
π Hai... readers... π mohon maaf ya author lama update-nya, maklum nama juga lagi hari raya Lebaran. Seperti kebanyakan umat muslim lainnya, author cukup sibuk mempersiapkan ***** bengek lebaran dari sebelum lebaran sampai hari lebaran yang keliling-keliling ke rumah sodara dekat n jauh, untuk menjalin tali silaturrahmi dengan keluarga, sekalian mencari amplop lebaran πππ... maklum namanya juga pejuang amplop lebaranπ€π€.
Nah, mumpung masih dalam suasana lebaran, author n family mengucapkan π "SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1442 H, MINAL 'AIDIN WAL FAIZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN."π
Eits, jangan lupa vote, like n komen kalian semua ya, agar author semangat terus menciptakan karya terbaik yang author miliki.
Happy reading....
************************************************
Qameella keluar dari kamar mandi khusus perempuan di sekolahnya, setelah selesai membersihkan diri, serta ganti baju olah raga dengan seragam putih-abu-abunya. Seragam olah raganya pun telah terlipat dan tersimpan rapi di dalam paper bag coklat yang dibawanya.
Entah karena faktor keberuntungan, atau mendapatkan lawan yang tidak cukup mahir hingga dapat dengan mudah menaklukan mereka. Yang jelas tidak pernah Qameella menyangka jika kemampuan berbasketnya masih belum luntur. Walau pun tidak selincah Qarmitha. Bila dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya bisa dikatakan cukup baik.
Padahal sejak matanya minus dan mengharuskannya memakai kacamata, dan dinyatakan gagal masuk tim basket inti di SMP, Qameella tidak lagi bermain basket seperti sebelumnya. Hanya sesekali dia main saat class meeting pasca ujian sekolah menjelang rapotan. Itu pun tim yang didukungnya selalu kalah.
Mirisnya teman satu timnya selalu menyalahkan Qameella karena memakai kacamata minusnya saat pertandingan. Hingga kacamatanya sering jatuh bahkan terinjak sampai patah oleh teman yang juga sedang berlaga bersamanya.
Namun sifat Qameella yang tidak bisa banyak bicara di depan teman-teman lainnya. Dia hanya memilih diam mendengar segala keluh kesah kekecewaan teman-temannya yang selalu menyalahkannya. Parahnya lagi, dia tidak pernah direkrut sebagai anggota tim basket oleh teman-temannya sejak saat itu.
"Wah, ternyata hebat juga kamu, Meel," seru Alda, teman satu timnya tadi, menghenyakan Qameella dari lamunan.
Qameella tersenyum malu.
"Ah, biasa aja kali Al, gak usah diperbesar gitu," kilahnya memancarkan rona malu. "kamu dan yang lainnya juga hebat."
"Bukan biasa aja kali, Meel... gue rasa elo udah ditahap mahir kalo elo mau terus latihan," sanggah Fia yang diamini oleh Alda, Risma dan Yuli. Qameella merasa tersanjung dengan pujian mereka. Tapi... hatinya meragu.
Benarkah ucapan Alda, Risma, Fia, dan Yuli? Apakah mereka benar-benar jujur memujinya, atau... huft... Qameella mendengus pelan dan panjang. Dia tidak mau banyak berpikir yang ujung-ujungnya bikin kecewa.
*
Seperti yang sudah disepakati semalam, jika saat pulang sekolah Qameella dan Tari pergi ke rumah sakit menjenguk Qarmitha. Dua kilogram jeruk dan apel dibawa Qameella sebagai buah tangan.
Qameella dan Tari masuk ke satu dalam ruangan, tempat Qarmitha dirawat sejak kemarin sore menjelang malam. Ruang rawat inap rumah sakit kelas dua.
Tidak mewah tapi tidak juga sederhana. Ada tiga bed di dalamnya, masing-masing di tutup tirai panjang menjuntai hampir menyentuh lantai. Namun bisa membuat sekat antara bed yang satu dengan lainnya.
Di samping bed sengaja disiapkan sebuah nakas untuk menyimpan barang-barang bawaan si pasien. Dan sebuah bangku tunggal untuk diduduki keluarga pasien yang menunggui dalam ruangan dengan mengalungkan kartu khusus penunggu pasien dari pihak rumah sakit.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Tari dengan yakinnya menerobos masuk. Qameella berjalan di belakang mengekornya. Samar-samar terdengar suara orang mengobrol dari balik pintu. Mendadak suara dari dalam mengecil otomatis saat keduanya masuk. Mungkin mereka mengira perawat atau dokter yang datang.
Wah, rupanya Qarmitha tidak sendirian di kamar rawatnya. Sarah, Amelia dan Yasmin duduk di bed kosong di bagian tengah. Kebetulan pasien penghuni kamar ini hanya Qarmitha seorang. Jadi, bed kosong tersebut sangat dimanfaatkan sekali oleh mereka.
Berhubung tidak ada pasien lain selain Qarmitha menempati bed paling pojok yang menghadap langsung ke jendela. Maka tirai-tirai yang biasa digunakan sebagai pembatas antara bed, digeser ke pojok agar bisa berkomunikasi dengan bebas.
"Hei, Tha, gimana kondisi lo sekang?" tegur Tari sambil bergerak maju menuju bed yang ditempati Qarmitha. Melewati bed kosong di balik pintu yang ternyata ditempati oleh beberapa orang berseragam SMA juga di sana.
Tari mengabaikan sikap aneh ketiga sahabat Qarmitha yang mendadak pias, saat mendengarnya menyapa Qarmitha dengan sebutan 'Tha'. Tentu saja kependekan dari nama Qarmitha.
"Lumayan, tapi masih sakit sih," sahut Qarmitha santai. Menyentuh kakinya yang dibalut perban.
Tari menoleh ke arah bed yang kini beralih fungsi menjadi tempat duduk pengunjung pasien. Sambil menyapa satu persatu seperti sedang mengabsen.
"Lho, kalian juga ada di sini?" pertanyaan itu ditujukan bukan untuk ketiga gadis yang menduduki bed tengah. Melainkan sekelompok cowok yang terdiri atas Tikeng, Rombeng, Keling alias Ryan, Sonik, Iwan, tentu saja minus Dimas. Yang Qameella ketahui mereka adalah anggota geng ABABIL.
Mereka semua menempati bed yang berada paling pojok dekat pintu, serta kursi-kursi tunggal yang mereka susun berjajar menempel tembok agar yang menduduki bisa bersandar.
Tentu saja Qameella terkesiap melihat kehadiran mereka. Tidak menduga jika mereka sangat akrab. Sementara dirinya yang pernah dekat dengan Garda tidak pernah akrab dengan mereka.
__ADS_1
Gadis berkacamata minus itu hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya sebagai sapaan pada mereka. Langsung dibalas anggukan pula oleh mereka.
Sebisa mungkin Qameella bersikap wajar, dibalik kegugupan dan kegelisahan yang tiba-tiba berkecamuk di dalam hatinya. Entah mengapa dia sangat tegang saat ini. Terselip rasa khawatir bila Garda ada di antara mereka. Meskipun kenyataannya cowok itu memang tidak ada.
"Iyalah, kan Meella teman kita juga. Wajarlah kalo kita datang buat jengukin dia," jawab Tikeng mengkonfirmasi. Setelah sebelumnya cowok itu bersama teman yang lainnya mengernyit heran.
Qameella terkejut mendengar namanya disebut, namun bukan dirinya yang dimaksud. Kontan matanya beralih menatap intens pada Qarmitha. Dia heran mengapa menggunakan namanya, bukan namanya sendiri. Padahal dia yakin Qarmitha orang yang supel, dan tidak susah memiliki teman yang disukainya.
Qarmitha memberi kode pada Qameella saat pandangan mata mereka bertemu. Qameella mengerti kode yang dimaksudkan saudari kembarnya. Memintanya tidak jujur pada mereka. Apakah kalian tahu apa yang dirasakan Qameella saat ini? Sakit! Sakit banget. Sakit yang tidak berdarah. Juga sesak. Tapi tidak ada benda yang menghimpitnya. Sukses membuatnya sulit bernapas namun tidak punya asma. Mau nangis tapi malu. Terlanjur bilang melepaskan Garda untuk Qarmitha. Aduh, jadi bengek mendadak ini sih!
"Siapa yang lo bilang barusan, Meella?" Tari meminta penjelasan dengan wajah sangat serius.
"Itu... Meella. Ya kan guys?" Tikeng mengacungkan jari telunjuknya ke arah Qarmitha, sambil menepuk paha Rombeng yang duduk di sebelahnya.
"Iya. Emang ada yang salah apa?" sahut Rombeng yang malah tampak bingung.
Tari menautkan kedua alisnya hingga hampir menyatu.
"Hah?!" desahnya kasar. Lalu menoleh ke arah Qarmitha kasar. Tatapan matanya menajam. Qarmitha menghindari tatapan menusuk Tari.
Dari ekor matanya Tari pun dapat melihat ekspresi yang sama yang ditunjukkan oleh Sarah, Amelia, dan Yasmin. Sepertinya mereka sengaja kongkalikong menipu Garda dan kawan-kawan. Kemudian dia pun mengerti alasan Qameella melepaskan Garda untuk Qarmitha.
Oh, jadi gini cara lo, Tha?
"Tari..." lirih Qameella menarik ujung lengan jaket Tari. Kepalanya menggeleng, itu artinya dia tidak mau ada kelanjutan yang berujung pertengkaran.
Tari menoleh kasar dengan tatapan mata yang sama tajamnya. Namun perlahan berubah sendu. Qameella menggelengkan kepalanya.
"Oya, gue bawa buah nih," ujar Qameella mengalihkan pembicaraan. Segera beranjak menuju nakas di samping Qarmitha hendak mengambil keranjang parsel yang hampir kosong. Untuk meletakkan buah yang dibawanya di sana.
"Meel, siapa nih cantik juga. Masih jomblo gak? Kenalin gue dong!" tanya Sonik iseng.
"Dikebiri si Ayu, baru tahu rasa lo!" sambung Iwan. Disambut kekehan geli hampir seisi ruangan.
Qameella tidak terpengaruh dengan celotehan mereka. Gadis itu meletakkan buah di keranjang dari plastik yang dibawanya.
Ryan menatap intens gadis berkacamata minus itu. Dia merasa sangat familiar dengan wajah itu. Namun ingatannya yang lemah membutuhkan waktu cukup lama untuk mengingat kembali.
"Kalian kembar ya? Soalnya wajah kalian mirip, bedanya satu berkacamata satunya lagi nggak," selidik Ryan masih tetap berusaha mengingat.
"I-iya, kita emang kembar. Kembar identik," sahut Qarmitha tergugu.
"Brengsek banget tuh orang, dia yang salah pake gak terima disalahin," gerutu Garda sambil mendorong pintu ruang rawat inap Qarmitha yang tidak tertutup rapat.
Sontak tubuh Qameella memegang mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Tiba-tiba tangannya yang masih sibuk memindahkan buah gemetar. Sementara yang lainnya langsung mengalihkan pandangan ke sumber suara.
"Kenapa sih, bro? Baru nyampe udah nyap-nyap aja," tegur Iwan.
"Itu, tadi di depan..." pandangan mata Garda menyisir ke seluruh penghuni ruangan. Mendadak matanya terpatri pada sosok gadis berkacamata minus di ujung tempat tidur Qarmitha, di depan nakas. Gadis itu baru saja berdiri setelah memungut buah yang jatuh di lantai.
Bini...
Semuanya yang sedang menunggu kelanjutan ucapan Garda, dibuat mengernyit heran. Lalu mengikuti arah pandang Garda yang tertuju pada dua gadis kembar itu.
"Cie... yang baru ketemu pacarnya segitu terpesonanya..." celoteh Amelia membuat suasana heboh.
Deg!
Hati Qameella terasa sakit. Karena dia tahu arah ucapan Amelia bukan tertuju untuknya. Melainkan untuk Qarmitha.
__ADS_1
Ya ampun... kenapa rasanya sesakit ini? Sabar La... elo pasti kuat! Kuat! Kuat! Ingat, cowok itu bukan pacar lo! bisik batin Qameella.
Qarmitha hanya tersenyum simpul mendengar celotehan Amelia. Namun tidak dengan Tari. Dia merasa sangat miris dengan Qameella yang tidak bereaksi saat Garda datang dan menatap intens pada Qarmitha. Ingin rasanya dia berteriak, mengungkap kebohongan Qarmitha.
"Bi..." lirih Garda yang terdengar gumaman.
"Buahnya jatuh ke lantai, sebaiknya dicuci aja biar lebih higienis," imbuh Qameella canggung. Tanpa menunggu jawaban dari siapa pun, gadis itu langsung menentang keranjang buah menuju westafel di depan kamar mandi tapi dekat dengan pintu masuk.
Garda bergerak maju bersamaan gerak maju Qameella yang berlawanan arah. Tanpa berkedip Garda terus saja menatap wajah gadis yang selalu dirindukannya. Sedangkan Qameella sebisa mungkin menghindari pandangannya dari cowok yang juga dirindukannya.
"Cie... cie... sang pangeran mendekat nih ye..." suara itu terus saja berdenging di telinga Qameella, namun membuat denyut tidak enak di hatinya.
Qarmitha menampilkan senyum terbaiknya. Walau pun dia tahu Garda sudah tahu identitas dirinya yang sebenarnya. Dia tetap yakin cowok itu akan memainkan sandiwara di depan teman-temannya, menganggapnya Qameella. Hal itu terbukti saat teman-temannya masih memanggilnya dengan sebutan 'Meella'.
Garda sedih melihat ekspresi wajah Qameella yang berpura-pura tidak melihatnya. Padahal dirinya jelas di depan matanya.
Bi... segitunya banget sih lo sama gue?
Tanpa ba-bi-bu Garda menarik lengan Qameella hingga sebagian besar buah dalam keranjang yang dibawanya jatuh berceceran di lantai. Gadis itu sangat terkejut dan langsung mendongakkan wajahnya.
"Eh, maaf," cicit Qameella walau dirinya tidak bersalah.
Sontak mereka semua terkejut melihat interaksi Garda dan Qameella. Awalnya mereka mengira Garda akan menghampiri Qarmitha. Tetapi di tengah jalan dengan sengaja menarik lengan Qameella.
"Untuk apa minta maaf?" tanya Garda sarkas, namun tatapan matanya sendu, menunjukkan rasa rindu yang mendalam.
"Eh, eh... mungkin tadi saya mau nabrak kamu, atau... saya hampir menumpahkan buah-buah ini..." Qameella berbicara sangat sopan dan formal sekali. Terasa asing di telinga Garda.
"Jadi... maaf..."
Mereka semuanya speechless. Meski demikian, ada seulas senyum tersungging di bibir Tari.
Akhirnya, cinta tahu jalan pulangnya. Batin Tari bersorak gembira.
Wajah Qarmitha berubah pias. Begitu pula dengan Sarah, Amelia dan Yasmin.
"Hei, bro. Santailah dikit, jangan galak-galak sama cewek. Apalagi sama adek ipar sendiri," seloroh Tikeng yang tidak tahu urusan.
"Bi..." cicit Garda. Qameella terbelalak kaget.
"Meel, emang nama sodara kembar lo, Bi?" telisik Iwan. Tentu saja orang yang yang diajak ngomong adalah Qarmitha, bukan Qameella.
Qarmitha tidak bisa bersuara. Lidahnya mendadak terasa keluh.
Bulu halus di tengkuk Qameella tiba-tiba merinding, dipanggil 'Bi' oleh Garda. Dia tahu kepanjangan dari penggalan kata 'Bi' adalah 'Bini'. Panggilan sayang yang sering diucapkan untuknya.
Ada apa ini? Mengapa Garda panggil gue dengan sebutan itu? Apa mungkin dia tahu?
"Hei, bro... tega banget lo di depan pacar sendiri mau gaet adeknya juga. Mau jadi buaya lo, ya?" sindir Sonik sambil terkekeh.
Garda menulikan telinganya. Dia tidak menggubris ucapan sumbang siapa pun. Yang jadi fokusnya saat ini adalah gadis di depannya. Tanpa bersuara lagi tetapi gerakan gesitnya tidak lelah untuk memberontak. Tatapan matanya gelisah dan risih melihat ke sekeliling yang juga menatapnya dengan tatapan beragam.
"Bi, plis..." Garda memohon dengan raut sendu.
"Maaf, kamu salah orang. Saya bukan..."
"Cukup Bini!" bentak Garda dengan suara meninggi memotong ucapan Qameella.
"Bini?" kontan mereka semua terkejut. Yang buat lebih terkejut lagi adalah sebutan 'Bini' yang hanya ditujukan untuk Qameella seorang. Bahkan mantan-mantan pacar Garda pun tidak pernah ada yang diberi panggilan khusus seperti Qameella.
__ADS_1
"Plis, jangan menghindar lagi. Jangan pergi lagi dari gue, plis..."