
🙋 Hai readers... aduh 🥺 sedih banget, rasanya pengen nangis 😭 aja. Karena karyaku masih belum banyak yang baca. Tolong kepada readers yang budiman, yang baca karya author ini memberikan vote dan like yang buaaanyaaaakkk, supaya author semangat update episode terbaru. Thank you very much for you all. I Will do the best. ❤️❤️ you all.
+++++++++++++++++++++++++++++++++
Qarmitha sengaja meminta Yasmin, juga kedua sahabatnya, Sarah dan Amel agar tidak membahas hubungannya dengan Kevin untuk sementara waktu. Setidaknya sampai turnamen yang diikutinya berakhir. Dia khawatir jika masalah asmaranya akan mempengaruhi konsentrasi dan performanya selama turnamen. Untunglah permintaannya langsung disetujui oleh para sahabatnya.
Walau pun di dalam hati Qarmitha tidak menampik, betapa rindunya dengan Kevin yang kini raib entah kemana. Hampir satu bulan terakhir dia hilang kontak begitu saja dengan doi. Tetapi gadis tomboy itu berusaha tetap positif thinking agar tidak muncul pikiran-pikiran aneh menghantui perasaannya. Namun faktanya berita-berita negatif tentang Kevin berseliweran masuk menusuk gendang telinganya.
Sebagai manusia biasa sudah pasti Qarmitha terluka, dan cintanya tercederai oleh berita itu. Tetapi Qarmitha bukan tipikal cewek yang bermental cengeng. Dia mampu menelan semua lukanya sendiri agar terlihat kuat, juga orang-orang di sekitarnya tidak memandangnya remeh. Dia punya cara sendiri untuk menghadapi masalahnya. Tentu saja menunggu turnamen selesai.
*
Tidak terasa sudah satu minggu berlalu. Selama itu pula Garda selalu setia rela menjadi ojek cintanya Qameella. Walau pun hanya menjemput setiap pulang sekolah. Tetapi cukup untuk Garda bisa bertemu dengan cewek yang seharusnya menjadi nyonya Garda. Berhubung Garda dan Qameella masih belum cukup umur membina rumah tangga seperti pasangan suami istri normal. Bagi Garda hal ini cukup untuk memulai satu hubungan, yang mungkin untuk selamanya dalam hidupnya.
Di saat Garda sedang mempersiapkan diri menjadi seorang suami idaman. Qameella justru bersikap sebaliknya. Dia berusaha sebisa mungkin agar hubunganya dengan cowok ajaib itu tidak intens apalagi berlanjut menjadi intim. Ingat cuy, umur masih 17 tahun, gak cocok bingitz ngurus yang begituan! (persepsi author).
Sore ini sepeulang sekolah. Garda sudah standbye di depan sekolah Qameella. Menjalankan tugas harian menjemput istri tercinta. Bela-belain ngebut dari sekolahnya agar tidak terlambat menjemput pujaan hatinya.
Sesekali cowok macho dengan masih memakai helm full face, celingukan mencari seseorang yang sedang dinantinya. Dia sengaja tidak membuka helmnya. Lantaran dia tidak mau saudara kembarnya, Rega, yang juga bersekolah di sekolah ini tahu keberadaannya. Apalagi tahu hubungannya dengan Qameella. Pasalnya cewek itu sudah mewanti-wantinya agar tidak ada yang tentang hubungan mereka.
Tidak lama berselang. Garda melihat seorang gadis yang mirip dengan Qameella, baru keluar dari pintu gerbang sekolah bersama seorang gadis lain. Tanpa pikir panjang, dia menghampiri gadis itu setelah sebelumnya berpisah dengan temannya tadi.
Cewek itu tampak terkejut mendapat ajakan dari Garda. Ekspresi yang sama, ekspresi yang pernah ditunjukkan Qameella saat pertama kali mereka bertemu di depan sekolah. Namun tidak mengurungkan niatnya membawa cewek itu melesat bersama sepeda motor kesayangannya.
Di kejauhan Qameella melihat pemandangan itu dengan perasaan yang tidak bisa diartikannya sendiri. Entah sedih, kesal, kecewa, atau cemburu. Perasaan ini terasa sangat asing.
Mungkin Garda tidak menyadari keberadaan Qameella sebelumnya. Cewek itu memakai kacamata minusnya dan masker, karena memang sedang sedikit flu. Tentu saja sukses menyembunyikan wajahnya. Sementara Garda hanya tahu Qameella yang tidak berkacamata. Hal itu mampu mengecohnya saat melihat Qarmitha yang sedang menunggu angkot di pinggir jalan. Kebetulan hari ini dia dan ketiga sahabatnya tidak pulang bersama seperti biasa.
"Kenapa lo, Meel?" tegur Tari tiba-tiba menghenyakkan Qameella dari lamunannya.
__ADS_1
"Nggak. Gak papa." sahutnya singkat.
Tari menyodorkan helm yang langsung diterima oleh Qameella.
"Kalo gak papa... kenapa muka lo?"
"Muka?" Qameella tidak mengerti sambil meraba wajahnya.
"Maksud gue mata lo," ralat Tari cepat.
Qameella meraba matanya dari sela lensa kacamatanya. Indera perabanya merasakan basah di bawah matanya, seperti ada sisa air yang entah dari mana asalnya.
"Elo abis nangis, ya?" tebak Tari cepat.
Mungkinkah tadi gue nangis?
"Ah, ngarang lo! Mana mungkin gue nangis?" kilahnya menjawab pertanyaan Tari. "ngapain juga gue nangis, lagian apa yang harus gue tangisin? Mungkin tadi mata gue kena debu kali, jadi berair gini."
Qameella langsung mendudukkan dirinya di jok belakang sepeda motor Tari.
Sepanjang perjalanan pulang. Pikiran Qameella melanglang buana entah kemana. Hingga tidak menyadari jika motor metik milik Tari sudah tiba tepat di depan rumahnya.
"Mau sampai kapan lo mau nangkring terus di motor gue?" sindir Tari membuat Qameella gelagapan.
"Udah sampai, Non..." ucap Tari sambil menoleh ke belakang melihat Qameella tampak celingukan kebingungan. Akhirnya turun dari sepeda motor metik putih milik Tari.
"Thanks ya, Tar." ujar Qameella canggung.
"Yoi... gue langsung balik ya." Tari langsung menarik gas motornya beranjak pergi dari hadapan Qameella.
__ADS_1
Qameella menghela napas berat. Kemudian beranjak masuk ke dalam rumah.
*
Garda membawa Qarmitha ke tempat biasa dirinya membawa Qameella, sebelum mengantarnya pulang ke rumah. Melihat sikap cewek yang dikiranya Qameella itu, dia seakan mendapat angin segar. Lantaran sikap luwes yang ditunjukkan Qarmitha kepadanya. Tidak seperti saat bersama Qameella yang selalu menunjukkan sikap kakunya. Hingga Garda menganggap Qameella sudah mau menerima hubungan ini.
Qarmitha melihat ke seluruh penjuru ruangan dengan tatapan yang tidak bisa dibaca Garda.
"Kenapa lo ngajak gue ke sini?" tanya Qarmitha heran.
Dahi Garda mengernyit heran. Menurutnya Qameella sedang menggerjainya atau mengetes kesabarannya. Tak lama berselang cowok ganteng itu terkekeh geli.
"Kocak lo!" serunya berdecak keheranan. "kita kan sering kemari. Hmm... gue gak bakalan kena prank ya..." lanjutnya dengan tatapan tajam.
"Hah?! Sering?" Qarmitha terperanjat kaget.
"Udah ah. Jangan banyak drama. Gue gak suka elo sok-sokan drama quen kaya di drakor." tukas Garda menyudahi keterkejutan Qarmitha yang disangkanya hanya keisengan semata.
Ih, ini cowok, ganteng-ganteng saiko! pikir Qarmitha bergidik ngeri.
Garda menyebutkan macam-macam makanan yang biasa dipesannya setiap kali mampir ke sini bersama Qameella. Pelayan yang berdiri di sisi meja mereka mencatat dengan cermat. Mendengar semua pesanan itu Qarmitha langsung mengintrupsi.
"Tunggu, tunggu, tunggu! Elo pesan apa barusan?"
"Kenapa? Emang itu makanan yang biasa elo makan, Bini... Dan elo gak pernah protes. Jadi, gue rasa elo menyukainya."
"Siapa bilang geu suka sama makanan itu?" tanya Qarmitha geram. "sotoy lo!"
"Tapi..."
__ADS_1
"Gak, gak, gue gak suka sama makanan itu. Gue mau pesan yang lain aja." sergahnya cepat.
"Ya udah, elo mau pesan apa? Terserah elo aja." Garda tersenyum samar menanggapi sikap Qameella. Walau pun dalam hati dia terkejut dan tidak percaya bisa melihat sikap seorang Qameella yang lain dari biasanya. Dia berpikir mungkin sikap cewek yang kerap dipanggilnya Bini, selama satu minggu kemarin adalah sikap wajar orang yang baru saling mengenal. Sekarang cewek di hadapannya sudah terbiasa dengan kehadirannya di hidupnya.