Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Fisrt Kiss (POV Garda)


__ADS_3

Hai… readers… I come back again…


Sorry readersku…  episode ‘First Kiss’ sengaja author buat menggunakan dua sudut pandang dari Qameella juga Garda supaya balance saja. Karena setiap kepala memiliki perbedaan rasa dan isi kepala. Semoga para readers semua bisa menikmati ceritanya dengan santai.


Ayo, siapa yang belum kasih jejak like n komen yang buat author?


Plis… donk, kasih author like n komen juga vote kalian, supaya karya author bisa punya level n lulus kontrak.


Happy reading ya…


****************************


POV Garda


Kesalahan terbesarku dan yang paling aku sesali adalah menyeret gadis lugu, polos, juga kaku seperti Qameella, masuk ke dalam lingkaran ikatan yang disebut pernikahan. Aku akui pernikahan kami belum sah secara hukum negara. Tapi aku yakin sah di depan hukum agama.


Jika saja waktu bisa kuputar ulang kembali pada malam tersialku itu. Ikatan ini mungkin tidak akan terjadi. Andai malam itu aku memilih mendorongnya jauh dari jangkauanku, dia tidak akan terjebak bersamaku. Sayangnya, malam itu aku malah menarik tangannya. Membawanya kemana pun kakiku melangkah. Tanganku seakan memiliki medan magnet yang sangat erat dengan tangannya, hingga sulit aku melepaskannya meskipun dia sudah berusaha berontak dan melepaskan diri dari genggaman tanganku.


Huft! Nasi telah berubah menjadi bubur. Tiada guna untuk disesali. Waktu pun hanya bisa bergerak maju, bukan maju mundur cantik seperti judul lagunya Syahrini dan Rina Nose. Kwkw.…


Setelah pernikahan itu terjadi, aku dan Qameella sepakat tidak meberitahu siapa pun. Namun aku tetap memberitahu si Keling tentang hubunganku. Lantaran aku memintanya mengantar ke toko perhiasan untuk membeli cincin pernikahan. Dan sampai detik ini cincin yang kubeli itu masih belum kuberikan kepada Qameella. Bukan aku tidak mau, tapi aku sedang menunggu momen yang tepat saja baru memberikannya.


Di mataku Qameella tipikal cewek yang tidak berisik, lebih banyak mendengarkan ketimbang berbicara. Dalam arti lain dia orang yang irit ngomong. Makanya aku nyaman banget saat curhat dengan dia. Aku bisa telepon berjam-jam dengannya hanya membicarakan yang tidak jelas. Baru kali ini aku temui cewek sederhana yang bisa buat hatiku tenang saat bersamanya. Yah, walau pun aku sering speechless dengan nasihat-nasihat yang begitu menohokku. Namun aku tidak marah, justru karena nasihatnya pelan-pelan aku bisa merubah diri walau masih berantakan. Setidaknya aku ada usaha untuk berubah ke arah yang lebih baik.


Ada satu sifatnya yang bisa dibilang kurang kusukai. Yaitu terlalu tertutup dan dingin. Saking tertutupnya aku sampai tidak tahu dia memiliki saudari kembar identic. Karena kemiripannya dengan saudara kembarnya


itu membuat malapetaka untuk hubungan kami yang adem ayem.


Aku salah mengenalinya yang ternyata saudari kembarnya, Qarmitha. Sialnya cewek itu tidak jujur kepadaku tentang jati dirinya yang sebenarnya. Yang paling buat nyesek adalah ketika tiba-tiba nomor kontakku


diblokir olehnya. Untuk pertama kalinya aku dibuat kelimpungan oleh seorang cewek sederhana seperti Qameella. Awalnya aku tidak tahu alasan dibalik itu. Dan pada akhirnya aku bisa tahu kalau itu adalah bentuk protes dan marahnya kepadaku.


Suatu ketika aku diberitahu tentang Qameella dari Tari, yang ternyata sahabat sekaligus teman semasa kecilnya. Dari ceritanya aku bisa menyadari kesalahanku. Aku pun bisa mengenali siapa Qameella. Juga membedakannya dengan Qarmitha. Aku putuskan untuk meminta maaf dengannya, ternyata cukup sulit kujalani. Sepertinya aku terlambat. Pasalnya dia benar-benar sudah menutup diri dariku. Hingga sulit menjelaskannya.


Sore ini aku bertekad menemuinya. Di seberang jalan depan gedung sekolahnya, tempat biasa aku menunggunya. Setelah beberapa aku menunggu, aku melihat Qameella bersama Rega, saudara kembarku. Tiba-tiba berada di mobil yang sama pergi meninggalkan sekolah mereka. Entah kemana mereka akan pergi, aku tidak tahu. Tanpa membuang waktu aku langsung tancap gas menyusul mereka.


Dengan susah payah aku mengendalikan hati dan perasaanku, agar tidak dikuasai api cemburu yang terus saja menari-nari membakar hatiku. Tanpa ba-bi-bu aku menariknya keluar dari tempatnya berada bersama Rega.


Aku terpaksa menghentikan sepeda motorku di tepi jalan raya yang lumayan ramai kendaraan berlalu lalang, setelah mendengar rengekan Qameella berkali-kali yang minta segera diturunkan. Belum lagi tiga pukulan


yang mendarat di bahuku, walau tidak sakit tapi cukup menggangguku dalam berkendara. Tidak kusangka hal itu mengingatkanku awal perjumpaan kami untuk yang pertama kali setahun yang lalu.


Aku terkejut melihat perubahan sikapnya. Qameella seperti bukan orang yang kukenal sebelumnya. Dia mendadak menjadi orang asing di mataku saat terdengar lebih cerewet dan tidak sabaran. Tidak seperti biasanya yang kalem dan selalu berbicara seperlunya. Mungkinkah hal ini ada hubungannya dengan kekeliruannya minggu lalu? Pikirku saat itu.


Qameella langsung beranjak turun dari jok boncengan sepeda motorku, setelah memastikan terparkir sempurna. Kemudian dia mengambil jalan berlawanan arus hendak kabur dariku.


“Elo mau ke mana sih? Bisa gak tunggu dulu penjelasan gue?” aku menarik lengan Qameella, menahan kepergian gadis itu.

__ADS_1


Aku terkesiap melihat sorot mata marah Qameella. Aku benar-benar speechless. Meskipun gadisku tidak mengeluarkan kata-kata pedas, aku bisa merasakan aura kemarahannya. Dan tentu ini diluar dugaanku.


Banyak orang pengguna jalan yang menatap kami dengan berbagai macam persepsi. Mulai dari yang kepo sampai yang mencibir tingkah sepasang anak muda berseragam SMA itu. Bisa jadi mereka pun menganggap sikap Garda dan Qameella terlalu lebay, sok drama kaya di sinetron. Tapi aku memilih tidak menghiraukan semua itu.


“Bin-Bini… tolong, plis! Dengar dulu penjelasan gue dulu ya,” pintaku dengan sangat. Namun dibalas sikap dingin Qameella.


Berkali-kali Qameella mengingatkan status pernikahan kami belum sah secara hukum negara, dan meragukan secara hukum agama karena tidak ada kehadiran ayahnya Qameella sebagai wali nikah. Aku memilih tidak


mengindahkannya.


“Bisa gak sih elo lepasin tangan gue?” tanya Qameella dingin mengalihkan pembicaraan.


Dengan berat hati aku melepaskannya sambil menatap lengan lemah yang baru saja kucengkramnya kuat. Hatiku sedih saat melihat cewek yang kerap kupanggil 'Bini' mengusap tangannya sendiri, untuk menghilangkan nyeri karena efek cengkeramanku yang ternyata cukup kuat.


“Maaf, kayanya gak ada yang perlu elo jelasin. Karena semuanya emang udah jelas. Lagian elo udah salah orang deh kalo elo masih ngejar gue.” Ujar Qameella sarkas dan penuh penekanan. Hatiku mencelos dan terluka mendengar ucapannya.


Seumur-umur dalam kamus hatiku, tidak ada seorang cewek pun yang pernah menolak cintaku. Biasanya aku yang selalu menolak cinta cewek-cewek yang selalu datang mengemis cinta kepadaku. Tetapi kali ini keadaan seakan berbalik padaku. Cewek sederhana yang nyaris tidak memiliki daya tarik sukses memporak-porandakan keangkuhan hati seorang Pandega Garda Negara si penakluk cewek dan penakluk jalanan.


“Ta-tap-tapi…” aku masih berusaha mencari celah.


“Udahlah, gak usah lebay. Elo salah orang. Gue bukan cewek yang elo cari. Lebih baik elo cari aja cewek lain. Mungkin sekarang dia lagi ngungguin kedatangan lo.” Selanya lirih seakan tidak ingin memberi kesempatan kepadaku untuk menjelaskan, dengan suara sedikit bergetar menahan air mata dan kepedihan di hatinya.


“Bini gue…” ucapku lagi tetap berusaha memberi penjelasan.


“Stop!” pekik Qameella menginterupsi. “tolong jangan paggil gue dengan sebutan menjijikan itu. Di antara kita gak ada hubungan apa pun."


“Cukup!” lagi, Qameella menginterupsi dengan menunjukkan lima jarinya. Sontak aku pun terdiam.


Tiba-tiba Qameella meraba dadanya sendiri memastikan keberadaan sesuatu yang tidak kuketahui. Ternyata itu adalah kalung mas putih lengkap dengan liontin berukirkan namaku di sana. Aku bahagia rupanya dia selalu memakainya sebagai bentuk penghargaan kepadaku sebagai seorang suami.


Aku terkesiap saat Qameella mengembalikan kalung pemberianku, sebagai maskawin saat pernikahan mendadak kami. Bodohnya yang kupikir sedang menunjukkan kepadaku bahwa dia bahagaia memakainya selama ini. Aku speechless.


“Gue kembaliin kalung pemberian lo yang lo kasih sebagai maskawin di pernikahan … ah, apalah,” Qameella sengaja menggantungkan kalimatnya, karena risih dengan ucapannya sendiri.


“Ini mungkin jalan yang terbaik buat kita,” ungkap Qameella dengan berat hati. Kemudian beranjak pergi meninggalkanku begitu saja di tengah jalan ramai lalu lintas. Hatiku benar-benar hancur tidak berbentuk.


Ingin rasanya kumeraung meratapi kehancuran hatiku. Namun sebagai seorang lelaki yang tangguh, batinku menolak. Aku harus kuat! Gugur satu tumbuh seribu. Patah tumbuh, hilang berganti. Hah! Tetap saja hatiku tetap sakit.


Aku datang ke lapangan Futsal setelah dihubungi Tikeng. Dia memintaku untuk turun ke lapangan ikut bertanding. Namun aku menolaknya dengan alasan sedang capek. Untunglah bocah kerempeng itu tidak terlalu memaksa. Hingga aku bisa duduk di tribun sambil memandangi kalung yang baru saja kukeluarkan dari saku baju seragamku.


Huft! Kenapa patah hati sesakit ini sih? Bisa gak sih gue lupa dengan rasa sakit ini? Ah... gak salah lagi, mungkin sekarang gue lagi kena karma, gara-gara sering bikin banyak cewek patah hati. Batinku terus meracau tidak karuan.


Aku tidak mempedulikan suara sorak sorai yang mengusik runguku, sesekali pecah dari para penonton yang duduk di tempat yang sama denganku. Di tengah lapangan teman-teman satu kelas juga satu gengku sedang bertanding. Mereka bertanding dalam artian yang sebenarnya, karena hanya iseng-iseng dan suka-suka saja.


Seketika aku berubah menjadi cowok yang melankolis. Hatiku terlalu nelangsa meratapi nasib asmaraku. Hingga aku tidak bisa fokus pada pertandingan yang sedang berlangsung.


Belum dua jam putus dengan Qameella, ternyata begitu menyakitkan. Apalagi selama ini dia sudah menjadi penyemangat hidupku. Memang kehadiran cewek unik itu terasa berbeda. Dia memiliki warna tersendiri saat mengisi hari-hariku.

__ADS_1


Hidupku memang sudah sangat berwarna dikelilingi teman-teman satu geng yang bisa


dibilang rame. Namun dari Qameella, dia bisa melihat warna putih yang mencolok. Warna yang bisa memberikan kedamaian dalam diriku.


Walau kebersamaan kami hanya sebentar, kurasakan pengaruh Qameella sangat besar. Karena nasihat-nasihat bijaknya lah yang membuatku sadar akan pentingnya belajar. Bersikap lebih lembut kepada orang lain. Dengan tidak mengindahkan cibiran-cibiran teman-temanku yang tidak jarang menganggap aneh.


"Hei, honey... ngapain sih ngelamun aja sambil mandangin benda gak guna gitu?" tegur Fiola sambil bergayut manja duduk di


sampingku.


"Ck! Elo tuh yang gak guna," semprotku sewot, tidak terima mendengar penghinaan dari salah satu teman cewekku yang memiliki sejuta pesona itu. Tapi aku tidak pernah merasa pesonanya membawa efek yang berarti, seperti Qameella.


"Ish... galak banget sih?" rajuk Fiola sambil menjauhkan tubuhnya sambil memicingkan mata ngeri, tapi setelah itu bergayut lagi padaku.


Dimas datang sambil menenteng seorang cewek cantik, yang diketahui baru sebulan mereka jadian.


“Hei, Bro!” serunya mengulurkan tangan di depanku. Aku langsung menyambutnya melakukan salam khas ala kita.


Aku menatap dingin cewek itu sekilas. Aku sebenarnya jengkel dengan ulah Dimas yang sok playboy kelas teri. Namun aku tidak suka ikut campur dalam urusan orang lain. Cewek itu tampak merinding takut, lalu mengeratkan pelukannya pada lengan Dimas.


“Baru lagi nih?” sindirku seolah Dimas hobi bergonta-ganti cewek.


Cowok berambut pendek dan berjambul rendah merasa tercubit dengan ucapanku.


“Ah, elo bisa aja, Bro. Kaya gue punya cewek dimana-mana,” sanggah Dimas tersenyum canggung saat cewek yang berada di samping menapilkan ekspresi merajuk.


Fiola bergeliat pelan menegakkan tubuhnya.


“Gimana yang lama? Elo masih baik-baik aja sama dia kan?” tanyaku mengabaikan perasaan cewek di samping Dimas. Aku sengaja berkata seperti itu untuk mengingatkannya tentang Tari, yang mungkin sudah dilupakan oleh salah satu teman sekaligus anak buahku itu. Malangnya, gadis itu malah mati-matian mencari keberadaannya.


Dimas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil melirik cewek bernama Syashi di sampingnya. Kasihan cewek itu dibuat bete oleh ucapanku. Dimas sampai tidak enak hati.


Tidak lama berselang, aku melihat sosok yang sudah sangat aku kenali. Ya, dia gadisku, istriku, Bini...


Sepertinya dia sangat gugup dan gusar. Dia berusaha menghindariku, dan segera pergi meninggalkan tempat ini.


Dengan cepat aku beranjak berdiri. Tatapanku nanar melihat punggung Qameella. Aku tidak ingin dia pergi meninggalkan diriku lagi. Aku harus mendapatkan hatinya hari ini.


“Mau kemana, Gar?” tegur Fiola bingung. Aku tidak meresponnya. Terus bergerak maju ke depan.


Aku buru-buru melangkah


Kucekal lengan kirinya, memaksanya menoleh ke belakang. Sepasang matanya dibalik kacamata minusnya terbeliak kaget. Semua orang yang ada di sana pun tidak kalah kaget.


Tanpa basa basi aku menarik lengan Qameella, hingga wajahnya membentur dada bidangku.


Qameella berusaha melepaskan diri dari genggamanku. Kemudian aku memeluk tubuhnya erat. Sudah lama aku menanti momen seperti ini. Aku sangat merindukannya.

__ADS_1


Qameella bergeliat ingin melepaskan diri dariku. Tanpa basa-basi lagi aku mencium bibir ranumnya yang terasa manis.


__ADS_2