
Happy reading...
Secercah cahaya matahari menerobos masuk melalui celah gorden kamar, dan menerpa wajah Meella. Merasa tidur lelapnya terusik, Dia membuka kelopak matanya perlahan. Lalu mengerjap beberapa kali, guna menyesuaikan cahaya yang masuk dalam indra penglihatannya. Tapi cahaya itu membuat kesulitan membuka matanya lebar saking silaunya. Sebelah tangannya pun terangkat ke udara, menghalau cahaya menyilaukan menyapa indra penglihatannya.
''Uhhh,'' Meella melenguh pelan merasakan tubuhnya menggeliat, dalam posisi miring menghadap jendela. Melemaskan otot-ototnya yang menegang dan kaku.
Eh, sepertinya ada yang aneh. Tapi apa ya? pikir Meella saat matanya sudah terbuka lebar. Menyisir setiap sudut kamar yang terasa janggal.
''Lho, perasaan kamarku gak gini deh,'' gumamnya berbisik pelan.
Walau di salah satu bagian dinding terpajang foto pria yang mirip sekali dengan wajah Garda. Tetap saja tidak lantas membuat hilang rasa penasarannya.
Nuansa kamar yang didominasi warna coklat muda dan kuning gading. Berbeda sekali dengan kamar yang selama ini ditempatinya bernuansa abu dan putih tulang. Kesan elegan dan minimalis. Memang kamarnya itu tidak terlalu besar. Sedangkan kamar ini sangat besar. Seperti kamar utama.
Wait, kamar utama?
Belum hilang kekagetannya tentang keberadaannya. Meella kembali dikejutkan dengan kondisi tubuhnya yang terasa berbeda. Bola matanya melorot ke bawah melihat baju yang semalam dipakai teronggok di atas lantai. Lengkap dengan sarung onderdil dalamnya.
Astaga!
Buru-buru Meella melirik tubuhnya di bawah selimut. Dan benar saja, tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun. Persis saat setelah malam hilangnya keperawanannya. Bersamaan dengan itu dia baru merasakan ada hembusan nafas teratur di tengkuknya. Sontak membuat buluromanya berdiri.
Tiba-tiba sebuah tangan besar menyentuh pinggang Meella dari luar selimut. Kemudian bergerak seakan sedang mencari sesuatu di tubuhnya. Saat sudah menyentuh bagian perut, gerakannya berhenti. Melakukan gerakan mengelus di bagian itu berulang-ulang.
Bersamaan dengan tubuh orang si empunya tangan, kian dekat dan rapat tanpa sekat. Bahkan bukan sekedar napas saja yang terasa. Tetapi Meella dapat merasakan ujung hidung dan bibir orang itu menekan tengkuknya.
Dengan gerakan takut-takut Meella menyentuh tangan yang masih mengelus perut ratanya. Lalu menyingkirkan dari atas perutnya ke belakang. Meella segera beranjak bangkit dari posisi tidur menyampingnya. Namun, baru saja mengangkat kepala dan badan, dibarengi kaki hendak terjulur turun menyentuh lantai. Tangan besar itu malah mencekal pergelangan tangan Meella, serta menariknya. Hingga posisi mereka saling berhadapan dengan posisi tidur miring.
''Selamat pagi,'' sapanya hangat dengan mata masih tertutup rapat.
Meella membeku di tempat. Sepasang netranya membelalak kaget.
Bagaimana mungkin...
Dia adalah Garda. Pelan-pelan membuka matanya sayu. Lalu tersenyum menampilkan lesung pipinya yang menawan.
''Mau kemana?'' tanyanya setelah mengecup kening Meella dalam.
Sungguh, suasana pagi yang sangat menyenangkan bagi Garda. Baru kali ini dia merasakan begitu menikmati paginya. Saat membuka mata pemandangan pertama yang dilihatnya, seorang perempuan cantik berbaring di sampingnya. Meski tanpa polesan make up sekali pun dia tampak mempesona.
Bangun tidur bersama istri tercinta di kasur juga selimut yang sama. Dengan tubuh sama polos setelah melakukan kegiatan panas semalaman suntuk. Dan berakhir menjelang pagi. Sungguh, nikmat mana yang kau dustakan.
''Ah, anu ii-ini...'' belum sempat Meella menyelesaikan ucapannya, Garda menarik masuk tubuh Meella dalam dekapannya erat.
Meella langsung memberontak ingin melepaskan diri. Tapi tidak bisa. Semakin dia memberontak, maka semakin erat pula pelukan yang diberikan Garda.
''Jangan berontak. Tetaplah seperti ini,'' pinta Garda menutup mata seraya menghidu aroma tubuh Meella. Sungguh sangat menenangkan bagi Garda. Meella sangat canggung berada sedekat ini.
Cup
__ADS_1
Garda sengaja mencuri ciuman singkat di bibir Meella. Lalu tersenyum menang.
*
Andika melangkah lebar meninggalkan ruang rapat, setelah rapat yang dipimpinnya selesai. Di belakangnya ada sang asisten pribadinya berjalan mengekornya.
''Ada apa?'' tanya Andika pada asisten pribadinya, saat mendudukkan bokongnya di atas kursi kebesarannya.
''Tuan, ada berita penting tentang tuan muda,'' jawab pria itu seraya menyodorkan sebuah amplop coklat ke hadapan Andika.
Andika mengernyitkan dahinya melihat amplop itu.
''Apa ini?''
''Itu laporan dari orang suruhan saya tuan. Dia orang yang saya perintahkan untuk mengawasi gerak-gerik tuan muda.''
Andika mengangguk mengerti. Meraih lalu membuka amplop itu. Dan melihat isinya. Tidak lama kemudian dia membanting kasar amplop di tangannya di atas meja.
''Apa-apaan ini?'' tanyanya berangkat. Memukul meja dengan tangan terkepal erat.
''Sial!" dia menggerakkan giginya hingga rahangnya mengetat. Wajahnya merah padam marah.
Andika sangat marah karena diam-diam Garda menyelidiki masa lalunya. Dan berhasil menemukan perempuan dari masa lalunya. Serta menentukan makam palsunya karya Andika.
Lagi, Andika kecolongan dengan langkah cepat putranya. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh pria paruh baya itu. Garda sembunyi-sembunyi telah menyuruh orang lain untuk membongkar makam tersebut. Mengotopsi jasad yang bersemayam di dalam makam itu, dan sudah mengantongi identitas asli jasad yang selama ini mengunakan nama Garda pada batu nisannya.
"Kabari orang tua Bianca untuk bertemu saya malam ini di restoran biasa," titahnya dingin.
Andika harus menyusun rencana baru untuk memisahkan Garda dari perempuan itu. Dia tidak Sudi memiliki besan seperti Gusti.
*
Rega segera masuk ke dalam ruang VVIP sebuah restoran ternama di Jakarta. Dia sengaja datang memenuhi undangan seseorang yang belum tahu identitasnya. Karena orang itu sengaja merahasiakannya. Menurut orang yang menjemputnya di rumah sakit, Rega akan tahu orang yang telah mengundangnya setelah masuk ruang VVIP ini.
Setelah masuk ke dalam, Rega di sambut oleh seorang pria berseragam waiters. Menyapa ramah dan mempersilakan duduk. Rega yang penasaran dengan orang yang mengundangnya hanya mengikuti instruksi si pelayan.
Pandangan Rega menyapu seluruh ruangan. Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. Semula Rega berpikir itu adalah pelajaran yang datang mengantarkan makanan. Tetapi suara ketukan langkah yang bergesekan di lantai, bukan langkah orang biasa.
Rega yang merupakan berotak jenius tentu bisa membedakan langkah kaki orang. Terdengar tidak penting. Tapi tidak untuk Rega. Saat langkah itu kian mendekatinya, dia menoleh lalu bangkit berdiri.
Sepasang mata Rega membulat lebar melihat orang yang sudah berdiri tepat di depannya. Matanya memanas dan pedih secara bersamaan lalu berair. Perasaannya membuncah bahagia. Senyum haru dan senang berbaur menjadi satu dalam hatinya.
Dia. Dia yang berdiri di depan Rega menyunggingkan senyum yang sama dengannya.
''Ini gue,'' ujar lirih orang itu merentangkan kedua tangannya.
''Sungguh?'' Rega berurai air mata.
''Iya. Gue masih hidup,'' tambah orang itu yang ternyata Garda. Air matanya jatuh melewati pipinya.
__ADS_1
Rega langsung memeluk tubuh Garda. Garda pun membalasnya hangat. Sungguh pemandangan yang sangat langka bagi sepasang anak kembar itu.
Sejak berpisah diusia tujuh tahun. Sempat bertemu dan bertukar tempat diusia delapan belas tahun. Dan kembali berpisah karena kecelakaan yang dialami Garda. Akhirnya Tuhan mempertemukan lagi dua saudara itu.
Selesai menghabiskan makan siang, mereka menghabiskan waktu yang tersisa membicarakan kehidupan masing-masing. Baik sebelum dan sesudah pertemuan ini. Garda pun memanfaatkan pertemuan ini untuk meminta bantuan Rega. Ada beberapa hal yang Garda butuh tenaga Rega. Namun dia belum bisa mengatakan semua saat ini.
Rega kembali ke rumah sakit setelah jam makan siang berakhir. Begitu pula dengan Garda. Juga kembali pada aktivitasnya di kantor.
Orang suruhan Andika senantiasa melaporkan segala yang dilakukan Garda. Termasuk pertemuannya dengan saudara kembarnya, Rega.
Andika geram bukan main. Tetapi dia tidak bisa menghalangi Garda untuk yang satu ini. Bagaimana pun keduanya adalah putra kandungnya. Namun dia gusar. Pertemuan mereka bisa merusak rencananya.
Sial! Kenapa mereka bisa bertemu?
"Awasi keduanya, jangan sampai lengah!" titahnya tidak ingin dibantah.
*
Sejak malam itu, Garda sering datang ke apartemen yang Meella tinggali. Pria itu sengaja ingin selalu dekat dengan belahan jiwanya. Namun sikap yang ditunjukkan Meella pada Garda seakan ingin pergi menjauh. Juga memberikan batasan sebagai pria dan wanita tanpa ikatan. Ini memang salah Garda yang masih belum mau jujur tentang siapa dirinya pada istrinya.
Pada akhir pekan, seperti biasa Meella selalu mengunjungi makam suaminya. Selain melepas rindu, Meella akan meminta maaf karena seminggu kemarin tidak datang berziarah. Hal itu terpaksa dia lakukan lantaran kondisinya yang tidak memungkinkan. Setelah mengalami kecelakaan di Bandung, Meella tidak bisa pergi ke mana-mana memang dalam masa pemulihan.
Dengan tangan yang menenteng keranjang bunga untuk nyekar, langkah kakinya terus bergerak maju ke area pemakaman, tempat peristirahatan terakhir Garda. Meella akan memanjatkan banyak doa untuk pengampunan sang suami. Begitulah cara Meella membunuh rindu yang tidak bisa mati dalam hatinya.
Setelah sekian lama berjalan, mencari makam Garda yang biasa diziarahi, Meella tidak juga menemukan dimana letaknya. Padahal dia sudah yakin dan tidak mungkin akan salah. Meella sudah sering ke sini. Mana mungkin salah. Bahkan Meella sudah hafal betul setiap sudut letak makam Garda.
Tetapi Meella belum juga menemukannya. Sampai kakinya lelah dan khawatir rasa nyerinya akan menyerang setelah digunakan banyak berjalan. Dia hanya menemukan makam baru yang terdapat garis polisi yang belum sepenuhnya dicopot. Seharusnya di tempat itu terdapat makam Garda.
''Ngapain bengong di sini, Mbak?'' tegur seorang pria paruh baya. Pakaiannya kotor terkena tanah. Begitu pula dengan celana dan kakinya yang belepotan penuh lumpur. Di atas bahunya sebuah cangkul bertengger apik. Itu tandanya. Dari sini Meella menyimpulkan pria itu adalah petugas penggali kubur.
''Mbak yang biasa nyekar di makam sebelah sana, ya?'' tanya orang itu memastikan seraya menunjuk ke arah makam Garda dulu.
''Betul, Pak.''
''Lho, emangnya Mbak gak dikasih tahu ya, kalo makam itu hampir seminggu lalu dibongkar?'' wajah pria itu tampak menyiratkan rasa heran.
Meella menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
''Ke-kenapa di bongkar Pak?'' selidiki Meella ingin tahu.
''Katanya mau diotopsi di rumah sakit,'' terang si bapak penggali kubur. Menceritakan yang dia tahu.
Deg!
Betapa terkejutnya Meella, jantungnya seakan ingin copot mendengarnya. Deru nafasnya kasar. Dia pun segera mencari tahu dengan bertanya pada petugas yang terkait.
*
Sampai di sini dulu ya cerita kali ini. Mata author udah gak kuat lagi nahan ngantuk. Lain waktu kita sambung lagi ya...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak cantik kalian...
See you next episode 😘🥰🙏...