Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#62


__ADS_3

Happy reading


****************


Jam setengah tujuh malam, Rega sengaja datang ke rumah Gusti untuk menjemput Mitha di rumah Gusti. Bukan mengajak tinggal bersama di kediaman Rega. Karena sampai detik ini sepasang pengantin baru itu belum tinggal di bawah satu atap yang sama. Melainkan untuk bertemu Karina, wanita yang paling berharga bagi Rega.


Setelah berpamitan pada Gusti dan Maryam, Rega memboyong Mitha ke rumah orang tuanya, Karina. Untuk makan malam bersama sekalian memperkenalkan Mitha yang sudah berstatus sebagai istri Rega.


Mitha tidak sepenuh hati ingin ikut dengan Rega. Menemui Karina, Mama mertuanya. Karena dia masih belum mau menerima pernikahan terpaksa ini. Selain itu dia juga belum siap menemui wanita yang katanya baik menurut versi Gusti.


Lagi pula Mitha sudah bertekad untuk mengakhiri pernikahan yang memang semestinya tidak perlu terjadi. Jadi buat apa pake acara ketemuan segala?


Andai waktu bisa diputar kembali. Maka Mitha akan menolak sekali lagi pada Gusti. Biarlah pernikahannya dengan Rega tidak pernah terjadi. Sayangnya saat itu tidak ada pilihan yang menguntungkan bagi Mitha. Pada akhirnya dia memilih pilihannya saat ini.


Berkali-kali Maryam menasihati Mitha agar mau menerima pernikahan, bisa dibilang terpaksa ini dengan lapang dada. Wanita yang begitu berjasa telah melahirkannya di dunia ini, selalu memberi pencerahan tentang rumah tangga yang di bangun atas dasar mendadak. Tentu saja tanpa cinta.


Tapi bila dipupuk dan saling belajar untuk mengenal dan mencintai satu sama lain. Maka tak mustahil cinta tumbuh pada akhirnya. Wanita cantik diusianya yang tidak lagi muda itu yakin, cinta akan tumbuh bersemi di hati Mitha dan Rega setelah mau saling membuka hati.


Gusti pun tidak lelah memberi wejangan agar bisa melupakan mantan calon suaminya, cowok laknat model seperti Dicky. Mantan terindah tapi meninggalkan luka yang sangat menyakitkan. Juga mencoreng wajah dua keluarga sekaligus. Eh, tiga deng. Kalo keluarga si pelakor Raisya punya malu sih. 🤪


"Lupakan yang tidak perlu diingat. Tata hati dan isi pikiran dengan hal-hal yang baru. Buka lembaran baru bersama pasangan baru. Tanpa perlu mengulik lembaran lama yang sudah koyak juga usang."


Mitha hanya diam mendengar nasihat bijak sang Ayah.


Selama dalam perjalanan menuju rumah Mama mertua. Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut Mitha. Enggan rasanya mengeluarkan suara walau hanya sekedar dengusan nafas. Lagi pula dia sudah tahu kemana tujuan sang suami mengajaknya pergi. Juga sudah faham bagaimana harus bersikap di depan mertua nanti. Toh, hal ini bukan pertama untuknya. Sebelumnya dia pernah melakukan ritual ini, kendati saat itu masih tahap calon mertua. Tapi setidaknya Mitha punya bayangan bagaimana menghadapi mertuanya nanti.


Pandangan Mitha pun tak sekalipun terarah pada suaminya yang duduk di depan kemudi. Sesekali ia melihat ke arah jendela samping. Mengalihkan segala kegugupan yang tidak mungkin diungkapkan di depan suami yang yah... tidak tahu harus bersikap. Kalo boleh jujur, Mitha sebenarnya enggan sekali keluar rumah. Apalagi menemui seseorang yang belum siap ditemuinya. Seperti mertuanya yang entah bagaimana reaksinya setelah mengetahui pernikahannya dengan putranya, Rega, yang sangat mendadak dan diluar prediksi. Mungkin juga diluar nalar.


Tidak berbeda dari Mitha. Yang terjadi dengan Rega pun sama. Seolah melupakan gadis cantik yang duduk di sampingnya. Pandangannya lurus ke depan melihat jalan raya. Mungkin karena keduanya memang sejak awal tidak akrab. Hingga tak ada satu pun yang mau mengawali obrolan.


Keduanya Sepertinya sengaja membuat keheningan yang seakan menenggelamkan mereka sendiri. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga mobil yang dikendarai Rega sendiri masuk ke pelataran rumah Karina yang besar. Tiga kali lipat lebih besar dari rumah Gusti yang hanya tipe 36.


Rega sudah mematikan mesin mobilnya hendak beranjak keluar. Kemudian dia baru sadar jika ada makhluk cantik yang masih duduk mematung di sampingnya.


"Jangan tegang. Mamaku orangnya baik, ramah, dan tidak judes seperti mertua di sinetron-sinetron di tv," entah sedang memberi nasehat atau hanya sekedar basa-basi. Wajah Rega tampak datar dan dingin seakan bisa membaca pikiran Mitha.


Mitha mengalihkan pandangannya pada wajah tampan milik suaminya, namun melihat ekspresi datar dan dinginnya jadi tidak enak dipandang lagi. Selain itu sedikit tercengang dengan ucapannya. Sebenarnya maksud Rega baik. Berhubung wajah gantengnya tidak enak dilihat, terkesan menunjukkan mode galak. Jadi ya... ilfil alias ilang filing gitu.


"Yah," sahut Mitha singkat. Lalu beranjak keluar tanpa menunggu dibukakan pintu oleh Rega.


Namanya juga cewek mandiri. Jadi cukup dikerjakan sendiri. Lagian cuma buka pintu mobil doang, apa susahnya. Bukan disuruh angkat bodi mobil kaya tokoh fiktif Hulk si manusia hijau yang kuat. Betul gak bestie?


Rega mengulurkan tangannya pada Mitha, agar bisa saling bergandengan saat masuk ke dalam rumah Karina. Hingga menunjukkan sisi romantis seolah keduanya adalah pasangan pengantin baru yang saling mencintai. Walau pada kenyataannya tidak seindah yang terlihat oleh kasat mata.

__ADS_1


Tetapi sayang seribu kali sayang. Rega terpaksa menggenggam angin, akibat tidak ada gayung yang bersambut. Kasihan sekali bestie. Sang istri berlalu begitu cuek bebek saja tanpa melihat tangannya yang mengambang di udara.


Rega segera berjalan menyusul Mitha yang sudah pergi meninggalkannya, hampir sampai di teras rumah sang ibu.


Karina menyambut kepulangan Rega, yang belakangan ini sangat sibuk mengurus klinik dan rumah sakit secara bersamaan. Hingga tak ayal pemuda yang hampir genap dua puluh lima tahun itu tidak pulang ke rumah.


Tiba-tiba mata Karina terbeliak kaget saat melihat sosok yang dikenalnya. Dan sudah lama dia tidak melihat penampakannya. Bahkan kabar berita tentangnya juga tidak pernah terdengar di telinganya. Seolah hilang dari muka bumi setelah terjadinya kecelakaan naas enam tahun silam.


"Ma, kenalin ini..."


"Meella?" Karina menyela ucapan Rega yang hendak memperkenalkan istrinya, Mitha.


Karina tidak menyadari ekspresi keterkejutan, yang ditandai kernyitan dahi yang dalam hingga kedua alis Mitha nyaris bertaut. Begitu pula dengan Rega yang ternyata sang Mama sudah mengenal baik baik dengan gadis... oh, bukan. Gadis yang berbeda saat ini.


Seakan sedang Dejavu bagi Karina melihat sosok yang sama persis dengan gadis yang dijumpainya hampir enam tahun lalu. Ya, saat itu wanita yang kini masih betah menjomblo tersebut, melihat sosok Meella versi dewasa. Sepasang tangannya diangkat menyentuh kedua pipi Mitha.


"Kamu... apa kabar nak... lama kita gak ketemu. Kamu...," jelas sekali Karina tergugu. Netranya tampak berair, terharu dengan perasaan campur aduk.


Mitha yang tidak tahu sejarah pertemuan antara Meella dan Karina, tidak bisa menyambut kekalutan sang ibu mertua.


"Hah, ba-baik," sahutnya sekenanya dan terbata. Lalu menoleh ke arah Rega, seakan meminta pertolongan agar Karina tidak menganggapnya Meella.


"Ma..."


"Apakah kamu sudah bisa melupakan peristiwa pahit itu juga Garda, sayang?" selidik Karina penasaran.


Bukannya menjawab Mitha hanya diam. Lalu menoleh ke arah Rega lagi. Dari tatapan matanya seolah berkata,


"Tolonglah, Ga. Cepat kasih penjelasan ke nyokap lo. Gue bukan Meella. Cepetan!"


Seakan mendengar suara hati Mitha, dengan segera Rega menarik pelan lengan Karina. Menyentuh lembut pipi wanita yang sudah melahirkannya ke dunia fana ini.


"Ma," Karina langsung mengalihkan pandangannya pada sang putra. Seakan baru tersadar dari alam mimpi.


"Rega?"


"Ma, dia bukan Meella."


Karina menatap intens mata Rega seakan mencari kebenaran dari sana. Namun dia tidak menemukan kebohongan di matanya. Bahkan keragu-raguan pun tidak ada. Kemudian beralih pada wajah gadis itu. Kepalanya mengangguk pelan mengiyakan pernyataan Rega.


Sontak Karina menepis tangannya sendiri dari wajah si gadis. Terkejut? Sudah pasti. Siapa juga yang tidak terkejut? Bila apa kita sudah meyakini sesuatu hal benar. Tapi kenyataannya salah.


Mitha terkesiap dengan perubahan sikap ibu mertuanya. Tapi dia tetap bisa memakluminya spontanitas wanita itu.

__ADS_1


"Hah?! Jadi?..."


"Iya, Ma. Ini Mitha, bukan Meella," ujar Rega menjelaskan, mengurai kesalahpahaman yang sempat terjadi seraya merangkul bahu Mitha.


Jujur saja Mitha paling tidak suka ada cowok yang sok akrab dengan merangkul bahunya. Mungkin bila tidak ingat status Rega sebagai suaminya, dan saat ini sedang di rumah ibu mertuanya, Mitha sudah membanting tubuh kekar dan tinggi milik Rega ala acara WWE, smackdown.


"Mitha?" Karina membeo seraya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Tatapan matanya tajam menelisik setiap inci tubuh gadis di depannya.


"Benar, Tante. Saya bukan Meella," kini giliran Mitha yang bersuara. Diam-diam dia menyingkirkan tangan Rega yang masih bertengger di atas bahunya.


Rega pun tersentak kaget. Refleks menyingkirkan tangannya sendiri dari tempatnya bertahta. Karena dia ingat, Mitha bukan tipikal cewek lembut. Pekerjaannya saja guru olahraga yang biasa diampu oleh guru laki-laki. Oleh sebab itu, dia bisa menebak bila terus berlama-lama seperti ini, Mitha akan berubah menjadi mode iblis. Dan dia tidak mau berakhir tragis seperti preman-preman tempo hari.


"Tapi... kenapa?" Karina sangat tergugu.


"Mereka kembar Ma. Sama seperti aku dan Garda," tukas Rega.


Karina hanya ber'Oh' ria saja. Terkesima melihat wajah Mitha yang benar-benar sama persis dengan wajah Meella.


"Rega, kenapa kamu bisa... maksudnya kalian berdua kenapa datang ke sini bersama?" wanita itu baru tersadar tentang tujuan kedatangan kedua pemuda berbeda jenis kelamin itu.


"Ma..."


"Tunggu, tunggu, Rega? Kamu gak ada maksud atau hubungan apa-apa sama dia, kan?" tanya Karina memotong ucapan Rega.


Karina menatap menelisik keduanya. Dia langsung merasakan ada sesuatu di antara mereka. Jika tidak, mana mungkin Rega mengajak Mitha datang ke rumahnya.


Hati Mitha mencelos. Ada titik-titik rasa yang menyembul dalam relung hatinya.


'Ha...eih... belum apa-apa udah ditolak!' bisik batinnya.


"Ma, dengar dulu penjelasanku," pinta Rega serius.


"Apa?"


"Ma, Mitha ini saudara kembarnya Meella."


"Iya, Mama sudah dengar tadi," sahutnya cepat.


"Mitha, istri aku. Kami udah menikah," tukas Rega cepat.


"Ah, a-apa?" Karina terkejut bukan main.


"Me-menikah?"

__ADS_1


__ADS_2