
Happy reading
Dandi menatap wajah tentang sang bos di atas brankar.
"Ya Allah... bos, kenapa bisa kaya gini?" tanyanya yang tentu saja tidak mendapat jawaban dari orang yang ditanya.
Wajah tampan Garda tampak ternoda dengan lebam, dan perban yang menempel di kening sebelah kanannya.
"Bos, bos... wis dikasih tau, angel," sesalnya.
Flashback
"Halo, bos," seru Dandi tergesa.
"Ada apa?" tanya Garda di ujung telepon. Tanpa sepengetahuan Dandi saat itu dia sedang berada di halaman rumah Karina.
"Bos, sekarang bis ada dimana? Udah sampai lokasi belum?" tanya Dandi ingin tahu.
"Kenapa?" pertanyaan yang dibalas pertanyaan memang paling menyebalkan. Bukan hanya Dandi tapi bagi semua orang.
"Eh, itu bos, saya udah kirim shareloc tempat balapan itu. Bos bisa cek sendiri di hp bos sendiri," jawabnya setengah kesal, namun sebisa mungkin suaranya terdengar normal.
"Hm. Iya nanti saya cek," ucapnya no ribet dan no debat.
Dandi tiba-tiba terdiam. Pemuda itu kehilangan kata-kata berbicara dengan atasannya. Ada rasa khawatir terasa mengganjal di hatinya.
"Eh, bos, bos, tunggu sebentar!" sergahnya firasatnya Garda akan segera menutup sambungan mereka. Biasa, bos selalu benar dan selalu bebas berbuat apa saja. Termasuk memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
"Apa lagi?" dengus Garda terdengar agak jengkel dengan asistennya itu.
"Bos...," Dandi menjeda ucapannya sejenak. Menarik nafas sebentar lalu dihembuskan pelan. Langsung mendapat gumaman dari orang yang dipanggilnya.
"Hati-hati ya bos. Jaga diri baik-baik. Kalo bisa bos jangan ikut balapan ya, bos. Inget bos, bos kan gak pernah naik motor sebelumnya," pintanya seperti sedang berpesan pada anak kelas 1 SD, yang baru dilepas ibunya untuk berangkat ke sekolah sendiri.
"Hah?!" nada keterkejutan terdengar dari ujung sana.
"Pokoknya bos baik-baik di sana. Karena saya jauh dari bos, gitu maksudnya," katanya memperjelas ucapannya lalu terkikik.
Tut, Tut, Tut.
Sambungan telepon sudah terputus secara sepihak.
__ADS_1
Benar saja saat Dandi menjauhkan ponsel dari telinganya. Walau sudah tahu dia tetap terkejut dengan sikap atasannya yang terkadang ajaib tapi ngeselin.
"Dasar, bos... bos...," Dandi menggelengkan kepala.
Flashback end
Dandi sudah mengantongi informasi tentang kecelakaan yang menimpa bosnya. Tentu dari orang suruhannya, juga informasi dari Ryan dan kawan-kawan. Nantinya akan dilaporkan kepada bos besarnya, Andika. Kecelakaan akibat kebodohan Garda sendiri sebenarnya sih. Dan tidak ada kecelakaan bila bosnya mau menuruti nasihatnya. Mungkin karena terlalu penasaran, dia memaksakan diri ikut menjadi peserta balapan liar. Dandi sangat menyayangkan kenekatan, atau lebih tepatnya kebodohan sang bos.
'Bos, bos..., udah tahu gak pernah bawa motor lagi. Malah ngeyel ikut balapan. Bukannya menang jadi juara. Ini malah jadi sengsara. Di rawat di rumah sakit pula.'
Pada saat di tengah perlintasan rute balap yang dilalui Garda, dari arah berlawanan tiba-tiba muncul cahaya lampu mobil yang kebetulan melintas di sana, mengejutkan Garda menyebabkan motor yang dibawanya oleng. Bersamaan dengan itu, mendadak satu bayangan masa lalu yang sangat jelas hadir dalam memori ingatannya.
Dimana Garda sedang mengendarai sepeda motor yang entah milik siapa di jalan raya. Di jok belakang seorang gadis duduk memeluk erat pinggangnya. Dagunya sengaja di letakkan pada bahu Garda. Hingga pipi keduanya yang terhalang helm masing-masing menempel erat.
Sampai sebuah mobil mini bus dari arah berlawanan muncul tiba-tiba. Dengan kecepatan tinggi mobil itu langsung menyasar ke arah sepeda motor yang ditunggangi Garda dan gadis itu.
“Garda, awas….!” suara gadis itu memekik keras menembus gendang telinganya.
Garda benar-benar terperanjat kaget sekaligus merasa Dejavu, melihat kehadiran mobil di hadapannya. Alhasil, demi menghindari tabrakan Garda terpaksa banting setir ke kanan. Sialnya malah menabrak trotoar. Seketika Garda terjungkal ke depan. Kepala yang masih terlindung helm meluncur terlebih dahulu, membentur aspal jalan. Garda pun langsung tidak sadarkan diri di tempat.
Entah hukuman apa yang akan diterimanya nanti dari bos besarnya, setelah tahu anak semata wayangnya bonyok begini. Walaupun kecelakaan ini tidak sampai tempurung kepalanya lepas. Dan diagnosa sementara, Garda dinyatakan mengalami gegar otak ringan..Ada lagi, satu hal yang paling ditakutinya kali ini, kembalinya ingatan Garda pasca kecelakaan itu.
Gusti Allah, tolong hamba. Jangan sampai bos Garda yang kecelakaan, tapi nyawa saya yang melayang. Ampun... Gusti... Dandi berharap dalam hati.
Di sofa tamu, Ryan ditemani Tikeng, Rombeng, Sonik, Buchek, Akew, dan Iwan. Minus Dimas alias Deming ya, karena dia sudah keluar dari geng ABABIL pasca bentrok dengan Garda. Mereka semua masih terjaga. Tidak sabar melihat ekspresi Garda melihat formasi lengkap geng ABABIL yang kini bisa dibilang legend.
Harap-harap cemas menunggu sang sahabat lama sadar. Jenuh sudah pasti. Tapi, mereka yang sudah biasa begadang, bahkan bisa tidak tidur 24 jam lebih tampak baik-baik saja. Untuk itu, mereka mengisi waktu menunggu membosankan itu dengan mengobrol ngalor-ngidul. Tentu dengan suara yang bisa dikondisikan. Dalam artian tidak menciptakan kegaduhan dan kebisingan.
Pukul 05.55 pagi.
Garda terbangun dari tidurnya. Matanya membuka perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk dalam netranya. Lalu terbuka lebar. Warna putih yang pertama kali dilihat saat pandangannya lurus ke depan. Plafon biasa yang tidak terdapat di rumah atau apartemennya.
Dimana ini?
Pandangan matanya berpindah, menyisir seluruh ruangan asing ini. Matanya membelalak bersamaan dengan suara sapaan,
"Bro, lo udah sadar?"
Dengan cepat kepalanya bergerak ke arah datangnya suara. Entah hanya halusinasi atau benar-benar nyata. Garda melihat mereka berdiri berjajar di samping brankarnya. Mereka yang mendadak berubah menjadi sosok lima tahun lalu tampak tersenyum lebar. Satu persatu Garda mengedarkan pandangannya. Menatap haru seakan dirinya kembali ke masa itu.
Tikeng si begeng. Begitulah ia dijuluki oleh teman-temannya. Karena badannya yang kurus kering seperti papan triplek.
__ADS_1
Rombeng si gondrong dekil. Bibirnya yang agak tebal menghitam akibat terlalu banyak merokok. Si sangar, si jago bikin musuh keok.
Sonik yang sok asik, sok tahu, juga kadang paling berisik, tubuhnya lebih berisi dari Tikeng. Hobinya sering ribut bila ada yang tidak sesuai dengan keinginannya. Dan gampang terpancing emosi.
Buchek yang paling kalem. Paling tajam ingatannya dan paling teliti. Maka tidak heran kalo dia yang paling pintar di antara mereka. Jadi wajar bila setiap ada tugas dari sekolah, anak-anak selalu menyontek jawaban darinya.
Akew si cuek tapi tapi paling suka tebar pesona. Tapi masih tetap Garda yang juara ya. Dulu dia yang paling sering gonta-ganti pacar. Si Casanova cengeng karena sering melow, bila diputusin cintanya lebih dulu oleh si cewek.
Iwan adalah salah satu-satunya anggota geng ABABIL yang penakut. Takut tempat seram dan takut lihat darah. Tapi kalo urusan berkelahi dia yang maju nomor satu.
Terakhir, Ryan. Cowok yang lebih akrab disapa Keling. Dulu dia sering dikata-katain karena badannya yang paling besar sendiri. Hobi makan. Rada lola alias loading lama. Rambut ikal dan kulit yang paling gelap di antara yang lainnya. Tapi dia yang paling peduli dengan kawan-kawannya. Hingga kini, dia tetap setia kawan. Bedanya saat ini tampang Ryan lebih lebih oke dari keenam kawannya yang lain.
Saat ini Garda serasa baru bangun dari tidurnya sewaktu lima tahun lalu. Ketika dirinya tertidur di sofa basecamp ABABIL. Mereka lah yang membangunkannya. Matanya memerah, panas dan pedih. Ingin menangis tapi gengsinya melarang. Sebagai ketua geng, dia tidak boleh cengeng.
Garda tersenyum lebar lalu mengangguk pelan.
"Bos, syukurlah udah siuman," suara ini milik asisten pribadinya, Dandi. Tatapannya teralih sejenak.
"Bos, gimana kondisinya bos? Kepalanya pusing gak?" tanyanya khawatir.
Garda hanya menggeleng pelan.
Beberapa detik kemudian. Tiba-tiba Bianca langsung menerobos masuk ke dalam ruang rawat Garda. Dengan kasar dia menyenggol Dandi yang masih ingat berbicara dengan Garda. Hingga tubuh Dandi tersentak dan bergeser ke samping.
"Sayang, akhirnya kamu sadar juga. Kamu tahu gak, aku khawatir banget pas dapet kabar kamu kecelakaan," ujarnya sengaja menunjukkan rasa khawatir yang berlebihan.
"Bi."
"Iya, sayang..." sahut Bianca tersenyum lebar saat Garda memanggilnya. Tangannya meraih tangan Garda hendak menggenggamnya erat.
Diluar dugaan Garda menepisnya. Kemudian tatapan matanya dilempar ke kanan dan ke kiri. Lalu ke seluruh penjuru ruangan. Seakan sedang mencari sesuatu yang ingin segera dilihat.
"Bi," ucap Garda lagi menyebut hal yang sama.
"Iya, aku di sini. Ada apa?" Bianca mengernyit heran. Seperti ada sesuatu yang janggal.
Begitu juga dengan Dandi. Dalam hati dia bertanya-tanya, apakah kondisi bosnya benar baik-baik saja? Karena jelas-jelas Bianca ada di depan matanya. Tapi pandangan matanya seakan tidak melihat. Matanya malah jelalatan seakan sedang mencari sesuatu.
'Kenapa sama si bos, ya? Mbak Bianca nya kan udah ada di sini. Ngapain si bos jelalatan gitu? Masa sih otaknya jadi gesrek sih? Aduh, Gusti...'
Tetapi hal itu tidak berlaku bagi Ryan dan kawan-kawan. Mereka semua tahu siapa orang yang dimaksud Garda. Mereka beradu pandang satu sama lain dengan senyum penuh arti.
__ADS_1
''Bi."
"Bi."