
Happy new year 2023 ๐ฅณ๐๐งจ๐
Happy reading...
****************
"Lo yakin bakal berhasil?" tanya seseorang yang tidak lain adalah Tikeng, berdiri di antara kerumunan para penonton bersama mantan anggota ABABIL yang lain.
"Tentu aja. Bagai kapal yang berlayar di tengah samudra. Suatu saat kapal itu akan berlabuh juga. Begitu pula dengannya. Dia akan kembali pulang ke rumahnya sendiri," jawab kawan di sebelahnya, Ryan Keling, begitu bijak. Tatapan matanya tidak lepas dari Garda.
Sebenarnya Ryan sengaja mengadakan kegiatan balapan liar ini untuk memancing kedatangan Garda. Melalui informasi dari orang suruhannya, dia tahu sahabatnya itu sedang mencari jati dirinya. Pasca kecelakaan di lima tahun lebih lalu, Garda kehilangan ingatannya.
Oleh sebab itu, Ryan dan sahabat-sahabatnya sesama mantan anggota geng motor ABABIL, mengadakan kegiatan yang sebenarnya dilarang pemerintah. Namun demi membantu ingatan sang sahabat kembali. Dia merekayasa ini semua, sama persis seperti peristiwa dulu, saat-saat Garda aktif mengikuti balapan liar.
Pemuda yang kini mulai menjadi seorang pebisnis ulung. Tentu memiliki kekuatan di dunia atas dan bawah yang tidak kaleng-kaleng. Karena mewarisi bisnis keluarganya walau tidak sebesar bisnis yang dijalani Andika.
Selama ini Ryan sengaja mempermudah asisten pribadi Garda, Dandi, mendapatkan informasi tentang masa lalu Garda melalui orang kepercayaannya. Hingga kini Garda terpancing dan masuk jebakannya. Bukan bermaksud untuk mencelakai, tapi membantu memulihkan ingatan sahabat yang selama ini dirindukannya.
Dari kejauhan kedua orang itu tampak memperhatikan Garda yang berjalan mendekati arena. Sepertinya mantan juara balapan liar, atau yang lebih dikenal sebagai raja jalanan, tertarik untuk berpartisipasi menjadi salah satu rider dalam balapan di ronde kali ini. Setelah seorang pembawa acara mengumumkan siapa yang ingin ikut balapan berikutnya maka dipersembahkan memasuki arena.
Dengan perlengkapan seadanya dan sepeda motor pinjaman, Garda memberanikan diri mengikuti balapan. Kendati tangannya gemetar saat baru memegang setang sepeda motor yang akan digunakannya. Degup jantungnya pun bertalu melebihi momen pertama kali jatuh cinta pada seorang gadis.
Suara sepeda motor yang akan dikendarai garda dan rivalnya sudah menderu, saling bersahutan siap bertempur di medan balapan. Untuk per sekian detik, keduanya saling beradu pandang dengan tatapan sinis di balik helm yang belum ditutup kacanya.
Setelahnya, Garda dan rivalnya yang tidak lain adalah Rombeng, kembali menatap lurus ke depan. Memperhatikan seorang gadis berpakaian seksi bergerak maju ke arah mereka membawa bendera.
Ketika bendera terangkat ke udara, sebagai tanda balapan dimulai. Baik Garda maupun Rombeng langsung menarik gas sepeda motor masing-masing. Secepat kilat mereka melesat pergi membelah jalan raya yang sudah lengang dari lalu lintas kendaraan yang lewat.
Para penonton tidak henti-hentinya bersorak mengiringi kepergian mereka. Kemudian menanti kedatangan mereka di garis finis. Sementara Ryan dan sahabat-sahabatnya mengamati dari kejauhan.
'Sorry, bro. Gue harap ingatan lo segera balik. Dan elo bisa gabung lagi bersama kita,' batin Ryan lirih. Matanya memanas, pedih, dan ingin mengeluarkan air mata. Tetapi sekuat tenaga ditahannya agar tidak menangis. Juga menjaga image nya yang kini terkenal gagah dan kokoh, seperti slogan iklan semen. Kendati kenyataannya dia cowok yang melow.
*
Karina yang sudah sejak tadi berbaring dalam dekapan selimut tebalnya, masih tidak bisa memejamkan matanya. Kendati berkali-kali berusaha memejamkan mata. Pikirannya benar-benar terusik dengan kedatangan Rega yang tampak sangat berbeda dari biasanya.
Berkali-kali ia meyakini hatinya, bahwa pemuda berstelan jas tadi adalah Rega. Karena dia tahu Garda sudah lama meninggal dunia. Karina sangat mempercayai itu, memang ada makamnya yang sering didatangi untuk berziarah.
Tetapi hatinya selalu menolak. Naluri keibuannya berkata, 'dia bukan Rega, melainkan Garda.' Lantaran Karina hanya melahirkan dua putra kembar. Dan dia yakin tidak ada lagi wajah yang sama seperti si kembar. Jika pun ada yang mirip, paling hanya beberapa persen saja.
'Jika benar pemuda tadi putraku, Garda, bagaimana mungkin bisa terjadi? Bukankah anakku sudah lama meninggal?' batinnya terus bertanya bimbang dan bingung.
Mendadak dia teringat Andika. Si mantan suami yang bisa berbuat apa saja sesuka hati.
__ADS_1
'Kecuali jika Mas Dika, ah...,' Karina mengangguk-anggukkan kepalanya mulai mengerti.
Karina beranjak duduk. Meraih gawainya di atas nakas sampai tempat tidurnya. Kemudian mendeal satu nomor, milik seseorang yang sangat dikenalnya.
"Halo," serunya setelah tersambung di dering kedua.
Sementara di tempat berbeda. Andika baru saja menyelesaikan olahraga panasnya bersama kekasih barunya di apartemennya. Tanpa mempedulikan ekspresi kecewa si wanita yang ditinggalkan di atas kasur king size nya, dia berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Rungunya pun seakan tuli saat berkali-kali si wanita berseru manja minta dipuaskan. Lantaran Andika menyudahi kegiatannya secara tiba-tiba. Andika langsung mengguyur tubuhnya yang masih gagah perkasa di usianya tidak lagi muda, di bawah shower air dingin.
Entah mengapa bayang-bayang wajah Karina selalu saja mengganggu pikirannya, setiap kali melakukan percintaan dengan banyak wanita. Hampir tujuh belas tahun lamanya bercerai dengan wanita itu, namun tidak sedikit pun dia lupa dengan pesonanya.
Betapa pun berkuasanya Andika dalam dunia bisnis atas dan bawah. Kekuatan dan kekuasaannya yang tidak tertandingi oleh siapa saja yang berani menantangnya. Bahkan dia bisa berbuat apa saja demi ambisinya. Tapi satu yang hingga kini tidak mampu dilakukan. Yaitu memaafkan Karina.
Kendati rasa sakit hatinya dalam. Andika tidak memungkiri rasa rindunya pada mantan istrinya lebih dalam dari samudera Hindia. Berkali-kali dia mencoba melupakan. Berkali-kali itu juga dia merindukan. Sampai tidak ada satu wanita pun yang ditidurinya mampu menghapus ingatan dan rindunya pada tubuh sang mantan.
"**** the ****!" geram Andika seraya memukul dingin keramik di depannya dengan satu kepalan tangannya. Kepalanya tertunduk dengan mata terpejam, merasakan kucuran air yang mengalir, lalu jatuh ke lantai tempatnya berpijak.
"Sayang...," suara manja dibarengi belaian lembut di punggungnya, menyadarkan Andika dari lamunannya. Matanya membuka lebar.
"Ada apa, humh?" tanya si wanita seraya merangsek masuk dalam tabung kaca yang didiami Andika.
"Kenapa kamu tiba-tiba pergi begitu saja, tanpa menyelesaikan..."
Si wanita terjengit kaget. Namun dia berusaha bersabar demi mendapatkan keinginannya yang tertunda.
"Sayang..."
Belum sempat wanita itu merayu dengan jurus mautnya, tiba-tiba Andika melayangkan tatapan tajamnya seakan ingin membunuhnya. Seketika bulu kuduknya meremang. Ketakutan pun menjalar ke seluruh tubuh polosnya. Wanita yang kini berdiri di sisi kanan Andika, seketika meneguk saliva untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering kerontang.
"Cepatlah pergi dari sini, sebelum aku lupa siapa dirimu!" usirnya ketus tidak ingin dibantah.
Walaupun si wanita tidak rela diusir Andika. Tapi dia masih sayang dengan nyawanya. Maka tanpa berpikir dua kali, dia langsung pergi meninggalkan Andika sendiri di tempatnya.
*
Pukul dua dini hari. Dandi setengah berlari melewati lorong salah satu rumah sakit di daerah Bekasi. Setelah sebelumnya, tiga puluh menit yang lalu Dandi yang sedang terlelap dalam tidurnya, dihubungi pihak rumah sakit perihal kecelakaan yang dialami Garda.
Entah apa yang dilakukan atasannya hingga mengalami kejadian naas itu. Dia belum sempat mencari tahu. Pikiran pemuda tampan idaman setiap wanita namun masih jomblo, hanya ingin segera tiba di tempat bosnya di rawat.
Tidak peduli tampangnya yang biasanya paripurna dengan stelan kantornya. Kini hanya mengenakan piyama tidurnya, dengan percaya dirinya Dandi melangkah. Untunglah, saat ini dini hari. Hingga suasana rumah sakit sepi dan lengang. Tidak ada mata-mata nakal menatap tubuh tinggi dan gagah bak seorang model majalah.
Akhirnya langkahnya terhenti di depan ruangan VIP milik rumah sakit tersebut. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Dandi masuk. Baru saja langkah kakinya mencapai ambang pintu. Dengan segera ia langsung berhenti bergerak. Gagang pintu masih dalam cengkeraman tangannya.
__ADS_1
Tiba-tiba dia terdiam membeliak kaget, melihat beberapa orang duduk memenuhi sofa yang ada dalam ruangan itu. Tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata mereka, yang sontak menoleh setelah mendengar pintu terbuka.
"Ah, maaf. Saya salah kamar," ujarnya tidak enak hati, merasa bersalah pada mereka. Sembari mengangguk meminta maaf, Dandi menarik gagang pintu hendak menutup kembali.
"Asisten Dandi!" seru salah satu diantara mereka menginterupsi. Sontak menghentikan gerakan orang yang dipanggilnya.
Dandi tergagap mendengar namanya dipanggil. Mendongakkan wajahnya, melebarkan pintu mencari sumber suara. Heran mengapa ada orang yang tahu namanya. Padahal penampilannya sedang berantakan. Mungkin ada belum dan iler yang melekat di wajah tampannya.
Matanya melebar saat mengenali sosok pria itu. Dia adalah Ryan Wijaya, seorang direktur PT. Wijaya Sentosa yang kini diwariskan untuknya dari sang Ayah.
Sedangkan yang lainnya hanya pegawai di bengkel ABABIL. Kecuali Tikeng, bapak dua anak itu pemilik toko bangunan terbesar di Bekasi. Juga sudah memiliki tiga cabang di daerah berbeda. Dan mereka semua adalah kawan-kawan Garda semasa SMA.
'Ternyata mereka garang juga ya, kalo tatap muka kaya gini,' pikir Dandi merasakan bulu kuduknya meremang.
"Mau pergi kemana?" tegur seseorang yang duduk di sofa tunggal. Tubuhnya lebih berisi di antara yang lainnya. Rambutnya yang hitam, ikal dan lebih kelimis. Sementara teman-temannya hanya menatap Dandi dengan tatapan yang terbaca.
"Ah... saya..."
"Masuklah!" titahnya dengan nada bicara lebih rendah.
"Temui bosmu," lanjutnya seraya menggerakkan dagunya menunjukkan tempat Garda berada dalam ruangan itu.
Refleks Dandi mengikuti gerakan pria sebaya dengan Garda. Dan benar saja. Di atas brankar Garda berbaring dengan damai. Entah sedang pingsan atau tertidur. Dia masih terpaku ditempatnya berdiri.
"Ngapain kamu masih di situ, masuklah!" tegurnya lagi.
Dandi menoleh ke sumber suara kikuk.
"Urus bosmu itu yang payah," Dandi melotot mendengar hardikan seorang pria yang duduk di sofa tunggal. Penampilannya sama seperti yang lain. Memakai jaket khas anak geng motor dan celana jeans belel sobek di bagian lutut. Tetapi rambutnya terlihat paling panjang dari yang lain. Di bawah hidungnya ditumbuhi kumis tipis.
"E... baik," sahut Dandi segera bergerak menuju brankar.
"Permisi...," ujarnya sungkan dengan tubuh setengah membungkuk, dan tangan kanan sedikit terulur ke bawah sambil berjalan melewati mereka.
Ryan hanya mengangguk santai di tempatnya.
"Ya...," sahut beberapa dari mereka hampir bersamaan.
Dandi menatap wajah tentang sang bos di atas brankar.
"Ya Allah... bos, kenapa bisa kaya gini?" tanyanya yang tentu saja tidak mendapat jawaban dari orang yang ditanya.
Wajah tampan Garda tampak ternoda dengan lebam, dan perban yang menempel di kening sebelah kanannya.
__ADS_1
"Bos, bos... wis dikasih tau, angel," sesalnya.