
Happy reading
****************
Setelah sempat terjadi perdebatan kecil antara Bianca yang bersikukuh meminta Meella di pecat, dengan Garda yang berpendapat sebaliknya, benar-benar membuat atmosfer dalam ruang CEO tidak nyaman.
Meella yang tidak mau memperkeruh keadaan karena kehadirannya yang tidak diinginkan Bianca, memilih melipir ke meja kerjanya sendiri. Melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
Akhirnya Bianca memutuskan pergi meninggalkan kantor Garda, setelah tidak dapat menemukan titik temu yang diharapkan. Malah melihat kemarahan Garda yang membuat gadis itu dilanda dilema berat.
Pada saat akan melewati meja kerja Meella, terletak di depan ruangan Garda. Bianca sengaja menghentikan langkahnya. Lalu menatap sinis wajah sekretaris baru tunangannya yang sangat jauh dari kata cantik apalagi ****. Gadis itu sedang fokus pada layar monitor komputer dengan jari-jari yang sibuk menari-nari di atas tombol papan ketik.
Bertepatan dengan itu, ekor mata Meella menangkap sesosok berdiri di samping meja kerjanya. Merasa seperti ada yang sedang memperhatikan, refleks menghentikan gerakan jemarinya yang sedang menari di atas papan ketik. Kemudian menoleh ke arah sosok yang sedang menatapnya lekat.
Pandangan mata Meella dan Bianca bersirobok. Dari sorot matanya Meella dapat membaca tatapan tidak suka Bianca padanya, seakan sedang menabuh genderang perang. Tapi entah apa alasan kebencian yang teramat dari Bianca tertuju padanya. Padahal baik Meella dan Bianca tidak pernah saling singgung. Mungkinkah ini yang disebut cemburu buta?
Meella berinisiatif berdiri dari duduknya. Tersenyum ramah seraya menanyakan tujuan juga keperluan gadis itu, yang tiba-tiba saja menyambanginya. Namun bukan jawaban yang didapat dari gadis cantik dan fashionable itu. Melainkan kata-kata bermuatan makian dari Bianca menyembur serta melukai hatinya.
"Ingat ya, aku gak akan tinggal diam setelah apa yang terjadi pada ini. Karena aku tahu apa yang sedang kamu rencanakan dalam otak busukmu itu. Akan aku pastikan kamu gak akan berumur lama bekerja di perusahaan ini."
Mendadak Meella teringat perbuatan bosnya yang kurang ajar. Tanpa permisi menyerobot bibirnya yang ranum. Dia hampir lupa untuk meminta penjelasan pada cowok ganteng itu. Juga membuat perhitungan. Ah, Meella baru ingat sekarang. Ternyata dia memang belum membuat perhitungan atas semua perlakuan buruk Garda padanya. Dari awal terjadinya malam laknat itu hingga ciuman dadakan tadi.
Ingin sekali Meella membalas ucapan pahit tunangan bosnya yang sangat cantik itu. Agar Bianca tahu dia tidak seperti yang dituduhkan. Bila perlu menampar pipi mulus dengan blush on keorenan menjadi kemerahan plus cetakan tangan yang tertinggal di sana. Iyuuuh... gimana tuh rasanya ya?
Sayang, Meella bukanlah Mitha yang bisa membolak-balikkan ucapan lawan bicaranya dengan lincah. Juga bar-bar hingga mampu melumpuhkan lawan. Walau bagaimanapun Meella adalah Meella. Gadis sederhana dengan kekalemannya yang terkesan sangat lemah tidak berdaya. Hingga ia hanya diam saja saat ucapan Bianca yang tidak sepatutnya menerobos masuk gendang telinganya.
"Terima kasih atas peringatannya nona Bianca. Saya akan mengingatnya," sahut Meella tenang dengan senyum tulus.Tanpa rasa permusuhan atau sejenisnya yang justru membuat Bianca keki.
Bianca mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya. Rahangnya mengeras bertanda sedang menahan emosi yang siap meledak kapan saja. Ingin menampar tapi dia sadar tidak ada kata-kata kurang ajar dari sekretaris cupu di hadapannya itu. Seandainya Meella mengatakan sedikit saja kata kasar, maka cukup untuknya menggunakan alasan tersebut menampar pipinya.
Tapi sebaliknya, justru yang mengatakan kata-kata kasar dan bernada ancaman dirinya sendiri. Dan tidak mungkin dong dia menampar wajahnya sendiri. Tentu kewarasannya menolak hal itu. Tanpa berkata-kata lagi Bianca pergi dengan perasaan dongkolnya.
Meella hanya menghela nafas panjang melihat Bianca pergi begitu saja tanpa permisi. Menggelengkan kepala dan tersenyum kecil. Kemudian duduk di kursinya kembali.
Sebelum melanjutkan aktivitasnya yang tertunda, Meella menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskan perlahan untuk menetralisir keresahan yang tertinggal pasca kepergian Bianca.
Sedangkan di dalam ruangannya, Garda memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sakit. Menghadapi Bianca memang susah-susah gampang. Mungkin gadis itu melihatnya mencium Meella. Dan sepertinya memang seperti itu. Bila tidak masa iya Bianca semarah itu padanya. Lalu meminta memecat sekretaris barunya. Yah, masuk akal juga!
Sering Garda berpikir tentang perasaannya yang berkembang pada Meella akhir-akhir ini. Walau pada kenyataannya tidak ada sedikit pun sikap Meella yang terlihat centil atau genit bila di depannya. Atau sekedar mencari perhatiannya. Justru gadis itu selalu menunjukkan profesionalitasnya sebagai seorang sekretaris dengan menyelesaikan semua tugasnya sesempurna mungkin.
Malahan Garda sendiri yang kadang bertindak aneh. Dan terkesan bodoh. Akibat kebodohannya dia sampai nekat meniduri gadis malang itu.
Oh, Tuhan... Garda... dimana otakmu? Dimana kewarasanmu?
Garda menyugar rambutnya ke belakang seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kebesarannya. Setelahnya menghembuskan nafas kasar.
Tok!
Tok!
Tok!
__ADS_1
Entah berapa lama berselang terdengar suara pintu ruang kerja Garda diketuk. Si empunya ruangan tidak memperhatikan. Apalagi denyut di kepalanya masih belum reda. Namun dia enggan minum obat.
"Masuk!" seru Garda tanpa beranjak dari duduknya.
Pintu pun dibuka dan didorong dari luar. Muncullah sekretaris si muka pucat dari balik pintu. Lalu dimenutup kembali sebelum bergerak mendekati sang bos sembari menggamit sekumpulan berkas di depan dada.
Garda menegakkan tubuhnya seraya meletakkan kedua tangannya di atas meja kerjanya. Gerakan matanya mengikuti gerakan kemana tubuh Meella bergerak. Hingga gadis itu berdiri tepat di depannya yang dibatasi oleh meja kerjanya.
"Maaf Pak, ini berkas yang bapak minta," ujar Meella menyodorkan semua berkas di tangannya ke hadapan Garda.
"Hmm," Garda hanya menggumam diiringi anggukan kepala.
"Ada lagi yang perlu saya bantu, Pak?" tanya Meella sebelum beranjak pergi.
"Gak. Kembali aja ke meja kamu," sahut Garda tampak lesu.
"Baik, Pak."
Tanpa basa-basi Meella segera memutar tubuhnya hendak melangkah meninggalkan ruangan. Tiba-tiba dia teringat sesuatu hingga mengurungkan langkahnya. Membalik posisinya menghadap Garda kembali.
"Maaf, Pak."
Garda mendongakkan wajahnya menatap gadis berkacamata, berdiri menjulang di depannya. Satu alisnya terangkat dengan tatapan tak terbaca, namun mampu menembus netra indah sang gadis di balik lensa. Anehnya mengundang gelenyar tidak nyaman di dalam sanubarinya.
"Maaf?" cicitnya mengulangi.
Meella mengerutkan keningnya seraya menatap netra yang sama juga menatapnya. Seakan dapat merasakan gelenyar yang sama persis dengan apa Garda juga rasakan.
Garda menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan kedua tangan bertumpu pada siku di atas meja kerjanya. Sedangkan jari-jemarinya dibiarkan saling bersentuhan satu sama lain.
"Apakah dosa kamu sudah terlalu banyak sama saya? Soalnya setahu saya lebaran masih lama," seloroh pria yang biasanya serius, entah ada setan apa yang membuatnya dalam mode humor. Senyum seribu Watt yang seharusnya menular pada siapa saja yang melihatnya.
Sayang, rasa humor Garda tidak sampai dengan baik di hati Meella. Gadis itu malah menatapnya dengan pandangan heran lebih menjurus ke aneh sih. Mungkin hidup sekretaris barunya itu terlalu lempeng hidupnya. Hingga tidak tergugah sedikit pun oleh candaan garing si bos. Mestinya sih terhibur dong, eh malah jadi serius begitu ya?
"Enggak!" sahut si gadis mata empat eh berkacamata minus itu, tegas. Ingat tegas ya ucapnya. Tidak plintat-plintut.
Meella menghembuskan nafas panjang. "Hmhh!"
"Saya minta maaf bukan karena saya banyak salah sama bapak. Tapi sebagai rasa santun saya pada bapak sebagai atasan saya."
Sontak membuat wajah Garda ikutan lempeng juga. Dalam sekejap senyum yang berpendar pudar dan meredup.
"Lagi pula... siapa sih makhluknya di dunia yang fana ini, gak punya dosa dan jadi orang yang suci? Kecuali Nabi Muhammad."
Garda speechless menatap sisi lain gadis yang kini sedang melipat kedua tangannya di atas perut. Namun langsung dilepaskan, membiarkan keduanya berada di sisi tubuhnya.
"Dan, saya salah satunya, juga bapak."
Ada sorot keterkejutan yang tampak dari mata Garda. Dia merasa ditelanjangi oleh ucapan pedas sang sekretaris.
"Bapak punya salah sama saya. Kalo bapak masih ingat. Dan sampai detik ini bapak belum minta maaf sama saya. Juga kesalahan bapak hari ini yang...," sengaja Meella menggantung kalimatnya.
__ADS_1
Entah mengapa Garda jadi merasa sangat bersalah. Tapi egonya yang begitu tinggi menghalangi untuk mengakuinya. Apalagi sampai meminta maaf. Bisa-bisa hilang harga dirinya.
Meella tersenyum semirk melihat bosnya yang sudah tampak canggung sampai salah tingkah. Terlihat saat tiba-tiba saja Garda menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Dasar orang edan! Punya dosa gak buru-buru bertobat! Apalagi minta maaf!
"Oke. Kamu mau apa?" Garda menyerah tidak mau berdebat.
Oh, my God... tepat gak sih si bos ganteng yang lagi duduk di singgasananya nanya seperti itu? Rasanya pengen jambak-jambak manja tuh rambut kelimisnya yang hitam kecoklatan.
Meella mendengus lelah. Dia tidak mau memaksa bosnya minta maaf tentunya. Bisa-bisa nanti dia dicap sebagai karyawan kurang ajar. Padahal bosnya yang kurang bimbingan ke jalan yang benar. Sesat kali ah!
"Saya mau izin cuti satu hari besok lusa."
"Cuti? Kenapa? Eh, kemana?"
"Saya mau ada acara."
"Acara apa?"
"Acara ulang tahun."
"Siapa?"
"Su... eh, bapak kok kepo sih?"
"Bukan kepo. Tapi saya mau tahu."
"Itu sama aja, Pak," dengus Meella geregetan. "Dasar bos kepo!" gumamnya pelan.
"Walau gimana pun saya atasan kamu. Saya harus tahu alasan kamu sebagai pertimbangan saya, apakah kamu layak mendapatkan izin cuti."
Garda tampak tidak rela mengizinkan sang sekretaris cuti, meliburkan diri sendiri. Itu artinya dia harus siap kesepian. Eh, kok kesepian sih? Iya. Soalnya sejak Meella bekerja bersamanya. Setiap hari melihat wajahnya yang cantik namun tidak terlihat. Sejak saat itu pula dia merasa hatinya penuh, tidak lagi merasa separuh. Ingat hatinya penuh. So, halo... gimana kabar keberadaan Bianca, ya? EGP lah!
"Pokoknya, saya izin cuti ya Pak, titik! gak pake koma," putus Meella tidak mau diganggu gugat.
"Eh, kok kamu yang mutusin sendiri sih? Yang jadi bosnya kan saya."
"Bodo amat!" sahutnya jutek.
"Kok bodo amat sih? Emangnya kamu gak takut kalo saya pecat nanti?" gertak Garda berniat untuk menakut-nakuti. Tapi pada kenyataannya?
"Gak papa. Itu malah bagus buat saya."
Garda terkesiap dengan jawaban berani bawahannya sampai mengerutkan keningnya. Tampak sedang berpikir.
"Kalo bapak pecat saya, itu artinya kemerdekaan buat saya. Terbebas dari penjajahan dan... saya gak perlu mengeluarkan uang kompensasi atas pemutusan hubungan kerja di perusahaan ini."
Skakmat untuk Garda. Alhasil di bos ganteng mati kutu deh!
"Baik, kalo begitu saja permisi Pak. Dan terima kasih atas kebaikan bapak memberikan saya cutinya," pungkas Meella dengan senyum penuh kemenangan. Lalu balik kanan meninggalkan ruangan Garda.
__ADS_1
Garda hanya bisa tepok jidat menghadapi sekretaris yang tampangnya cupu. Eh, kelakuan suhu. Lalu mendengus pasrah. Setelahnya tersenyum sendiri mengingat ekspresi wajah Meella yang tampak menggemaskan barusan.