggelamkan tubuh kurus gadis itu dalam pelukannya.
"Maaf," cicitnya pelan.
Qameella terjengit kaget, lalu membeku dalam pelukan Garda.
"Saya gak bermaksud buat nyakitin kamu," imbuhnya penuh sesal.
Qameella membalas pelukan Garda. Menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Garda.
"Kamu gak usah ngerasa bersalah kaya gitu ke saya. Orang saya gak papa kok..."
__ADS_1
"Bi..." Garda melonggarkan pelukannya, mendorong pelan kedua bahu Qameella hingga tercipta jarak.
Mendadak Garda teringat sesuatu. Dengan cepat dia meraba semua saku baju hingga saku celana bahan yang dipakainya saat ini. Akhirnya dia menemukan apa yang dicarinya.
"Sebenarnya buat saya, kado tidak terlalu penting. Tapi kamu yang penting buat saya. Kalo ada sih... gak masalah hehehe..." Garda terkekeh menggoda. "wis lah, saya cuma bercanda doang, jangan diambil serius."
Qameella hanya tersenyum simpul. Mengamati gerakan tangan Garda saat baru membuka sebuah kotak kecil persegi berwarna putih bening mirip kristal.
"Bi... mungkin saya telat kasih cincin pernikahan ini ke kamu. Karena saya beli setelah kita melakukan ijab kabul pagi itu. Yah, walau pun telat, saya berharap semoga cinta kasih kita tetap melekat," Garda mengambil satu cincin yang ada dalam kotak kecil itu, menyematkannya pada jari manis kanan Qameella.
Seulas senyum cerah nan tulus tersungging di bibir ranum Qameella. Haru pun mewarnai hatinya.
"Maaf. Saya belum bisa jadi suami yang baik buat kamu. Saya masih belum bisa bikin kamu bahagia. Menjadi seorang istri yang sempurna seperti yang saya dan kamu harapkan. Karena memang hubungan juga kondisi kita yang masih belum mendapat restu dari orang tua kita."
"Tapi kamu gak usah khawatir, karena saya gak akan pernah lelah buat pertahanin pernikahan kita supaya abadi sampai maut memisahkan raga kita," tukas Garda penuh keyakinan.
"Ssstt!... kamu ngomong apaan sih, Gar?" Qameella menutup mulut Garda dengan jari telunjuk kanannya. Menggelengkan kepala dengan raut khawatir.
"Jangan ngomong maut-maut segala ah, serem tahu dengernya," pintanya.
Garda tersenyum kecil. Lalu menyodorkan sebelah tangannya. Memberi kode agar Qameella melakukan hal yang sama dengannya.
Qameella pun memakaikan cincin pernikahan di jari manis kanan Garda. Setelahnya, keduanya tersenyum bahagia.
"Lucu ya, kamu yang ulang tahun, tapi kamu juga yang kasih kado," Qameella terkekeh kecil seraya menundukkan pandangan, menatap cincin pernikahan di jari manisnya.
Garda menarik pinggang Qameella. Sontak merapatkan tubuh mereka hingga tidak ada jarak lagi.
Qameella mendongakkan wajahnya, menatap Garda dengan tatapan penuh tanya.
"Seperti yang udah saya bilang tadi. Saya gak butuh kado apa pun, karena emang gak terlalu penting dibandingkan dengan kehadiran kamu, Bi."
Tatapan mata mereka saling beradu dan mengunci.
"Bagaimana bila... kadonya diganti sama itu," cetus Garda ambigu. Qameella mengernyit bingung. Berusaha mencerna kata 'itu'.
"Itu?"
Tanpa ba-bi-bu Garda menundukkan wajahnya. Sampai bibir kenyalnya menempel pada bibir ranum Qameella. Hanya menempel, tidak ada pergerakan lain yang Garda lakukan. Sementara Qameella membeku, nyaris lupa bernapas.
Sepasang mata dengan bulu mata lentiknya melebar karena terkejut mendapat serangan mendadak.
Karena tidak ada perlawanan dari Qameella, Garda memundurkan wajahnya, dan memberi jarak sejauh dua senti. Netranya menelisik masuk ke dalam netra kelam milik Qameella. Dia ingin melihat reaksi penolakan pada istrinya. Namun tidak ada reaksi apapun yang ditunjukkannya.
Dengan impulsif Garda mengambil kesimpulan sendiri. Mendorong pelan tubuh Qameella berbaring di tengah kasur. Memposisikan diri sendiri di atasnya. Mencumbui bibir ranum Qameella rakus. Sampai si empunya nyaris kualahan.
Di tengah kegiatan panas mereka, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar mereka diketuk seseorang. Awalnya terdengar biasa. Tapi lama-kelamaan semakin cepat dan tidak sabaran. Sungguh menjengkelkan bagi Garda tentunya. Segala macam kata umpatan dilontarkan untuk menghina orang dibalik pintu itu.
Garda terperanjat kaget setelah membukakan pintu kamar penginapannya. Seketika dia mematung dengan tatapan nanar.
"Siapa, Gar?" selidik Qameella beranjak duduk, seraya merapikan rambut dan pakaiannya yang berantakan akibat ulah Garda.
Ternyata mereka adalah anak-anak anggota geng ABABIL. Setelah mereka semua masuk dan duduk di sofa, dan tempat-tempat yang mereka bisa duduki. Tidak terkecuali tempat tidur yang akan ditiduri oleh Garda dan Qameella.
Dengan tergesa Ryan dan teman yang lainnya memberikan informasi terkini seputar pesta ulang tahun Garda, serta pergerakan Andika secara bergantian.
Suasana mendadak terasa menegangkan saat hingga setelah mereka berbicara. Rasa khawatir dan takut pun hinggap di hati Qameella. Sampai gadis itu ingin menyerah saja. Namun Garda terus berusaha meyakinkannya agar tetap menjalani semuanya tanpa ragu.
Alhasil, Garda dan Qameella melanjutkan rencana awal mereka. Berhubung keberadaan mereka berdua sudah terendus oleh orang-orang suruhan Andika. Maka Garda dan Qameella terpaksa pindah ke penginapan lain, yang jaraknya lebih jauh. Dan untuk menghilangkan jejak mereka memakai motor milik Ryan. Sementara motor metik yang sempat dipakai Garda, akan dikembalikan pada Tari oleh anggota geng ABABIL yang lain.
*
Ceritanya sampai di sini dulu ya...
Maaf ya, author harus nyicil cerita seemprit, seemprit karena kondisi author yang lagi kurang sehat. Dan efek obatnya bikin ngantuk. So, mohon para readers mau bersabar dan memaklumi kondisi author ya...
See you next episode 😘😘😘
__ADS_1