Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#107


__ADS_3

Happy reading di episode terakhir ya...


"Kenapa kamu masih belum menjawab pertanyaan aku?" desak Mitha tampak tidak sabar menunggu kejujuran Rega.


"Tinggal jelasin doang. Gak pake rumus rumit kaya matematika atau fisika."


Rega mendengus kasar menatap datar sang istri. Dia bisa menangkap aroma kecemburuan yang pekat. Melepaskan sendok di tangannya.


"Kamu harus sembuh, jangan Bebani pikiranmu dengan pikiran aneh-aneh," bukan jawaban yang diinginkan Mitha. Tetapi lebih baik mengucapkan kalimat bijak seperti ini, dari pada mengatakan hal aneh yang bisa saja membuat Mitha luka batin. Pikir Rega.


"Aku gak lagi minta nasihat. Aku butuh jawaban kamu atas pertanyaan aku. Lagi pula aku tahu kok apa yang harus aku lakukan. Aku bukan anak ingusan yang harus diingetin ini itu. Emang kenapa sih kamu gak jujur aja," desak Mitha. Lalu menghela perlahan dan sedikit panjang.


"Jika kamu mencintai Meella, aku rasa itu lebih baik," gumaman yang dapat didengar dengan baik oleh Rega. Membuat pria itu mengeritingkan alisnya.


"Apa maksudmu?" Rega menuntut penjelasan.


"Iya, lebih baik. Dari pada sama aku yang gak ada rasa sama sekali. Apalagi sekarang aku udah gak sempurna. Ah, maksud aku sebagai seorang perempuan juga seorang istri, aku udah gak sempurna karena rahim aku udah rusak. Aku gak bisa kasih kamu anak," Mitha begitu emosional mengungkapkan perasaannya yang begitu campur aduk.


"Aku pikir, jika kamu nikah sama Meella itu lebih baik. Dia lebih sempurna," tekannya.


Rega mendongakkan wajahnya. Menatap serius wajah wanita yang sudah beberapa bulan ia nikahi. Hatinya mencelos, sedih, marah dan... entah lah. Semuanya berbaur menjadi satu. Jika dia bukan warga yang taat hukum. Maka sudah sejak awal dia membunuh wanita laknat itu.


Dalam hati Rega ingin sekali mengumpat, dan meninju apa saja yang bisa ditinju. Namun dia tidak bisa melakukannya di sini. Lagi pula dia bukan tipe lelaki yang mudah meledak-ledak. Dia masih bisa mengendalikan emosi dengan baik.


"Sepertinya kamu harus lebih banyak lagi belajar dan memperbaiki orientasi berpikir kamu tentang pernikahan. Walau bagaimanapun bagiku, kebahagiaan suatu pernikahan tidak akan selalu dengan ada atau tidak adanya keturunan. Karena kenyataannya tidak sedikit pasangan suami istri yang sudah dikaruniai anak malah berakhir dengan perceraian," wajah Rega menyendu saat mengungkapkan kalimat terakhirnya. Tersirat luka hati yang membekas dalam dan mudah untuk disembuhkan di sorot mata teduhnya.


Mitha hanya menatap dalam diam. Dan tidak mampu mencegah saat Rega tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkannya sendiri.


*


Berita tentang penahanan Bianca terus bergulir, disebarkan melalui berita televisi hingga media sosial. Sebagian besar netizen menghujatnya dengan berbagai macam makian. Karier yang dirintis susah payah sejak usia muda berakhir dengan begitu mudah. Perusahaan orang tuanya pun terancam bangkrut akibat ulah Bianca.


Garda pun tampak tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Bianca, mantan tunangannya. Dia hanya sibuk mencari keberadaan belahan jiwanya yang telah pergi entah kemana.


Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan sudah berbulan-bulan, usaha Garda mencari keberadaan Meella belum juga ada perkembangan. Padahal semua orang suruhannya, termasuk para anggota geng ABABIL ikut turun tangan.


Kota yang menjadi tujuan kepergian wanitanya pun sudah dijelajahi. Namun hasilnya tetap saja nihil. Tentu Garda saat ini sudah tahu, berkat informasi Ryan Keling dan kawan-kawan. Serta keterlibatan Rega yang bisa dikatakan membantu pelarian Meella. Hingga sempat terjadi perkelahian antara sepasang anak kembar itu, Garda dan Rega untuk pertama kalinya. Lantaran Garda tidak terima Rega ikut campur dalam urusan pribadinya. Sedangkan dia tidak pernah mau ikut campur urusan rumah tangga saudara kembarnya dengan Mitha.


Demi mencari keberadaan Meella, Garda rela meninggalkan semua kemewahan dan kedudukan yang mumpuni. Dia pun memilih mengabaikan Andika. Orang yang selalu mendikte hidupnya. Orang yang paling obsesi memisahkannya dengan wanita paling dicintai.


"Bi, sebenarnya kamu dimana?" tanyanya lirih menatap luar jendela. Lalu meninju pelan kayu kusen jendela di depannya, dan membiarkan tetap melekat di sana.


"Saya udah cari kamu kemana-mana. Tapi sampai detik ini saya belum bisa menemukan kamu," Garda kian mengeratkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih.

__ADS_1


*


"Bagaimana perkembangan di sana?" tanya Andika mengacu pada perkembangan Garda dalam mencari Meella. Wajahnya datar tanpa menoleh pada orang yang sedang ditanya. Tangannya sibuk memberikan goresan pada berkas yang membutuhkan tanda tangannya.


"Masih belum, tuan," jawab orang yang ditanya. "bos Pandega dan teman-temannya sedang berupaya mencari keberadaan Meella."


"Hm."


"Maaf tuan jika saya lancang," pemuda yang tidak lain adalah Dandi itu, dengan sopan meminta maaf dan izin membuka suara. "tidak kah tuan membiarkan bos Pandega dan Meella bersatu? Mereka berdua sudah banyak menderita. Semua rintangan yang menghalangi cinta mereka, sudah merasa lalui dengan penuh luka dan air mata. Cinta mereka sangat besar dan kuat. Juga tulus. Terutama Meella. Gadis itu begitu tangguh menjaga cinta dan kesetiaannya hanya untuk bos Pandega," Dandi menjeda ucapannya seraya mengatur nafas, serta menata emosi agar jangan sampai terbawa suasana.


Andika mendongakkan wajahnya. Menyipitkan matanya dibarengi tatapan tidak suka dengan apa yang baru saja diungkapkan mantan asisten Garda. Saat ini status Dandi bukan lagi asisten, sejak Garda memutuskan pergi mencari Meella. Dan memutuskan segala bentuk hubungan pada Andika.


Andika menyandarkan bahunya pada sandaran singgasananya. Kemudian membebaskan tangannya sendiri dari berkas dan pulpen yang baru saja digunakannya.


"Dan semuanya bukan sekedar isapan jempol semata. Tapi fakta, tuan. Saking cintanya pada bos Pandega dia rela mengorbankan masa depannya. Selain itu dia juga bersedia menuruti ucapan tuan agar pergi dari hidup bos Pandega. Akhirnya, dengan berpura-pura menggugurkan kandungannya, Meella berhasil meninggalkan bos Pandega."


"Kau anak baru kemarin sore. Berani sekali menggurui aku?" geram Andika tidak terima semua pernyataan, dan fakta yang tentu saja sudah ia ketahui tanpa diberitahu anak bau kencur di depannya itu.


"Bukan maksud saya seperti itu, tuan. Saya hanya ingin kemurahan hati tuan agar membiarkan bos Pandega dan Meella bersatu. Saya ingin mereka berdua bahagia layaknya pasangan pada umumnya. Tidak kah tuan tergugah dengan cinta sejati yang mereka miliki?" Dandi sengaja mengakhiri kalimatnya dengan pertanyaan. Tentu saja membuat Andika tidak bisa berkutik.


"Kamu tidak takut aku pecat karena kamu sudah kurang ajar, yang sok menasehati aku?" gertak Andika.


"Tentu saya tidak takut tuan. Bahkan saya sudah menyiapkan surat pengunduran diri saya," sanggahnya dengan berani. Lalu maju ke depan menganggur amplop berwarna putih di atas meja kerja Andika.


Setelah kepergian Dandi dari ruang kerjanya, Andika termenung mengingat semua kejahatan yang sudah dilakukan pada Garda dan Meella. Sepasang suami istri yang sudah menjalin hubungan sejak usia belia.


Andika selalu menutup mata atas penderitaan yang mereka alami. Bahkan dia tidak segan memanipulasi kematian Garda. Juga merubah identitas putra kesayangannya. Menjodohkan dengan perempuan gila harta seperti Bianca.


Pria tua itu menghela napas panjang. Seakan ingin melepas beban yang seakan menghimpit dadanya.


*


Meella melayani pembelian yang singgah di rumah makan sederhana miliknya. Menyajikan makanan khas Indonesia dengan harga yang sangat merakyat. Dan nikmat menggoyang lidah. Maka tak heran jika banyak orang yang selalu balik lagi untuk menikmati menu-menu yang tersedia di sana.


Meella sengaja membuka rumah makan ini, karena kondisinya yang sudah tidak memungkinkan untuk terus bekerja di perusahaan. Selain tidak terdeteksi orang-orang suruhan Andika. Juga perutnya yang kian membesar menjelang melahirkan. Kini sudah menginjak usia kandungan hampir sembilan bulan.


Dengan kondisi demikian membuat gerak dan tenaga Meella terbatas pasalnya mudah lelah. Untunglah dalam mengelola bisnis kuliner yang baru digeluti hampir tujuh bulan terakhir, Meella dibantu oleh dua orang tetangga dekat rumah tinggalnya. Rumah Meella pun tidak jauh dari tempat usahanya. Karena memanfaatkan pekarangan rumahnya yang lumayan luas. Kemudian dibangun bangunan sederhana menggunakan material dari kayu dan bambu. Dengan begitu mempermudah mobilisasi antara rumah pribadi dengan tempat usahanya.


Di saat jam makan siang seperti ini, rumah makan Meella akan dipadati oleh pelanggan. Biasanya bagi yang sabar,mereka akan menunggu meja kosong. Namun bagi yang tidak sabaran mereka akan memesan dan membawanya pulang.


Tiba-tiba sebuah mobil Ferrari hitam terparkir apik tidak jauh dari rumah makan milik Meella. Matanya pun membeliak kaget saat melihat sosok yang baru saja keluar dari kendaraan beroda empat itu.


Garda?

__ADS_1


Ah, gak mungkin. Selama ini gak ada siapapun yang tahu keberadaannya. Kecuali Rega. Itu pun dia tahu jika Meella tinggal di Jogja. Karena Meella tidak benar-benar memberikan informasi lengkap tentang keberadaannya pada kembaran Garda itu.


Sekarang Meella memang bukan tinggal di Jogja seperti yang pernah diucapkan oleh Rega. Melainkan di salah satu wilayah yang terletak di kota Solo.


Tapi mengapa sekarang...


Pria berkacamata hitam itu seperti biasa selalu tampak tampan dan gagah, dengan tubuh kekar juga ramping itu sudah berdiri di depan Meella. Wanita dengan perut besar itu berdiri terpaku menatapnya. Sebuah baki persegi panjang masih dalam pelukannya setelah sebelumnya mengantarkan makanan untuk pelanggan.


Meella berjalan pelan menghampiri pria itu, bermaksud untuk menyapa. Sebagaimana dia menyapa dan menyambut pelanggan yang lainnya. Walau dalam pikirannya sedang berperang menebak pria itu, antara Rega atau Garda.


"Selamat..."


Senyum Meella perlahan memudar kala si pria membuka kacamata hitamnya. Dia tergugu kala tatapannya bertemu juga saling mengunci satu sama lain. Entah hanya perasaannya saja atau bagaimana, Meella menangkap pendar kesedihan dan kerinduan yang tersirat bersamaan di mata si pria. Hingga sepasang netranya memerah dan berair. Namun tidak ada raut keterkejutan di sana. Mungkin Rega sudah menceritakan semua rangkaian drama aborsi palsunya pada si pria.


"Bi...," suaranya lirih namun terdengar jelas di telinga Meella. Sontak dia terkesiap, segera menyadari jika orang yang sedang berdiri di depannya adalah Garda.


Buru-buru Meella memutar tubuhnya hendak lari dari hadapan pria yang paling tidak ingin ditemuinya. Tetapi sangat dirindukan di siang dan malamnya.


Langkah kaki Meella bergerak cepat meninggalkan tempatnya berdiri. Sayangnya dia lupa jika geraknya terbatas. Tentu sulit melarikan diri dengan perut besarnya. Serta kondisi ruang gerak yang terbatas karena memang rumah makannya tidak seberapa besar. Oleh sebab itu, baru beberapa langkah kakinya berlari mendadak tertahan juga tidak bisa maju lagi. Ketika dengan cepat Garda meraih pinggang yang tidak lagi ramping itu dalam dekapannya.


"Tolong, jangan pergi lagi. Saya mohon, Bi...," pintanya mengiba. Membenamkan wajahnya di pundak Meella.


Meella hanya diam dengan air mata yang terus merangsek keluar dari pelupuk matanya.


Semua pasang mata para pelanggan yang menikmati makan siang mereka langsung mengalihkan perhatiannya pada sepasang suami-istri muda itu. Eh, masih suami istri gak, ya? Author kok jadi keder ya, hihihi...


Meella berusaha memberontak, menepis dekapan Garda yang terasa membelenggunya. Selain itu dia juga malu menjadi pusat perhatian para pelanggannya.


Garda melonggarkan pelukannya seakan mengerti perasaan Meella. Dia pun membawa tubuh Meella menjauh dari keramaian itu. Lalu memutar tubuh Meella agar bisa saling berhadapan dengannya. Tanpa ba-bi-bu dan tidak tahu malu, Garda langsung mencium bibir ranum Meella lembut.


"Saya sangat merindukan kamu, Bi... jangan pergi lagi apa pun alasannya. Kita akan bersama untuk selamanya. Menua bersama. Hingga maut memisahkan kita. I love you my Bini," Garda berusaha meyakinkan perasaannya pada belahan jiwanya setelah melepas ciumannya.


Meella masih tertegun dengan serangan mendadak yang baru saja didapat.


"Kamu jangan takut. Apa pun yang terjadi kita akan hidup bahagia selamanya. Jangan takutkan apa pun. Semuanya akan baik-baik saja selama cinta kita tetap bersatu," tandasnya seakan tahu isi kepala Meella yang masih mengkhawatirkan tindakan gila Andika. Karena sebelum keberangkatannya ke tempat ini Andika sudah merestui hubungannya dengan Meella. Juga sudah berjanji tidak akan pernah ikut campur dalam urusan cintanya lagi.


Meella mengangguk lemah dengan air mata yang mengalir deras. Hatinya berbunga dan terharu secara bersamaan. Akhirnya, setelah sekian lama menderita, terbit kebahagiaan dalam hidupnya. Bukan hanya satu melainkan berlipat-lipat dengan adanya si kembar di dalam rahimnya.


Garda dan Meella kembali berpelukan meluapkan rasa yang selama ini terpendam dalam hati masing-masing. Hingga entah siapa yang memulai duluan, keduanya larut dalam ciuman yang memabukkan.


*


Hai readers... akhirnya author berhasil menamatkan novel ini. Walau pun ending mungkin kurang memuaskan. Insyaallah setelah ini akan ada part extra sebagai pelengkap cerita ini.

__ADS_1


See you next my other story again. Bye... 😘🥰❤️🙏


__ADS_2