Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Ujian Cinta (Part 2)


__ADS_3

OMG! Tubuh Qameella dan Garda menyisakan menyisakan beberapa sentimeter. Gadis itu tidak bisa bergerak lagi. Garda mengunci pergerakannya dengan berada di atas tubuhnya. Telapak tangannya menjadi tumpuan menopang tubuh kekarnya agar tidak langsung menindih tubuh istrinya.


"Garda... tolong jangan..."pintanya mengiba dengan diiringi bulir bening menetes dari sudut matanya.


"Hahaha...." Garda terkekeh geli melihat ekspresi ketakutan Qameella. Lalu menggulingkan tubuhnya ke samping. Membaringkan tubuhnya di sisi Qameella.


Qameella tercengang, mengernyit heran. Serta kebingungan apa yang sedang terjadi pada Garda. Sebentar romantis. Setelahnya serius. Sekejap tertawa terbahak bahak seperti saat ini.


Dasar rese! Bikin jantungan aja!


Qameella mendengus kasar sambil membiarkan tubuhnya yang menegang terbaring. Itung-itung melemaskan syaraf-syarafnya yang juga ikutan tegang. Lama-lama dia ikut terkekeh menertawakan kebodohannya. Pikirannya tadi sempat aneh-aneh karena ulah kejahilan Garda.


Kini sepasang suami istri remaja itu berbaring bersisian. Wajah mereka kompak menengadah menatap plafon kamar berwarna putih tulang. Ada beberapa lampu yang terdapat di sana agar ruangan ini menjadi terang. Ruang kamar yang didominasi warna abu tua dan putih polos membuat kesan elegan. Kamar yang terlihat terlalu besar didiami hanya satu orang yaitu Garda. Tapi apa mau dikata, orang tua Garda sudah terlanjur tajir melintir. Hartanya berlimpah yang tidak akan habis dimakan tujuh turunan-tujuh tanjakan. Sudahlah! Sultan mah bebas mau punya kamar segede apa juga. Tetatngga sebelah gak usah berisik apalagi sampai darah tinggi! Wkwkwk...


Semua barang seperti sepasang lampu tidur berwarna gelap di letakkan atas meja kecil yang berada di sisi kanan dan kiri tempat tidur. Tv flat besar sengaja digantung di dinding di ujur tempat tidur agar saat menonton bisa sambil tiduran. Meja persegi panjang berwarna putih di letakkan di bawah tv. Sepasang sofa tunggal di letakkan agak ke sudut dengan meja kecil di tengahnya. Meja belajar lengkap dengan komputer serta mesin printer di sudut lain ruangan. Semua tertata dengan rapi juga bebas dari debu. Maklumlah ada petugas kebersihan yang bertugas membersihkan kamar Garda. Jadi, tidak perlu aneh kamarnya bersih begitu padahal si empunya kamar jarang menidurinya. Barang-barang yang pendukung interior kamar ini terkesan lebih sederhana dari pada ruang tamu yang serba wah dan wow. Namun harganya tidak sesederhana bentuknya ya.


Sejak kenal dan resmi menikah, ini adalah kali pertama Garda membawa pulang Qameella ke rumah mewahnya. Sebenarnya sudah lama dia ingin mengajaknya. Namun berhubung kondisi pernikahan mereka yang abnormal. Tidak selayaknya pasangan menikah lainnya yang terjalin secara normal dan rasional. Jadi baru sekarang dia setelah hubungannya dengan Qameella stabil. Walau pun baru pertama kali datang berkunjung, Qameella tampak tidak terlalu canggung dan bersikap senormal mungkin agar tidak terkesan norak di mata Garda.


Garda melipat sebelah tangannya, menjadikannya bantal di bawah kepalanya. Sementara tangannya yang bebas tidak dibiarkan menganggur. Diraihnya tangan Qameella berada persis di sebelah tangannya. Jari-jemari mereka saling mengait erat. Setelah sebelumnya sempat saling bersentuhan kulit.


"Kamu masih ingat gak awal pertemuan kita?" tanya Garda mengawali pembicaraan, ingin bernostalgia.


"Hm," gumam Qameella sebagai jawabannya. Lalu mendengus kasar mengingat awal pertemuan mereka. Dilanjutkan pertemuan berikutnya yang kesemuanya tidak ada yang menyenangkan.


Berbanding terbalik dengan Garda yang tamak senang mengingat momen demi momen pertemuan mereka yang terbilang unik.


"Pertemuan yang gak ada manis-manisnya. Semuanya nyebelin," jawaban ketus itu meluncur begitu saja dari mulut Qameella.


"Masa sih, Bi?" Garda tidak percaya. Walau pada kenyataannya memang seperti itu. "semua pertemuan kita berkesan lho..." memalingkan wajah menatap istrinya yang masih fokus menatap plafon kamarnya.


"Mungkin menurut lo gitu kali. Kalo gue sih... kayaknya gak tuh," Qameella menunjukkaan ekspresi wajah cueknya.


"Ah, kamu cuek gitu sih?" protes Garda. "kayanya nyesel gitu sama pertemuan kita."


Qameella mengendikkan bahu sambil mencebikkan bibirnya. Satu alisnya terangkat ke atas. Cewek kalem itu mengungkapkan bahwa pada awal pertemuannya dengan Garda adalah musibah baginya. Pasalnya selalu disertai insiden-insiden menakutkan. Dan tidak lupa dia menyebut nama Tari yang merupakan awal dari masalah yang dihadapinya. Lantaran bujuk rayu sang sahabat, dia keluar rumah malam itu untuk pertama kalinya. Siapa yang menduga akibat kenekatannya mempertemukannya dengan cowok yang akhirnya menjadi suaminya.


Kalau diingat-ingat pertemuan itu tidak ada yang indah. Diawali hampir terciduk polisi. Kemudian dipaksa ikut dengan cowok asing yang sok peduli. Hingga hampir dilecehkan preman. Tapi yang menyelamatkannya lagi-lagi...

__ADS_1


"Tapi, gara-gara cowok asing yang sok peduli ini juga yang nyelametin kamu, kan?" sanggah Garda seakan menyombongkan diri. Qameella hanya tersenyum.


Qameella terkesiap saat Garda tiba-tiba bangkit lalu setengah berbaring dengan posisi miring menghadap ke arahnya. Membuka kacamata yang yang sedari tadi tadi bertengger di atas hidungnya. Membuyarkan lamunannya tentang Rega. Rupanya diam-diam dia menyangka Rega yang menyelamatkannya dari para premannya. Karena saat itu dia tidak tahu jika Garda dan Rega ternyata kembar identik.


Senyum yang selalu terlihat manis tertarik di sudut bibir Garda. Menyalurkan gelombang-gelombang arus listrik yang siap menyengatnya kapan saja. Dan... benar saja. Qameella seakan tersengat aliran listrik ketika Garda tiba-tiba mendaratkan satu kecupan singkat di bibirnya.


"I love you, Bi," ujar Garda setengah berbisik di depan wajahnya.


Degup jantung Qameella berderap kencang seakan berlarian di dalam dua rongga dadanya. Perasaannya campur aduk seperti permen nano-nano rame rasanya.


Pernyataan cinta yang tidak terduga dalam jarak sedekat ini membuat Qameella tidak bisa berkata apa-apa. Lidahnya tiba-tiba terasa keluh. Hanya air mata haru yang menggenang di pelupuk matanya sebagai ungkapan rasa bahagianya.


"Kamu kenapa, Bi?" tanya Garda khawatir, melihat kesedihan yang terpancar dari matanya. Namun hanya dijawab dengan gelengan kepala sambil menyeka kasar air matanya yang hampir meleleh dengan punggung tangannya.


Qameella beranjak duduk dibantu oleh Garda. Kemudian menundukkan wajahnya yang tersipu malu. Dan kebisuan yang masih membungkam mulutnya.


"Bi," cowok itu meletakkan satu tangannya di puncak kepala Qameella. Mereka kini saling beradu pandang. "kamu gak suka ya, kalo saya menyatakan cinta sama kamu?"


Qameella menggelengkan kepalanya lagi dengan senyum simpul di ujung bibirnya.


"Gak papa," sahutnya lirih. Lalu tersenyum canggung. "elo... lagi sadar kan, Gar?" tanyanya ambigu.


"Mak-sudnya?" Garda mengernyit tidak mengerti.


"Ya kali, elo lagi ngelindur atau lagi gak sadar," jawabnya asal lalu menggigit bibir bawahnya.


"Oh... jadi kamu gak percaya sama ucapan saya?" Garda baru mengerti mengapa Qameella menyangsikan cintanya. Hal itu tidak terlepas dari kesalahannya diawal kedekatannya dengan Qameella. Tapi malah menyasar pada Qarmitha. Dia mengusap wajahnya kasar. "my God..." lirihnya hampir tidak bersuara.


"Saya serius Bi..."


"Kalo sama Fiola, elo ngomong gitu juga, gak?"


"Nggak lah. Saya gak punya perasaan apa-apa sama dia. Saya cuma nganggap dia teman, gak lebih." Garda tampak menahan amarahnya. "ya udah, kalo kamu masih gak percaya."


Kemudian beranjak berdiri hendak berlalu pergi. Namun urung dilakukan saat Qameella menarik lengannya, menahan kepergiannya. Sontak Garda menoleh dan terkejut kala gadis yang biasanya pasif mendadak aktif. Bersikap impulsif mengecup pipi Garda cepat dan singkat. Pipi Qameella tiba-tiba memanas disertai rona merah menjalar hampir di seluruh wajahnya. Degup jantungnya bertalu-talu.


Garda tersenyum senang. Itu artinya cintanya berbalas walau tidak dibalas dengan ucapan. Lalu menangkup wajah Qameella yang hendak tertunduk agar menatap dirinya. Kecupan lembut dan hangat pun didaratkan di bibir istrinya. Tetapi lama kelamaan menuntut.

__ADS_1


Qameella yang tidak berpengalaman nyaris kehabisan oksigen hingga sulit bernapas. Terpaksa dia mendorong dada Garda memutus ciuman mereka.


"Hosh, hosh, cukup!" serunya dengan kedua tangan masih menempel di dada Garda.


*


Setali tiga uang denga Qameella. Qarmitha pun memanfaatkan pulang cepat ini dengan menghabiskan waktu main di rumah Yasmin. Tidak ketinggalan Sarah dan Amel. Mereka berempat menghabiskan waktu berenang di kolam renang yang terletak di belakang rumah Yasmin. Tetapi Qarmitha tidak ikutan berenang karena sedang datang bulan. Dia hanya duduk di bangku panjang sambil bersandar di kepala bangku, di bawah payung berukuran jumbo yang menaunginya. Menikmati segelas orange juice dingin sambil menyaksikan ketiga sahabatnya bermain air dalam kolam renang sungguh menyenangkan.


Walau baru hari pertama mengikuti ujian tapi otak mereka terasa panas. Butuh pendingin agar bisa fresh lagi. Terutama Qarmitha yang baru saja putus cinta. Entah jawaban tadi pagi pada lembar kertas ujiannya benar atau tidak. Lantaran otaknya sudah nge-blank, atau hank ya? Yang jelas dia sudah tidak bisa berpikir tentang pelajaran. Untungnya dia masih punya sahabat yang peduli. Jadi, saat dia tidak bisa jawab ada yang memberinya kertas contekan.


"Gue udahan ya," ujar Amel langsung menepi lalu mendudukkan dirinya di pinggir kolam.


"Payah lo, Mel. Baru sebentar udah keok," umpat Sarah masih berendam di tengah kolam.


"Bodo!" Amel melenggang meninggalkan kolam renang. Mengambil bathrobe yang tersampir di kepala kursi seberang Qarmitha duduk.


"Udah, biarin aja," ucap Yasmin menetralisir suasana. Kemudian mengajak Sarah berenang lagi.


Qarmitha masih menikmati minuman dinginnya yang terasa manis asam segar. Tanpa mengindahkan kehadiran Amel di dekatnya. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Woy, ngelamun aja?" pekik Amel sengaja mengejutkan Qarmitha.


"Sialan lo, ngagetin aja," hardik Qarmitha. "untung gue gak latah. Kalo iya, udah gue siram muka lo."


"Sadis amat Mbak? Mentang-mentang lagi patah hati."


"Jangan sebut-sebut masalah patah hati ah... gue males. Lagian gue ikhlas ngelepas kutu busuk model cowok kaya dia."


"Iya sih. Gugur satu, tumbuh seribu. Patah tumbuh, hilang berganti," kata Amel dengan kalimat bijaknya. Lalu menyesap jus jambu merah kesukaannya.


"Sok bijak lo!"


"Emang begitu adanya."


Selesai berenang mereka lanjutkan makan siang bersama di meja makan. Hari ini Yasmin sengaja meminta asisten rumah tangganya memasak bermacam-macam menu makanan dengan porsi yang lumayan banyak. Maklumlah teman-temannya yang cantik-cantik itu bisa dibilang gembul. Namun entah mengapa bentuk tubuh mereka tidak terlihat gendut.


Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan semua makanan itu. Hanya sepuluh menit hingga lima belas menit semua makanan tandas tanpa tersisa. Setelahnya mereka bersantai di kamar Yasmin sambil ngobrol ngalor ngidul tidak jelas.

__ADS_1


__ADS_2