Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#43


__ADS_3

Happy reading...


***********************************


Di tengah kesibukannya mengerjakan tugas menggunakan komputer, tiba-tiba perut Meella terasa nyeri disertai mual. Sejenak konsentrasinya terganggu. Tentu saja menghambat pekerjaan juga bila tidak buru-buru ditangani segera.


Meella baru teringat bila tadi pagi belum sempat sarapan. Karena tadi malam dia mengalami sulit tidur. Dan baru terlelap saat hampir menjelang Subuh.


Alhasil paginya bangun kesiangan. Panik khawatir terlambat datang ke kantor. Jadinya tidak sempat masak dan sarapan. Tapi untungnya dia sempat membawa roti lapis yang diberi selai coklat, yang disimpan dalam kotak makan. Dan teh hangat dalam Tumbler terbuat dari stainless steel.


Kemudian Meella mengeluarkan bekalnya yang dibawanya menggunakan Tote bag biru polos.


"Boleh makan gak, ya?" tanyanya pada diri sendiri. Pasalnya dia tidak pernah makan pada saat sedang bekerja.


"Boleh kali ya... cuma sedikit doang?"


Dengan ragu-ragu Meella membuka tutup tempat makannya. Mengambil roti lapis itu dari tempatnya. Tanpa menunggu lama dia langsung menggigit ujung rotinya. Mengunyah perlahan agar tidak tersedak.


Namun baru sedikit masuk ke mulut dan mengunyah. Tiba-tiba terasa mual yang tidak tertahan. Mau tidak mau Meella harus bergerak cepat ke toilet kantor jika muntahnya tidak tumpah di atas meja kerja, dan papan ketik komputer di depannya.


Dengan menutup mulutnya dengan sebelah tangan, Meella berjalan cepat menuju toilet. Tidak peduli tatapan menyelidik dari karyawan lain yang kebetulan berpapasan dengannya.


Setelah sampai di depan westafel Meella mengeluarkan isi di mulut juga dari dalam perutnya. Uh, tidak nyaman sekali. Lambungnya terasa melilit.


Meella memegangi perutnya yang sakit seraya memuntahkan isi perutnya. Walau hanya angin saja yang keluar. Efek lilitan dalam perutnya kian sakit. Menyalakan keran air yang ada di atas westafel mengguyur semua kotoran di sana. Juga mencuci mulutnya khawatir ada bekas muntah yang tersisa di dagunya.


"Ya Allah... apa saya sanggup bila terus seperti ini? Tapi... rasanya saya gak mungkin izin pulang saat ini. Karena saya belum satu bulan masuk kerja di perusahaan ini. Selain itu pekerjaan yang saya tangani hari ini lumayan banyak." Meella sangat dilema sambil menatap wajahnya sendiri yang tampak kuyu. Mendengus lelah.


Meella menyentuh ujung keran air guna mematikan air yang mengalir dengan satu gerakan. Setelahnya kembali ke meja kerjanya dengan kaki yang terasa lunglai.


Baru saja Meella menempelkan bokongnya di atas kursi, serta sedikit meneguk teh hangat hanya sekedar meringankan sakit pada lambungnya. Mendadak Garda keluar dari ruangannya.


"Qameella!" nyaris si pemilik nama tersedak mendengar suara bariton itu karena saking terkejutnya.


Meella pun menoleh ke samping, mengangkat pandangannya menatap wajah atasannya yang terlihat menjulang tinggi. Buru-buru dia bangun dan menegakkan tubuhnya.


"Iya, Pak? Ada yang bisa saja bantu?" tanyanya tergesa.


Garda tidak lantas menjawab pertanyaan sekretaris barunya itu. Pria itu menatap wajah pucat Meella dengan tatapan yang tidak bisa dibaca oleh Meella.


Mendapat tatapan aneh dari Garda, Meella langsung menundukkan pandangannya untuk memastikan tidak ada sesuatu yang aneh menempel pada pakaiannya. Tetapi tidak ada apa pun seperti yang dikhawatirkannya. Semuanya terlihat normal dan biasa saja.


"Kamu sakit?" tanya Garda tiba-tiba. Matanya memancarkan kecemasan.


"Ah... tidak Pak. Saya tidak apa-apa. Saya hanya merasa sedikit sakit pada lambung saya. Mungkin... sakit maag saya kambuh," ungkap Meella canggung.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Meella, Entah mengapa hati Garda mendadak jadi sedih. Ditambah dengan wajah pucat gadis itu yang lebih mirip mayat hidup, membuatnya kian menderita.


Namun mengapa dia bisa merasakan hal ini? Padahal tidak ada ikatan apapun yang terjalin antara dirinya dan gadis itu. Benar-benar aneh tapi nyata.


"Ekhm.... uhuk!"


Garda berusaha menetralkan hati dan pikirannya yang sepertinya sudah keracunan setelah sering berjumpa dengan Meella. Ya, anggap saja seperti itu. Pasalnya sudah berkali-kali dia nyaris hilang akal bila berlama-lama bersamanya. Namun tidak pula bisa melepaskan begitu saja gadis itu. Lantaran keterlibatannya dalam insiden hari itu.


"Kamu ikut saya sekarang," titahnya tidak mau dibantah langsung bergerak maju. Tapi baru satu langkah Garda menghentikan langkahnya.


"Jangan lupa bawa kontrak kerjasama dengan Bapak Joseph dari Marine Company," lanjutnya kemudian melangkah kembali.


"Tapi Pak, pertemuan dengan Bapak Joseph diagendakan sebelum jam makan siang. Sedangkan sekarang baru jam sembilan," selidik Meella membuat atasannya geram.


Sontak Garda menghentikan langkahnya lagi. Tanpa menoleh ke arah sekretarisnya dengan tajam dia menegurnya,


"Yang bos di sini, saya atau kamu?"


"Baik, Pak. Saya mengerti," sahut Meella cepat.


Sepertinya Garda sangat kesal dengan sekretaris barunya ini. Bukannya langsung ikut perintahnya malah mempertanyakannya. Dia jadi ingin mengembalikan sekretaris lamanya yang selalu cekatan merespon perintahnya tanpa membantah.


'Huh, sekretaris tidak kompeten! Kalau bukan sedang mencari informasi tentang insiden itu, aku mana mungkin memaksa Gina untuk mengundurkan diri. Sial!' gerutunya dalam hati.


Melihat bosnya yang sudah jalan meninggalkannya Meella segera menyambar file yang dimaksud. Tidak lupa tas dan ponselnya ikut dibawa. Kemudian berjalan di belakang Garda.


"Iya Pak, sudah," sahut Meella mantap.


Garda hanya bergumam.


Meella duduk di kursi depan samping sopir. Yang tidak lain adalah Dandi, asisten pribadi Garda.


'Heh... seharusnya Dandi doang cukup kali... saya gak perlu ikutan,' bisik batin Meella. Mengingat kondisi tubuhnya yang sedang tidak baik-baik saja.


"Muka kamu pucat banget, Meel?" tegur Dandi terlihat perhatian. "kamu sakit?"


Pertanyaan yang sama dari dua orang yang berbeda. Apakah mereka berdua sefrekwensi? Mengapa bisa kompakan seperti itu? Meella menatap Dandi dalam diam.


"Ekhm!" tiba-tiba terdengar suara deheman dari kursi belakang seakan menginterupsi.


"Ah, gak papa Mas," jawab Meella menyingkirkan keterkejutannya. "tadi pagi... maag saya sepertinya kambuh, sempat muntah juga. By the way, sekarang udah mendingan."


"Udah minum obat?" tanya Dandi lagi disela aktivitasnya mengemudikan mobil.


"Segitu detailnya? Cih!" Garda berdecih pelan tanpa ada seorang pun yang mendengarnya. Tanpa sadar dia ngedumel seperti orang yang sedang cemburu.

__ADS_1


"Hai, Dandi! Mengapa sekarang kau berlagak seperti orang yang perhatian sekali, ya?" sindir Garda menghentikan Meella saat hendak menjawab pertanyaan Dandi.


"Ah, si bos bisa saja? Biasa saja kok... namanya juga sama partner kerja, kan harus akrab juga care," sahut Dandi asal-asalan.


"Cih, gayamu seperti orang yang paling peduli sedunia saja," Dandi hanya cengengesan menanggapi keketusan bosnya itu.


Entah mengapa ucapan Garda terdengar sangat ketus kali ini. Padahal Dandi akan selalu bersikap seperti ini pada siapa pun. Begitu pula dengan Gina semasa menjadi sekretaris Garda. Bahkan Garda yang mendorong Dandi agar mendekati Gina sekalipun sudah memiliki pacar. Dandi mendadak jadi bingung bin heran. Mungkinkah ada sesuatu di antara Garda dan Meella?


Sementara Meella tidak ambil bagian untuk membuka suara. Baik membantah atau sekedar menyanggah. Bahkan mau kemana arah mobil yang ditungganginya melaju tidak ditanyakan. Dia memilih diam di antara rekan dan bos barunya. Membiarkan keakraban di antara mereka tanpa menggubrisnya.


*


Mitha mengantar Gusti untuk check up di rumah sakit. Dia pun ikut masuk mendampingi sang ayah saat tiba giliran Gusti masuk ke dalam ruang praktek dokter.


"Permisi... dokter," ujar Mitha saat baru masuk memunculkan kepalanya dalam ruang praktek dokter.


"Ya," sahut pria berjas putih itu, duduk menyamping menatap layar komputer di depannya.


Mitha membantu memapah Gusti duduk di kursi depan meja dokter.


"Pak Gusti... " suara dokter itu terhenti saat matanya bertemu tatap dengan pria yang disebut namanya.


Meskipun dokter Rega sempat menanganinya di ruang UGD. Juga melakukan visit saat di rawat beberapa hari di rumah sakit. Gusti tetap saja terkesiap melihat wajah dokter muda itu. Lantaran wajahnya yang selalu mengingatkannya pada sosok Garda. Tentu saja begitu, karena wajah mereka yang sangat mirip. Seperti layaknya Meella dan Mitha.


"Ya, dok..."


"Bagaimana kondisi bapak sekarang?" dokter Rega memposisikan tubuhnya berhadapan langsung dengan pasien pria di depannya. Seakan mengikis rasa canggung dengan berbasa-basi menanyakan kabar.


"Baik. Baik, dok," sahut Gusti terpaku wajah lawan bicaranya.


Ya Allah... seandainya kamu masih ada, kamu pasti sudah seumuran dengan dokter Rega. Garda maafkan Ayah, Nak. Mungkin jika kami semua mau mengalah dan menurunkan ego kami, mungkin kalian berdua sudah bahagia sekarang. Kasihan Lala yang selalu merindukanmu sudah seperti orang gila. Batin Gusti menangis mengingat salah satu putri kembarnya yang jauh di mata.


Tidak ada pembicaraan apa pun selain pembicaraan antara dokter dan pasien. Mitha pun lebih banyak diam menjadi pendengar yang baik.


Setelah memberikan konsultasi dan memeriksa kondisi Gusti, dokter Rega memberikan resep vitamin yang akan diminumnya nanti sesuai jangka waktu yang ditentukan.


Mitha menerima kertas resep itu dari tangan dokter Rega. Lalu berpamitan keluar bersama Gusti.


Sebelum Gusti benar-benar pergi meninggalkan ruangannya. Rega sempat memberikan pesan pada pria itu untuk banyak beristirahat dan tidak banyak memikirkan hal-hal yang dapat memperburuk kesehatannya.


Gusti sangat berterima kasih atas nasihat darinya.


*


Hai readers... sampai sini dulu ya ceritanya. Semoga gak bosen bacanya. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa hadiah, vote, like dan komen ya... author tunggu!

__ADS_1


Author ucapkan terima kasih banyak bagi readers yang udah rajin kasih vote, like dan komen di kolom komentar 🙏🙏🙏❤️❤️ semoga yang udah banyak vote, like dan hadiah Yang Maha Kuasa memberikan rezeki yang berlimpah, Aamiin 🤲🤲🤲


Oke, selamat berakhir pekan. And... see you next episode ya 😁😘🥰❤️🙏


__ADS_2