Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Maaf...


__ADS_3

🙋 Hai readers... jangan bosan baca karya author ya. Author sangat sangat mengharapkan dukungan para readers dengan membaca, memvote, mengelike setiap episodenya. Selain itu kasih komentar agar author bisa memperbaiki apa yang salah. Atau mempertahankan apa yang sudah baik.


Luv you all 💕💕💕😘


Happy reading 😁😁😁


**********************************************


Garda menatap wajah Qarmitha dari kejauhan dengan ekspresi yang berubah-ubah. Otaknya terus berputar dan berpikir, mencari apa yang menjadi pembeda antara Qameella dan Qarmitha.


Entah apa yang ada di pikiran Qameella, saat tahu dia yang sudah berulang kali memproklamirkan diri sebagai suami. Yang seharusnya menjadi orang yang selalu ada untuknya. Tapi kenyataannya malah tersesat pada cewek lain. Parahnya lagi cewek itu adalah saudara kembar istrinya.


Seandainya kedua saudara kembar itu tidak memiliki paras yang sama. Mungkin ceritanya tidak seperti ini.


Qarmitha melambaikan tangan kepada teman-temannya saat hendak berpisah.


"Hai, udah lama?" sapa cewek itu dengan senyum mengembang.


"Lumayan." sahut Garda singkat tersenyum kaku. Ekspresi wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya.


Melihat ekspresi wajah Garda seperti itu, Qarmitha mengerutkan kening keheranan.


Cewek berkuncir kuda itu mencoba menebak apa yang sedang dipikirkan cowok berwajah oriental, mirip artis Drakor. Tetapi otaknya terlalu buntu untuk menguliknya.


"Elo ada waktu gak? Soalnya ada yang mau gue omongin." tanya Garda tanpa basa-basi. Tapi memang begitulah cowok itu. Tidak suka bertele-tele.


Qarmitha terkejut mendengar pertanyaan Garda yang terlalu terbuka. Dia ingin balik bertanya, namun langsung diurungkan lalu mengiyakan permintaan Garda.


*


Tari banyak bercerita tentang Qameella saat menjawab pertanyaan Garda di basecamp. Tidak ketinggalan Qarmitha pun turut dikisahkan. Walaupun hanya sebagian yang diceritakan. Tetapi cukup buat Garda untuk mengenali siapa belahan jiwanya yang sebenarnya.


"Udah, udah! Kenapa kita jadi bahas tentang si Meella dan Mitha sih?" sergah Tari baru menyadari arah pembicaraannya sudah menyimpang.


"Dan begonya gue, kenapa juga mau jawab pertanyaan elo. Tujuan awal gue ke sini kan mau curhatin si Dimas." gerutunya keheranan.


"Elo lagian aneh banget, pake tanya-tanya mereka segala. Elo naksir sama si Meella ya? Atau si Mitha? Atau malah kedua-keduanya?" selidiknya dengan mata menelisik.


"Ayo ngaku!" desakannya membuat Garda tidak bisa berkutik.


*


Sepiring nasi goreng panas dan segelas es teh manis, baru saja mendarat di atas meja depan Qarmitha. Yang lima menit lalu dipesannya di tukang nasi goreng pinggir jalan tidak jauh dari klub basket.


Sementara Garda hanya memesan es teh manis, untuk mendinginkan juga menetralkan kepahitan di dalam hatinya.


"Tumben banget lo datang ke klub gue di jam segini? Emangnya elo lagi free ya?" tegur Qarmitha memulai pembicaraan. Setelah hampir sepuluh menit terjebak dalam kebisuan.


Garda mengakui jika kedatangannya kali ini terkesan mendadak dan aneh. Biasanya dia hanya mengantar ke klub setelah pulang sekolah. Tentu saja setelah melakukan ritual jajan di kafe. Atau hanya sekedar jalan ke mall. Karena setiap jam-jam seperti ini, dia bergabung dengan anggota geng ABABIL lainnya, meladeni rivalnya dari geng lain melakukan balapan liar di jalan raya.


Senyum kecil terbit di sudut bibir Garda. Matanya tertunduk pada gelas yang sedari tadi hanya diaduk-aduk menggunakan sendok sedotan.


"Elo masih ingat gak awal kita ketemu di mana?" tanya cowok itu sambil menghunuskan tatapan matanya, bagai pedang yang mampu menembus jantung Qarmitha.


Mendapat tatapan yang terasa mengintimidasi, Qarmitha nyaris tersedak nasi yang belum sempurna dikunyahnya.

__ADS_1


"Kenapa elo jadi bahas soal itu?" protes Qarmitha.


Wah, bisa berabe nih kalo sampai ketahuan. Mau ditaro dimana muka gue ? bisik hatinya.


"Gue cuma mau nostalgia aja, bahas awal kita ketemu kayanya seru juga." ujar Garda mengenang setiap detil peristiwa yang pernah dilaluinya dalam memori ingatannya.


Gue jadi penasaran, apa benar cewek ini bukan Bini gue? Pikir Garda.


Tiba-tiba Qarmitha tersedak dan terbatuk-batuk, hingga nasi yang mengisi mulutnya menyembur keluar.


Dengan cekatan Garda memberikan air minum, dan menitahkan agar segera meminumnya.


Qarmitha tersentuh atas kebaikan cowok yang duduk bersisian dengannya. Apalagi saat Garda mengelus punggungnya penuh perhatian. Membuatnya nyaman dan benar-benar mengharapkan bisa memilikinya.


Tetapi otaknya masih waras. Dia tidak mau menggunakan kesalahan pahaman ini, untuk merebut cowok yang seharusnya milik saudari kembarnya. Sudah cukup rasanya dia mendapat perlakukan dingin Qameella. Mungkin karena sakit hatinya melihat pacarnya jalan bareng dengannya.


*


Empat tahun lalu.


"Makasih ya, Mith." imbuh Ferdi.


"Makasih?" Qarmitha mengulangi tidak mengerti. "buat apa?"


"Untuk semua perhatian kamu ke aku. Karena selama di rumah sakit, kamu sering datang menjenguk dan menghibur aku." jawab Ferdi jujur.


"Masa sih?" Qarmitha mengerutkan keningnya. Berpikir keras, kapan dia pernah menjenguk Ferdi di rumah sakit?


Beberapa hari kemudian. Tersiar kabar Qarmitha dan Ferdi pacaran. Satu sekolah heboh dengan kabar tersebut. Dan ikut senang dengan kedekatan mereka.


Tetapi tidak dengan Qameella. Diam-diam cewek itu menangis. Cinta pertamanya direbut oleh saudari kembarnya sendiri.


*


Ya ampun... gue kok tega banget sama kakak kandung gue sendiri? Gue gak boleh terus begini. Membiarkan kesalahpahaman ini terus berlarut larut, dan berlanjut hingga rusaknya hubungan Lala dengan Garda.


Buru-buru Qarmitha menepis tangan Garda yang masih menempel di punggungnya.


"Sori, gue gak papa kok." ujarnya canggung.


Garda tersenyum tulus.


"Gar, gue..." Qarmitha tampak ragu melanjutkan ucapannya.


"Hmm. Ada apa?"


Kayanya emang bener dia bukan Bini gue. Tapi... coba gue tes dulu deh!


Qarmitha mendadak terdiam, bingung mau memulai dari mana.


"Oya, La. Sejak kapan ya, elo ganti parfum? Seingat gue... dulu wanginya gak gini, ya?" telisik Garda dengan tatapan mengintimidasi.


Kontan Qarmitha menelan salivanya, mendadak tenggorokannya mengering.


"Selain itu, udah satu Minggu terakhir elo juga susah banget gue hubungin. Padahal kita hampir setiap hari ketemu. Ada apa sih sama elo?"

__ADS_1


Qarmitha meletakkan sendok makan dan garpu di atas piring. Kedua tangannya dilipat rapi di atas meja.


"Gar, maaf..."


Garda tersenyum miring.


"Maaf? Kenapa elo jadi minta maaf? Idul Fitri masih lama." sanggah Garda berseloroh.


Qarmitha tersenyum kaku. Sadar akan kesalahannya, dia harus minta maaf sebelum terlambat.


"Ya. Gue tahu."


Garda meneguk langsung es teh manisnya dengan mengabaikan sedotan yang ada di dalam gelas. Sambil melirik dari ekor matanya, seakan dia sedang menunggu reaksi cewek di sebelahnya. Hingga tersisa setengahnya.


"Garda, gue minta elo jangan marah kalo gue jujur sama elo."


"Ngomong aja kali, ngapain gue marah sama elo." sahut cowok itu santai. Tapi di dalam hatinya sangat gusar.


"Elo harus tahu, kalo gue terlahir kembar. Kami berdua punya wajah dan bentuk fisik mirip. Sampai banyak orang yang keliru mengenali kami berdua." Qarmitha terdiam sejenak. Mengamati perubahan sikap Garda setelah mendengar ceritanya.


Di luar dugaan, Garda tampak santai dan tidak ada ekspresi keterkejutan di wajahnya.


"Maaf. Mungkin cuma satu kata ini yang bisa gue ucapin ke elo. Karena gue sadar akan kebodohan gue sendiri." ungkap Qarmitha lirih. Walaupun terasa berat dia harus mengungkapkan yang sebenarnya kepada Garda, calon kakak iparnya.


Sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya, dia sudah menemukan kenyamanan pada diri Garda. Tetapi dia tidak bisa mengabaikan terus menerus perasaan Qameella juga Garda. Berdosa sekali bila dia tetap melanjutkan kebohongan ini. Mereka berdua layak bahagia. Terutama Qameella.


"Terserah elo mau bilang gue penipu atau jahat. Gue gak peduli."


Sontak Garda memiringkan tubuhnya. Wajah menegang juga sangat serius dengan dahi mengerut, serta sepasang alis tebalnya saling bertautan. Ada kemarahan yang terpancar dari tatapan matanya. Namun dia tidak boleh meluapkannya.


"Apa maksud lo nipu gue?" tanyanya berang.


"Sebenarnya... gue bukan Meella. Gue Mitha, saudari kembarnya Meella." jawab Qarmitha sungguh-sungguh.


Rahang Garda mengeras, menahan emosi yang nyaris meledak saat itu juga.


"Kenapa elo gak ngomong dari awal?" tanyanya geram.


Hati Qarmitha seketika menciut.


"Karena... gue mau ngetes elo dulu. Seberapa besar rasa cinta yang elo miliki buat Meella. Gue gak mau dia sedih..."


"Oh ya?" sela Garda sinis.


"Jadi, elo pikir... dengan menipu gue mentah-mentah, berpura-pura sebagai dia. Terus elo pikir dia bakalan bahagia, gitu?" gugat Garda.


Wajah Qarmitha pias. Gadis itu tampak takut menghadapi kemarahan Garda yang sewaktu-waktu bisa meledak kapan saja, seperti bon waktu. Tetapi tidak ada pilihan lain. Dia harus menghadapinya dan menerima segala konsekwensinya.


"Ternyata pikiran lo picik banget, ya?" sindir Garda.


"Tapi gue..."


Garda tersenyum sarkas. Beranjak berdiri. Wajahnya terlihat merah padam seraya mengeraskan rahangnya. Lagi, dia tidak bisa meluapkan emosinya pada gadis yang telah melukai hatinya. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.


"Elo gak perlu bela diri lagi deh di depan gue. Bagi gue elo itu gak penting. Mending sekarang elo pikirin gimana caranya minta maaf ke Meella. Atas dosa dan salah lo yang udah nyakitin perasaannya." Garda langsung beranjak pergi setelah menyelesaikan ucapannya tanpa permisi.

__ADS_1


Qarmitha beranjak berdiri hendak menahan kepergian Garda. Namun urung dilakukannya. Nyalinya tidak cukup besar untuk menghalangi langkahnya.


Benar kata Garda, gue emang picik. Gue harus minta maaf ke Meella. Batinnya lirih.


__ADS_2