
Hai… para readersku yang baik hati dan budiman…
Apa kabar dunia??? Mohon maaf ya, bagi para readers yang meminta crazy up. Untuk saat ini author belum bisa. Tapi author sedang berusaha konsisten update tiap hari (mudah-mudahan, hehehe...) mengingat pekerjaan author di dunia nyata yang masih belum rampung.
Jangan lupa untuk selalu vote, like n komentar positif para readers yang budiman, supaya author bisa selalu semangat '45 update.
Happy reading ya…
*****************************
Satu minggu telah berlalu. Pekan olahraga tahunan antar sekolah tingkat SMA se-kota Bekasi sudah berakhir. Semua atribut yang berhubungan dengan turnamen sudah tidak lagi tampak terlihat. Kegiatan belajar mengajar sudah berjalan normal seperti sedia kala. Semua murid belajar di kelas masing-masing dengan tertib. Trofi kemenangan dan menjadi kebanggaan setinggi dua meter pun, telah terpajang apik di dalam rak etalase kaca di depan kantor SMAN I, sekolah tempat Qameella menimba ilmu. Sebagai tanda kemenangan yang telah diraih Qarmitha dan kawan-kawan berhasil menyabet gelar juara pertama dalam turnamen basket. Namun sayang, untuk tahun ini sekolah Qameella belum beruntung meraih gelar juara umum.
Dering bel panjang terdengar nyaring membahana seantero sekolah. Menandakan jam belajar mengajar telah berakhir. Semua murid langsung meninggalkan kelas masing-masing. Seakan mereka sudah tidak betah lagi
berlama-lama berada di dalam sekolah. Maklumlah mereka sudah menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk belajar di sekolah. Jadi, wajarlah jika mereka ingin segera kabur dan pulang ke rumah masing-masing. Atau bahkan ada di antara mereka yang sengaja mencari tempat nongkrong seperti pergi ke kafe, dan tempat sejenisnya untuk merefresh dan mendinginkan otak mereka yang terasa sudah ngebul akibat belajar seharian di sekolah.
Hari ini Qameella pulang sendiri. Tari sudah dua hari tidak masuk sekolah. Menurut kabar sahabatnya itu sedang sakit. Tapi entah sakit apa, Qameella belum tahu. Baru nanti sore dia berencana datang menjenguk ke rumah Tari. Sedangkan Qarmitha lebih senang pulang bersama teman-temannya. Yasmin, Sarah, dan Amelia.
Qameella menunggu jemputan di depan pintu gerbang sekolahnya. Dan orang yang menjemputnya sangat spesial. Saking spesialnya gadis itu tidak berani berpaling pada yang lain. Dia juga sangat menjaga perilakunya agar tidak kena marah.
Tetapi yang menjemputnya kali ini bukan Garda. Sejak Qameella memutuskan hubungan dengan cowok itu, mereka tidak lagi saling kontak atau bertemu. Seingat Qameella terakhir bertemu Garda adalah saat pertandingan final. Ketika dia terpaksa datang memberi semangat untuk cowok ajaib bin aneh itu.
Sementara Rega, Qameella tidak pernah berhubungan serius dengan cowok fotokopiannya Garda. Karena sejak awal mereka tidak pernah punya hubungan spesial. Kalau pun ada perasaan, hanya Qameella sendiri yang punya rasa. Dan sangat disayangkan juga bisa dibilang ngenes, lantaran rasa suka Qameella hanya bertepuk sebelah tangan.
Bagaimana tidak, Qameella tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Rega. Karena bagaimanapun Qameella adalah seorang cewek yang menganut budaya timur. Memungkinkannya hanya bisa memendam rasa sambil menunggu sang pujaan hati menyatakan cinta padanya. Sayangnya apa yang diharapkannya belum terjadi sampai saat ini. Atau mungkin bahkan tidak sama sekali.
Karena hingga detik ini Rega tidak pernah menunjukkan adanya sinyal-sinyal cinta pada Qameella. Parahnya lagi, hampir satu Minggu belakangan ini tersebar kabar tentang kedekatan Rega dengan Renita, murid cantik dan cerdas dari kelas akselerasi. Keduanya memang terlihat lebih cocok ketimbang dengan Qameella, si kutu buku yang memiliki IQ standar-standar saja.
Sebelum sepeda motor Qameella yang dikendarai Gusti, setelah keluar dari bengkel melakukan servis bulanan dan ganti oli rutin. Qameella melihat Rega dan Renita jalan berdampingan menuju mobil yang biasa mengantar jemput Rega, yang sudah terparkir sempurna di sisi jalan raya depan sekolah.
Hati Qameella tergelitik antara sedih dan senang. Sedih karena cintanya hanya menguap begitu saja tertiup angin. Asanya pupus tidak berani berharap. Dia tidak mau menjadi orang ketiga yang arogan dan merebut cinta juga kebahagiaan orang lain. Selain itu terselip sesal di hatinya. Telah melepas cinta Garda yang jelas dan nyata hanya untuknya.
Qameella selalu senang bila melihat orang yang disukainya bahagia. Walaupun dirinya bukan bagian sumber kebahagiaan mereka. Dia sangat ikhlas dan tulus. Kemudian Qameella menatap sisi jalan di seberang dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
Biasanya di sana lah Garda selalu berada, menantikannya dengan sabar. Cowok itu selalu datang menjemputnya tanpa pamrih. Yah, Garda selama ini memang tulus padanya. Tidak pernah menuntut apa-apa. Hanya minta ditemani makan, itu pun selalu Garda yang membayar tagihan makanan mereka. Dan ngobrol seputar kesehariannya.
Hufth! Gue jadi kangen sama dia!
Di sisi lain jalan raya dekat sekolah. Ada sebuah mobil sport hitam terparkir apik. Entah sejak kapan sudah berada di sana, tidak ada yang memperhatikan.
Tanpa seorang pun yang tahu. Jika dua orang yang ada di dalam mobil itu adalah Garda dan Ryan. Tidak perlu ditebak karena pasti semua orang sudah tahu maksud dan tujuan keberadaan mereka berdua di sana. Tidak lain dan tidak bukan untuk melihat Qameella.
"Lo ngapain sih kaya gini? Kenapa lo gak samperin aja orangnya langsung. Noh, mumpung dia masih stay sendirian." Ryan terpaksa ambil suara, geram melihat sikap Garda yang mendadak ciut tidak jelas seperti saat ini.
"Berisik lo!" sungut Garda melirik Ryan sekilas. Lalu kembali menatap gadis itu dari balik kaca depan mobil.
"Aneh lo," gumam Ryan pelan namun masih dapat didengar jelas oleh Garda.
"Ck!" Garda hanya berdecak.
"Mau sampai kapan terus-terusan begini? Kalo elo gak rela diputusin sama doi, ngomong aja to the point aja sih. Elo gak perlu jadi cemen kaya gini," keluh cowok berkulit sawo matang itu.
"Elo kenapa sih Keling, jadi orang berisik banget. Bisa gak sih lo diam dikit, gak pake rese?" Garda balik mengeluhkan sikap Ryan.
"Bodo amat!"
"Haih, dasar bucin lo!"
Garda tidak mau terpengaruh dengan ucapan Ryan. Hanya melirik dengan tatapan sebal.
"Dari pada kaya gini mending elo move on aja dari dia yang udah jelas-jelas nolak elo. Mending elo pacarin aja noh, si Fiola. Gue yakin dia sebenarnya ngebet banget pengen jadi cewek lo."
"Fiola? hehe..." Garda tertawa sumbang. "gak bakal gue pacarin dia. Bagi gue dia cuma teman, sahabat gak lebih."
Ryan menghela napas panjang.
"Tapi buat Meella, gue nggak bisa move on. Dan gak bakalan move on dari dia."
__ADS_1
"Tapi, dia udah nolak elo bro! Dimana harga diri lo? Setahu gue, elo gak pernah mau digini'in sama cewek mana pun."
"Hei Keling!" Garda merubah posisi duduknya menghadap Ryan. Sontak Ryan menatapnya.
"Meella itu bini gue. Istri gue. Gue dan dia akan selalu menjadi pasangan selama-lamanya, selama gue nggak nyerein dia."
"Tapi kan..."
"Tapi, tapi, tapi mulu lo yang gue denger dari tadi. Emang gak ada kata lain apa? Sampai bosen gue dengernya."
Ryan mendengus kasar sambil memanyunkan bibirnya tiga senti ke depan.
"Sekali lagi gue bilang sama elo. Hubungan gue sama Meella adalah hubungan suami-istri. Bukan sekedar pacaran biasa yang langsung berakhir cuma bilang putus," tutur Garda penuh penekanan.
"Gue gak bakalan lepasin Meella sampai kapan pun."
"Humph... suka-suka lo aja dah. Gue no komen aja."
Tidak lama berselang seorang laki-laki paruh baya, mengendarai sepeda motor lengkap menggunakan helm menepikan kendaraannya tepat di depan Qameella. Kemudian menyodorkan helm pada gadis itu, yang langsung dipakainya. Setelah itu duduk di jok belakang.
"Eh, bro. Siapa tuh bapak-bapak yang ngasih helm ke Meella?" tanya Ryan heran.
"Oh, itu bokapnya Meella. Bokap mertua gue," sahut Garda santai.
"What?!"
"Biasa aja kali, gak pake lebay!"
Ryan hanya diam.
"Ngapain lo jadi diam? Ayo, kita pulang, bini gue udah aman dijemput sama bokap mertua gue."
"Ayo jalan!" seru Garda saat Ryan masih bergeming di depan stir kemudi.
__ADS_1
Dengan tidak bersemangat Ryan menghidupkan mesin mobilnya, lalu bergerak meninggalkan tempat parkirnya dengan kecepatan sedang.