
Happy reading
Garda terus mencari keberadaan Meella dibantu oleh orang kepercayaannya. Untuk kali ini dia tidak ingin berpisah lagi dengan Meella. Sebisa mungkin dan dengan cara apa pun akan dilakukan demi mendapatkan Meella. Tidak ada niatan untuk berpisah apalagi meninggalkannya seperti dulu.
Jika dulu terpisah karena kecelakaan yang berbuntut hilangnya ingatannya. Kini tidak lagi. Garda yakini itu. Dia sudah tidak peduli lagi dengan otoritas Andika yang selalu menghalangi jalan cintanya bersama Meella.
Tekad Garda sudah bulat. Dia tidak akan mengalah apalagi menyerah. Tidak akan.
Di saat Garda kelimpungan mencari. Meella malah santai pergi menghindar. Menjauhi tempat-tempat yang mungkin bisa dijangkau oleh Garda. Perempuan hamil itu tidak ingin bersinggungan dengan mantan bosnya itu. Dia khawatir akan berdampak lebih buruk pada orang tuanya. Setelah usaha rumah makan yang susah payah dirintis sedari muda. Sekarang gulung tikar. Dan harus berbesar hati mau memulai dari nol lagi.
*
Ting tong...
Tari bergegas menuju pintu setelah mendengar bunyi bel rumahnya berdenging nyaring.
"Tunggu sebentar..." pekik Tari seakan suaranya terdengar sampai ke luar.
Ketika pintu telah dibuka. Rupanya Meella, tamu tak diundang namun diharapkan. Tari terkejut juga bahagia atas kedatangannya. Dia langsung menghambur memeluk sahabat lamanya.
''Ah... kangen...'' pekik Tari tertahan saat hendak memeluk Meella.
Meella hanya tersenyum lebar melihat kelakuan Tari.
''Ayo, masuk!" seru Tari mengajak sang tamu masuk ke dalam rumahnya.
Setelahnya Tari menutup pintu rapat. Lalu membawa Meella duduk di sofa ruang tamu rumahnya.
"Tar, boleh gak gue nginep di sini untuk sementara waktu. Gak lama kok, paling beberapa hari," tutur Meella sedikit canggung.
Tari mengangkat sebelah alisnya. Sedikit terkejut dengan sikap sahabatnya yang masih kaku saja. Padahal tanpa meminta pun, Tari akan menawarkannya menginap di sini. Mengingat hari sudah gelap.
"Elo tuh kaya sama siapa aja, masih kaku aja sama gue. Boleh kali...," decak Tari geregetan. "baru beberapa hari. Mau sebulan juga boleh. Mumpung gue masih singel," lanjutnya sambil menaik turunkan alisnya.
Meella tersenyum lega.
"Gue cuma gak enak aja sama elo, Tar. Gue takut ganggu privasi elo."
__ADS_1
"Santai..."
"Sorry ya, Tar. Dari dulu gue cuma nyusahin aja orangnya," niat hati ingin berceloteh, namun ekspresi wajah Meella yang kaku membuatnya jadi sangat serius.
"Emang dari dulu elo orangnya kaya gitu. Apalagi waktu elo masih pacaran sama si Garda,..." Tari berusaha menimpali. Dia tahu maksud sahabat lamanya itu. Tetapi tidak jadi melanjutkan ucapannya setelah melihat ekspresi sedih Meella.
"Sorry, gue gak bermaksud membahas orang yang udah gak ada," ujar Tari menyesal. Dia pikir Meella bersedih karena dia sudah membahas Garda yang sudah meninggal dunia.
Tiba-tiba Meella menggelengkan kepalanya.
Tari mengernyit heran.
"Garda belum mati, Tar. Dia masih hidup," ungkapnya.
"What?!" pekik Tari lepas kendali.
Meella pun segera menceritakan semua yang telah terjadi pada Tari. Termasuk kehamilan dan pengakuan Garda yang masih hidup. Tidak lupa dia menjelaskan alasannya menginap di rumah Tari. Selain ingin menenangkan diri, juga ingin lepas dari jangkauan Garda. Karena khawatir jika selamanya berada di dekat Garda, orang tua Meella akan terkena imbas lebih parah. Setelah kebangkrutan yang dialami kedua orang tuanya.
Tari tidak bisa berkata apa-apa. Hanya pelukan hangat tempat Meella menyalurkan rasa sedihnya. Dia tahu sedari dulu, jika hubungan antara Garda dan Meella tidak pernah direstui Andika. Begitu pula dengan Gusti yang ikut menghalangi. Dia hanya menyayangkan saja. Karena keegoisan para orang tua, anak-anak yang menjadi korban. Apalagi sebentar lagi mereka akan memiliki cucu. Haih... orang tua emang sulit diatur dari pada anak TK.
*
Meskipun hanya mengandalkan garasi rumah, para pembeli di rumah makan itu ternyata lumayan banyak. Ada yang rela berdiri mengantre untuk mendapatkan tempat duduk demi bisa makan di tempat. Ada pula antrean untuk pembelian yang langsung dibawa pulang.
Garda takjub melihatnya. Seharusnya si pemilik kedai itu memiliki tempat usaha yang layak. Juga penasaran seenak apa makanan di situ hingga mereka rela mengantre. Namun dari bau masakan yang langsung diolah di dapur kedai. Garda dapat mencium aroma sedap. Terasa sangat menggugah selera. Itu baru dari bau, apalagi bila dirasakan di lidah. Pasti lebih enak.
Krucuk... Krucuk... Krucuk...
Perut Garda berbunyi tanda minta diisi. Kebetulan selepas pulang kantor dia langsung berkeliling mencari keberadaan Meella. Hingga petunjuk yang diberikan oleh orang suruhannya mengarah ke sini. Maka tibalah dia di sini.
Garda turun dari mobilnya yang sudah di parkir sempurna di seberang jalan kedai. Saat itu dia sengaja melepas jas dan dasi ya, dan meninggalkannya di dalam mobil, agar dia tidak terlalu mencolok di antara para pembeli yang mayoritas memakai baju rumahan yang simpel.
Walaupun hanya berbalut baju kemeja putih, dan celana kain berwarna hitam. Siapa sangka pesona Garda mampu menghipnotis para pembeli yang ada di kedai itu. Jangankan perempuan, para lelaki pun ikut mengalihkan pandangan mereka pada sosok tampan nan kharismatik itu. Namun Garda tidak terlalu peduli dengan reaksi orang-orang itu. Dia tetap santai melajukan langsung kakinya ke bagian pemesanan. Setelah orang di depannya selesai, dia maju gantian memesan.
"Permisi..." ujar Garda setelah sudah berdiri di balik meja tempat memesan menu. Mungkin makanan yang akan dipesannya dibawa pulang saja. Mengingat hari semakin gelap.
"Ya, mau pesan apa?" sahut wanita paruh baya di balik meja. Wajahnya menunduk menatap buku kecil yang sudah tercetak daftar menu. Wanita itu hanya bertugas menulis dalam bentuk angka atas jumlah pesanan yang diinginkan si pembeli. Setelahnya kertas itu dirobek dan diberikan pada juru masak untuk dieksekusi.
__ADS_1
Sepertinya meja ini bukan hanya sekedar tempat memesan makanan, juga merangkap sebagai kasir. Mengingat tempat yang terbatas. Di sudut depan terdapat dapur dan etalase untuk menaruh berbagai macam bahan sayuran, telur, ayam, dan lain-lainnya untuk kebutuhan pembuatan makanan sesuai menu. Pikir Garda sambil matanya bergerak mengamati keadaan sekitar.
Di bagian dapur Garda melihat pria paruh baya bertugas sebagai juru masaknya. Tangan tuanya begitu lincah dan lihai meracik bumbu yang berbaur dengan bahan makanan sesuai pesanan pembeli. Mata tuanya masih awas membedakan setiap jenis bumbu yang dibutuhkan. Tenaganya pun masih kuat untuk menyelesaikan masakan setiap porsinya dalam waktu lima sampai sepuluh menit, tergantung jenis makanan apa yang dipesankan. Setelah masakan siap, seorang pemuda datang membawa makanan itu ke meja tamu sesuai daftar pesanan.
"Mas nya mau pesan apa?" tanya wanita itu yang tidak juga mendengar suara calon pembelinya. Wajahnya mendongak melihat orang yang berdiri di seberang mejanya.
Sontak Garda terkejut, langsung menundukkan wajahnya menatap wanita di depannya. Sangat familiar itulah kesan pertama yang dialaminya saat pandangannya bersirobok dengan wajah yang terdapat keriput halus di wajahnya. Namun tetap meninggalkan pesona cantik yang tak lekang oleh waktu.
"Nak Rega," mendadak wanita itu membolakan matanya melihat sosok di depannya. Dengan senyum mengembang lebar, ia segera bangun berdiri dari tempat duduknya.
Hah, Nak Rega?
Mendengar nama saudara kembarnya disebut, Garda memalingkan wajahnya mencari keberadaan foto kopiannya itu. Namun tidak ada. Hanya ada tinggal beberapa orang mengantre di belakangnya.
Mana? Kok gak ada?
Garda masih celingukan mencari Rega. Sampai si wanita itu menepuk lengan atasnya pelan, barulah dia sadar. Ternyata orang yang dimaksud adalah dirinya sendiri. Entah bagaimana ceritanya si wanita itu mengenalinya sebagai Rega.
"Nak Rega ngapain antre di sini? Masuk saja ke dalam. Biar nanti Mama siapkan makanan kesukaan Nak Rega," wanita itu langsung mendorong tubuh tinggi dan atletis Garda masuk ke dalam rumahnya.
"Nak Rega mau makanan seperti biasa kan, biar Mama pesan ke Ayah agar segera dibuatkan," imbuh wanita yang sedari tadi menyebut dirinya Mama. Sungguh hangat sekali perlakuan wanita itu. Garda jadi rindu sosok wanita yang melahirkannya di dunia fana ini.
Garda hanya tersenyum menanggapi ucapan wanita yang kini sudah pergi, menghilang di balik dinding pembatas antara ruang tengah dan ruang tamu. Saat ini Garda berada di ruang tengah. Karena ruang tamu terdapat tiga set meja kursi panjang yang digunakan untuk tempat makan para pembeli yang makan di tempat. Kebetulan tempat itu sudah terisi hampir menempati setiap kursi dan mejanya.
Garda menghela napas panjang seraya menyandarkan punggungnya, pada sandaran sofa empuk di balik punggungnya. Garda membuka dua kancing teratas baju kemejanya. Dan menggulung lengan bajunya hingga siku.
"Beruntung banget sih lo, Ga. Elo bisa diterima di sini dengan baik sama ibu mertua gue. Sampai elo dirajakan banget. Andai gue bisa kaya elo mungkin jalan hidup gue gak kaya gini," gumamnya sendiri. Menyugar rambutnya kebelakang.
"Dasar tua Bangka sialan!" umpatnya lirih mengingat kekejaman Andika pada dirinya.
***
Hai readers... sampai di sini dulu episode kali ini...
Jangan lupa jejak cantik kalian ya. Mohon maaf bagi ada komentarnya yang belum author jawab. Author ucapkan terima kasih 🙏 banyak bagi readers yang udah mampir ke sini. Jangan bosan ya menunggu endingnya.
See you next episode 😘🥰❤️🙏
__ADS_1