
Happy reading
Garda tersenyum melihat kepergian Mitha. Ya, Garda sudah tahu jika wanita itu adalah saudara kembar istrinya. Meski pada awalnya dia sempat terkecoh dengan penampilannya. Tetapi dia bisa mengenali dari gestur dan cara bicaranya yang tidak selembut Meella.
Pak dokter. Heh, mentang-mentang punya suami dokter. Langsung saya panggilannya dengan sebutan Pak dokter. Emangnya gak punya panggilan lain yang lebih romantis? batin Garda mencemooh Mitha.
Garda tiba-tiba teringat sikap Meella saat masih SMA dulu. Ketika itu Meella merajuk dan minta putus darinya. Mungkin gadis itu lupa jika mereka sudah menikah. Jadi mana mungkin bisa putus begitu saja seperti orang pacaran. Aneh memang kadang-kadang istrinya itu.
Seperti awal pertemuan Garda dan Meella yang aneh. Dulu, mereka bertemu di tempat bahaya. Lalu dipaksa menikah setelah digerebek warga. Kini, setelah sekian lama keduanya terpisah. Dipertemukan kembali dengan insiden tidak terduga. Padahal saat masih diawal tahun menikah, Garda dan Meella selalu gagal melakukan making love.
Tetapi malah berhasil making love ketika Garda tidak ingat siapa Meella. Paling menakjubkan lagi perbuatan mereka itu membuahkan hasil. Walau Garda masih belum tahu jelas seputar kehamilan Meella. Tetap saja hal itu membuatnya bahagia.
Garda harus berterima kasih nih, sama orang yang sudah menjebaknya. Karena penjebakan itu dia berhasil mendapatkan haknya sebagai suami. Namun ada yang dia sesali setelah kejadian itu. Yaitu perbuatan jahatnya pada Meella. Menuduhnya dengan tuduhan tak berdasar. Kasihan Meella yang harus menderita akibat ulahnya.
Lain Garda lain pula dengan Bianca. Wanita itu tampak masih kesal dengan kedatangan wanita yang dianggapnya sinting. Karena lagi lagi mengacaukan mood baiknya. Dan sangat arogan sekali. Ditambah dia kecewa dengan orang suruhannya untuk mencelakai Meella. Tapi kenyataannya wanita itu baik-baik saja. Saking sangat baiknya sampai bisa menyindirnya dengan elegan.
Awas aja kau nanti Meella. Aku akan membuat kamu menyesal seumur hidup. Bahkan bisa membuat kamu menyesal karena telah dilahirkan ke dunia ini. Batin Bianca menyimpan dendam membara di sudut hatinya yang terdalam.
''Sayang, sumpah. Aku jadi penasaran deh sama tuh cewek,'' imbuh Bianca memicing ke arah Mitha pergi. Lalu memutar tubuhnya menghadap Garda.
''Kenapa ya setiap kali ketemu kamu, dia seakan-akan marah tapi pasrah. Maksud aku...,'' dia tampak berpikir menjeda ucapannya. Bertopang dagu kemudian mengetuknya dengan jari telunjuk kanannya.
''Ck. Bingungin banget pokoknya tuh cewek aneh,'' decaknya tidak bisa mendeskripsikan tentang gadis tadi.
Garda hanya diam memperhatikan wajah Bianca yang berubah-ubah ekspresinya.
''Sayang. Jujur deh sama aku sekarang. Sebenarnya kalian itu saling kenal gak sih? Aku ngerasa ada yang janggal dengan kalian berdua.''
''Kenapa? Kamu curiga sama aku?'' Garda balik bertanya dengan tatapan setajam elang. Dia sudah tidak sabar menyeret perempuan di depannya, ke tempat rahasianya. Membuat perhitungan atas apa yang telah diperbuat.
Garda menyeringai devil. Dan membuat bulu kuduk Bianca berdiri.
''Justru aku sedang mencurigai seseorang,'' pancingnya sengaja ingin melihat perubahan ekspresi wajah tunangannya.
''Kamu mencurigai seseorang?'' cicit Bianca mengulangi ucapan Garda.
''Siapa? Dan... kenapa?'' tanyanya agak takut.
Semoga aja Garda gak curiga sama aku. Pintanya penuh harap dalam hati.
''Karena orang itu sudah membuatku hampir celaka. Juga membuat sekretarisku terluka. Aku berjanji akan mencari orang itu sampai dapat. Akan kukejar terus walau dia bersembunyi di lubang semut sekali pun. Setelah ketemu aku akan menghabisinya sampai ke akar-akarnya bila perlu,'' jawabnya dengan sorot mata membunuhnya tanpa lepas dari wajah Bianca.
Garda menyeringai aneh dan terkesan menakutkan. Tidak seperti biasanya yang terlihat lembut. Bianca sampai merinding takut hingga kesulitan menelan salivanya sendiri. Juga khawatir bila sampai Garda tahu dialah dalang dibalik kecelakaan yang menimpa Meella.
Namun dia tidak pernah terpikirkan konsekuensi apa yang akan diterimanya, saat Garda tahu kedoknya sebagai pacar gadungan. Tetapi acara pertunangan mereka sungguhan. Ayo deh, jadi bingung ini!
*
Meella berjalan terpincang-pincang menuju pintu, setelah mendengar suara bel apartemen yang ditinggalinya berbunyi nyaring. Ingat ya hanya untuk ditinggali. Jadi Meella tidak besar kepala mengakui milik orang lain menjadi miliknya sendiri.
"Tadaaaa..." Mitha berdiri sedikit merentangkan kedua tangannya. Karena kerepotan dengan dua kantong belanja di tangan kirinya. Serta plastik bertuliskan toko bakery ditentengnya di kanan sebelah kanannya.
''Nih, gue beli makanan banyak biar kita berdua bisa mukbang. Gue udah beliin elo brownies kukus kesukaan elo.''
__ADS_1
Wajah Meella langsung berpendar ceria dengan senyum sumringah. Dengan cepat menghambur memeluk perempuan yang sembilan puluh sembilan persen mirip sekali dengannya.
''Gue kangen banget sama elo,'' ujarnya lirih mengelus lembut bahu saudara kembarnya.
''Gue juga...,'' jawab Mitha dengan nada suara yang sama.
Kemudian keduanya saling mengurai pelukan. Saling menatap satu sama lain dengan tatapan sendu. Kedua tangan mereka masih belum saling melepaskan. Setitik air mata jatuh dari sudut mata masing-masing.
''Kaki lo masih sakit?'' tegur Mitha khawatir melihat kaki saudara kembarnya diperban. Saat ini mereka sudah duduk bersisian di sofa. Mitha sudah tahu kondisi Meella dari sebelumnya, setelah obrolan via telepon kemarin.
Meella mengikuti arah pandang Mitha.
''Sedikit,'' sahut Meella pelan. Dia tersenyum ingin memberi tahu semuanya akan baik-baik saja.
''Gimana rumah tangga kalian. Apakah baik-baik aja?'' gantian Meella yang menegur kondisi pernikahan saudara kembarnya.
Mitha menatap wajah perempuan di sampingnya, sudah seperti sedang bercermin. Menunjukkan mimik wajah yang tidak dapat Meella tebak. Antara sedih dan senang bersamaan. Lalu dia mengalihkan pandangannya pada ujung sepatu yang dipakainya.
''Elo masih baik-baik aja kan sama suami lo?'' Meella makin penasaran.
Mitha mendengus panjang. Bibirnya masih terkatup rapat. Seolah berat sekali mengeluarkan kata-kata.
''Tha...'' suara lembut Meella bersamaan dengan sentuhan lembut di punggung tangannya.
''Gue...''
''Jangan bilang elo udah resmi bercerai,'' Meella asal menebak saja. Karena dia ingat surat cerai yang diberikan Garda. Di dalam surat cerai itu tertera nama Mitha sebagai penggugat. Dan Rega sebagai tergugat.
Dari mana saudara kembarnya itu tahu tentang perceraiannya. Pasalnya yang tahu masalah perceraiannya dengan Rega hanya ketiga sahabatnya. Masa sih Yasmin tega membongkar rahasianya pada Meella.
"Elo dari mana tahu soal per..."
"Tentu aja gue tahu," sahut Meella sarkas. Lalu bangkit berdiri dari duduknya.
"Elo mau kemana?" Mitha mendongakkan wajahnya bertanya.
"Ke kamar," jawab Meella singkat.
Tidak tega melihat Meella bangun kepayahan, berjalan tertatih dan pincang. Buru-buru Mitha bangkit dan memapahnya berjalan. Mengikuti ke mana arah langkahnya.
Meella memutar handle pintu kamarnya dengan tangan kirinya. Membukanya lebar agar dia dan Mitha bisa masuk bersamaan. Keduanya kini duduk bersama di pinggir kasur.
Mitha menerima amplop yang sangat dikenalnya dari Meella. Baru saja diambil dari dalam lemari pakaian Meella.
"In-ini gimana bisa ..." dia tergagap dengan tatapan penuh tanya.
''Ada orang yang kasihin ke gue,'' sahut Meella tegas. Tatapan matanya tajam penuh rasa penasaran yang tinggi.
''Kenapa sih, Tha... Elo pake acara kaya gitu? Seharusnya elo jalanin aja dengan nyaman. Toh, elo gak kenapa-napa kaya gue. Elo harusnya bersyukur udah dapet suami sebaik Rega. Elo jaga rumah tangga Lo dengan baik,'' Meella memberi nasihat bijaknya.
''Apa yang gue jalanin gak segampang yang elo omongin, La...,'' sanggah Mitha.
''Elo pikir gampang jalanin rumah tangga tanpa perasaan cinta?'' Mitha balik bertanya.
__ADS_1
''Kenapa gak? Kalo elo mau belajar membuka hati buat Rega gue rasa gak masalah,'' Meella mendebat dengan hasil pemikirannya sendiri.
''Dan gue rasa Rega juga bisa belajar mencintai elo. Buktinya dia mau nikahin elo. Yah... walau gue gak tahu apa alasan dia mau melakukan hal itu.''
''Tha, elo itu anak kesayangan Ayah. Masa sih elo gak mikir gimana sedihnya Ayah kalo elo sampai cerai dari Rega. Cukup Ayah terluka karena pernikahan elo sama si Dicky gagal. Juga karena gue. Gue yang dari dulu gak bisa bikin bangga Ayah atau siapa pun. Biar cuma gue aja yang begini. Elo gak usah...,'' air matanya jatuh tak terkira. Hatinya luka bila mengingat dirinya yang tidak pernah beruntung mendapatkan kasih sayang Gusti. Dan pedih dengan hubungan asmaranya yang tidak pernah happy ending.
Mitha tergugah dan sedikit merasa bersalah mendengar penuturan saudara kembarnya. Air matanya juga ikut jatuh membasahi pipinya.
''Tapi, La... gue gak bisa...''
''Bisa! Elo pasti bisa!'' potong Meella cepat. Dengan kasar dia menyeka air matanya menggunakan telapak tangan.
''Elo gak bisa karena elo belum mencoba. Gue tahu Rega adalah orang yang baik. Dia gak pernah neko-neko dengan perempuan. Semoga aja dia akan selalu komit sama pernikahan kalian berdua,'' Meella memberi motivasi pada saudara kembarnya. Semoga saja dia terpengaruh dengan ucapannya.
''La... apa mungkin gue bisa?''
''Kenapa gak? Elo pasti bisa!''
''Tapi gue bukan tipe cewek yang dia inginin. Nyokapnya juga udah nyiapin perempuan yang lebih cantik dan lebih segalanya dari gue. Perempuan itu lebih pantas bersanding sama Rega. Ketimbang gue... gue ngerasa jomplang berpasangan sama Rega yang udah mirip k-pop idol.''
Meella terkekeh kecil.
''Gue cuma bisa bilang PD.''
''Hah? Pd? PD gimana maksudnya?''
''Ya, PD. Yakin aja elo bisa jadi pasangan yang terbaik buat Rega. Masa elo mau kalah sama pelakor?'' ejek Meella sengaja memanasi. Dia tahu jika Mitha tipe orang yang tidak mudah dan tidak mau dikalahkan oleh siapa pun.
''Jangan bilang tapi lagi, Tha...,'' sambarnya saat Mitha ingin mengatakan sesuatu.
Mitha langsung memeluk tubuh ringkih Meella. Dia menangis sejadi-jadinya. Sangat bersyukur dalam kondisi yang kurang baik, saudara kembarnya masih memberikan nasihat bijak padanya. Dia yang selalu berpikir untuk mengakhiri pernikahannya dengan perceraian.
''Hmm... ngomong-ngomong, semalam elo sama Rega abis berapa ronde semalam?'' tanya Meella ragu juga tiba-tiba. Dia sedang berusaha menahan tawanya.
Mitha mendongakkan wajahnya yang berada di ceruk leher Meella. Terkejut sekaligus heran dengan pertanyaan ambigu dari kakaknya.
''Hh? Maksudnya?'' tanyanya tidak mengerti.
''Itu, ada banyak totol-totol merah di leher lo. Heh, udah kaya macan tutul aja lo,'' tunjuk Meella ke arah leher Mitha yang sontak disentuh oleh si empunya.
Mitha segera menegakkan tubuhnya setelah melepas pelukannya. Memeriksa lehernya di depan cermin yang ada di dalam kamar Meella. Dan... benar kata Meella. Ada begitu banyak tanda bekas ****** di sekitar leher bahkan di bagian atas dadanya.
Sialan si Rega! Bikin malu aja. Batin Mitha merutuki suaminya.
Mitha baru ingat. Semalam Rega pulang terlambat. Tapi pria itu tidak melewatkan kesenangannya. Tidak peduli kondisi Mitha yang ngantuk berat. Tidak urung menuntaskan hasratnya yang menggebu. Juga meninggalkan jejak-jejak merah di area sekitar leher dan dada.
Mitha tersenyum canggung dan cengengesan di depan Meella. Yang ditanggapi hanya dengan gelengan kepala.
***
Hai readers... maaf baru menyapa lagi dengan episode baru.
Jangan lupa tinggalkan jejak cantik kalian di kolam komentar. See you next episode 😘🥰🙏
__ADS_1