Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#69


__ADS_3

Happy reading


Siang ini, setelah selesai makan siang. Meella menggunakan mobil kantor lengkap dengan sopirnya, untuk mengantarnya menemui bosnya yang masih sakit di apartemennya. Meella bukan tidak bisa membawa kendaraan sendiri. Tapi dia masih belum bisa mengatasi traumanya pasca kecelakaan 5 tahun lalu sampai detik ini.


Walau sebenarnya dia bisa saja menitipkan tugasnya pada Dandi, si asisten pribadi Garda. Cowok itu sering mondar-mandir bertemu sang bos. Namun Dandi tampak sudah terlalu sibuk menghandle pekerjaan Garda. Jadi, Meella tidak enak menambah bebannya. Selain itu Dandi sudah berpesan agar datang langsung ke apartemen atasannya bila ada yang perlu ditandatangani. Sekalian memberikan nomor kode akses masuk ke dalam apartemen, supaya tidak merepotkan si bos yang mungkin sedang istirahat atau bersantai ria.


Alhasil, jika bukan ada beberapa dokumen yang harus diperiksa langsung dan ditandatangani oleh Garda secepatnya. Mungkin Meella tidak akan datang menemui Garda. Apalagi besok dia sudah mengajukan cuti. Walau hanya satu hari, dia ingin pekerjaannya rampung hari ini untuk menghindari pekerjaan yang menumpuk.


Sudah banyak rencana yang disusun Meella untuk mengisi masa cutinya besok. Cuti yang bertepatan dengan hari ulang tahun Garda dan momen paling menyedihkan dalam hidupnya. Momen yang benar-benar meluluh lantahkan hidupnya. Hingga nyaris tidak mampu bangkit lagi.


Setelah menempuh perjalanan kurang dari dua puluh menit, Meella tiba di depan pintu apartemen Garda. Sebelum menyentuh nomor unik sebagai kode akses masuk unit apartemen Garda, dia menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskan perlahan. Meletakkan buah tangannya di atas lantai, yang sempat dibelinya tadi sebelum tiba di sini.


Tetapi, saat baru akan ujung telunjuknya menyentuh permukaan tombol, tiba-tiba pintu sudah terbuka dengan sendirinya. Meella terjengit kaget lalu mendongakkan wajahnya. Apakah pintunya terbuka otomatis? pikirnya menerka-nerka.


"Masuklah!" terdengar suara berat dari dalam menitahkannya masuk ke dalam.


Untuk sepersekian detik Meella tertegun di tempat dalam kebekuan. Ketika kesadarannya kembali dia buru-buru beranjak masuk, mengikuti instruksi saja tanpa protes dengan menghiraukan rasa herannya. Sesekali matanya di edarkan ke seluruh penjuru mencari sumber suara. Juga mencari dari mana bosnya tahu kedatangannya padahal bel pintu belum disentuhnya. Tidak lupa membawa buah tangannya yang sempat ditaruh di atas lantai. Juga menutup pintu tanpa disuruh.


Sebenarnya tanpa Meella ketahui, Garda sudah memantau pergerakannya dari kamera pengawas yang sengaja dipasang di depan unit apartemennya. Dan langsung terhubung pada ponsel pintarnya. Setelahnya dia membukakan pintu menggunakan remote control.


Kini Garda sedang duduk bersandar seorang diri di sofa ruang tamu, dengan menyilangkan sebelah kaki bertumpu pada kaki lainnya. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Perban masih menempel di keningnya. Ada noda merah kecoklatan mewarnai perban itu. Dan beberapa luka lebam yang tidak ditutup oleh apa pun, hingga tampak jelas mengganggu penglihatan para pemuja ketampanannya. Tetapi hal itu tidak mengurangi kadar kegantengan Garda yang kata orang tingkat dewa.


Raut wajah datar dengan tatapan mata dingin, sengaja ditampilkan Garda. Dia pikir hal itu tidak berpengaruh apa-apa pada dirinya, terutama hatinya. Agar posisi sebagai atasan dan bawahan tetap terjaga seperti biasa. Toh, setiap hari dia selalu bersikap seperti itu. Sayang seribu kali sayang, prediksinya meleset. Tidak sesuai ekspektasi saat matanya bersirobok dengan si sekretaris.


Deg


Tiba-tiba dadanya berdegup kencang, bagai dentuman suara meriam diledakkan. Seakan dunianya berhenti berputar. Kemudian terseret ke alam masa lalu. Bagai cuplikan film yang sedang berputar, semua kenangan yang pernah dilalui bersama gadis, sekarang berdiri canggung dan berusaha memaksakan senyum terpaksa. Semuanya berseliweran silih berganti.


"Permisi, Pak. Maaf...," Meella mendorong kacamata minusnya dengan satu jari.

__ADS_1


Bagai nyanyian merdu suara itu mengetuk gendang telinga Garda. Langsung menyeret Garda ke alam sadar. Bagi orang lain mungkin biasa saja. Tapi tidak untuk Garda. Apalagi ini adalah pertama kali mereka bertemu dengan belahan jiwanya, setelah kembalinya ingatan yang hilang pasca kecelakaan itu.


Hati Garda mendadak meragu untuk bersikap. Entah sebagai atasan dan bawahan. Atau sebagai suami pada istri. Apalagi pada awal pertemuan mereka, Garda sendiri yang memulai kebencian dan dendam di antara mereka. Sepertinya dia akan sulit mendapatkan maaf dari Meella. Gara-gara kecurigaan yang teramat besar setelah malam laknat. Eh, ralat deh! Malam nikmat kan sekarang sudah tahu, siapa perempuan yang masih berdiri di depannya. Alhasil dia hanya bisa mengepalkan tangan di balik lipatan tangannya.


Garda menghela nafas pelan. Dia sadar hubungannya dengan Meella tidak mudah. Maka sebisa mungkin dia harus mengendalikan diri agar Andika tidak mengetahui kondisi ingatannya. Dan satu hal yang belum diketahui Garda. Yaitu perihal kematian dan makamnya yang tidak pernah lupa diziarahi oleh Meella.


Siapa yang menyangka jika hal itu dapat dirasakan Meella. Walau dia belum tahu identitas Garda yang sebenarnya. Namun entah mengapa Meella merasa sangat canggung sekali. Padahal setiap hari dia terbiasa menghadapi Garda dalam kondisi apapun. Tapi, karena tatapan mata Garda seakan sedang mengintimidasi, dan misterius hingga sulit diartikan.


"Saya..."


"Duduklah!" seru Garda memotong ucapan gadis yang sudah lama dinanti kedatangannya.


Kini Garda dan Meella duduk berhadapan hanya dipisahkan oleh meja sofa. Seulas senyum samar terbit di ujung bibirnya. Hatinya berbunga bagai taman bunga Nusantara. Uh... sulit sekali mengendalikan diri Sepertinya saudara-saudara!


Sementara Meella duduk gelisah di tempat. Wajah Garda yang pucat kian memucat melihat ekspresi yang paling dibencinya. Sebisa mungkin menahan diri agar emosinya tetap stabil.


"Pak," suara Meella menyeret Garda masuk ke alam sadar.


Meella mengerutkan alisnya menunjukkan keheranannya pada atasannya. Dia yang tidak bisa membaca pikiran Garda benar-benar tidak tahu apa yang sedang bersarang di benaknya. Tatapan mata Garda tidak bisa Meella terjemahkan. Tetapi dapat membuat bulu halus di tengkuknya meremang.


"Bapak masih sakit?" tanyanya khawatir melihat wajah Garda yang berubah-ubah warna.


"Ekhm!" sengaja Garda berdehem untuk menetralisir perasaannya yang meletup-letup tidak karuan. "nggak. Saya gak papa," kilahnya.


Meella mengangguk saja tidak mau ambil pusing dengan urusan bosnya.


"Oh, ya. Mana yang harus saya tanda tangani?" tanyanya segera menepis kecanggungan yang tiba-tiba menjalari hatinya.


Tanpa banyak kata Meella langsung menyerahkan dokumen di tangannya. Lalu diterima dengan baik oleh Garda.

__ADS_1


*


Keesokan harinya.


Sesuai rencana hari ini Meella cuti bekerja. Sedari pagi Meella sudah disibukkan oleh aktivitas di dalam apartemennya. Mulai dari mencuci baju, memasak, sampai cuci perabot rumah tangga yang telah selesai digunakannya. Serta menatanya dengan rapi pada tempat masing-masing. Untuk bersih-bersih seluruh ruangan ada petugas yang sengaja dipekerjakan oleh kantor dua kali sehari. Hingga tidak terlalu membuat Meella kerepotan dan lelah merapikan apartemen dua lantai ini.


"Sekarang saatnya menghias kue donat...," pekiknya pelan seraya membawa donat-donat yang telah selesai digoreng sampai tuntas ke atas meja makan.


Meella menarik kursi makan untuknya duduk. Rona bahagia tampak jelas di wajah Meella. Senyumnya yang tidak pernah pudar di bibir ranumnya. Seolah-olah sedang kasmaran. Dia begitu semangat menghias kue yang memiliki ciri khas bolong di tengahnya itu dengan berbagai macam toping. Kemudian disusun menjadi tiga tingkat. Nanti di atasnya akan diberikan lilin-lilin kecil. Rencananya setelah selesai semua, dia akan datang ke makam Garda dengan donat-donat ini. Tidak lupa bunga tabur, air mawar dan bunga Lily sebagai pelengkap.


Di kantor


Garda telah selesai memeriksa dokumen-dokumen yang memang sudah seperti makanan sehari-harinya. Dia menyugar rambutnya ke belakang seraya menyandarkan punggung pada sandaran kursi kebesarannya. Satu hembusan nafas pun lolos begitu saja dari celah mulutnya.


Tiba-tiba Garda sangat merindukan sekretarisnya yang sejak pagi ini belum menunjukkan batang hidungnya. Kopi yang biasa dibuatkan Meella terpaksa OB yang buatkan. Dia pun berinisiatif melakukan panggilan melalui interkom.


Namun dia baru ingat jika si sekretaris izin cuti. Lagi dia menghembuskan nafas, kali ini lebih panjang dan berat.


Untuk kali ini Garda seakan benar-benar dibuat gila dengan rasa rindu ini. Ingin bertemu tapi sungkan. Mungkin bila saat remaja dulu, dia bisa melakukan hal nekat agar dapat berjumpa sang pujaan. Entah nekat manjat jendela kamar Meella. Bahkan pura-pura sakit parah padahal tidak seberapa. Datang bersama teman satu gengnya ke rumah Meella. Masih melekat dalam ingatannya bagaimana kekonyolannya yang didukung oleh sahabat-sahabat sengkleknya. Bahkan dia sampai dapat bonus dimasaki oleh Meella lantaran lauknya habis diembat Ryan. Juga disuapi dengan tangan Meella.


Hah... indahnya. Ingin sekali Garda mengulang masa itu. Tapi dia sadar tidak bisa melakukan hal bodoh itu lagi. Selain umur yang tidak lagi remaja. Kini dia sendiri tidak ada lagi sahabat-sahabatnya dulu. Mereka terpisah jauh ada di kota lain. Lagi pula saat ini Meella tidak tinggal di rumah orang tuanya. Melainkan di unit apartemen miliknya. Otomatis lebih mudah kan?


Dasar goblok! Ngapain gue diam aja di sini? Kenapa gue gak langsung aja samperin? pikir Garda merutuki kebodohannya sendiri.


Garda pun segera bergegas pergi tidak mau membuang waktu percuma. Kendati ada pesan dari Bianca yang meminta kehadirannya. Namun diabaikan. Yang terpenting sekarang dia gaskeun bertemu belahan jiwanya.


*


Hai readers... maaf ya untuk episode kali ini lebih lama dari prediksi author. Karena author mendadak hilang mood juga susah dapat ide mengembangkan cerita. Jadi, apa adanya deh kaya gini.

__ADS_1


Oke, next episode otw ya...


__ADS_2