Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#27


__ADS_3

Hai readers... gimana cerita di episode lalu, pada penasaran gak sih? Atau senang akhirnya Qameella ketemu Garda?


Yuk, baca lagi ceritanya!


Happy reading...


*********************************************


Setelah sarapan pagi Maryam dan mencuci piring kotor serta merapikan sedikit kekacauan di dapur, menyempatkan diri duduk di depan tv sebelum berangkat ke rumah makan miliknya dan Gusti.


Beberapa kali wanita itu terlihat memijit tombol yang ada pada remote control tv-nya. Mencari acara tv yang menurutnya menarik.


Alhasil, pilihan Maryam jatuh pada acara gosip artis dan selebriti Indonesia.


Melihat istrinya duduk di depan tv, Gusti pun ikut menemani. Walau pun pria itu tidak ikut-ikutan menjadi penikmat gosip artis. Dia memilih membaca koran yang terbit kemarin. Dan baru sempat dibaca hari ini.


"Ayah," ujar Maryam tiba-tiba, dan hanya dijawab gumaman oleh Gusti.


"Ayah," kini tangan Maryam bergerak menepuk pelan paha suaminya. "lihat, Yah!" serunya


Pria yang duduk bersisian dengannya tampak asyik membaca berita, lama-kelamaan terusik juga.


"Ada apa sih, Ma?"


"Itu, lihat!" tangan Maryam mengacung ke arah acara tv yang sedang menayangkan acara pesta.


Serta merta Gusti mengikuti arah yang ditunjukkan istrinya.


Rupanya liputan tentang acara pesta pertunangan seorang artis pendatang baru, Bianca Prayoga Hutomo, juga anak seorang pengusaha terkenal Prayoga Hutomo. Namun bukan itu yang menjadi pusat perhatian Maryam. Melainkan orang yang menjadi tunangan sang artis. Pandega Negara putra dari Andika Pratama Negara, pemilik Negara's Group.


"Cuma berita gosip saja, Ma..." kilah Gusti cuek. "gak usah terlalu baper."


"Ck, Ayah... lihat anak muda itu!" seru Maryam seakan memberi titah.


Gusti mendadak menegang melihat wajah Andika secara jelas walau hanya dari layar tv. Tanpa sengaja kedua tangannya meremas ujung koran yang sedang dipegangnya.


"Anak muda itu mirip Garda ya, Yah? Mungkin kalo Garda masih hidup sudah seusianya," tatapan mata Maryam terpaku pada gambar seorang pemuda memang adalah Garda. Tetapi dia tidak tahu siapa pemuda itu.


"Dia pasti kembarannya Garda, Ma. Ingat tidak? Sewaktu kita pergi ke makam Garda, kita semua terkejut mengira anak tengik itu hidup kembali. Ternyata dia adalah saudara kembarnya Garda," Gusti mengenang kejadian itu.


"Iya ya, Yah... Mama hampir lupa jika Garda punya kembaran sama seperti Lala dan Thatha," Maryam setuju dengan suaminya.


*


Rega baru saja selesai mandi dan berpakaian rapi. Hari ini jadwal prakteknya cukup padat. Setelah praktek di klinik, dia akan melanjutkan prakteknya di rumah sakit umum kota.


Tok! Tok! Tok!


Pintu kamar Rega diketuk dari luar.


"Iya, Bi," Rega langsung memberi sahutan.


"Mas Rega, sudah ditunggu Ibu di meja makan," terdengar suara wanita paruh baya dari balik pintu.


"Iya, sebentar lagi saya ke sana," jawabnya sambil memakai jam tangan di pergelangan tangannya.


Setelah merasa rapi maksimal, Rega meraih jas putihnya yang tergantung dalam lemari. Lalu beranjak pergi. Namun belum sempat melangkah dering ponselnya memanggil, minta segera diangkat.


"Halo?"

__ADS_1


"Selamat ya Dok... atas pertunangannya," terdengar suara dari ujung sana sangat berisik. Mereka adalah para perawat yang bertugas di klinik tempat Rega praktek.


Refleks Rega menjauhkan benda pipih itu dari telinganya seraya memalingkan wajahnya.


"Tunangan?" gumam Rega bingung.


"Ih, Dokter sombong! Tunangan kok gak ngundang-ngundang kita," keluh salah satu dari mereka.


"Kapan saya tunangannya? Sok tahu kalian!"


"Semalam, Dok... masa Dokter gak ingat?"


"Bukan gak ingat tapi sengaja pura-pura lupa," sahut yang lainnya ketus.


"Oh, memang saya sengaja gak ngundang kalian. Kalian tahu kenapa? Karena kalian rese!" pungkas Rega mengakhiri sambungan telepon secara sepihak.


Rega tidak mengerti mengapa para perawat di klinik-nya mengucapkan selamat atas pertunangannya. Tapi dengan siapa? Dan siapa pelaku penyebar gosip itu?


Setali tiga uang dengan Rega. Karina pun mendapat ucapan selamat atas pertunangan putranya. Dan pertanyaan seputar pertunangan putranya.


Namun wanita itu tidak bisa menjawab apa-apa atas pertanyaan teman-teman sosialitanya. Lantaran Rega memang tidak bertunangan dengan siapa pun. Dia pun tidak berpikir tentang putranya yang lain. Sebagaimana khalayak umum tahu, satu putranya yaitu Garda, telah lama meninggal dunia.


*


Secercah cahaya matahari yang menembus dari celah jendela, langsung jatuh menyinari wajah Qameella yang masih terlelap dalam mimpi. Seketika itu juga gadis itu terbangun merasakan silaunya.


Perlahan kelopak matanya membuka. Namun terlalu silau baginya hingga tak sanggup membuka mata. Refleks satu tangannya terangkat ke udara untuk menghalangi berkas cahaya itu agar tidak menyilaukan.


Sudah pagi rupanya. Belum puas rasanya Qameella menikmati mimpi indahnya. Gadis itu menyeringai malu mengingat mimpi semalam.


Mimpi yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidup.


Kemudian Qameella memiringkan tubuhnya menghadap jendela.


"Ah...," rintih Qameella merasakan ada sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhnya.


"Ada apa ini? Mengapa tubuhku terasa lelah. Dan nyeri pada inti...," bisiknya terhenti saat netra hitamnya mendadak menubruk pemandangan di bawah lantai. Tepat di bawah tempat tidur yang ditidurinya.


Dahinya mengerut, menajamkan netra yang awalnya masih mengantuk, kini sangat segar.


"Sepertinya aku kenal kain itu," netranya mengikuti alur ceceran kain yang tercecer tidak beraturan.


"Itu kan... gaun yang aku pakai semalam, juga...," gadis itu tertegun melihat pakaian dalamnya yang juga ada di antaranya.


"Hahh!..." buru-buru dia memeriksa tubuhnya sendiri yang sedang bergelung dalam selimut.


Astaga!


Tiba-tiba degup jantung Qameella berpacu lebih cepat dari biasanya. Napasnya memberat dan tidak beraturan, saat mengetahui tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun di balik selimut tebal itu.


Kini dia baru sadar, jika dirinya bukan di dalam kamarnya sendiri. Melainkan di sebuah tempat yang asing. Mungkin ini adalah kamar hotel. Tapi... bagaimana mungkin?...


Otaknya dipaksa keras untuk berpikir, dan mengingat alur yang sudah dilaluinya hingga berakhir sampai di sini.


Akhirnya, dia dapat mengingat semuanya dari awal. Tetapi hanya sampai berakhir meminum air yang diberikan Raisya. Setelahnya blank. Dia juga tidak berani berspekulasi air apa yang diberikan calon adik iparnya itu. Lantaran Raisya memang gadis yang baik. Tidak pernah berbuat jahat padanya.


"Bi...," suara itu membuat jantung Qameella melompat keluar dari dalam dadanya. Suara yang bersumber dari belakangnya.


Si... siapa??!

__ADS_1


Tubuh Qameella menegang. Antara sadar dan tidak sadar, gadis itu berharap sedang berhalusinasi.


"Bi... Bianca...," suara itu kembali terdengar memanggil. Namun bukan nama Qameella yang disebut. Melainkan...


Ya Allah! Mungkinkah? Nggak, nggak, nggak. Aku pasti lagi mimpi...


Plak!


Sebuah tangan kokoh mendarat tepat di pinggang Qameella. Sontak gadis itu terperanjat kaget. Tubuhnya menegang seakan tidak bisa bergerak.


Ini gak bener! Aku harus pergi dari sini secepatnya. Masalah kenapa aku bisa ada di sini, itu diselidiki nanti aja!


Pelan-pelan Qameella mengangkat tangan kekar itu dari pinggangnya. Alih-alih ingin lepas, malah masuk perangkap. Ya, tangan itu menggenggam erat tangan Qameella tiba-tiba. Lalu menariknya cepat hingga tersungkur dalam pelukan sosok pria asing itu. Tapi ada rasa familiar di hati.


Kepala Qameella berada di depan dada bidang tak berbaju itu. Aroma maskulin yang melekat pada tubuhnya membuai sang gadis betah berlama-lama di dekatnya.


"Jangan pergi, Bi...," pintanya dengan suara khas orang baru bangun tidur.


Deg!


Tubuh Qameella membeku mendengar permintaannya. Kemudian dia merasakan belaian lembut mengelus puncak kepalanya, disertai ciuman hangat di pelipisnya. Hal itu membuat angannya melayang nun jauh di sana. Sosok Garda pun memenuhi pikirannya. Mengingatkan masa-masa indah saat bersamanya.


"Bianca," ujarnya lagi seakan memukul kepala Qameella, dan mengembalikkan kewarasannya.


Sontak Qameella sadar bahwa Garda telah meninggal dunia, dan tidak mungkin bisa kembali lagi bersamanya.


Secepat kilat tangan Qameella memegang bahu pria itu, lalu mendorong tubuh kekar yang tengah memeluknya menjauh darinya.


Sepasang tubuh polos yang sedang bergelung dalam satu selimut yang sama itu pun berjarak sepanjang lengan Qameella.


Di antara keterkejutan, ketakutan, dan ketegangan netra Qameella menatap wajah pria yang juga menatapnya dengan tatapan tak terbaca. Sementara kedua tangannya masih tetap berada di bahu pria itu.


Sepasang mata coklat yang sangat dikenalnya itu terbelalak kaget. Pandangannya nanar menatap gadis yang ternyata bukan Bianca.


"Kamu?..."


"Maaf, saya rasa... mungkin saya salah kamar," sela Qameella cepat, terbata-bata memotong ucapan pria itu.


Pria yang sangat mirip dengan Rega. Oh, bukan, bukan, lebih tepatnya mirip Garda. Ya, Garda! Dia mengerutkan keningnya. Tertegun mendengar ungkapan konyol wanita di hadapannya.


"A-a-anda gak perlu merasa bersalah. Jug-jug-ga gak usah bayar karena saya bukan perempuan begituan," lanjutnya tergagap.


Buru-buru Qameella turun dari tempat tidur sambil melilitkan selimut di tubuhnya. Kemudian memunguti semua pakaiannya yang tercecer di lantai. Lalu kabur ke dalam kamar mandi. Dengan cepat memakai satu persatu pakaiannya.


Si pria keblingsatan saat selimut terangkat dan dibawa kabur Qameella. Pasalnya seluruh tubuh polosnya langsung terekspos dan terpapar dinginnya AC. Tanpa pikir panjang dia pun mengambil serta memakai bokser dan celana panjangnya dari lantai.


Tidak berapa lama Qameella keluar dengan pakaian lengkap. Kemudian mengendap-endap menyelinap keluar kamar saat pria itu tak terlihat.


"Mau kemana kamu? Urusan kita belum kelar," tangan kekar pria itu menahan lengan Qameella. Sontak membuat gadis itu menoleh ke sumber suara.


"Gak ada urusan apa pun di antara kita. Jadi, gak usah dibuat ribet. Perkara rugi sebenarnya saya yang paling rugi karena... hh! Lupain!" tangan Qameella mengibas udara.


Pria itu mengernyitkan alis.


"Ya udah, gini aja. Saya adalah salah satu karyawan Negara's Group. Dan saya tahu anda adalah CEO kantor pusat. Jadi, kalo bapak gak senang dengan hal ini, silahkan bapak pecat saya," dengan segenap keberaniannya walau seakan terasa seperti sedang bunuh diri, Qameella langsung ambil keputusan final. "saya sekarang bekerja di kantor cabang Kalimalang. Nama saya Qameella Aulia Rahmah."


*


Eng ing eng… sampai di sini dulu ya episode kali ini. Nanti dilanjut lagi.

__ADS_1


See you next episode.... 🤭😘😘


__ADS_2