
Happy reading
Derap langkah ringan Gusti diiringi Maryam di sampingnya. Wajah tampak riang menapaki lorong rumah sakit hendak menuju ruang rawat Meella. Tidak lupa rantang berisi makanan yang tadi pagi dimasak dengan tangannya sendiri. Untuk makan pagi mereka semua. Dalam hati Gusti berencana memperbaiki hubungannya dengan Meella, yang sangat disadarinya tidak harmonis seperti dia dengan Mitha.
Dalam angan pria itu sudah tergambar keharmonisan antara dirinya dan Meella. Saling berbagi cerita dan senda gurau yang diiringi gelak tawa. Uh... indah sekali rasanya.
Sayangnya... ekspektasi Gusti tidak sesuai dengan kenyataan yang ada di depan matanya. Kamar rawat yang pernah dipakai Meella kemarin telah kosong. Bed pasien pun sudah dirapikan pertanda si pasien telah keluar dari rumah sakit. Entah sejak kapan Gusti tidak tahu sama sekali.
Saat ada dua orang perawat yang kebetulan lewat di depan ruangan itu pun mengernyit heran.
"Lho, bapak sama ibu sedang apa di sini?" tegur salah satu perempuan muda berseragam khas perawat rumah sakit ini.
"Saya mau... menjenguk anak saya, sus," sahut Maryam dengan senyum kakinya.
"Kemarin dia dirawat di kamar ini, sus. Tapi, kok tidak ada, ya? Apa pindah ruangan lain, atau gimana?" lanjutnya balik bertanya.
"Oh, ibu Qameella ya, bu?" perawat itu langsung menebak nama pasien penghuni kamar yang kini sudah kosong di depannya.
"Iya, benar. Dia anak kami," kali ini Gusti yang menjawab.
"Lho, emangnya ibu dan bapak tidak diberitahu ya, jika pasien atas nama ibu Qameella sudah pulang pagi tadi," terang perawat yang satunya lagi.
"Apa?!"
Baik Gusti dan Maryam tentu syok mendengar kabar ini. Kenapa Meella tidak memberi kabar tentang kabar kepulangannya kepada dia maupun istrinya, Maryam. Dan tidak menunggu sampai mereka datang untuk menjemput. Padahal jika saja hal itu dilakukan Meella. Maka Gusti dan Maryam akan sangat senang hati datang menjemputnya di sini.
Tetapi mengapa hal tersebut tidak dilakukan oleh Meella? Mungkinkah sudah tidak ada lagi kata damai di antara mereka? Atau Meella memang sudah tidak ingin menganggap mereka orang tuanya lagi? Hingga dia memilih pergi tanpa pamit.
Masih banyak pikiran-pikiran buruk yang bermunculan silih berganti memenuhi kepala Gusti. Sampai usahanya untuk memasak sejak subuh tadi terasa sia-sia. Tanpa terasa mata tuanya meneteskan air bening, lalu meluncur sedikit malu-malu melalui pipi yang sudah keriput itu.
*
Mitha menatap kosong ke arah jendela kamar rawatnya. Jendela yang langsung menghadap ke arah taman rumah sakit. Jendela yang pernah menunjukkan betapa akrabnya. Ingat ya hanya akrab tidak sampai pada tahap intip, Rega dan Meella untuk pertama kali. Walau hanya dari benda tembus pandang itu, ia bisa melihat betapa sang suami begitu perhatian pada saudara kembarnya.
Entah mengapa hal itu membuat Mitha dapat merasakan desir aneh, yang ternyata mengusik dan kalbunya tenang. Mungkin ini merupakan bentuk rasa cemburu yang baru dirasakannya. Setelah sekian purnama hatinya membeku akibat pengkhianat sang calon suami kala itu.
Tapi ini rasanya tidak masuk akal. Karena Rega dan Meella memang sudah lama saling kenal. Apalagi mereka pernah satu kelas saat di bangku SMA. Bisa saja mereka memang teman akrab dulunya. Meski akal dan pikiran Mitha sendiri menyangkal juga membenarkan secara bersamaan. Mengingat sikap dingin dan misterius Meella yang tidak dapat tersentuh. Sepertinya mustahil juga.
"Hah, ada apa sama gue?" keluhnya frustasi seraya mengusak rambutnya dengan sebelah tangan yang bebas. Pasalnya pada tangan yang lainnya masih menancap jarum infus. Tentu saja hal itu harus dijaganya agar tidak terjadi apa-apa.
"Masa sih gue cemburu? Mana mungkin begitu. Gue percaya Meella gak mungkin merebut Rega dari gue. Walau pun wajahnya mirip banget sama Garda. Gak mungkin juga dia terlena. Tapi... bisa aja itu terjadi kan.... arghhh... ada apa sih sama otak dan pikiran gue... kayaknya minta digosok pake gerinda. Huh..." mendadak dia jadi kesal sendiri.
"Apanya yang mau digosok pake gerinda?" tegur Rega tiba-tiba saja sudah ada di dalam kamar rawatnya sambil menutup pintu.
"Hmm. Apa?" desaknya bergerak maju menuju bed pasien.
Mitha mendadak mati kutu dan malu sudah tertangkap basah ngoceh sendiri seperti orang tidak waras. Wajahnya pun bersemu merah karena terus-terusan ditatap lekat oleh Rega yang menunjukkan sorot penuh selidik.
"Ah, kamu dari mana? Dari klinik atau rumah sakit?" tanya Mitha mengalihkan pembicaraan.
Rega tersenyum kecil. Lalu ingin mengatakan baru saja mengantar Meella ke stasiun kereta.
"Aku...," mendadak Rega terdiam beberapa detik. Ketika tiba-tiba saja dia teringat pesan Meella yang penuh permohonan, agar tidak mengatakan apapun tentang kepergiannya. Dan bersikap seolah tidak tahu apa-apa. Akhirnya dia urung mengungkapkannya.
__ADS_1
"Ah, aku baru dari luar beli makanan," Rega langsung menunjukkan paper bag di tangannya. Lalu mengajak Mitha makan bersama.
Mitha menarik sudut bibirnya ke atas membentuk senyum. Namun di sisi hatinya terdalam seakan ada kerikil yang mengganjal sikap Rega yang terasa janggal.
Rega mengeluarkan isi dalam paper bag dibawanya. Membuka tutup wadah makanan berbahan plastik bening, dan memberikan sendok plastik yang sudah tersedia di setiap paket makanan yang dibelinya.
Tidak ada pembicaraan yang mereka bahas selama kegiatan makan berlangsung. Juga tidak ada yang mau memulai bersuara meski dalam hati keduanya ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan dari hati ke hati. Terutama Mitha. Lidah wanita itu rasanya sudah gatal ingin berceloteh seperti biasa. Juga ingin meledek tentang Rega Meella saat di taman waktu itu. Sayang semuanya hanya bisa ditelan bersama makanan yang masuk ke dalam kerongkongannya.
"Emh... Ga, boleh tanya sesuatu?" akhirnya Mitha buka suara juga.
Rega mengangkat pandangannya ke arah Mitha. Dengan gumaman dia menyahut.
"Apa kamu dulu akrab dengan Meella?" tanyanya takut-takut juga ragu.
"Nggak juga. Kenapa?" jawab Rega yang diakhiri dengan pertanyaan juga.
Mitha menggeleng pelan.
"Ng-gak. Gak papa. Aku cuma penasaran aja," senyum kecil dan kikuk membuat Mitha ragu untuk melanjutkan percakapan.
Rega memang tipe orang yang tidak bisa memulai berbicara lebih dulu dari lawan bicaranya. Kecuali jika kondisi dalam tertentu. Makanya Mitha yang selalu lebih aktif mengajaknya berbicara.
Aduh, bete banget ngomong sama cowok batu kaya laki gue ini. Kalo gak diajak ngomong, dia cuma diam doang. Bisa-bisa sampe subuh dia tetap diam aja kaya gitu. Batin Mitha terus ngedumel sendiri.
"Ada apa?" Rega menelisik wajah istrinya yang tampak kurang bersahabat. "kalo ada yang mau diomongin, ngomong aja. Aku dengerin kok," bujuknya agar wanita di depannya tidak bed mood lagi.
"Oh, itu... aku cuma penasaran aja sama kamu," sahut Mitha asal sekenanya saja.
"Ya, aku penasaran sama kamu. Terutama, apa alasan kamu mau nikahin aku? Apa karena kamu tertarik sama aku? Atau karena wajah aku yang sangat mirip Meella?" Mitha memang bukan tipe wanita yang suka bertele-tele. Dia lebih suka menembak tepat pada sasaran. Dari pada harus keliling-keliling dulu, emangnya orang haji yang lagi tawaf di depan Ka'bah.
Rega tertegun juga terkejut secara bersamaan. Pria itu menatap wajah sang istri dengan tatapan tidak terbaca. Mitha pun tidak bisa menebak apa yang tersembunyi di sanubari sang suami.
"Pertanyaan macam apa itu? Aneh!" hardik Rega dengan suara rendah. Namun tetap bisa didengar oleh Mitha.
"Apa pun itu pertanyaannya, jawab aja kan simpel ini pertanyaannya ini. Gak sesulit kaya soal matematika," kilah Mitha jadi teringat dengan mata pelajaran yang paling dibencinya saat sekolah dulu.
*
Di tempat berbeda Garda tampak sibuk mencari jejak Meella. Sang asisten, Dandi, pun ikut kerepotan menghubungi semua orang suruhannya untuk melacak keberadaan wanita pujaan atasannya.
"Gimana, udah ada kabar?"
"Masih belum bos," sahut Dandi menjawab pertanyaan atasannya.
Tuhan... kamu dimana Bi? Kenapa kamu tiba-tiba pergi tanpa memberitahu saya dulu, kenapa Bi?
Flash back on
Garda berjalan tergesa-gesa melewati lorong rumah sakit. Dia segera meluncur menuju ruangan rawat Meella, yang baru saja dipindahkan ke sana.
Setelah beberapa hari kehilangan kontak dengan wanita yang sangat dicintainya. Kemudian tiba-tiba mendapat kabar tentang tindakan bodoh sang kekasih. Ya, Garda menganggapnya seperti itu. Karena sudah begitu tega melenyapkan buah cinta mereka dengan tindakan aborsi. Hatinya hancur dan sedih mengetahui kabar yang bukan hanya isapan jempol semata. Tetapi fakta pahit yang harus diterima.
BRAKK
__ADS_1
Pintu terbuka lebar memunculkan sosok Garda di ambang, dengan masih tangan kanan menempel di daun pintu. Serta tangan kiri menggantung di sisi tubuhnya.
Sontak Meella yang hendak memejamkan mata setelah keluar dari ruang operasi, terkejut seraya menolehkan wajahnya ke arah pintu yang dibuka kasar.
Syukurlah Meella bukan salah satu pasien jantung. Jika iya, wah bisa dipastikan saat ini bisa saja ia Anfal akibat serangan jantung mendadak.
Garda bergerak maju mendekati bed pasien. Wajahnya merah padam karena amarah. Sepasang bola mata yang selalu menampilkan aura dingin juga kehangatan. Kini tampak Semerah darah dan berair. Sungguh, semua itu membuat Meella bergidik ngeri.
"Kenapa? Kenapa kamu tega melenyapkan bayi kita, Bi?" erang Garda pilu. "kenapa?"
"Maaf," desis Meella sesungguhnya tidak tega melihat pria yang terkenal dingin dan sangar. Saat ini tampak melow juga cengeng dengan air mata yang tumpah di pipinya.
"Kenapa kamu jahat sama anak kita, hm? Apa kamu bahagia sekarang, Bi?"
"Ya. Tentu, tentu saja aku bahagia. Karena dengan begini kita gak perlu terikat lagi. Aku bisa bebas dari bayang-bayang kamu. Dan kamu bisa meraih kebahagiaan kamu sendiri bersama wanita pilihan kamu dan papa kamu."
"Gak. Nggak bisa. Aku gak bisa hidup dengan wanita selain kamu, Bi... karena kamu adalah belahan jiwa saya."
Garda menggeleng tegas. Lalu meraih tangan Meella. Seakan dengan begitu dia bisa membujuknya.
Meella menepis kasar tangan Garda. Menarik tangannya agar tidak lagi bisa disentuh.
"Aku udah lelah melewati semua kepahitan hidup ini sendiri. Aku pun udah jenuh selalu berada di bawah bayangan kamu. Belum lagi penderitaan yang Papa kamu beri ke aku dan keluargaku. Aku lelah. Aku ingin bebas. Aku ingin bahagia. Aku ingin melupakan kamu juga kenangan kita."
Garda meraung sedih sembari menggelengkan kepalanya.
"Gak, gak boleh. Kamu gak boleh melupakan aku, Bi... gak boleh. Kamu harus tetap ingat saya juga semua kenangan kita."
"Maafin aku karena aku gak bisa. Aku harus melupakan semua tentang kita dan kenangan kita."
Flash back off
Garda memukul meja kerjanya dengan kepalan tangannya. Ingin rasanya ia menangis dan meraung saat mengingat percakapan terakhirnya dengan Meella.
Seandainya waktu bisa berputar kembali ke masa lalu...
Seandainya dia bisa kembali ke masa lalu...
Seandainya dia punya kekuatan untuk melawan kelicikan Papanya saat itu...
Pasti semua ini tidak akan pernah terjadi. Tapi sayangnya semua itu hanya seandainya... seandainya... dan seandainya...
Bi...
Biii...
Biiiiii...
*
Hai readers... sampai di sini dulu ya... maaf author lagi sibuk banget jadi sulit meluangkan waktu untuk update dengan segera.
See you next episode ya 😘🥰❤️🙏
__ADS_1