Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Salah Faham (POV Garda dan Qarmitha)


__ADS_3

🙋 Hai hai readers ku... 🙏 maaf ya, author lagi badmood. Otaknya jadi mentok sampe susah dapat inspirasi. Walau pun begitu, author berusaha sebaik mungkin agar ceritanya bagus dan nyambung dari episode demi episode.


Jangan lupa kasih vote dan like buat author yang banyak ya. Supaya author punya mood booster untuk mengupdate episode baru. 🙏❤️


Happy reading all... 🥰🥰🥰


**********************************************


Qarmitha hari ini terpaksa pulang sekolah sendiri. Lantaran Yasmin yang sering dijadikan tempat tebengannya sakit, tidak bisa masuk sekolah.


Amel yang membawa motor metiknya ke sekolah, pulang bareng dengan Sarah karena rumah mereka searah.


Qarmitha tidak bisa memaksa Amel agar memboncengnya juga. Karena memang rumahnya tidak searah dengan mereka.


Setelah kelas bubar, Amel sengaja menemani Qarmitha jalan keluar gerbang, sambil menunggu Sarah mengambil sepeda motornya di area parkir sekolah.


"Kenapa bukan elo aja yang ambil motor di parkiran? Itu kan motor lo, bukan motornya Sarah. Gak tanggung jawab amat sih lo." tegur Qarmitha.


"Biarin aja, dia mau. Lagian dia kan nebeng sama gue, suka-suka gue lah." sahut Amel santai.


"Dasar! Perhitungan banget sih lo sama temen sendiri digituin." decak Qarmitha.


"Bodo amat! Gantianlah, waktu berangkat sekolah kan gue yang bawa. Jadi, wajar dong kalo pulangnya dia yang boncengin gue."


"Terserah! Suka-suka lo aja. Buat gue, EGP!" tukas Qarmitha ketus.


Amel langsung mengucapkan salam perpisahan kepada Qarmitha, sesaat setelah Sarah tiba di depan gerbang dengan sepeda motor metiknya.


Tidak lama berselang. Seorang cowok dengan sepeda motor balapnya datang menghampiri Qarmitha. Entah siapa cowok itu, dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah yang masih terbungkus helm full face. Cowok itu hanya membuka kaca helmnya agar Qarmitha bisa mendengar suaranya.


Qarmitha mengerutkan keningnya heran.


"Siapa nih, cowok? SKSD banget?" bisik batinnya bingung.


Cowok yang masih mengenakan seragam SMA itu, namun Qarmitha tidak bisa mengenali dari mana asal sekolahnya. Karena bet yang menempel di lengan baju bagian kanannya, dan menjadi identitas sekolah setiap murid tertutup oleh jaket berbahan taslan berwarna navy.


Mendadak Qarmitha ingat saat sore, dimana Qameella diantar pulang oleh seorang cowok dengan sepeda motor, sama persis seperti yang digunakan cowok di hadapannya.


Oh... cowok ini kan...


Waktu itu memang cowok ini yang mengantar Qameella pulang. Pandega Garda Negara. Siswa trouble maker, juga ketua geng motor ABABIL, yang paling disegani dan ditakuti.


"Jadi, dia sering jemput si Lala pulang? Tapi kan gue bukan..." bisik batin Qarmitha heran sambil mengerutkan kening, dan satu alis naik ke atas.


Garda menyodorkan helm agar segera digunakan oleh Qarmitha yang dikiranya Qameella.


"Nih, pake! Biar safety!" seru Garda penuh perhatian.


"Wah, gila! Perhatian banget nih cowok. Apa mungkin dia pacaran sama Lala?" pikir Qarmitha. Pasalnya perhatian yang ditunjukkan Garda bukan hanya sekedar seorang teman, apalagi cuma ojol doang seperti yang pernah dikatakan Qameella tempo hari.

__ADS_1


"Tapi, kalo dia benar pacarnya Lala, ngapain nih cowok malah deketin gue?" pikiran Qarmitha dipenuhi tanda tanya. "jangan-jangan si Lala belum cerita lagi, kalo gue sama dia saudara kembar. Atau..."


Melihat cewek cantik yang berdiri mematung di depannya tanpa respon. Dengan ringan Garda membantu memakaikannya.


Qarmitha terkesiap mendapatkan perlakuan istimewa dari cowok yang baru saja ditemuinya. Dia terharu dan mendadak merindukan Kevin.


Kenapa gue gak kerjain aja nih cowok. Sekalian hukuman karena udah salah ngenalin orang. Wkwkwk...


Setelah itu mereka beranjak pergi meninggalkan areal sekolah. Tanpa mereka sadari, dari kejauhan Qameella melihat dengan tatapan miris.


*


"Abis ini elo mau langsung pulang, atau mau mampir dulu ke toko buku." imbuh Garda setelah menyudahi ritual makannya.


"Hah?! Ke toko buku?" Qarmitha mengerutkan keningnya. Lalu terkekeh geli entah siapa yang sedang ditertawakan. "ah, ngarang lo! Sejak kapan gue jadi kutu buku? Belajar aja gue ogah." gadis itu tambah cekikikan.


Garda terkejut mendengar penuturan gadis itu. Entah sedang bercanda atau mengerjainya, dia tidak bisa menebaknya. Yang bisa dia ketahui hanya perubahan sikap Qameella sangat berbeda dari biasanya.


"Bukannya kemarin elo bilang ada buku yang mau lo beli." Garda mengkonfirmasikan.


"Abis ini, anterin gue ke klub ya." pinta Qarmitha mengalihkan pembicaraan.


"Klub?" Garda menekan ucapannya. Lagi dia terkejut tidak percaya.


"Iya. Gue mau latihan basket di sana." Qarmitha mengklarifikasi.


"Ternyata elo anak basket?" Qarmitha menjawab dengan anggukan.


"Apa, apa, apa? Elo panggil gue apa barusan?" tanya Qarmitha sarkas. "Bini? Nama macam apa itu? Aneh banget! Lagian, sejak kapan nama gue berubah? Ngarang aja lo!"


Garda terkesiap. Dia tampak terheran-heran. Seharusnya Qameella tidak bereaksi seperti ini. Toh, panggilan itu udah biasa diucapkannya. Walau pun pada awalnya ada reaksi penolakan seperti sekarang. Tapi, masa sih harus diulang-ulang? Tidak lucu rasanya.


Ekspresi keterkejutan dan penolakan yang ditujukan cewek itu, terlihat sangat berbeda. Garda seakan sedang berhadapan dengan orang yang berada.


Mata Garda memicing menatap setiap detil wajah cewek yang memang sangat mirip dengan Qameella. Tapi dia merasa ada yang janggal. Entah apa yang salah? Dia hanya tiba-tiba meragukan, juga merasa yakin bahwa dia tidak salah orang.


Bukannya dia hobi baca? Tapi, sekarang... gak suka. Malah dibilang hobi basket. Ah, mungkin perasaan gue aja kali.


"Reaksinya biasa aja kali..." cicit Garda menetralkan suasana.


"Abis, elonya aja yang aneh. Main ganti-ganti nama orang sembarangan. Kalo elo mau ganti nama gue, elo harus syukuran dulu. Bikin bubur merah dan bubur putih." sungut Qarmitha masih geram.


Garda hanya mendengus pelan.


*


Malam harinya. Garda keluar dari kamar mandi, baru selesai mandi. Kelar memakai kaos tanpa lengan, dan celana boxer motif dia duduk di pinggir kasur.


Pikirannya menerawang mengingat kejadian sore tadi. Garda masih belum bisa memahami sikap Qameella yang mendadak berubah. Karena yang dia tahu, cewek itu sangat kalem dan lebih sering irit bicara. Sementara hari ini sangat jauh berbeda. Banyak bicara dan berisik.

__ADS_1


Garda meraih ponselnya dari atas nakas samping tempat tidurnya. Kemudian mencari nomor kontak milik Qameella, yang diberi nama 'BHINIE GW'.


Setelah dering ketiga telepon langsung tersambung.


"Halo, Bini." ujar Garda tidak sabaran. Dia ingin memastikan reaksi Qameella saat dirinya memanggil dengan sebutan 'Bini'.


"Ya." sahut Qameella singkat.


Garda tersenyum lega. Ketakutannya tidak terjadi.


"Ada apa?" tanya Qameella dingin.


"Gak papa. Gue cuma kangen aja." jawab Garda terus terang.


"Oh."


"Kok 'oh' doang sih?" protesnya menuntut lebih. Namun orang yang sedang diajaknya bicara di ujung telepon sana tidak menanggapinya.


"Bini?" panggilannya untuk memastikan keberadaan orang di seberang sana.


"Hmm. Ya."


"Elo lagi irit ngomong, ya?" tegur Garda sedikit sensi. "dari tadi ngomongnya dikit banget. Cuma 'ya, oh, hmm, ya'. Elo lagi sariawan ya?"


"Gak. Gue gak papa."


Garda mengerutkan keningnya. Menyadari perubahan sikap Qameella tidak seceria dan serame tadi sore.


"Oh, syukur deh kalo elo baik-baik aja."


Tiba-tiba hening. Tidak ada satu orang pun yang berbicara. Garda dan Qameella saling terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Gimana latihan basketnya, lancar?" Garda memulai pembicaraan kembali.


"Lancar." sahut Qameella setelah cukup lama terdiam.


"Elo lagi kenapa sih, Bini? Kayanya beda banget, gak kaya tadi sore?" Qameella tidak merespon.


"Elo ceria, banyak omong, rame juga berisik. Tapi sekarang, elo beda banget. Diam, ngomong pun seadanya." Qameella masih tetap diam. Namun Garda tahu bahwa ceweknya masih belum beranjak.


"Oh, gue baru ingat. Elo kan abis latihan basket. Pasti elo kecapean ya?" Garda berusaha menetralisir kejengkelannya sendiri.


"Ya udh. Istirahat gih biar besok pagi, elo bangun lebih fresh."


"Oke. Thanks."


"Hmm."


"Bye." Qameella langsung mengakhiri sambungan telepon secara sepihak.

__ADS_1


"Bye." jawab Garda lemas. Dalam hati dia sangat kecewa dengan sikap Qameella. Tetapi dia seakan menemukan sosok gadis itu yang sebenarnya.


Bini... sebenarnya elo kenapa sih? Bikin gue bingung aja!


__ADS_2