Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Rindu Berat


__ADS_3

🙋Hai readers... 🙏maaf ya updatenya kelamaan. Karena lagi sibuk ngurus pekerjaan di dunia nyata. Juga lagi mengumpulkan ide-ide baru untuk melanjutkan cerita ini.


Vote, like dan komen kalian semua sangat author nantikan lho....


Jadi jangan malu-malu kasih like-nya. Kalo bisa sampai boom like...


Happy reading ya... 😊😊😊


***********************************************************************************************


Basecamp Geng ABABIL.


Entah sudah berapa kali Garda berdecak kesal sambil merubah-rubah posisi duduknya. Kegelisahan tampak jelas terpancar di wajah tampannya. Berulang kali cowok berambut coklat itu mendial nomor yang sama, namun hanya suara mesin yang menjawab panggilannya.


Amarah akhirnya menguasai dan membakar darah mudanya. Tidak ada yang memadamkannya, hanya benda pipih persegi panjang di tangannya yang jadi sasaran empuknya. Tanpa pikir panjang Garda langsung melamparnya di atas sofa yang di duduki hingga nyaris terjun bebas ke lantai.


Sontak teman-teman yang juga anggota geng ABABIL terkejut. Mereka yang tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing, kompak mengalihkan pandangan ke sumber suara. Setelah itu mereka kembali pada aktifitasnya kembali. Hanya Ryan dan Tikeng yang menanggapi kemarahan sang ketua geng.


"Wih... santuy dong, boss..." ujar Ryan setengah berteriak. Yang dibalas sikap acuh Garda.


"Kenapa lo, bro? Jadi marah-marah gak jelas gini?" telisik cowok kurus yang akrab disapa Tikeng.


Garda masih bungkam. Tidak berniat meladeni ocehan mereka. Dia langsung menyambar sebatang rokok dari dalam bungkusnya. Lalu menghisapnya dalam setelah sebelumnya dibakar ujung batang benda kecil dan panjang itu. Sesaat berikutnya menghembuskan kepulan asap putih dari mulutnya, serta menguarkan aroma khas.


"Lagu lo kaya cewek lagi PMS aja. Kenapa sih?" desak Tikeng yang langsung mendapat sambitan korek api dari Garda.


"Bacot lo!" hardik Garda.


"Huh! Cari mati lo!" timpal Ryan menyumpahi sambil mentoyor kepala temannya yang duduk bersisian dengannya.


"Wah, cari perkara lo!" sahut yang lainnya membuat gsduh suasana.


"Spa banget sih lo! Noyor-noyor kepala gue segala. Difitrahin nih kepala sama emak gue tiap tahun." protes Tikeng geram, tidak terima mendapat perlakuan seperti itu. Dia pun membalas balik mentoyor kepala Ryan. Tetapi cowok berkulit paling gelap di antara yang lainnya itu berhasil menghindar.


Suara pertengkaran antara Ryan dan Tikeng terdengar sangat mengganggu gendang telinga Garda. Cowok yang selalu tampil keren walau pun memakai celana jeans belel dan robek. Serta kaos oblong putih dengan rambut tidak terlalu rapi. Sekarang moodnya sedang buruk, ditambah suara kedua bocah yang lebih mirip kaleng rombeng, sungguh paket komplit yang memperparah suasana hatinya.


Tanpa sepatah kata pun Garda beranjak berdiri. Setelah sebelumnya mematikan rokok yang baru beberapa kali dihisapnya, dengan menekan ujung berbara pada permukaan asbak di atas meja di depannya hingga patah. Meraih jaketnya yang tersampir di sandaran sofa. Melenggang pergi.


"Woy bro! Mau kemana lo?" pekik Ryan menghentikan langkah Garda yang sudah sampai pintu.


Garda menoleh sebentar melihat dua makhluk berbeda, ukuran tubuh maupun warna kulit dari sela punggungnya. Sementara tangan kanannya sudah meraih handle pintu.


"Berisik aja lo pada." keluhnya tanpa menjawab pertanyaan cowok yang biasa dipangginya Keling. Namun dari ucapannya tersirat dirinya sedang tidak ingin diganggu.

__ADS_1


Sesaat berikutnya Garda menghilang di balik pintu, meninggalkan dua kawan yang kelakuannya seperti Tom and Jerry. Susah akur seperti sekarang, mereka sibuk saling salah menyalahkan. Biasanya bila sudah terjadi kerusuhan seperti itu, anggota geng ABABIL yang lain akan bersorak seperti sedang menonton sabung ayam.


*


Ekspektasi Qameella selama ini ternyata salah. Dengan polosnya gadis berkacamata minus itu mengira, perasaan dan logikanya akan mudah dikendalikan seperti membalik buku. Memblokir nomor ponsel Garda adalah hal yang pertama dilakukannya. Setelah itu selalu menghindari cowok yang tidak pernah lelah datang menjemputnya di sekolah. Tetapi siapa sangka hatinya terluka saat netranya menyaksikan jok belakang motor Garda terisi oleh cewek lain. Cewek itu tidak lain adalah saudari kembarnya, Qarmitha.


Di tengah rasa sakit dan patah hatinya, Qameella berusaha menghibur diri dengan banyak membaca buku di perpustakaan sekolah. Juga aktif setiap tugas kelompok di kelas. Kebetulan dia sering satu kelompok dengan Rega. Bukan bermaksud untuk menipu diri sendiri, namun hanya ini yang bisa dilakukannya agar tidak larut dalam kesedihan. Toh, sosok sepasang cowok kembar itu memiliki kesamaan fisik. Dengan begitu dia tidak perlu mengingat Garda lagi. Yang sepertinya sudah bahagia bersama Qarmitha.


Kendati caranya masih tidak efektif karena hati kecilnya selalu mengingkari kebohongan sikapnya sendiri. Rasa rindunya sering hadir mengusik relung hatinya. Kekonyolan dan tingkah polah cowok ajaib itu tidak bisa ditemukan pada sosok Rega.


Dulu, Qameella memang sangat menyukai Rega. Karena dia juga membuatnya nekat mengambil jurusan yang sama. Belajar dengan giat agar bisa satu kelas dengannya pun dilakoninya diam-diam. Bahkan kebiasaannya membaca buku di perpustakaan sekolah ternyata terkontaminasi oleh cowok itu. Walau pun semua itu hanya berawal dari keinginannya  agar lebih dekat dengan sang pujaan hati.


Entah mengapa setelah Garda hadir dalam hidupnya, secara intens mengisi hari-harinya setelah mengikatnya dalam insiden pernikan. Perasaannya kepada Rega perlahan memudar. Mungkin karena sikap Garda yang to the point menyatakan kepemilikan terhadapnya. Berbeda dengan Rega yang tampak adem ayem seolah menganggapnya biasa-biasa saja. Wajarlah jika Rega bersikap seperti itu. Qameella tidak pernah mengungkapkan perasaannya. Maklumlah Qameella tipikal cewek pemalu dan pasif.


Dering bel pulang sekolah berdering lantang. Mengusik dan memaksa jam pelajaran terakhir agar segera usai. Semua murid langsung berhamburan meninggalkan kelas masing-masing.


Qameella baru saja melewati pintu kelasnya. Tiba-tiba Tari datang dan menarik lengannya agar mengikuti langkah kakinya. Dengan terus mengabaikan keluhan Qameella yang kesakitan karena genggaman tangannya terlalu erat.


"Aduh! Udah kaya dikejar-kejar rampok! Tar, bisa biasa aja gak sih jalannya?" protes Qameella berusaha mensejajarkan langkahnya.


"Pokoknya kita harus cepat, Meel." sahut Tari cepat, terus menuntun Qameella menuju parkiran.


Tidak berselang lama mereka tiba di areal parkiran sekolah. Dengan cepat Tari memegang kendali atas sepeda motor metiknya. Setelah sebelumnya memakai helm, juga menyodorkan helm untuk Qameella pakai.


Tari langsung menceritakan secara singkat perihal hubungan Dimas. Menurut pengakuan gadis berambut panjang hitam itu, akhir-akhir ini dia sering mendapat kabar dari teman-teman yang tidak dijelaskan Tari secara detil, Dimas sering jalan bareng dengan cewek lain. Oleh sebab itu, untuk memastikan kabar tersebut, Tari mendatangi langsung basecamp-nya.


Qameella yang tidak terlalu mengerti sepak terjang hubungan Tari dan Dimas,hanya mengangguk bodoh. Sebenarnya dia tidak mau ikut campur masalah mereka berdua. Namun bila sudah dirinya dibawa-bawa seperti, apa boleh buat deh.


Sepeda motor yang dikemudikan Tari berhenti tepat di halaman yang tidak terlalu luas, di depan sebuah bangunan yang bisa dibilang tidak layak disebut rumah. Banyak coretan piloks di dinding, bahkan hampir setiap bagiannya.


"Ini... rumah siapa, Tar?" tanya Qameella penasaran. Kedua tangannya sibuk membuka tali pengait helm yang bertengger di atas kepalanya.


"Ini bukan rumah orang kali, Meel..." Qameella tampak syok mendengar jawaban Tari. Gadis itu memang tidak tahu jika tempat ini adalah basecamp yang diketuai oleh cowok yang selama ini dirindukannya.


Tari tergelak sambil membuka helm yang dipakainya, lalu ditaruh di kaca spion sebelah kanan motornya.


"Maksud gue... emang rumah, tapi bukan rumah kaya ditinggalin orang pada umumnya. Ini basecamp anak-anak geng ABABIL." tutur Tari menjelaskan agar sahabatnya itu tidak kaget lagi.


"Oh! Tapi elo bilang mau nemuin Dimas. Kok malah ke sini sih?"


"Emang sih... Tapi dari info yang gue dapat. Kalo mau cari si Dimas, maka gue harus datang ke sini." jawab Tari penuh keyakinan.


Qameella mendengus pelan sambil memajukan bibirnya ke depan. Kepalanya dibuat manggut-manggut seakan mengerti apa yang dimaksud Tari.

__ADS_1


"Ayo!" seru Tari mengajak Qameella masuk.


"Elo aja deh, gue gak kenal mereka. Biar gue nunggu di sini aja ya." pinta Qameella memohon.


Tari sangat memahami sikap Qameella yang bisa diibaratkan seperti komang-komang. Hewan bercangkang yang hobi menyembunyikan diri di dalam cangkangnya.


"Huft! Ya udah deh." sahut Tari pasrah. Kakinya mulai bergerak maju. Namun sesaat dihentikan, menoleh ke belakang melihat Qameella yang mendudukan diri di atas jok sepeda motornya.


"Tapi ingat, elo jangan kemana-mana ya. Konci motor gue masih nyantel di situ. Jangan sampai motor gue dituntun maling, kalo elo sampai pergi-pergi. Soalnya sekarang lagi banyak maling motor." pesan Tari membuat


Qameella mengangguk patuh.


"Iya nyonya..." sahutnya asal.


Setelah Tari masuk ke dalam basecamp. Qameella yang mengeluarkan ponselnya. Menghilangkan kejenuhan selama menunggu sendirian di luar.


Selang beberapa menit. Seorang cowok memakai kaos biasa, tapi memakai celana abu-abu khas seragam SMA, keluar dari basecamp. Cowok itu terlihat tidak asing.


Qameella terbelalak saat baru menyadari, cowok itulah yang pernah menjemputnya bersama Garda, setelah malam naas dan ketika paginya, dinikahkan paksa oleh warga setempat karena telah dituduh melakukan perbuatan mesum yang dianggap mengotori lingkungan mereka.


"Mbak, teman cewek yang tadi ya?" tegurnya ramah.


Qameella menampilkan senyum canggung sambil mengangguk mengiyakan.


"Kenapa gak ikutan masuk aja?" tanyanya lagi.


"Ngg... nggak papa. Biar saya di sini aja. Iya." sahut Qameella terbata. Tatapan matanya tidak difokuskan pada sosok cowok yang berdiri menjulang di depannya.


Sepertinya Ryan tidak mengenali Qameella dibalik kacamata minusnya. Sangat jauh berbeda saat pertama kali mereka bertemu.


Sedetik berikutnya, sebuah sepeda motor yang juga tidak asing di mata Qameella datang. Cewek cantik yang selalu menyembunyikan wajah aslinya di balik kaca mata tebalnya, sangat mengenali siapa cowok yang bertahta di atas sepeda motor kesayangannya.


Garda, ya benar! Cowok yang sudah sukses mengobrak abrik pertahanan hatinya selama hampir dua Minggu ini.


Setelah sepeda motornya terparkir sempurna, cowok ganteng itu membuka helmnya. Menyisir kasar rambutnya yang sedikit berantakan dengan jari-jari tangan.


"Mau kemana lo, Ling?" tanya Garda memaksa Ryan mengalihkan pandangannya pada sosok gagah berjarak satu meter dari tempatnya berdiri.


Qameella ikut mengalihkan pandangannya. Namun segera dialihkan kembali. Agar Garda tidak menyadari kehadirannya di sini.


Ryan langsung menyampaikan perihal kedatangan Tari ke basecamp mereka. Setelah itu Garda beranjak masuk tanpa menoleh pada Qameella. Sementara Ryan berpamitan pergi ke warung kepada Qameella.


Qameella menghembuskan napas lega setelah kedua cowok itu beranjak pergi.

__ADS_1


__ADS_2