Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Ini Aku (Part 1)


__ADS_3

Happy reading...


***************************************


Garda tersenyum bahagia, rencana besarnya berhasil dan berjalan dengan mulus. Dalam hati dia berjanji untuk menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.


Yang pertama dilakukan adalah menikmati yang belum pernah dirasakannya. Yaitu tinggal bersama dengan Karina, dan mendapat kasih sayang wanita itu. Wanita yang telah melahirkannya ke dunia fana ini. Namun terpaksa harus berpisah karena keegoan Andika dan Karina.


Sudah menjadi hal yang lumrah, jika sepasang suami istri bercerai. Maka orang yang pertama kali menerima imbasnya adalah anak-anak mereka. Tidak terkecuali Andika dan Karina. Dalam hal ini, korbannya tentu saja Rega dan Garda.


Apakah ada yang mengakui kesalahan masing-masing? Jawabnya pasti tidak ada. Karena mereka akan mempertahankan pendapat masing-masing untuk memenangkan ego mereka.


Apakah mereka memikirkan nasib kedua putra kembar mereka? Jawabnya lagi, tidak. Pasalnya, jika mereka memikirkan nasib anak-anak mereka yang saat itu masih kecil, sudah pasti perceraian itu tidak akan pernah terjadi. Kendati pada akhirnya hati mereka sama-sama merasakan luka akibat perceraian itu sendiri.


Jauh dari jangkauan Karina maupun Andika. Ada hati yang sangat menderita efek perceraian mereka. Yaitu Garda. Meskipun Rega juga menderita, setidaknya ada ibu yang selalu tidak akan pernah kurang dalam mencurahkan kasih sayangnya. Kasih sayang seorang ibu juga merangkap sebagai seorang bapak.


Sementara Garda, benar-benar kehilangan segalanya. Kasih ibu yang selalu tercurah padanya tergantikan dengan kasih sayang seorang pengasuh. Apakah sama rasanya? Tentu saja sangat jauh berbeda. Walaupun sang ibu pengasuh melakukan tugasnya layaknya seorang ibu kandung. Tetapi semua itu tidaklah sama.


Andika yang seharusnya mencurahkan kasih sayangnya sebagai seorang bapak, dan seharusnya merangkap sebagai ibu mendadak raib tertelan bumi. Pria itu sangat jarang sekali pulang ke rumah pasca perceraiannya dengan Karina. Dia malah menyibukkan diri dengan setumpuk pekerjaan yang seakan tidak pernah ada habisnya di kantor. Melupakan kewajibannya sebagai orang tua.


Kadang kala dia menghabiskan sedikit waktu luangnya dengan bersenang-senang dengan wanita-wanita yang disewanya. Dengan harapan dapat melupakan mantan istrinya yang masih dicintainya. Tetapi, semuanya terasa hampa. Hingga detik ini Andika masih belum bisa melupakan Karina seutuhnya. Tidak ada seorang wanita pun yang ditemuinya dapat menggantikan posisi Karina di dalam sanubarinya.


Lambat laut Garda tumbuh menjadi anak yang cerdas dan pandai. Namun, saat duduk di sekolah dasar banyak hinaan yang diterimanya dari teman-teman sekolahnya. Mereka selalu mengatainya dengan sebutan anak pembantu. Karena setiap ada kegiatan sekolah hingga pengambilan rapot, Mak Lela yang selalu datang menggantikan posisi Karina dan Andika.


Awalnya Garda masih sabar menanggapi keceriwisan mereka. Namun lama-kelamaan batas kesabarannya habis. Tanpa berkata-kata lagi, dia langsung melayangkan tinjunya ke wajah salah satu temannya yang sudah mengatainya.


Kontan, si bocah malang itu jatuh tersungkur di lantai koridor sekolah. Wajah bocah ceriwis itu lebam-lebam dan sudut bibirnya robek hingga mengalir darah segar.


Sejak saat itu, Garda menjelma menjadi anak yang ditakuti teman-temannya. Tidak ada seorang pun yang berani menyinggung tentang keluarganya. Apalagi sampai nekat mengatainya lagi.


Memasuki sekolah menengah pertama, Garda mulai mengenal dunia balap motor liar dan per geng-an. Saat itu pula dia resmi menjadi anggota geng ABABIL.


Karena sepak terjang Garda yang terbilang mahir mengendarai si kuda besi. Hingga sering menjuarai berbagai macam turnamen balap motor legal maupun ilegal. Dan berkat ketenarannya dia terpilih menjadi ketua geng ABABIL. Menggantikan sang ketua yang telah meninggal dunia akibat over dosis.


Mengingat betapa kejamnya narkoba di kalangan masyarakat. Terutama di dunia remaja yang sangat rentan terjerumus. Garda yang sudah menjabat ketua baru geng, memberikan misi baru, yaitu 'Say No To Drugs!'.


Oleh sebab itu, dia melarang semua anggota geng-nya menyentuh barang haram tersebut. Selain wasiat dari sang mantan ketua geng, juga demi masa depan mereka semua.


*


Garda langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, tentu saja milik Rega. Lantaran saat ini mereka sedang bertukar posisi. Matanya terpejam seraya menghembuskan napas lega. Kemudian matanya terbuka, bersirobok dengan plafon kamar berwarna putih gading di atasnya, menjulang tinggi dari tempatnya berbaring.


Ada setumpuk rencana bersarang dalam benaknya. Rencana yang harus dilakukan mulai dari saat ini hingga besok sebelum pulang sekolah. Karena waktu pertukaran posisi ini hanya sampai jam pulang sekolah besok.


Hufh... Garda menghela napas lagi.


Tidak jauh berbeda dengan Garda yang langsung masuk ke dalam kamar sepulang sekolah. Rega pun demikian. Bedanya, kedatangannya disambut hangat oleh Mak Lela. Bahkan wanita yang sudah banyak lipatan pada kulit wajahnya itu yang membukakan pintu untuknya. Seketika Rega membeku tatapannya bersirobok dengan wanita itu.

__ADS_1


"Den Garda mau ganti baju dulu, atau mau langsung makan?" tawar wanita paruh baya itu ramah. "biar saya siapkan sekarang," lanjutnya tersenyum ramah.


"Eh... nanti aja... Mak, saya mau ke kamar dulu," sahut Rega ragu. Ada kekakuan dalam nada bicaranya. Ya, memang Rega tipe cowok kaku. Dan dia sedikit bingung menjawabnya tadi. Karena bila di rumah, dia jarang sekali berinteraksi dengan orang lain selain Karina. Hanya sekali-sekali saja dia berbicara saat memang membutuhkan mereka.


"Baik, Den," wanita itu mengangguk mengerti.


Rega berlalu beranjak menuju kamar Garda.


*


Keesokan paginya.


POV Rega ((((


Rega dikawal ketat oleh para algojo berseragam serba hitam, komplit dengan kacamata hitam. Sudah seperti Paspampres yang mengawal presiden. Di mata mereka bocah SMA itu adalah Garda. Makanya mereka terus mengiringi Rega hingga masuk ke dalam kelasnya. Agar tidak bertindak diluar dugaan mereka.


"Ck!" desis Rega lama-lama gerah juga diperlakukan seperti tahanan. Membalikkan badan menghadap para algojo berseragam itu dengan air muka kesal. Sontak mereka langsung menundukkan kepala mereka.


Sampai kapan mereka akan mengikuti gue seperti bayangan? tanya batin Rega resah. Selain jadi pusat perhatian, dia juga risih dengan keberadaan mereka semua.


"Ada apa tuan muda? Ada sesuatu yang perlu kami lakukan?" tanya salah satu dari mereka.


"Gak ada," jawabnya dingin.


Grab


Rega yang tidak ada persiapan terkejut juga limbung. Dengan sorot mata tajam dia menoleh ke arah orang yang telah merangkulnya.


"Woy, Bro!" sapa Ryan lantang seolah ingin memecah gendang telinga Rega.


Siapa ini, sok kenal banget? Oh ya. Pasti mereka anak-anak geng-nya Garda. Pikir Rega saat melihat sekelompok anak yang lain mendekatinya.


"Masih kaya anak TK aja lo, pake dianterin segala," seloroh Ryan menyindir.


Empat orang dewasa berseragam serba hitam itu langsung bereaksi melihat sikap Ryan. Namun Rega segera melarangnya dengan memberi kode gerakan tangan. Mereka pun langsung tidak berkutik.


"Hus! Bukan anak TK Ling..." sambung Buchek membenarkan. " tapi presiden. Emangnya mata lo kotok apa, mereka itu lebih mirip rombongan Paspampres."


"Apah ke lah... serah suka-suka gue aja," Ryan terkekeh.


Rega masih belum berkata apa pun. Namun dalam otaknya sedang berupaya keras mengingat nama-nama teman dan sahabat Garda di sekolah juga tergabung dalam geng ABABIL. Dia tidak boleh melakukan kesalahan agar penyamaran ini tidak terbongkar sebelum waktunya. Berbekal memori dalam ingatannya, Rega mengenali mereka satu per satu.


"Eh, Mas-Mas algojo, udah serahin aja bro Garda sama kita-kita. Tenang, Bos kita yang satu ini gak punya sayap. Jadi, gak pake khawatir bisa kabur," Ryan benar-benar mengambil kendali. "iya gak, Bos bro?" bocah gempal itu memainkan alisnya naik turun untuk meminta persetujuan Garda yang sebenarnya adalah Rega.


Rega hanya tertegun tidak menjawab. Bukan karena tidak ingin menjawab. Dia hanya bingung kalimat apa yang dapat digunakan untuk menjawab Ryan. Walau bagaimanapun dia khawatir salah ngomong.


"Maaf, Dek. Itu tidak bisa. Karena menjaga tuan muda adalah tugas kami," sahut salah satu dari mereka sopan.

__ADS_1


"Ck, pake tuan muda, tuan muda segala. Kaya hidup di zaman penjajahan aja," decak Tikeng sebal dengan kekakuan mereka.


"Tapi..."


"Sebaiknya kalian berjaga di depan gerbang sekolah aja. Jangan buat saya malu. Saya tidak mau jadi pusat perhatian gara-gara keberadaan kalian berempat," putus Rega final. Nada suaranya terdengar tenang, dingin dan penuh penekanan.


Ryan, Tikeng, Rombeng, Buchek, dan Sonik terkesiap dan terheran-heran mendengar ucapan Garda. Gaya bicara yang tersusun secara sistematik dan sopan bukanlah gaya Garda. Ketua geng mereka itu terkenal selengekan dan ceplas-ceplos. Namun mereka memilih tidak mau ambil pusing.


"Mas-Mas algojo udah dengarkan apa kata tuan muda barusan?" sindir Ryan.


Keempat orang pengawal itu hanya diam membisu seraya bertukar pandang antara satu sama lain secara bergantian.


"Ya udah sono... ngapain masih di sini?" Rombeng mengusir mereka sambil menggerakkan tangannya seperti mengusir ayam yang masuk pekarangan rumah.


Tanpa permisi Ryan dan Buchek langsung merangkul pundak Rega secara bersamaan. Membawa Garda kw masuk dalam kelas mereka, terletak di paling ujung koridor sekolah tidak jauh dari kamar mandi siswa.


Rega terkejut dengan suasana kelas yang baru saja dimasukinya. Begitu gaduh dan tidak beraturan. Nyaris saja kepalanya menjadi sasaran lemparan tas yang tiba-tiba melayang ke arahnya. Jika bukan Sonik yang berhasil menangkap tas yang belakangan milik Tasya. Murid langganan bully para murid di kelas itu. Entah bagaimana nasibnya saat itu.


Ryan yang paling peka dengan keanehan sikap Garda pagi ini, masih memilih diam. Tidak mau berspekulasi lebih jauh.


"Woy, punya mata dong kalo ngelempar. Lihat siapa orang yang hampir kena," protes Sonik nyolot.


"Iya lo, gak punya otak apa? Kalo sampai kena bro gue juga, abis lo gue bantai," ancam Rombeng.


"Sorry-sorry, gue gak sengaja," sahut salah satu murid pelaku pembullyan itu. Wajahnya memucat mendengar ancaman Rombeng. Setelahnya melanjutkan aksinya kembali.


Rega merasa prihatin dengan nasib gadis korban bully itu. Wajah melasnya tidak jua membuat mereka kasihan. Ini adalah kali pertamanya melihat aksi bully secara langsung di depan matanya. Karena di sekolah tempatnya menuntut ilmu tidak pernah mendengar atau melihat secara langsung ada kasus pembullyan.


Ryan dan kawan-kawan tampak biasa saja melihat situasi seperti itu. Mereka sudah biasa melihat hal tersebut setiap hari. Hingga tidak ada yang luar biasa.


"Hentikan!" pekik Rega tiba-tiba menyentak semua orang yang ada dalam kelas. Terpaku dan membeku melihat ke sumber suara.


Tidak ada yang berani berkutik dari tempatnya. Bernapas pun harus dikeluarkan perlahan agar tidak menimbulkan bunyi yang kentara.


"Kembalikan tas miliknya. Mulai hari ini gue gak mau lihat lagi cewek itu di-bully lagi. Baik di depan maupun di belakang gue, titik gak pake koma!" tukas Rega tidak mau dibantah.


Mereka terdiam membeku. Namun buru-buru bergerak sesuai permintaan Rega. Mereka benar-benar dibuat takut dengan sorot mata cowok duplikat Garda itu. Tentu saja mereka takut karena sepak terjang Garda sang ketua geng ABABIL. Bila tidak segera menuruti bisa-bisa mereka tamat detik ini juga.


"Beb... kok elo belain cewek itu sih?" tegur Fiola sambil bergelayut manja di lengan kanan Rega.


Rega bergidik geli juga jijik seraya menepis pegangan tangan Fiola darinya. Dia benar-benar tidak terbiasa bersentuhan dengan cewek manja dan agresif seperti Fiola. Lagi pula dia bukan tipe cowok casanova yang welcome dengan semua tipe cewek.


Fiola tercengang dengan sikap aneh cowok duplikat Garda itu. Namun dia berusaha tetap bersikap manis di depannya.


"Biasanya elo gak peduli sama tuh cewek. Ih, pagi-pagi udah bikin orang cemburu aja," lanjutnya masih dengan kemanjaannya.


Ini cewek stress kali ya? Ngapain juga pake acara pepet-pepet gue segala. Masih pagi bikin gue gerah aja lihat tingkah cewek ini. Gerutu batin Rega. Kemudian beranjak pergi tidak tertarik dengan keluh kesah Fiola yang semakin lama semakin bikin perut mual.

__ADS_1


__ADS_2