Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#56


__ADS_3

Happy reading


***************


Pagi ini, Mitha memutuskan untuk bangkit menyongsong masa depan cerah yang sedang menunggunya. Sudah cukup dia tenggelam dalam jurang keterpurukan yang melanda hatinya tiga hari belakangan ini. Bila tidak, dia akan tertelan dan tidak bisa bangkit lagi.


Mitha harus mengubur cintanya pada Dicky dalam-dalam. Tidak perlu disentuh atau ditengok lagi. Bila hanya menorehkan luka hati juga trauma. Tidak mudah memang, antara hal yang terucap di lidah dengan perbuatan nyata. Tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh perjuangan keras.


Belum lagi urusannya dengan Rega. Si dokter muda dan ganteng itu. Huh! Siapa sih yang tidak tertarik dengan pesonanya? Nggak kuku deh... lebay!


Ya, Mitha harus menyelesaikan urusannya dengan dokter ganteng itu. Bukan bermaksud untuk menampik, apalagi Rega sudah mau menolong dengan menutupi malu keluarganya, dengan menikahinya. Tetapi dia tidak bisa memaksakan kehendak sendiri pada orang lain.


Selain itu tidak ada cinta yang mendasari hubungan yang seharusnya tidak terjalin ini. Dengan intuisinya Mitha yakin, jika di luar sana Rega sudah punya kekasih yang mungkin saja akan dinikahi. Kasihan bila tidak sampai bersatu. Jangan sampai mereka bernasib sama dengannya. Uh... menyedihkan!


Oleh sebab itulah, Mitha ingin melepaskan Rega dari belenggu ikatan pernikahan. Juga dia tidak ingin menjadi orang ketiga, yang biasa disebut pelakor. My God! Amit-amit jabang baby deh!


Alhasil, dia berencana untuk mengurus perceraiannya. Setelah sebelumnya meminta bantuan Yasmin untuk mencarikan pengacara guna mengurus segalanya. Tanpa bertanya lebih dulu pada sang suami tentunya. Dan dia juga belum mendiskusikannya pada Gusti.


Sepertinya sementara waktu Mitha tidak akan memberi tahu Ayahnya perihal ini. Lantaran pria itu baru saja diperbolehkan pulang dari rumah sakit kemarin sore. Khawatir bila tahu kabar ini, kondisi tubuhnya akan ambruk lagi. Walau pada kenyataannya nanti cepat atau lambat Gusti mengetahuinya.


Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Mitha pamitan pada Gusti dan Maryam. Kemudian mengendarai sepeda motor kesayangannya menuju tempatnya mengais rezeki. Melakukan aktivitasnya berperan sebagai guru guru olahraga.


Oya, jangan tanya keberadaan Rega dimana. Pasalnya setelah mengantarnya pulang setelah acara pernikahan mereka tempo hari, Mitha tidak pernah mau menemuinya. Gadis itu hanya mengurung diri di dalam kamarnya yang sengaja dikunci. Agar tidak seorang pun yang bisa masuk menemuinya. Bahkan selama dalam bersemedinya, telepon dan media sosialnya sengaja di non aktifkan.


Hingga Mitha tidak tahu batalnya pernikahannya dengan Dicky menjadi viral di semua media. Terutama di media sosial. Makanya Mitha sempat kaget melihat semua berita-berita yang masih santer di media sosial. Bahkan sampai hari ini masih belum reda.


Alangkah terkejutnya Mitha saat ponselnya mulai aktif. Begitu banyak notifikasi yang masuk. Terutama dari Meella. Saudara kembarnya itu rupanya sangat mengkhawatirkan keadaannya. Sebenarnya tanpa diberi tahu keduanya bisa saling merasakan. Bisa dikatakan ikatan batin yang kuat antara Mitha dan Meella.


Entah ulah siapa sampai berita berkembang kemana-mana. Bahkan ada berita yang tidak masuk akal, membuat simpang-siur dan tidak jelas kebenarannya. Namun berita tentang pernikahannya dengan Rega tidak ada satu portal berita online yang mewartakan. Syukur deh jadi tidak ribet!


Mitha hanya mendengus pasrah membaca beberapa portal berita tentangnya. Berita yang kebanyakan membahas kasus perselingkuhan Dicky dan Raisya. Tidak sedikit yang menghujat mereka. Dan mengasihani Mitha yang dibuat malu hingga Ayahnya tumbang tidak sadarkan diri. Banyak netizen yang bersimpati pada Mitha dan Gusti.


Semua murid di kelas yang ada jadwal pelajaran Mitha juga ikut bersimpati. Walau kenyataan ada saja yang julit. Tapi tidak sebanding dengan yang simpati padanya. Bahkan murid kelas lain yang tidak ada pelajaran Mitha pun turut bersimpati, saat mereka tidak sengaja bertemu di luar kelas.


"Yang sabar ya Bu..."


"Semoga ibu segera dapat pengganti yang lebih baik dari cowok kunyuk itu. Ups! Maaf Bu keceplosan."


"Semangat Bu Mitha buat cari jodoh lagi."


"Dunia belum kiamat Bu. Masih banyak ikan-ikan di laut Bu..."


Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat motivasi untuk Mitha, agar tidak sedih dan terus meratapi kesedihannya. Hingga dia bisa sedikit melupakan lara hati yang nelangsa walau hanya untuk sejenak saja.


Begitu juga dengan kepala sekolah dan semua rekan guru di tempat Mitha mengajar. Mereka turut prihatin dan sangat menyayangkan hubungan baik serta romantis antara Mitha dan Dicky harus berakhir memalukan.

__ADS_1


"Yang sabar ya, Bu Mitha. Mungkin lelaki itu bukan jodohnya Bu Mitha," ujar Pak kepala sekolah bijak. Setelah sebelumnya Mitha meminta maaf atas apa yang telah terjadi di pesta pernikahannya yang kacau. Jujur saja Mitha sangat malu dengan semua itu.


Saat ini jam istirahat sedang berlangsung, kepala sekolah dan beberapa orang rekan guru Mitha duduk bersama di dalam kamar guru. Karena sebagian besar yang lain masih ada di dalam kelas, atau dalam perjalanan menuju kantor guru.


"Iya, Pak," sahut Mitha tertunduk malu. Hatinya sangat sedih dan masih tidak rela dengan apa yang sudah terjadi.


"Udah Bu... jangan diingat lagi cowok kaya gitu. Biarin aja pergi ke laut. Kan ada saya," timpal Pak Nas, si guru BP yang memang sudah lama naksir Mitha. Namun tidak pernah diladeni.


"Saya masih jomblo. Kalo ibu mau saya lamar sekarang, saya sih ayo, ayo aja," lanjutnya seakan menawarkan diri.


Mitha terkesiap sontak mendongakkan wajahnya, menatap pria tampan berusia hampir tiga puluh tahunan itu, dengan tatapan tidak percaya. Lalu mengusap wajahnya kasar. Seulas senyum samar terbit di bibir Mitha. Ingin rasanya ia tertawa terpingkal-pingkal melihat kenaifan salah satu rekan gurunya itu. Begitu percaya diri sekali menawarkan diri sendiri menjadi pengganti Dicky di hati Mitha. Belum tahu dia jika sekarang Mitha sudah jadi istri orang.


"Iya, Bu Mitha. Sama Pak Nas aja," cetus Bu Ratna tiba-tiba terkesan membujuk Mitha.


Mitha kian terkejut dan terperangah dengan ide gila dua orang guru yang duduk di kanan kirinya. Sedangkan Pak Nas, pria yang baru saja mengajukan diri, dan mendapat dukungan merasa di atas angin.


Setali tiga uang dengan Bu Ratna. Mendadak Pak Syam, si guru matematika, ikut-ikutan mengompori.


"Udah deh, Bu Mitha gak usah ragu. Terima aja Pak Nas. Kasihan lho dia kemarin sempat patah hati gara-gara ditinggalkan nikah sama ibu."


Sungguh lelucon yang tidak lucu dan masuk akal. Mitha hanya nyengir kuda tidak mau berkomentar. Tetapi... kenapa rekan guru-gurunya tiba-tiba menjodohkan Mitha dengan Pak Nas?


Ups! Apakah... jangan-jangan para guru tidak tahu, jika pada hari itu juga Mitha menikah dengan Rega? Sungguh kah? Dahi Mitha mengernyit heran.


Kemudian bapak kepala sekolah mengutus Mitha dan Pak Nas, untuk mengurus murid yang kecelakaan itu. Tanpa banyak berpikir kedua guru itu langsung gerak cepat. Membawa murid yang menjadi korban kecelakaan ke klinik terdekat untuk mendapatkan pertolongan intensif.


Siapa sangka jika kedatangan Mitha ke klinik itu, dapat mempertemukannya dengan sang suami. Tatapan mata keduanya saling mengunci, speechless tanpa ada satu orang pun di antara mereka yang mau bersuara lebih dulu.


"Dok, gimana kondisi murid saya?" tanya Pak Nas memecahkan keheningan.


Mitha terkesiap mendengar suara panik guru BP itu. Refleks memutuskan kontak matanya dengan Rega. Beralih pada lelaki bernama lengkap Nasrudin. Lalu menatap Rega yang sedang menatap lawan bicaranya.


"Kondisinya cukup baik. Tidak ada luka dalam. Hanya luka luar saja," sahutnya datar.


"Syukurlah," seru Pak Nas disertai hembusan nafas lega.


"Apa boleh saya menjenguknya Dok?" tanya Pak Nas lagi, tidak sabar ingin memastikan kondisi tubuh muridnya.


"Boleh, silahkan," jawab Rega diiringi senyum samar yang hampir tidak terlihat.


"Ayo, Bu Mitha!" ajaknya tanpa permisi menarik lengan Mitha.


Mitha hendak melangkah pergi. Namun sebelumnya dia sempatkan menoleh pada Rega, mengangguk pelan seolah sedang meminta izin.


Rega hanya diam tanpa reaksi. Tatapan matanya malah tertuju pada tangan lelaki itu. Begitu tidak sopannya menyentuh milik orang lain. Lalu dua orang itu hilang di balik pintu kaca bertuliskan ruang UGD.

__ADS_1


"Aldi, gimana kondisi kamu?" tanya Pak Nas, mengintrogasi bocah kelas VIII itu.


"Pak, baik Pak," jawabnya sambil meringis menahan sakit.


Tubuh lemahnya terbaring di atas brankar klinik, masih memakai seragam putih biru dengan bercak darah menempel di bagian bahunya. Masih dikatakan untung buat bocah itu. Walau pun kepala, tangan dan kaki kanannya diperban, Aldi selamat dari kecelakaan itu.


Untungnya lagi pelaku penabrakan Aldi pun tidak kabur. Pria itu mau bertanggung jawab dengan memberi biaya pengobatan untuk bocah itu. Jadi, pijak sekolah tidak repot mengeluarkan biaya perobatan untuk Aldi.


"Ah, kamu. Baik dari mananya? Kepala, tangan kanan dan kaki kanan mu saja diperban gitu," sungut Pak Nas.


Aldi hanya nyengir seperti orang bodoh.


"Kamu tuh, jalan gimana sih? Masa bisa ditabrak motor gitu?" selidik Mitha penasaran.


"Ya elah... Bu, saya jalan ya jalan pake kaki. Masa iya saya jalan pake tangan. Emangnya jago akrobat?" bocah tengil itu masih bisa bercanda di tengah penderitaannya.


Ingin marah tapi ucapan bocah itu lucu. Mau ketawa takut dosa. Masa orang lagi sakit diketawain? Dasar bocah zaman sekarang!


"Bukan begitu Aldi...," geram Mitha, tampak sudah gemas sekali ingin menonjok muka bocah itu.


Kemudian Aldi menceritakan kronologi kejadian yang dialaminya. Dimulai dari keluar pintu gerbang sekolah sampai peristiwa naasnya.


Pak Nas pun mendapat keterangan dari pihak pengendara yang sudah menambrak Aldi. Bila disimpulkan insiden itu terjadi akibat keteledoran Aldi yang kurang hati-hati saat menyebrang jalan.


Selesai mendapat pertolongan dari klinik. Juga luka yang diderita Aldi tergolong ringan, maka diperbolehkan pulang oleh dokter. Langsung dibawa pulang oleh orang tuanya, yang kebetulan sudah datang di klinik, setelah dihubungi pihak sekolah.


Pak Nas dan Mitha bernafas lega karena urusan Aldi sudah kelar. Pihak orang tua Aldi pun tidak menuntut karena letak kesalahan ada pada anaknya sendiri. Apalagi si pengendara motor itu tidak kabur begitu saja, malah sudah mau bertanggung jawab.


Waktunya Mitha dan guru BP itu kembali ke sekolah. Keduanya akan menunaikan tugas mereka yang masih belum selesai.


"Bu Mitha, bisa kita bicara sebentar?" tiba-tiba suara berat Rega menginterupsi kedua guru yang hendak melangkah pergi.


Mitha hanya mengangguk kaku mengiyakan ajakan Rega. Lalu meminta rekan gurunya pergi meninggalkannya, tidak perlu menunggu.


Pak Nas sebenarnya ingin menunggu sampai Mitha selesai berbicara dengan dokter tampan itu. Agar dia bisa berlama-lama dengan gadis yang sudah lama disukainya. Apalagi saat ini dia merasa punya peluang untuk berjuang mendapatkan cinta si gadis. Walau pada kenyataannya tidak seperti apa yang dipikirkannya.


Pria itu menatap punggung gadis yang sedang berjalan menjauhinya. Lalu menghilang di balik pintu ruang praktek dokter. Menghela nafas panjang. Lalu beranjak pergi meninggalkan klinik dengan perasaan galau.


*


Sampai di sini dulu episode kali ini ya...


Bagi yang nanyain kapan update. Jawabannya hari ini. Untuk episode selanjutnya author usahakan nanti malam up ya. Paling lambat hari Senin. Tergantung cepat atau lambat review dari pihak mangatoon atau noveltoon ya.


Jangan lupa tinggalkan jejak-jejak manjanya di bawah ini. See you next episode ya 😘🥰❤️

__ADS_1


__ADS_2