
Happy reading....
**********************************
Tari duduk tercenung menatap Meella yang akhirnya terlihat damai dalam tidurnya. Setelah drama pertumpahan air mata yang mengharu biru bak cerita dalam film. Lalu dia keluar kamar meninggalkan gadis itu agar tidak menggangu istirahatnya.
Kemudian Tari memutuskan pergi ke dapur, mengambil segelas air putih dari mesin dispenser. Setelahnya menarik salah satu kursi dan duduk. Tari meneguk air di tangannya hingga setengah, lalu meletakkan gelas itu di atas meja sambil menghela napas berat.
Pikirannya melayang mengingat ucapan Meella sebelum tidur. Gadis itu sempat menceritakan kronologi kejadian yang telah dialaminya. Ternyata sangat mengejutkan juga menyedihkan, Tari hampir tidak sanggup mendengarnya.
Tari menyugar rambutnya kebelakang seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Menghela napas panjang. Tiba-tiba dia merasa ada yang janggal dari penggalan cerita Meella. Pembahasan itu tentang anak pemilik Negara's Group, tempat Meella bekerja. Pandega Negara yang baru saja kembali dari pendidikannya di luar negeri. Pria itu menduduki posisi yang tinggi dalam perusahaan pusat.
Sebenarnya tidak ada yang menarik bagi Tari dari cerita seputar perusahaan besar itu. Walau pun sedikit banyak dia tahu siapa pemiliknya. Karena ada ikatan kekerabatan antara keluarga Tari dan pemilik Negara's Group. Berhubung ikatan itu sudah lama terjalin tidak terlalu harmonis. Maka Tari tidak pernah ikut campur masalah itu.
Tetapi setelah Meella mengatakan wajah CEO baru bernama Pandega anak lain dari seorang Andika. Selain itu wajahnya memiliki kemiripan dengan wajah Garda dan Rega. Oleh sebab itu, Meella sering kali merasa Dejavu bila melihat wajahnya.
Tari sempat bingung saat mendengar penjelasan tentang anak lain dari Andika. Mungkinkah setelah bercerai dengan Karina, Andika punya anak lain dari wanita lain?
Ah, apa mungkin?
Seingat Tari, Andika yang biasa disapanya Om Dika karena menikahi tantenya, Karina sepupu jauh bapaknya. Andika tidak memiliki anak dari wanita manapun. Walau pun dia sering bergonta-ganti pasangan, tetapi tidak pernah tersiar kabar perihal anak. Jadi Tari yakin anak yang dimiliki Andika hanya sepasang anak kembar yang mereka beri nama Rega dan Garda. Jika pun ada tidak mungkin akan sama wajahnya dengan Garda atau Rega.
Dari situ diam-diam Tari membuat kesimpulan sendiri. Pria bernama Pandega itu sesungguhnya Garda sendiri. Karena Tari tahu dengan jelas, nama lengkap Garda adalah Pandega Garda Negara. Jika Andika menyamarkan dengan menghilangkan nama tengah Garda, itu merupakan bentuk kamuflase belaka. Ya tentu saja. Akibat kebencian yang ditanam hingga berbuah dendam pada ayahnya Meella. Maka Andika sengaja membuat Meella menderita, hingga tidak mau hidup normal kembali sebagai bentuk balas dendamnya pada Gusti.
Apes banget sih, nasib lo, Meel...
Bila ditilik ke belakang, kisah Meella pernah juga dialami Tari. Bedanya saat itu Tari lakukan secara sadar walau menggunakan atas nama khilaf. Serta atas dasar pembuktian cinta sejati padahal hanya semu belaka. Sedangkan Meella, tidak sadar karena merasa dijebak oleh seseorang.
Eits, tunggu! Raisya? Nama itu sempat disebut oleh Meella dalam ceritanya. Cewek cantik, calon adik iparnya. Gara-gara minum air yang dikasih olehnya, tiba-tiba Meella merasa oleng dan tidak sadarkan diri. Mungkinkah cewek itu orang dibalik semua kejadian yang dialami Meella?
'Nggak, nggak, gue boleh su'uzhon dulu sebelum ada bukti konkretnya. Tapi... gak, gak, gak, tetap gak boleh,' batin Tari berdebat sendiri seraya menggelengkan kepalanya.
Jika dicocokologi rasa takut yang dialami Tari maupun Meella sama. Bedanya objek yang mereka takuti. Bila saat itu Tari hanya takut hamil diusianya yang masih sangat muda. Juga takut ketahuan serta bikin malu kedua orang tuanya, karena mendapat gunjingan para tetangga sekitar rumah. Serta khawatir pihak sekolah tahu, memaksanya putus sekolah.
Maka bagi Meella lebih banyak yang ditakuti. Selain takut ketahuan oleh Gusti. Gadis itu juga takut menghadapi Mirza dan kedua orangtuanya. Apalagi hari pernikahannya akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Belum lagi bila ketahuan Andika. Dulu saja hampir mati, apalagi sekarang?
Meel... Meel... kenapa nasib lo begini amat sih?
__ADS_1
Tari mengusap air matanya yang tidak terasa mengalir begitu saja di pipinya. Menghembuskan napas berat.
*
Garda sudah bersiap untuk meninggalkan kamar hotelnya yang mewah. Ketika hendak membuka handle pintu, mendadak netranya melirik tas dan sepatu milik Meella yang tertinggal di atas meja.
Pria itu menghela napas berat dan panjang. Hatinya ragu antara mengabaikan atau mengambil kedua benda itu.
'Untuk apa saya bawa benda gak berguna itu? Biarin aja di situ, palingan dibuang ke tong sampah oleh pihak hotel,' gumamnya dalam hati. Lalu menarik handle pintu.
Tetapi kebimbangan malah merasukinya. Sontak membuat Garda menghentikan langkahnya. Padahal tinggal selangkah lagi kakinya dapat melangkah keluar dari pintu.
Damn!
Garda mundur kembali lalu menatap malas kedua benda yang membuat matanya sakit. Namun tangannya bergerak meraih, mengambil dan membawanya pergi kedua benda menyusahkan itu.
Dalam hati Garda mengutuk dirinya sendiri. Karena kebodohannya semua hal yang sangat tidak diinginkan terjadi begitu mudah padanya. Andai saja kemarin malam dia tidak tidak nekat menerima tantangan dari teman-temannya hingga mabuk berat, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.
Untunglah Dandi, asisten pribadi Garda, datang menjemputnya. Pemuda yang usianya lebih muda dari Garda itu, sudah tiba tepat saat Garda membuka pintu kamar hotel. Dan sempat mengernyit heran tatkala sang bos membawa benda tak lazim.
"Kok tas dan sepatu Mbak Bianca ada di Bapak sih?" teguran yang sangat tidak disukai Garda. Hingga dia harus menahan geram seakan ingin menonjok wajah putih bersih Dandi.
"Emangnya Mbak Bianca-nya kemana, Pak?" Dandi mengira barang yang dibawanya adalah milik Bianca, karena Garda memberi tahu masalahnya dengan detail padanya.
"Bukan urusan kamu!" semprot Garda tidak mau mendengar pertanyaan apa pun. Bagaimana pun juga Garda tidak bisa menjelaskan apa yang sudah terjadi pada dirinya untuk saat ini.
Sontak Dandi terdiam, menundukkan kepalanya. Tidak mau mendapat semprotan yang lebih kejam dari ini. Lalu berjalan mengekori Garda yang sudah jalan dua langkah di depannya.
"Dandi," ujar Garda yang tiba-tiba berhenti tanpa komando. Syukurlah Dandi bisa mengerem tepat waktu hingga tidak menabrak sang bos yang terkadang sangar itu.
"I-iya, Pak," sahut Dandi tergagap.
"Tolong kamu selidiki rekaman cctv yang mengarah ke kamar hotel yang saya tempati kemarin malam," titah Garda yang langsung di iyakan oleh Dandi.
"Laporkan semuanya dengan detail pada saya secepatnya," tukasnya.
"Siap, Pak," jawab Dandi cepat.
__ADS_1
Kemudian Garda melanjutkan langkahnya yang terhenti. Begitu pula dengan Dandi.
*
Akhirnya malam ini Meella memilih menginap di rumah Tari. Dia enggan pulang ke rumah kontrakannya atau pulang ke rumah Gusti. Tentu saja setelah Tari bersusah payah membujuk gadis keras kepala itu. Bukan tanpa alasan. Tari sangat mengkhawatirkan kondisi psikologis Meella yang sedang labil.
Dalam kondisi seperti itu bisa saja Meella melakukan tindakan gila. Apalagi tadi siang gadis itu beberapa kali mengungkapkan ingin bunuh diri. Jika hal itu sampai terjadi, ah... sulit sekali dibayangkan.
Atas saran Tari, Meella melakukan shalat taubat setelah menunaikan shalat Isya sebelumnya. Sampai jam sepuluh malam, Meella tampak masih berdoa. Begitu banyak doa yang dipanjatkan dengan berurai air mata.
Tari hanya mengamati dari jauh. Sebagai seorang sahabat dia mengharapkan yang terbaik untuk Meella. Dan dapat menjalani hidup normal kembali seperti semula.
*
Pagi ini, Meella datang ke kantor seperti biasa. Masih menggunakan pakaian Tari juga meminjam sepatunya. Karena dia masih belum pulang. Mungkin lebih tepatnya tidak bisa pulang. Lantaran dia baru sadar jika tas dan sepatu yang dipinjamkan Dita raib entah kemana. Sedangkan kunci dan dompetnya ada di dalam tas itu.
"Elo emangnya gak sadar, kalo kemarin elo datang ke sini cuma bawa badan doang? Jangan kan tas, sepatu aja gak pake, alias nyeker. Gue pikir elo sengaja..." begitu komentar Tari saat ditanya tentang sepatu dan tas Meella.
Meella hanya melongo mendengar penjelasan Tari. Pantas saja telapak kakinya lecet-lecet, ternyata sejak keluar dari kamar hotel sialan itu sampai rumah Tari, dia bertelanjang kaki.
Kini Meella sungguh tak enak hati pada Dita. Wanita hamil itu yang sudah baik hati meminjamkan semua itu padanya. Gara-gara insiden pagi kemarin semua terbengkalai. Dan dia malu dan bingung bagaimana harus menjelaskannya. Karena selain dua barang yang hilang, ternyata baju yang dipakainya ternyata terkoyak. Entah karena apa dia tidak tahu jelas.
Meella mendengus pelan.
"Hai, Meel," ujar Dita yang tiba-tiba muncul di kubikel Meella.
Sontak Meella tersentak kaget. Buru-buru menoleh ke sumber suara.
"Eh, ..." Meella tampak gugup. Dia bingung hendak mengatakan apa pada Dita. Apakah harus to the poin tentang barang pinjaman Dita, atau cari aman dengan cara berbohong ?
*
Hai, hai readers... semoga terhibur ya dengan episode kali ini.
Author istirahat dulu ya, mau cari inspirasi lagi buat nyambungin cerita ini. Oke, see you next episode 😁
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa hadiah, vote, like dan komen ya... thanks alot ❤️❤️❤️
__ADS_1