Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Indehoy


__ADS_3

Hai reader... author datang lagi bawa episode baru. Mohon dimaafkan karena kondisi author yang lagi darah rendah, jadi auto keliyengan mulu deh. Biasa akibat banyak begadang urusin kerjaan di dunia nyata dan maya yang masih lom kelar. Masih banyak pr kaya anak sekolahan hehehehe... semoga kondisi author cepat fit jadi bisa crazy up sesuai permintaan beberapa readers ya.


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, hadiah and komen berharga kalian ya... love u...


Happy reading...


********************************


Kesalahpahaman antara Qarmitha and the gengs dengan sepasang cowok kembar, Garda dan Rega, sudah berakhir. Walau pun Rega meminta pertanggung jawaban Qarmitha and the gengs untuk menjelaskan kesalahpahaman antara dia dan sang pacar. Tentu saja hal itu tidak bisa ditolak oleh keempat cewek itu.


Mengabaikan masalah yang sudah selesai, maupun masih menggantung di antara mereka. Ada satu yang meninggalkan rasa penasaran yang menggelitik Amelia, Sarah dan Yasmin saat Garda secara terang-terangan menyebut Qameella dengan panggilan 'Bini'. Mereka paham betul apa arti dari kata sederhana itu.


"Apaan yang elo bilang barusan, Gar?" telisik Amelia kepo. "Bini?" lanjutnya mengulangi.


Tubuh Qameella mendadak menegang, gugup dan salah tingkah. Berbanding terbalik dengan Garda yang tampak santai dan acuh tak acuh. Menyadari kaitan tangannya masih berlanjut buru-buru menepisnya. Tak ayal Garda malah menambah kekuatan agar tidak terlepas. Alhasil gadis itu hanya bisa berdecak kesal.


"Elo nyadar kan apa artinya? Lagian, bukannya kalian berdua masih pacaran kan, belum nikahan maksud gue?" Amelia benar-benar dibuat penasaran.


"Aduh, elo kenapa sih, Mel... kepo banget jadi orang?" suara bernada keluhan itu berasal dari Qarmitha. Dia sengaja mengalihkan agar bocah bawel binti cerewet itu tidak banyak tanya. Karena dia tidak mau mulut ember cewek gambreng itu menebar berita-berita yang bisa bikin heboh seantero jagad.


"Biarin amat, dia mau panggil apa juga gak ada urusan sama elo."


"Bukan gitu juga kali, Say..." kilah Amelia cepat. "gue cuma kaget aja karena gak biasa. Jadi aneh gitu."


"Suka-suka gue lah mau panggil cewek gue apa juga bebas kali, Mel," sahut Garda setuju dengan pendapat saudari iparnya, Qarmitha, memasang gaya cueknya.


Dasar cewek-cewek kepo! Bukan hanya Amelia yang penasaran dengan panggilan khusus yang ditujukan Garda pada Qameella. Sarah dan Yasmin tidak mau ketinggalan untuk mengoreknya. Sayangnya tidak ada sepatah kata pun yang meluncur dari bibir Qameella untuk memberi penjelasan. Karena gadis itu masih belum siap mengekspos hubungan abnormalnya dengan cowok ajaib model seperti Garda.


Setali tiga uang dengan Qameella. Garda pun enggan mengungkapkan secara terperinci untuk menjaga perasaan sang istri. Begitu pula dengan Qarmitha yang susah payah menutupi dengan mengalihkan pembicaraan.


Berbeda dengan Rega yang memilih angkat kaki tanpa permisi untuk menghindari keributan yang tidak bermutu itu. Cowok cool itu memang tidak suka dengan suasana yang hanya membuat kepalanya pening saja.


"Udah ah, pada rese lo semua. Gue cuma panggil cewek gue 'Bini' aja pada heboh banget. Apalagi kalo gue panggil pake sebutan lain? Pada jantungan kali lo ya?" keluh Garda menyudahi keributan. Beranjak berdiri seraya menarik tangan Qameella. "ayo, Bi. Mending kita cabut aja dari sini. Mending kita pergi indehoy berduaan aja."


"Ih, ngomong apaan sih, indehoy, indehoy segala? Jikjay deh dengernya," Qameella tampak bersemu dan malu-malu.


Garda berdecak kesal dengan ketidak pekaan gadisnya.


"Udah... sana jalan, La... emangnya elo gak mau nikmatin sisa liburan sekolah?" cetus Qarmitha yang sebenarnya malas bersuara.


"Tapi... gue harus balik lagi, Tha," Qameella meragu mengingat masih mengenakan seragam pelayan.


"Slow, ada gue. Biar gue aja yang balik ke sana gantiin elo," ujarnya berinisiatif. Namun saudari kembarnya masih tampak tidak rela meninggalkan tugasnya. "udah, gak usah dibikin ribet. Nikmatin aja hari libur lo. Elo kan belum liburan sama sekali. Anggap aja gue lagi bayar kesalahan gue yang tadi dengan gantiin elo di resto bokap."


Qameella terharu mendengar ucapan manis sang saudari kembarnya.


"Elo seriusan, Tha?" tanyanya memastikan.


"Iya... udah sana... sebelum gue berubah pikiran," sahutnya dengan nada menggertak. "kasihan tuh, cowok lo yang ngarep banget bisa jalan sama elo," melirik Garda sekilas. "elo harus kasih quality time ke dia."


Garda tersenyum girang mendapat bala bantuan dari adik iparnya.


"Tuh, Bi. Kamu dengar kan katanya Mitha?"


Qameella tersenyum menatap manik mata saudari kembarnya mencari kejujuran di sana. Dan dia menemukan ketulusan tanpa adanya kebohongan.


"Entar kalo kebosenan bisa belok ke cewek lain," sindir Qarmitha.


"Ah, elo bisa ae," cowok itu tersenyum kaku seraya mengusap tengkuknya.


"Makasih ya, Tha."


"Ah, lebay lo. Sama gue aja pake bilang makasih segala. Biasanya juga elo cuek bebek," celotehnya mengakhiri pembicaraan mereka. Kemudian memboyong ketiga sahabatnya beranjak pergi.


Tidak mau membuang kesempatan emas Garda langsung mengajak Qameella berpetualang. Dia tidak memberi kesempatan gadis itu menolak keinginannya. Lantaran jemari mereka masih saling mengait hingga dengan mudah membawa ke mana pun sesuai keinginannya.


*


Qarmitha memilih datang ke rumah makan tempat usaha kedua orang tuanya mengais rezeki setiap hari. Perbuatan yang sangat jarang sekali dilakukannya untuk menapakkan kaki di ruko itu. Dia lebih senang menghabiskan waktu senggangnya dengan bersenang-senang bersama Amelia, Sarah dan Yasmin. Tidak seperti Qameella walau tanpa diminta sekali pun.


Tangan kanannya mendorong pintu kaca seraya menghela napas berat. Raut wajah gadis itu tampak lesu dan tidak bergairah. Kentara sekali raut tidak senangnya menjejakkan kaki di sana. Ya, Qarmitha memang kurang menyukai berada di tempat yang seharusnya dibanggakan. Kalau bukan menggantikan pekerjaan Qameella bantu-bantu di sini, sudah dapat dipastikan kakinya tidak akan dijejakkan.


"Lho, tumben kamu mau ke mari. Biasanya malas. Mana Lala?" entah pertanyaan atau sindiran yang diucapkan Maryam sambil celingukan mencari putri kembarnya yang satu lagi, cukup menohok perasaannya. Lantaran sering menolak jika diminta bantu-bantu di rumah makan ini.

__ADS_1


Qarmitha memutar bola mata malas. Jika bukan untuk membayar rasa bersalahnya yang telah salah sasaran menuduh Garda selingkuh. Sebenarnya dia malas datang ke sini. Terlalu capek. Bukan capek karena terlalu banyak pekerjaan. Melainkan capek menghadapi pelanggan yang bawel dan banyak maunya. Mending main basket. Walau pun capek lari ke sana ke mari sambil mendrible bola. Otak rasanya fresh tidak beban yang memancing timbulnya emosi.


"Tha?" Maryam berharap jawaban dari orang yang ditanyanya. Namun hanya mendapat dengusan panjang sebagai respon darinya seraya berlalu menuju dapur.


"Mitha?" sekali lagi Maryam meminta jawaban.


"Bagi shift, ma," sahutnya pada akhirnya tanpa menghentikan langkahnya.


Maryam hanya menggeleng-gelengkan sikap putrinya yang satu ini. Meskipun wajah dan bentuk fisik bagai pinang dibelah dua. Tetapi karakter dan kepribadian mereka bagaikan dua sisi mata uang yang berbeda. Lalu menghembuskan napas pelan. Memutuskan melanjutkan aktifitasnya menulis pembukuan untuk hari ini.


*


"Bi, laper nih, makan yuk!" ajak Garda manja setelah jauh meninggalkan restoran tadi. "kasihan perutnya, dari bangun tidur tadi pagi belum dikasih apa-apa," keluhnya seraya mengusap perutnya yang rata."cuma angin doang yang pada berebut masuk."


"Ya udah. cepetan makan. Entar kalo perutnya sakit. Apalagi sampai kena maag, bisa berabe tahu," Qameella memperingati.


"Iya sih. Tapi, kayanya saya gak akan kena maag deh, Bi..."


"Eh, sotoy... jangan takabur!"


"Nggak. Siapa yang takabur?"


"Nah, tadi el... eh, kamu bilang barusan..."


"Saya belum kelar ngomongnya Bini-ku sayang..." Garda mencubit gemas ujung hidung sang istri. Tidak peduli dengan tatapan risih para pengunjung lain, terlebih jemari mereka yang masih belum lepas seperti ada lemnya. Anggap saja mereka nyamuk-nyamuk nakal dan lalat pengganggu. "... udah dipotong aja."


Sepiring nasi goreng sea food dengan porsi besar, segelas liang tea, segelas orange jus serta segelas air putih atas permintaan Qameella, telah tersaji di atas meja yang mereka tempati. Sebuah rumah makan Indonesia menjadi pilihan mereka.


Garda sengaja memilih tempat duduk yang berada dekat tembok. Lalu menempatkan Qameella di kursi pojok tentunya. Dia khawatir gadisnya akan kabur jika duduk di meja yang lain. Kadang-kadang cowok itu rada lebay. Tapi itulah dia yang selalu mendambakan seseorang yang selalu bisa ada bersamanya. Tidak peduli jika sikapnya terkesan posesif. Hanya ini cara yang bisa untuk mempertahankan.


"Gar, bisa gak lepasin dulu pegangan tangannya?" pintanya halus. Telapak tangannya sudah gerah terus-terusan berada dalam genggaman suaminya.


Garda hanya menggeleng tidak setuju. Menambah volume untuk mengeratkan. Punggung tangan Qameella sengaja digesekkan lembut di dadanya. Lalu diletakkan di atas pahanya setelah selesai memberikan satu mengecup hangat.


Qameella dengus kesal seraya memutar bola matanya jengah.


"Gar, kita kan mau makan. Bukan mau nyeberang. Lebay banget sih?"


Bukannya melepaskan Garda mengangkat sendok yang telah terisi nasi bercapur potongan cumi di udara. Mengarahkan di depan mulut Qameella.


Qameella memasang wajah cemberut. Menandakan dia tidak suka.


"Bi... ayo dong. Buka mulutnya," pintanya memaksa dengan nada suara manja.


"Kamu kesambet dimana sih? Aneh banget!" gerutunya namun tidak tidak tega juga mengabaikan kesungguhan cowok itu. Pada akhirnya dia membuka mulut dan menerima suapan Garda.


Garda tersenyum senang. Triknya yang menampilkan puppy eyes berhasil meluluhkan hati sang istri.


"Eh, kok saya yang kamu suapin? Yang laper kan kamu. Gimana sih?"


"Gak papa. Ladies first. Istri yang utama," jawabnya ringan.


"Ya, gak gitu juga kali, Gar..."


Garda mengambil nasi kembali dengan sendok yang sama. Tanpa rasa jijik dia gunakan untuk dirinya sendiri.


"Eh, itu kan sendok bekas saya. Emangnya kamu gak jijjik apa?" tanya Qameella heran.


Dengan entengnya Garda menggeleng.


"Ngapain jijik cuma pake sendok bekas kamu," dengan tatapan hangat Garda menatap manik mata gadis di sampingnya yang juga sedang menatapnya masih dengan ekspresi herannya.


Qameella mengangkat sebelah alisnya ke atas.


"Lagian, kita kan udah pernah ciuman bibir," bisiknya di telinga Qameella.


Gadis itu bergidik ngeri.


"Ihs, dasar mesum!" hardiknya mendorong pelan bahu Garda dengan tangannya yang bebas.


Garda hanya terkikik geli menanggapi sikap lugu Qameella. Hingga wajah perempuannya bersemu dan menggemaskan.


Selesai makan, Garda mengajak Qameella berbelanja baju untuk dirinya. Dia risih memakai baju kemarin karena belum sempat pulang untuk ganti baju. Juga untuk Qameella. Dia jengah sedari tadi jadi pusat perhatian. Bukan bermaksud merendahkan melainkan seragam yang dipakai Qameella.

__ADS_1


Setelahnya mengajak gadisnya pergi ke salon kecantikan yang ada dalam gedung berlantai empat itu. Apakah kalian berpikir Qameella mau dengan senang hati diajak belanja dan nyalon, sambil lompat-lompat koprol gitu? Jawabannya tidak sama sekali.


Gadis itu punya rasa malu sampai minder akut. Beribu alasan diucapkan. Mulai tidak bawa uang, tidak punya uang banyak, padahal sedari tadi Garda yang merogoh dompetnya untuk membayar ini itu. Yah, emang sih semua itu atas desakan Garda bukan kemauan Qameella sendiri. Sampai hal-hal sepele yang menurut Garda tidak masuk akal.


Agar Qameella mau di make over oleh pegawai salon. Garda jadi ikutan nyalon walau hanya cuci rambut saja. Padahal dia paling anti tempat beginian. Dulu, saat bersama mantan-mantannya dia tidak pernah melakukan hal seperti saat ini. Biasanya dia hanya sebagai satpam yang menunggu di luar salon. Tetapi untuk Qameella berbeda. Demi gadis itu dia buang jauh egonya. Harga dirinya pun sebagai cowok tulen dan ketua geng ABABIL yang sangar dibanting harga.


Dan... jeng jeng jeng... 180 derajat penampilan Qameella berubah. Cantik maksimal!


Garda tertegun melihat kecantikan hakiki sang istri. Meskipun tidak tebal dan menor kecantikannya terlihat jelas mengagumkan. Ditambah kacamata minus yang selalu bertengger di atas batang hidungnya disingkarkan untuk sementara waktu.


"Kamu kok ngelihatinnya begitu sih? Jelek ya?" tegur Qameella risih. "ya udah deh saya cuci muka dulu di kamar mandi," putusnya memutar tubuhnya.


Sontak pegawai salon yang sudah bekerja susah payah terkejut.


"Jangan!" sergah Garda menyambar lengan sang istri dan menahan kepergiannya.


Serta merta Qameella menoleh ke arah Garda.


"Jangan dihapus. Maaf, tadi saya cuma terkesmak juga terhipnotis waktu ngelihat kecantikan kamu," pintanya lembut.


"Ah, gombal!"


"Serius. Duarius malah. Kalo gak percaya, tanya aja sama si Mbaknya," tunjuk Garda yang langsung diiyakan oleh wanita itu.


Qameella tersipu dengan pujian yang mampir padanya.


*


Saat ini Garda dan Qameella berada di toko aksesoris. Dia sengaja mengajaknya ke sini. Lantaran sang gadis tidak memiliki aksesoris apa pun yang melekat. Juga tidak berinisiatif membeli sendiri atau meminta pada Garda. Tidak seperti mantan-mantannya yang sering merengek minta dibelikan ini itu yang membuat kepalanya pusing. Kendati tetap dibelikan juga.


Lagi, gadis itu menolaknya. Untuk kesekian kalinya Garda memaksanya. Berujung pada jepit rambut sederhana yang menjadi satu-satunya pilihan final Qameella. Garda hanya mendengus pasrah.


"Kamu termasuk cewek irit ya, Bi. Gak boros," entah pujian atau sindiran Qameella tidak mau menanggapi. "tapi gak papa. Itu artinya saya bakalan cepat kaya kalo kamu selamanya jadi istri saya."


"Semoga selamanya," ucap Qameella di antara gumaman dan lamunan.


"Apa Bi?" tanya Garda kurang jelas mendengar ucapan Qameella.


"Gak... gak papa."


Sebelum pergi ke meja kasir, dengan isengnya Garda meraih sebuah bungkus berisi borgol mainan. Tanpa pikir panjang dia langsung mengoyak bungkusnya. Setelahnya mengeluatkan isinya. Tanpa basa basi dipasang pada pergelangan kirinya. Lalu melakukan hal yang sama pada pergelangan tangan kanan Qameella.


"Eh, Garda. Apa-apaan sih, iseng banget. Buka gak?" Qameella memekik panik.


"Sssht! Jangan ribut!" Garda mengintruksikan agar Qameella memelankan suaranya.


"Tapi?"


"Tenang aja, cuma beginian ngapain panik?"


"Tap,"


"Udah, santai aja. Yuk kita ke kasir bayar semua ini. Abis itu kita nonton ya. Saya udah lama gak nonton berduaan sam...." terpaksa Garda menggantung ujung kalimatnya yang sontak mendapat tatap membunuh dari seorang Qameella yang kalem. Ternyata ngeri juga jika dipelototin kaya gitu.


"Kenapa gak minta ditemin aja lagi sama mereka," ujarnya dingin lalu mempercepat jalannya satu langkah di depan Garda. Sepertinya gadis itu gondok juga lantaran sang suami tetiba membahas soal mantan. Walau pun tidak diungkapkan secara gamblang. Tapi dia bukan gadis polos, lugu yang bodoh tidak mengerti apa-apa. Dia cukup paham masalah itu.


"Nggak lah, Bi... kan ada kamu. Ngapain saya minta ditemenin mereka," Garda sedang berusaha merebut hati sang istri sambil menyamakan langkah. Bisa gawat kalau dia ngambek lagi. Bisa libur lagi bae ketemuannnya.


Nonton bioskop time.... Kebetulan saat ini sedang ada pemutaran film remaja yang sedang digandrungi remaja-remaja seusianya. Karena film tersebut terbilang laris, maka tiketnya pun sudah ludes dari kemarin.


Qameella mendengus lemas lalu memajukan bibirnya seperti mulut bebek, sedih tidak kebagian tiket. Padahal dia sangat ingin menonton film itu. Ritual untuk menonton film pun sudah disiapkan. Seperti popcorn dan minuman ringan. Tapi, entah beli dimana Garda bisa mendapatkan tiket nonton. Alhasil dia dan suami remajanya berhasil menonton film yang diinginkan. Gadis itu pun bersorak girang. Eits! Jangan salah paham ya. Qameella tidak akan bersorak sambil tepuk tangan lompat-lompat manja ya. Seperti umumnya remaja mengungkapkan rasa bahagianya. Dia hanya senyum nyengir kuda sambil menunjukkan deretan gigi-gigi putihnya yang rata.


"Kamu beli tiket dari calo ya?" tuduh Qameella dengan suara dipelankan, saat berjalan masuk ke dalam setelah melewati bagian pemeriksaan tiket.


"Sembarangan," sahut Garda kesal.


"Terus?" Qameella meminta penjelasan.


"Rahasia. Tapi bukan dapat dari calo tiket," pungkasnya mengakhiri obrolan kecil mereka. Karena saat mereka baru menempelkan pantat di kursi penonton, film sudah dimulai.


*


Puas nonton film, mereka meninggalkan gedung bioskop. Entah tempat mana lagi yang akan mereka tuju. Hari hampir beranjak gelap. Garda sudah kehabisan ide. Dia masih ingin bersama dengannya. Jika boleh dia meminta. Maka satu hal yang dimintanya adalah membawa pulang Qameella agar tidak hilang kebersamaan mereka.

__ADS_1


Sementara Qameella yang sudah lelah. Ingin segera pulang ke rumah. Mandi dengan air hangat. Setelah itu merebahkan diri di atas kasur. Ukh, enaknya....


__ADS_2