
Hai readers... apa kabar???
Maaf ya, untuk saat ini author belum bisa rajin update, karena kesibukan author di dunia nyata. Selain itu selama bulan Ramadhan ini author banyak aktivitas yang mau gak mau mengalahkan aktivitas di dunia Maya.
Walaupun begitu, author akan tetap usahakan update yang gak tau waktunya kapan pastinya. Yang author update aja deh.
Jangan lupa jempol manisnya buat ngelike, dan minta poin readers buat kasih vote. Juga vitamin A sampai Z berupa komentar positif, buat author selalu semangat berkarya.
Happy reading...
*********************************************
Pak Supri dan Pak Herman hampir berbarengan berjalan mendekati Garda.
Meskipun bukan namanya yang dipanggil, Garda tetap terkejut. Dan langsung sadar bahwa kini dirinya sedang berperan menjadi orang lain, yang tidak lain adalah saudara kembarnya Rega.
Garda tersenyum canggung seakan sudah tertangkap basah sedang mencuri dengan pembicaraan dua cewek itu.
"Hei, Ga. Ngapain elo ke sini malam-malam?" tanya Tari penuh selidik.
Cowok itu tampak gugup. Apalagi saat menyadari tatapan mata Qameella padanya, terlihat tajam seakan ingin menelannya bulat-bulat.
Entah mengapa batin Qameella mempertanyakan sosok cowok yang ada di depan matanya. Walau pun wajah itu terlihat seperti Rega, tetapi penampilan dan beberapa hal yang tidak bisa dijelaskannya sendiri, menyangsikan apa yang sudah dilihatnya.
Garda! Pekik batinnya, sontak membulatkan matanya. Dahinya pun mengerut.
Di tengah pertentangan batinnya, Qameella mencoba mempercayai fakta bahwa Pak Supri dan Pak Herman, bahkan Tari pun memanggilnya Rega.
Flashback Off
"Masa sih cowok tadi Rega?" gumamnya mengingat kembali. "tapi hati gue yakin kalo cowok itu Garda. Terus, mau ngapain dia datang malam-malam ke sekolah gue? Apa mungkin dia mau gak terima dan balas dendam sama gue, lantaran gue tampar di depan banyak orang?" mendadak dia jadi merinding takut sendiri.
"Hah, salah sendiri cium gue tanpa permisi. Masih untung cuma gue tampar. Gimana kalo sampai lehernya gue cekik? Ih, pikiran gue kok jadi kriminal gini sih?" Qameella meracau seorang diri. "tapi... kalo seandainya tadi benar si Rega, mau ngapain juga dia ke sekolah? Ih, jadi aneh!"
"Meel..." panggil Tari menghenyakkan Qameella dari lamunannya. Gadis itu tengah menggeliat sambil menatap sayu ke arah sahabatnya yang masih terjaga. Lalu beranjak duduk seraya mengucek mata.
"Elo belum tidur?" tegurnya dengan suara khas orang baru bangun tidur, membuat Qameella segera menutup tirai jendela kamarnya yang tadi dibukanya. Kemudian beranjak duduk di pinggir kasur menatapnya.
"Udah jam berapa ini?" Tari mengedarkarkan pandangannya mencari benda yang dapat menunjukkan waktu. "Huh, udah malam banget. Ngapain elo masih melek, bukannya tidur. Elo mau ngeronda ya?"
Qameella tersenyum tipis.
"Gue bukan hansip atau pun satpam, Tar..."
Tari tergelak parau yang disambut gelak ringan Tari.
__ADS_1
"Gue cuma gak bisa tidur aja."
"Kenapa? Ada yang lagi lo pikirin?"
"Hmm." Qameella bergumam sambil menganggukkan kepala.
"Apa? Gue?"
"Salah satunya. Gue juga lagi mikirin gimana keadaan Mitha di rumah sakit. Gue belum sempat lihat dia." suara Qameella terdengar lirih dan sendu.
"Makasih, elo udah mikirin gue, Meel. Elo emang sahabat terbaik gue," Tari memeluk Qameella hangat. "tapi, elo gak perlu mikirin gue banget. Gimana pun gue akan berusaha tegar. Asalkan apa pun kondisinya nanti, elo tetap jadi sahabat gue yang paling care. Jangan sampai ada yang berubah di antara kita." lanjutnya dengan suara parau dan bergetar, akibat air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Qameella mengangguk setuju, mengamini ucapan Tari.
"Kalo elo khawatir sama Mitha, yah... karena elo belum ngelihat kondisi dia. Ya udah, besok pulang sekolah kita mampir ke rumah sakit, jenguk Mitha bareng-bareng gimana?"
Qameella tersenyum senang. Lalu mengangguk pelan.
"Ya udah. Udah malem kita tidur yuk!" ajak Tari sambil membaringkan tubuhnya di bawah selimut. Qameella pun langsung mengikuti sarannya, dan melakukan hal yang sama.
Tari menoleh ke samping, menatap heran orang yang sudah berbaring di sisinya. Gadis itu tampak membeku dengan pandangan kosong menatap plafon di atasnya. Sepasang tangannya masih memegang ujung selimut yang menutupi sampai dadanya.
"Kenapa? Kepikiran apalagi nih sekarang?" teguran Tari mengalihkan pandangannya balas menatapnya.
"Tar, menurut lo, tadi itu beneran Rega bukan sih?" bukannya menjawab pertanyaan Tari, Qameella malah balik bertanya. Seakan dia meragukan sosok cowok yang terlihat mirip Rega.
"Yah, gak papa sih. Cuma gue..." Qameella menggantung kalimatnya, ragu untuk melanjutkannya.
"Oh, jadi elo ngarep yang datang tadi itu Garda, bukan Rega?" goda Tari.
"Bukan begitu maksud gue."
"Kalo bukan begitu, terus apa coba?" Qameella tidak menjawab. "kalo gue sih, bodo amat. Berhubung Pak Supri sama Pak Herman bilang Rega, ya gue sih ngikut aja." Tari cuek tidak mau ambil pusing.
"Kenapa sih?" tegur Tari saat lawan bicaranya masih terbengong tidak jelas, dan dia pun tidak mengerti karena tidak bisa menebak isi hati sahabatnya itu.
"Gue takut, Tar," ujar Qameella tiba-tiba. Membuat Tari membelalakkan matanya lalu memiringkan tubuhnya agar menghadap ke arah Qameella. Dahinya mengernyit heran.
"Takut? Kenapa?"
"Takut. Kalo Garda datang nemuin gue buat balas dendam."
"Balas dendam? Emang elo lakuin apa sama dia?" telisiknya penasaran.
"Yah... karena gue... udah nampar dia," sahut Qameella ragu. Wajahnya mendadak tampak bersemu merah. "lagian ngapain cium gue gak permisi gitu sama gue. Emangnya gue benda mati kaya patung gitu yang gak punya perasaan," lanjutnya bergumam namun dapat didengar jelas oleh Tari.
__ADS_1
"Ck. Jadi elo pengen si Garda nyium elo ngomong dulu, permisi dulu sama elo gitu?"
Blush. Sontak saja wajah Qameella sukses dibuat merona lantaran ucapan Tari yang cukup menohok. Apalagi setelah mendengar suara kekehan tak ayal membuat gadis kelas 2 SMA itu malu setengah mati.
"Elo ngomong apa sih Tar..." Qameella tidak bisa menyembunyikan rasa malunya dengan senyum malu jelas terukir di ujung bibirnya. Kemudian menenggelamkan wajahnya di dalam selimut.
"Hah... gue gak nyangka ya, ternyata teman gue yang pendiam dan pemalu abis, bisa kaya gini," Tari terkekeh. "gue pikir elo bakalan jomblo seumur hidup. Tapi pas denger cerita lo, juga lihat kenyataan sewaktu si Garda nyium elo secara terbuka, terang-terangan di depan gue juga teman-temannya, gue yakin kalo semuanya nyata."
"Elo pikir apa?"
"Yah, gue pikir si Garda beneran seriusan sama elo."
"Ngarang lo, mana mungkin begitu," Qameella menyangkalnya.
"Dih, dibilangin gak percaya."
"Ngapain gue percaya. Elo aja gak dekat sama dia."
"Emang sih, dulu gue gak dekat sama dia. Tapi pas gue pacaran sama si Dimas, gue jadi akrab. Secara Dimas kan anggota geng dia. Sekalian gue silaturahmi sama sodara jauh."
"Apa, sodara?"
"Iya. Ternyata gue sama si Garda masih sodaraan gitu. Tapi gak dekat."
"Jadi, elo sama Rega juga sodaraan dong."
"Ya iyalah... mereka kan kembar. Masa iya gue sodaraannya sama si Garda doang. Tapi, kalo sama si Rega gue gak akrab. Elo tau sendiri kan, kalo si Rega itu mirip es batu di dalam kulkas. Jadi gue males ngobrol sama dia."
Entah sampai jam berapa Qameella dan Tari mengobrol malam ini hingga keduanya terlelap terbuai dalam mimpi.
*
Setelah sarapan pagi di rumah Qameella, Tari pulang ke rumahnya untuk mengganti seragam sekolah. Kemudian berangkat ke sekolah bersama dengan sepeda motor Tari tentunya, karena sepeda motor Qameella masih tertinggal di sekolah.
"Kemarin elo pergi kemana?" suara teguran itu memaksa Qameella mencari sumber suara, saat dirinya baru menempelkan pantatnya di atas kursi.
Seulas senyum kaku dari wajah yang selalu terlihat dingin itu mampu memberikan riak kecil di dalam hati Qameella.
Rega? Tumben banget...
Ya, kemarin Qameella terpaksa pergi tanpa pamit kepadanya lantaran Garda yang tidak sabaran, langsung menculiknya keluar toko.
"Elo kenal Garda dimana?" pertanyaan yang lebih terkesan interogasian itu membuat Qameella gugup.
"Ternyata elo gak sepolos gue kira." tanpa menunggu jawaban dari Qameella, cowok cool itu berlalu begitu saja menuju mejanya. Sementara gadis itu hanya terdiam tanpa bisa berkata sepatah kata pun.
__ADS_1
Entah apa maksud ucapan Rega yang menganggap Qameella tidak sepolos yang dia kira. Meninggalkan tanya di hati gadis itu.