Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#97


__ADS_3

Happy reading


Keributan di dalam ruang penyekapan benar-benar tidak terelakkan. Hingga mengundang atensi orang-orang yang berjaga di luar. Termasuk seorang perempuan cantik yang merupakan otak dari semua peristiwa itu terjadi sampai kini.


BRRAAAKK!!!


Suara pintu yang dibuka paksa dari luar terdengar sangat kencang. Seakan ingin menghancurkannya menjadi puing-puing.


Reaksi keterkejutan sangat kentara sekali dari wajah-wajah mereka. Apalagi setelah melihat salah satu kawan mereka terkapar tak berdaya di atas lantai dengan darah bersimbah di bagian wajah.


Sementara kawan mereka yang masih sadar, tengah pada posisi siap siaga dengan kedua tangan terkepal hendak melakukan penyerangan.


Dan yang paling membagongkan, membuat mata mereka membeliak tidak kalah kaget, adalah saat melihat perempuan yang merupakan seorang sandra. Seharusnya tampak lemah tak berdaya dalam ikatan tali yang membelit tubuhnya.


Tapi anehnya malah kini tampak berdiri kokoh dengan kuda-kuda siap menyerang. Kendati wajahnya tidak semulus saat awal datang. Karena kini sudah banyak warna yang menghiasi. Baik warna ungu kebiruan akibat lebam setelah adu jotos tadi. Serta darah segar mengalir di sudut bibirnya yang pecah. Juga lebam yang disertai debu mengotori sekitar kedua tangannya, sempat digunakan sebagai alat menangkis pukulan maupun tendangan yang hampir mengenai tubuhnya.


''Ada apa ini?'' bentak seorang wanita yang tiba-tiba menyeruak masuk dengan wajah marahnya. Lalu berjalan melewati mereka dengan tatapan tajamnya, berhenti tepat di depan Mitha.


Semua pria bertubuh kekar itu langsung menunduk patuh seketika. Termasuk pria yang sudah siap bertempur dengan Mitha. Setelah menyapa majikannya, dia segera menurunkan tangannya dan menumpuknya di depan tubuh seraya menundukkan wajahnya.


Tatapan mata kedua wanita itu bertemu dengan ekspresi yang berbeda. Walau pada awalnya sama-sama terkejut. Setelahnya mereka menunjukkan ekspresi yang bertolak belakang.


''Ho hoh. Jadi elo orang dibalik penculikan gue?'' tuding Mitha tanpa basa-basi.


Mitha tentu mengenali dengan baik wajah wanita cantik di depannya. Walau tidak tahu jelas siapa namanya. Dia sudah lebih dari sekali bertemu dengannya. Dan yang paling menyebalkan setiap kali pertemuan mereka, wanita itu selalu berdampingan dengan suaminya, Rega. Tapi sebenarnya bukan sih. Pasalnya pria itu adalah adik iparnya, Garda.


Semua potongan adegan pertemuan tidak sengaja mereka terlintas begitu saja di benak Mitha. Ada rasa nyeri mengiris hatinya. Tapi mengapa Rega tidak sekali pun membahas siapa wanita itu. Huh, menyebalkan!


''Ck. Aku pikir tampang culun seperti kamu, adalah orang paling lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa,'' ujarnya merendahkan tidak berniat menjawab pertanyaan Mitha.


Wanita itu adalah Bianca. Tunangan Garda. Dia sudah lama menaruh rasa tidak suka hingga berkembang menjadi benci pada Meella. Sayangnya dia tidak sadar jika telah salah sasaran, alias salah tangkap orang lantaran wajah Meella dan Mitha yang terlihat sangat mirip sekali, bagai pinang dibelah dua.


Mitha menyeringai miring, kentara sekali sangat meremehkan wanita itu.


''Kenapa? Elo kecewa karena gak sesuai ekspektasi lo,'' Mitha tersenyum puas.


''Hn.''


Mitha sudah sangat geram ingin sekali melayangkan pukulan ke wajah cantik wanita sombong itu. Namun masih ditahannya dengan mengepalkan tinju di sisi tubuhnya.


''Kenapa, kenapa elo nyulik gue? Apa salah gue? Kita gak saling mengenal satu sama lain,'' tanya Mitha tidak sabaran.

__ADS_1


Bianca tentu menunjukkan wajah herannya dengan kernyitan yang begitu kentara, atas pertanyaan Mitha yang mengatakan tidak saling mengenal. Padahal dia merasa sudah saling mengenal, karena sering bertemu di kantor Garda. Meskipun tidak akrab selayaknya seorang teman.


''Aku benci sama kamu,'' sahut Bianca blak-blakan.


''What?!" Mitha sedikit memekik lalu menyeringai sinis.


"Aku sudah lama ingin menyingkirkan kamu. Karena aku benci sama kamu dari ujung rambut sampai ujung kaki," Bianca tampak lepas kendali mengucapkan semua kalimat yang meluncur dari bibir merahnya. Terutama di kalimat terakhirnya sampai tidak sadar suaranya memekik.


"Wohowww...." entah rasa takjub atau cercaan Mitha bertepuk tangan sendiri.


"Aku benci sama kamu. Benci, benci, benci," Bianca terus mengulangnya.


"Ck, ck, ck," Mitha menggelengkan kepalanya prihatin.


*


Di sela aktifitasnya membantu koki di dapur menyiapkan pesanan, atau membawa makanan ke meja tamu sesuai pesanan, tiba-tiba saja ponsel Tari berdering menginterupsi atensinya. Sejenak ia mengistirahatkan tubuhnya di kursi yang ada di dapur. Meletakkan baki yang tadi digunakan untuk membawa makanan di atas meja dapur.


Alis Tari terlihat bergelombang dengan dahi yang berkerut. Dalam hati ia sedikit bertanya setelah melihat nama si penelepon tertera di layar ponselnya. Lalu melirik Meella yang sudah mulai sibuk membantu mengurus menu pesanan di dapur. Sempat bertanya dalam hati, kenapa Mama nya Meella menelepon dirinya. Apakah wanita itu ingin bertanya kabar sang putri?


"Halo, Bude," serunya setelah menempelkan benda pipih di tangannya di telinga.


''Tari?'' suara di seberang sana terdengar bergetar.


''Lala, Tari. Maksud Bude, Meella,'' sahut Maryam sedikit terbata.


''Meella?'' cicit Tari mengulangi.


''Iya.''


Tari menoleh mencari keberadaan Meella. Dia sempat kecarian wanita muda itu, lantaran sudah tidak ada di tempatnya.


''Emangnya... Meella kenapa, Bude?'' selidiknya setelah menemukan sosok yang sedang dibicarakan. Ternyata orangnya malah sibuk membantu pelayanan mengantarkan makanan ke meja tamu.


''Meella diculik, Tari...'' jawab Maryam pada akhirnya diiringi suara tangis samar di ujung sana.


Tari tercengang berada di antara apa yang dilihatnya, dan apa yang baru saja didengar barusan.


''Ah, Bude... jangan bercanda ah. Gak lucu tahu, masa anak sendiri dibilang diculik cuma gara-gara gak pulang-pulang,'' Tari berusaha berkelakar dengan kekehan renyahnya. Tapi rasanya tidak tepat karena suara di seberang kian terdengar sedih juga pilu.


''Kamu pikir Bude orang sedeng apa, Tari??? Buat apa Bude bercanda aneh-aneh kaya orang gak punya otak. Bude serius ini, Tari...'' tukas Maryam menyangkal tuduhan sahabat sekaligus mantan tetangganya.

__ADS_1


Tari terjengit kaget saat sebuah tepukan pelan mendarat di punggungnya. Sontak menoleh ke arah samping. Tampak pria tampan berdiri dengan senyum manisnya.


''Ada apa, kok tegang gitu mukanya?'' tanya pria yang bakalan menjadi pendamping hidupnya, Furqon.


''Meella, Mas,'' sahut Tari ambigu. Masih dengan ponsel menempel di telinganya.


''Hah, Meella?'' Furqon bingung tampak dari kerutan di keningnya.


''Iya, Mas.''


''Sakit?''


Tari menggelengkan kepalanya cepat.


''Bukan. Katanya diculik,'' sahutnya.


''Hah? Tapi....,'' jari telunjuk Furqon langsung mengacung ke arah Meella yang masih sibuk ke sana kemari mengantarkan makanan ke meja-meja tamu dengan senyum cerianya.


Tari mengendikkan bahu.


*


Di sebuah tempat yang jauh dari keramaian kota, serta jalan raya yang penuh hiruk pikuk kendaraan bermesin. Melainkan masuk ke dalam perkampungan yang terbilang jarang penduduknya. Jarak antara rumah satu dengan yang lainnya jauh, terpisah oleh kebun dengan berbagai macam pohon besar. Tanah kosong tak berpenghuni.


Akses jalan untuk mencapai titik lokasi pun bukan aspal atau pun beton seperti jalan raya pada umumnya. Melainkan tanah berdebu yang ditumbuhi rumput-rumput liar nyaris menutupi sebagian jalan kampung itu.


Akhirnya mobil yang Garda bawa sendiri tiba di tempat, sesuai petunjuk yang diterima dari para penculik. Dia memarkirnya asal di depan pekarangan rumah yang sedikit terawat.


Di depan sana, sekitar lima meter dari tempatnya berada, berdiri bangunan cukup besar namun sederhana. Gaya bangunannya tidak mencerminkan klasik atau pun modern. Apalagi cat tembok yang melekat hampir pudar berganti warna dasar putih usang.


Garda menghela napas pelan. Untuk beberapa saat dia tetap bergeming di tempat meski mesin mobil telah dimatikan. Mata elangnya awas mengintai setiap penjuru yang bisa dijangkau oleh indera penglihatannya. Tetap waspada dengan bahaya yang mungkin bisa saja datang tanpa permisi.


''Apa mungkin ini tempatnya?'' tanyanya pada diri sendiri. Mencoba meyakinkan diri bahwa dia tidak salah alamat.


Bangunan di dalam sana tampak tenang dan sunyi seakan tak berpenghuni.


Rega menghentikan laju mobilnya jauh dari tempat Garda berhenti. Untuk sementara dia menjaga jarak agar bisa memantau dari jauh. Dan bisa bertindak jika ada pergerakan janggal dari sana.


*


Hai readers... maaf ya author masih belum bisa gercep update nya. karena swing mood author yang kadang sulit dikendalikan.

__ADS_1


See you next episode ya 😘🥰🙏


__ADS_2