
Hai readers... maaf ya author telat update lagi. Karena author terlalu sedih sampai susah konsentrasi. Author bukan lagi patah hati karena putus cinta. Tapi karena salah satu orang tua author meninggal dunia.
Jangan lupa kasih author vote, like n komentar positif ya... untuk menghibur hati author yang sedih.
Happy reading...
************************************
Seorang cewek berseragam SMA dengan kacamata membingkai wajahnya, dan rambut yang dikuncir kuda duduk di salah satu bangku penonton paling depan. Sepasang netra hitamnya tidak lepas dari salah satu pemain bernomor punggung 19, atas nama Mitha.
Sesekali gadis itu tampak emosi, mengepalkan tangan sambil menghentakkan kaki ke lantai, ketika melihat permainan Qarmitha yang tampak kaku saat berlari kecil sambil mendribble bola melewati lawan. Dalam hati dia ingin berlari masuk lapangan menggantikan posisi pemain dengan nomor punggung 19 itu.
Mungkin para penonton lain akan memaklumi, karena tahu kondisi Qarmitha yang baru-baru ini mengalami cedera kaki. Mereka berharap kehadiran Qarmitha dibabak kedua ini, terpaksa pelatih meminta menggantikan posisi Desi yang dinilai performanya tidak memuaskan selama babak pertama, bisa merubah keadaan. Pasalnya selama babak pertama tim mereka jauh tertinggal dari tim lawan. Namun tidak dengan gadis itu yang tidak bisa diam memberikan arahan dari kursinya. Tidak peduli teriakannya akan merusak gendang telinga penonton lain. Dia terus saja mengoceh seperti kaset kusut.
"Bi," sapa seorang cowok mengusap puncak kepala cewek itu sayang. Lalu duduk di sisinya menampilkan senyum hangatnya.
Sontak cewek itu menoleh. Tersentak kaget nyaris terjatuh terjengkang ke belakang. Sambil merapikan kacamatanya yang miring, cewek itu langsung membenarkan posisi duduknya.
Busyet! Ini cowok udah kaya jelangkung aja, datang gak diundang tahu-tahu udah nongol aja di sini. Batin cewek itu berdecak kesal.
"Kamu kenapa, Bi, kok kaget gitu lihat saya?" tegurannya heran. Tidak lupa tangan kekarnya nangkring di atas bahu cewek itu tanpa permisi.
Cewek mendelik sebal seraya menyentak kasar tangan cowok tidak tahu sopan santun itu.
Ck! Gak ada akhlak banget nih cowok.
"Kamu kenapa Bi, kok kasar gini sih?" tanya cowok itu terheran-heran. Memasang raut wajah serius dengan satu alis terangkat. Namun hanya ditanggapi cuek oleh cewek itu.
__ADS_1
Kenapa sih bini gue mendadak dingin begini? Apa lagi ada masalah, atau... ada masalah baru lagi? Huft! Baru juga baikan, masa udah perang dingin lagi.
Di tengah lapangan masing-masing pemain saling berjibaku untuk memperoleh poin.
Gadis bernomor punggung 19 berkali-kali gagal mencetak poin. Decak kesal dan kata-kata umpatan terlontar begitu saja dari mulut pedas cewek berkacamata itu. Dia sangat gemas dengan permainan pemain nomor 19 yang dinilainya kurang greget.
Ya ampun Meella... kenapa sih elo jadi lemot gitu? Batin cewek itu, yang ternyata Qarmitha. Dia sengaja bertukar peran, memanfaatkan kemiripan fisik juga wajah yang memang kembar identik.
*
"Elo gak bisa gitu, Tha..."
"Ini demi nama baik sekolah kita, La..."
"Tetap aja Tha..., yang namanya curang gak baik. Dan gue gak mau!" tukas Qameella tidak setuju dengan pemikiran Qarmitha. "itu namanya penipuan."
"Gue gak mau, karena gue mau jadi orang yang curang."
"Masa bodoh! Pokoknya elo harus bantuin gue, dengan berpura-pura jadi gue. Titik!" Qarmitha tidak ingin dibantah. Demi ego dan obsesinya dia terpaksa menyuruh saudari kembarnya untuk menggantikan posisinya di tim basket sekolahnya.
Qameella tidak bisa menolak. Dia pun terpaksa mau dilatih Yasmin dan Maya untuk persiapan babak semifinal selama dua hari. Tentu saja secara diam-diam, agar tidak seorang pun yang tahu untuk melancarkan rencana mereka.
*
"Aduh, gimana nih, si Garda mulai agresif, impulsif dan posesif. Kalo si Meella sampe lihat, berabe!" gumam Qarmitha panik.
Gadis bernomor punggung 19, dengan nama Mitha, yang sebenarnya Qameella kembali mendapat kesempatan mendribble bola menuju keranjang yang menggantung di atas tiang. Namun aksinya dihadang lawan yang berusaha menggagalkannya. Padahal tinggal beberapa langkah lagi akan tiba di tempat yang dia tuju. Kemudian dia melihat Maya yang melambaikan tangan padanya di sudut kirinya, dan Yasmin berjaga di belakangnya. Tanpa pikir panjang langsung mengover-nya.
__ADS_1
Setelah itu dia bergerak mendekati tiang ring basket. Tentu saja dengan pengawasan yang ketat dari lawan.
Lagi-lagi penjagaan ketat didapatkan Maya hendak merebut bola dari tangannya. Dengan bola yang tidak pernah lolos dari dribble-annya, sepasang netranya terus mencari keberadaan teman satu timnya yang mampu menggantikannya mengendalikan bola.
Yasmin mendapat penjagaan ketat. Ririn dan Anggi tidak mendapat penjagaan ketat, namun Maya tidak ingin mengover-nya pada mereka berdua karena sudah sejak babak pertama, mereka tidak pernah berhasil mencetak poin, sekali pun tempat yang mereka pijak adalah tempat termudah untuk menciptakan poin. Tetap saja mereka selalu gagal.
Akhirnya Maya melihat Qameella yang mengenakan seragam milik Qarmitha, berada di posisi yang menguntungkan untuk mencetak poin. Dengan cepat dia melemparkan bola ke arah Qameella. Walaupun Qameella tidak semahir Qarmitha, tetapi kemampuannya bisa dibilang lumayan mumpuni.
Dalam sekali lempar Qameella mampu menangkap bola dengan cekatan. Lalu membalikkan badannya sambil mendribble bola. Berhubung ada beberapa orang dari tim lawan yang sudah bersiap merebut bola dari tangannya. Gadis yang kini tidak memakai kacamata minus, melainkan softlens agar benar-benar terlihat seperti Qarmitha, saudari kembarnya. Mengeluarkan jurus andalannya yang membuat semua orang tercengang. Dengan membawa bola Qameella melakukan Slam dunk.
Gerakan yang dilakukan Qameella terlihat seperti gerakan slow motion. Para penonton dibuat tercengang dan ketar-ketir sambil menahan napas menyaksikan aksi yang jarang dilakukan oleh pemain basket wanita. Bahkan ada yang sampai terbawa suasana, tanpa sadar berdiri dari tempat duduknya. Tanpa terkecuali Qarmitha dan Garda.
Qarmitha baru mengetahui ternyata saudari kembarnya, diam-diam jago basket seperti dirinya. Bedanya jika Qarmitha tersalurkan; Qameella tidak. Gadis itu lebih senang memendam bakatnya, dan tidak pernah menunjukkan kemampuannya pada siapa pun.
Sementara Garda yang belum menyadari posisi Qameella dan Qarmitha yang bertukar, tampak terhayut dan berdecak kagum memuji kepandaian pemain bernomor punggung 19.
Sorak sorai dan riuh suara tepuk tangan para penonton menggelar memecah keheningan, saat bola berhasil masuk ke dalam ring basket. Qameella berhasil mencetak satu poin.
Pelukan hangat Yasmin dan Maya langsung menyerbu Qameella, juga selebrasi yang dilakukan serentak bersama Ririn serta Anggi, merayakan keberhasilan tim mereka menambahkan poin.
Tanpa sengaja Qameella menoleh ke arah bangku penonton. Sepasang netranya menangkap dua sosok yang dikenalnya, Qarmitha dan Garda. Kedua orang itu sedang berdiri menatap ke arahnya. Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya.
Gue gak boleh cemburu dulu. Sekarang gue harus berjuang, supaya tim ini bisa menang. Batin Qameella berusaha berdamai dengan keadaan.
Pertandingan terus berlanjut hingga masuk babak terakhir. Poin demi poin terus meningkat dengan kerja keras dan kerja sama tim. Masing-masing tim berjibaku meraih poin demi poin agar bisa memenangkan pertandingan.
Tepat saat pertandingan di babak terakhir berakhir, poin yang diperoleh tim Qameella dan kawan-kawan masih memimpin beberapa poin di atas tim lawan. Secara otomatis tim Qameella dan kawan-kawan memenangkan pertandingan pada hari ini.
__ADS_1