Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#30


__ADS_3

Happy reading


*************************************


Mirza ingin tetap bertahan menunggu Qameella hingga tiba di rumah. Tidak peduli harus berapa lama harus bersabar, dia ingin sekali bertemu dan bertanya kabar pada Qameella, apa yang telah terjadi? Mengapa tidak menjawab panggilan teleponnya, hingga membuatnya menjadi khawatir?


Lelah menunggu di depan pintu rumah kontrakan Qameella, Mirza menyengaja menunggu di dalam mobilnya. Menyandarkan bahunya di sandaran kursi kemudi sambil menghembuskan nafas lelah. Hahhh...


Mendadak dering ponselnya memanggil. Setelah melihat nama si penelpon, Mirza menyentuh ikon tombol terima. Tampak pria itu memijat pangkal hidungnya sendiri. Ekspresi wajahnya pun berubah.


Setelah mengucapkan beberapa kata Mirza langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Dia meremas ponselnya kuat dengan tangan kirinya.


"Huh, ****!" decaknya kesal seraya memukul gagang stir mobilnya.


Mirza sangat menyesali keadaan yang sedang dihadapinya. Keadaan yang mengharuskannya untuk memilih bertahan atau pergi. Namun kali ini dia benar-benar harus mengesampingkan urusan hatinya. Karena memang ada hal lain yang lebih penting.


Tanpa pikir panjang Mirza menyalakan mesin mobilnya. Lalu mengemudikannya dengan kecepatan sedang.


*


Raisya berjingkrak kegirangan di dalam kamarnya, setelah cukup lama menanti kiriman foto-foto indah kebersamaan gadis yang dianggapnya Mitha bersama pria lain. Dia benar-benar sangat puas dengan kerja keras pria yang disewanya untuk menghancurkan masa depan Mitha. Dengan begitu dia bisa merebut Dicky.


"Mampus lo, cewek sialan!"


"Hah!... Gak sia-sia gue keluar modal banyak. Akhirnya elo hancur dasar cewek ******, anjing..." umpatnya pada layar ponselnya yang sedang menyala, menampilkan wajah Mitha yang tidak berdaya.


"Hahaha..." tiba-tiba Raisya tertawa puas seperti orang gila.


*


Tari tiba di depan rumahnya dengan kantong belanjaan di kanan kirinya. Ya, gadis itu baru saja pulang dari pasar membeli kebutuhan sehari-hari untuk seminggu ke depan.


Saat hampir sampai di depan pintu, Tari memindahkan kantong belanjaan di tangan kanannya ke tangan sebelah kiri. Hingga menahan dua beban sekaligus.


Kemudian wajahnya tertunduk ke bawah, menatap tas selempang yang sedang diobok-obok dengan tangan kanannya. Agak kesusahan bergerak hanya menggunakan sebelah tangan. Padahal hanya mencari kunci pintu yang terbilang tidak kecil. Dan tidak sendirian si kunci itu. Ada rombongannya, yang tergabung menjadi rencengan.


Huh, dasar kunci kalau sudah nyelip di dalam tas, sangat menyusahkan. Akhirnya, si kunci sialan itu ketemu. Membuat si empunya menarik garis lurus di bibirnya. Antara senyum dan sebal menjadi satu.


Mendadak Tari menghentikan langkahnya. Menajamkan netra hingga kedua alisnya nyaris bertaut. Memicingkan mata menatap penampakan sosok makhluk bergaun putih, berjongkok membelakangi dinding dekat pintu rumahnya. Rambutnya yang panjang hitam tergerai menjuntai ke bawah. Kepalanya tertunduk dan bersembunyi di dalam lututnya.


Tapi, ngapain sosok itu ada disini? Ini cewek orang apa kuntilanak bukan sih? Kok, jadi horor gini sih?


Sontak bulu kuduk Tari merinding. Dengkulnya tiba-tiba terasa lemas tak bertenaga. Ingin kabur tapi kakinya terasa menancap di bumi.

__ADS_1


'My God! Mimpi apa gue semalam?'


'Mampus gue, kalo dia itu setan beneran. Tapi... sekarang kan udah pagi. Masa iya sih, udah terang begini ada setan? Mungkin setannya pulang kesiangan kali abis keluyuran.'


Batin Tari terus saja mengoceh tidak karuan.


'Eh... ada kakinya gak, yah? Terus, kakinya napak gak, yah? Kalo napak berarti manusia atau orang kaya gue. Kalo kakinya melayang, gue kudu buru-buru kabur nih.'


'Tenang Tari, elo kudu tenang. Oke, tarik napas... buang!' perempuan itu berusaha menguatkan diri sendiri agar bisa tenang, dan mampu menghadapi sesuatu di luar nalarnya. Sementara tengkuk dan sekujur tubuhnya sudah terasa merinding disko. Begitu pun kedua tangan dan lututnya sudah sangat sulit dikondisikan. Gemetar hebat seperti orang yang punya penyakit Tremor.


Kini Tari sudah tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Lantaran rasa takut yang benar-benar mendominasinya. Dia memang sangat penakut dan parnoan sejak dulu.


Alhasil, kunci dan kantong belanjaan yang berada di tangannya jatuh ke tanah. Walau badan lemas bersyukur Tari tidak tumbang jatuh pingsan. Tetap pada kesadarannya.


Siapa sangka bunyi-bunyian tadi rupanya mengejutkan si sosok misterius itu. Perlahan mengangkat kepalanya. Menoleh ke sumber suara. Dengan wajah yang sebagian besar tertutup rambut, dia menatap Tari horor.


Tari langsung mundur selangkah. Spontan mengacungkan jari telunjuk ke arah makhluk horor itu.


"E, eh, eh, elo orang apa kuntilanak? Kalo kuntilanak ngapain ke rumah gue. Sono ke kuburan aja!" dengan tergagap perempuan itu berhasil bertanya.


"Tari," bukannya menjawab sosok itu malah berujar lirih.


Tari yang bernyali kecil langsung mengkerut bertambah takut. Apalagi saat sosok menyeramkan di depannya mendadak berdiri sejajar dengannya.


"Eh, eh, mau apa lo?" tanya Tari panik.


"Pergi! Pergi! Gue gak pernah ganggu elo. 'Audzubillahi minasy syaithonirrojim... bismillah ir rohmanir rohim...," susah payah dan suara bergetar, Tari berusaha mengusir makhluk itu agar segera pergi menghilang.


Alih-alih ingin mengusir sosok itu malah mendekat. Kemudian memeluknya erat. Kontan Tari menjerit histeris. Namun tenggorokannya terasa tercekat hingga tak ada suara yang keluar.


Anjir! Gue gak bisa lari!


"Tolong, jangan usir gue, Tar. Gue gak tau harus pergi kemana lagi, kalo elo gak mau nerima gue," pintanya lirih, samar-samar terdengar suara tangis yang sedari tadi disembunyikan.


Ah?!


"Lagian gue masih manusia kok, bukan kuntilanak..." belum sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba tubuh sosok misterius itu didorong oleh Tari ditengah rasa keterkejutan mendengar pengakuannya.


What?!


Buru-buru Tari menyibak rambut sosok itu, hingga terlihatlah dengan jelas wajahnya yang kusut, dan basah oleh air mata.


"Astaga! Meella?"

__ADS_1


"Tar..."


Tari memeluk kembali tubuh lusuh sang sahabat lama. Dia pun ikut menangis. Tapi tidak jelas, apakah menangis terharu atau Memang sedih.


*


Di dalam kamar hotel


Garda sudah selesai mandi. Namun belum berpakaian lengkap. Cowok tampan itu hanya mengenakan celana panjang putih. Tanpa baju tampak jelas tubuh rampingnya dengan otot perutnya mirip roti sobek.


Rambutnya yang belum selesai dikeringkan dengan handuk. Sesekali terlihat menetes dari ujung-ujung rambutnya yang pendek.


Sebenarnya Garda tidak pernah tertarik dengan sesuatu yang tak ada hubungan dengannya. Atau berusaha mengulik hal-hal sepele seperti orang kepo pada umumnya. Apalagi mengusik privasi orang lain.


Sejak keluar dari kamar mandi beberapa menit yang lalu. Rungunya terganggu dengan dering ponsel yang suaranya terdengar aneh. Bunyi yang tidak umum namun tidak bisa digambarkan dengan jelas. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Sungguh sangat menggangu ketenangannya.


Eh, tunggu! Suara nada dering itu bukan berasal dari suara ponsel Garda. Tapi... jika bukan dari bunyi ponsel miliknya, lalu punya siapa?


Garda mencari ke seluruh penjuru kamar hotelnya. Kemudian dia menemukan sebuah tas wanita berwarna putih tergeletak begitu saja di bawah tempat tidur.


Mungkinkah milik wanita ****** itu? Batin Garda bertanya.


Pria itu membungkukkan badan hendak meraih tas yang teronggok di lantai. Ternyata bukan hanya benda itu yang tertinggal di sana.


Tidak jauh dari situ Garda juga melihat sepasang high heels berwarna putih pula. Di situ Garda mengerutkan kening. Membayangkan bila wanita itu berjalan meninggalkan hotel ini dengan bertelanjang kaki.


Garda berjongkok memperhatikan semua benda itu dengan teliti. Mengangkat sepasang high heels itu ke udara. Mendadak dia tersenyum meremehkan.


"Punya selera tinggi juga rupanya," entah pujian atau malah hinaan yang baru saja dilontarkannya. Lalu meletakkan kembali di lantai dengan lembut.


Setelahnya dia mengambil tas yang tampak bergetar, dan suara deringan yang entah sudah berapa kali berbunyi dari dalam. Namun saat sudah diambil oleh Garda, nada dering itu sudah berakhir.


Garda bangkit berdiri, kemudian duduk di atas kasur yang sudah dibersihkan, karena seprai sudah diganti dengan yang baru. Rasanya Garda enggan menyentuh privasi orang lain. Tetapi wanita itu telah lancang naik ke atas ranjangnya. Dan membuat hal yang seharusnya tidak terjadi, malah terwujud nyata.


Maka, mau tidak mau Garda harus bertindak mencari barang bukti. Siapa tahu saja wanita itu adalah orang bayaran yang ditugaskan sebagai alat untuk menjatuhkannya.


Bukan bermaksud lancang, Garda terpaksa membuka tas tanpa izin. Tidak banyak barang yang ditemukan di dalamnya. Hanya ponsel dan dompet. Dia pun dengan mudah memeriksa setiap sudut dompet dan membuka ponsel. Hanya saja ponsel itu kehabisan daya saat akan membuka kode penguncian layar.


****!


Garda meletakkan dengan kasar ponsel itu di atas kasur. Dia geram tidak berhasil menemukan bukti yang diinginkan.


****

__ADS_1


Readers... sampai disini dulu ya episode kali ini. Author mau istirahat dulu ya. Sekalian mau cari inspirasi buat episode berikutnya.


Selamat istirahat, selamat liburan panjang, happy nice day 😘🥰❤️


__ADS_2