
🙋Hai readers... gimana cerita author yang ini? Seru gak? Tolong kritik dan sarannya ya... jangan lupa kasih vote dan likenya juga. Kalo bisa boom like...
Happy reading.... 🤗😁✌️
~~~~~~~~~
Garda paling tidak suka bila dirinya disamakan oleh Rega, yang notabene saudara kembarnya. Dia yang lahir hanya selang sepuluh menit dari Rega, memang selalu dibanding-bandingkan oleh siapa pun, terutama kedua orang tuanya.
Rega yang cenderung kalem, mudah diatur, penurut, rajin belajar, berprestasi, dan memiliki etitut yang baik, sudah pasti menjadi kebanggaan bagi kedua orang tuanya.
Berbeda dengan Garda yang pembangkang, malas belajar, tetapi nilainya akademik tidak pernah jeblok. Dia pun terkenal sebagai trouble maker di sekolah, karena ketidak disiplin dan suka terlibat perkelahian dengan teman satu sekolah.
Dia pun tidak jarang terlibat perkelahian di luar sekolah. Hobinya yang suka ikut balapan liar, sering kali membawanya dalam masalah. Kedua orang tuanya pun ikut dipusingkan dengan tingkah lakunya.
Tetapi bukan Garda namanya jika tidak mempedulikan orang-orang yang tidak mendukung segala aktivitasnya. Dia yang cuek memilih tidak mau ambil pusing dengan segala komentar, juga omelan dari papanya hanya dianggap angin lalu.
Qameella terdiam melihat sikap Garda yang mendadak membisu. Dia tidak tahu bagaimana harus bersikap. Cowok asing yang baru tiga kali bertemu di hadapannya.
Garda kembali duduk di bangku taman dengan ekspresi wajah tertunduk. Diikuti oleh Qameella. Rupanya gadis itu masih penasaran dengan kelanjutan penjelasan dari Garda. Tatapan matanya menatap lekat pada cowok yang memiliki kesamaan wajah dengan cowok yang selama ini disukainya.
"Sebenarnya... gue dan Rega adalah saudara kembar." ujar Garda setelah cukup lama terdiam.
Qameella membelalakkan mata terkejut mendengar fakta Mengejutkan itu.
Kembar?
"Jadi..."
"Gue dan Rega hanya terpaut sepuluh menit saat lahir." jelas Garda dengan tatapan sendu.
Qameella speechless. Dia jadi teringat akan dirinya sendiri dan Qarmitha yang juga saudari kembar. Kelahirannya dan Mitha hanya terpaut lima menit saja.
"Pasti elo kecewa ya, karena gue bukan Rega. Gue sadar, gue gak bisa dibandingin Rega dari segi apa pun," tuturnya lirih. "mungkin itu yang jadi alasan elo nolak gue, iya kan?"
Qameella mengerutkan keningnya, merasa tidak memiliki pemikiran seperti itu.
"Gue mungkin bisa kalah kalo urusan akademik. Tapi kalo soal wajah, elo gak usah sangsi. Kadar kegantengan gue masih bisa bersaing." lanjutnya penuh percaya diri lalu terkekeh.
Qameella hanya tersenyum simpul mendengar celotehan Garda yang rada garing.
*
__ADS_1
Di rumah keluarga Qameella.
Kedua orang tua Qameella dan Qarmitha sudah kembali dari rumah nenek mereka.
"Ma, coba hubungi Meella di mana sekarang. Soalnya udah gelap gini itu anak masih belum juga pulang." titah ayahnya khawatir.
Lelaki yang sudah berusia lebih setengah abad itu, tidak meminta istrinya untuk mencari tahu putrinya yang lain, yaitu Qarmitha. Karena dia sudah tahu putrinya yang satu itu selalu berbuat semaunya, dan sulit diatur.
"Iya. Yah." sahut mama patuh. Langsung mengambil ponselnya dan mencari nomor telepon Qameella. Setelah itu menghubunginya. Namun tidak diangkat oleh Qameella yang masih asyik ngobrol dengan Garda di pinggir danau.
"Tumben banget nih anak, teleponnya gak diangkat-angkat." gumam Maryam heran. "ya udah nanti ditelepon lagi deh, kalo dia belum pulang juga. Siapa tahu sekarang lagi di jalan, jadi gak ngeh kalo ada panggilan masuk." lanjutnya menghibur diri sendiri.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil sedan Corolla Altis milik Yasmin berhenti di depan jalan rumah si kembar Qameella dan Qarmitha. Kemudian Qarmitha turun setelah mengucapkan kata perpisahan kepada teman-temannya.
Gusti mengintip dari balik jendela ruang tamu. Pria itu penasaran setelah mendengar suara mesin mobil berhenti di depan rumahnya. Sementara Maryam menyibukkan diri di dapur, setelah sebelumnya kesal Qameella tidak merespon panggilan darinya.
Qarmitha langsung masuk tanpa mengetuk pintu, lalu memberi salam singkat. Dia agak terkejut melihat ayahnya yang masih berdiri dekat jendela.
"Ayah? Ayah lagi ngapain?" tanyanya heran.
Gusti berusaha bersikap biasa, walau pun awalnya sempat kaget dengan kedatangan salah satu putri kembarnya.
"Gak papa, cuma iseng aja." sahut Gusti santai, lalu beranjak duduk di kursi tamu.
"Tha, kamu gak bareng Meella?" tanya Gusti mencari tahu. Berhasil menghentikan langkah kaki Qarmitha, lalu berbalik menghadap Gusti. Mencium punggung tangan lelaki yang merupakan ayah kandungnya.
"Nggak." jawab Qarmitha tanpa berdosa.
"Kenapa?"
"Kelas kita kan beda, Yah." Qarmitha mengingatkan.
"Tapi kalian masih satu sekolah kan?" sindir Gusti menyentil Qarmitha.
"Ya elah... ayah, sejak kapan sih Mitha pindah ke sekolah lain?" Qarmitha memutar bola matanya malas.
"Itu artinya kamu dan Meella masih bisa pulang bareng kan."
Qarmitha mendengus lelah.
"Buat apa pulang bareng kalo kendaraannya gak ada."
__ADS_1
"Kan ada kendaraan umum. Kalian berdua bisa pulang bareng, buat ongkosnya kan ayah udah kasih kalian uang saku tiap hari."
"Yah ayah... hari gini masih naik umum aja. Beliin motor dong, atau mobil kek."
"Kamu ini ngomong apaan sih? Disuruh pulang bareng, malah minta dibeliin motor, mobil segala."
"Bilang aja kalo ayah pelit." ujar Qarmitha ketus. Lalu melangkah masuk ke kamarnya.
"Hei, jangan bilang ayah pelit ya..."
"Emang kenyataan begitu." tukas gadis itu tiba-tiba kepalanya nongol dari balik pintu kamarnya.
Gusti mendengus geram. Memijat pangkal hidungnya. Dia tidak pernah menyangka bahwa Qarmitha berani beradu argumentasi dengannya. Walau pun bukan kali pertama dia terlibat perdebatan dengan Qarmitha. Tapi untuk kali ini dia tersentil dengan bucapan salah satu putri kembarnya. Sungguhkah dia adalah seorang ayah yang pelit seperti yang dikatakan Qarmitha?
Dalam hati dia mengakui jarang memanjakan kedua putri kembarnya dengan barang-barang mewah. Padahal Gusti bisa terbilang mampu bila Gusti mau membelikannya. Tetapi dia tidak mau melakukannya karena khawatir anaknya akan berperilaku konsumtif. Oleh sebab itu dirinya terkesan pelit.
Selain itu ada hal yang paling dikhawatirkan terhadap Qameella dan Qarmitha. Yaitu masalah lingkungan bergaul mereka. Karena dewasa ini banyak anak-anak seusia kedua putri kembarnya yang salah pergaulan, dan terjebak dalam pergaulan bebas yang dapat merusak masa depan mereka.
Mungkin itulah alasannya yang selalu mengekang kebebasan kedua putri kembarnya. Meskipun pada kenyataannya hanya Qameella yang bisa mendengar setiap perintah dan larangannya.
Sementara Qarmitha tidak mau mendengar walaupun sudah melarangnya. Gadis itu memilih menjadi orang yang merdeka dan bebas melakukan hal yang disuka. Salah satunya masuk dalam komunitas olahraga basket.
"Ada apa sih, ayah? Kedengarannya ribut banget, sampai kedengaran ke dapur." keluh Maryam baru keluar dari dapur.
"Apalagi kalo bukan putri yang satu itu, yang hobinya selalu membantah omongan ayah."
"Dimaklumi aja, Yah... namanya juga anak-anak. Gak usah dibuat emosi."
"Huh!" Gusti mendengus berat. "Menurut ayah, ngadepin Mitha sama seperti ngadepin berondongan peluru. Bikin ayah ketar-ketir sama anak satu itu. Beda banget dengan Meella yang penurut dan rajin."
Maryam mengangguk mengamini.
"Ayah jadi heran deh, padahal Meella dan Mitha anak kembar lho, kok bisa bisa beda gitu ya?"
"Itu udah kuasa Yang Maha Esa. Kita hanya manusia biasa bisa apa?"
"Iya sih, ma."
"Yang penting tugas kita sebagai orang tua, selalu membimbing mereka agar menjadi anak yang baik dan taat pada Allah dan orang tuanya. Jangan sampe deh mereka terjebak dengan hal-hal yang gak bener, yah."
"Amin. Benar kata mama, ayah setuju." Gusti mengaminkan juga berdoa hal yang sama di dalam hatinya.
__ADS_1